
"Ba-bagaimana kau bisa?!" kata Sanaya keheranan.
"Cepat sekali!" gumam sang wasit.
Sanaya dan wasit perempuan itu terkejut dan tercengang melihat gaya berpedang ku yang tidak biasa. Sebenarnya aku menggunakan teknik jurus golok yang mana hal ini sudah mahir aku lakukan sebagai seorang pesilat.
"Sa-satu poin untuk Yudha!" teriak Wasit.
Semua wanita yang menontonku tak bisa percaya bahwa aku dapat mengalahkan Sanaya begitu mudahnya.
"Hanya seperti itu permainan mu?" ledekku ke Sanaya.
"Itu hanya kebetulan, ti-tidak mungkin bisa seperti itu, aku hanya lengah." ucap Sanaya ngeyel.
Sanaya kemudian mengulurkan tangannya ke arah perang legendaris itu. Kemudian secara aneh, pedang itu melayang seperti ditarik kearahnya dan kembali ke genggamannya
"Mulai!!"
"Baiklah kali ini aku yang menyerang!!" teriakku sambil berlari ke arah Sanaya.
Aku secara spontan menyerang Sanaya dengan kuat, namun Sanaya berhasil menangkisnya dengan mudah.
'Stringg!!'
"Kau banyak celah!" ujar Sanaya.
"Ah bacot!!" ucapku singkat dalam bahasa Indonesia.
Dia kemudian membalas serangan dengan menyerang bagian perut ku. Tentunya aku berhasil mengelak dan melompat agak jauh.
"Itu hampir saja, hey kau mau membunuhku ya!" teriakku.
"Bersiaplah!"
Nampaknya Sanaya hanya fokus menyerang ku dan tidak mendengarkan. Sanaya cukup serius setelah aku dapat menjatuhkan pedangnya.
Dia terus menyerang ku ke segala arah dengan mengayunkan pedangnya ke kanan dan kiri. Tentunya semua serangannya berhasil aku tangkis.
Pergerakan Sanaya cukup cepat, namun aku merasa tidak ada tenaga dalam serangannya. Aku akui teknik berpedang Sanaya cukup hebat, aku bahkan hampir kesulitan untuk membaca gerakannya.
Sanaya kemudian mendorong ku dengan pedangnya hingga aku terdorong beberapa meter. Kemudian dia kembali menerjang ku dan terus menyerang bagian pangkal pedang ku, mungkin dia berharap kalau pedang yang aku kenakan terlepas.
Beruntungnya aku berhasil menghindar setiap serangan yang dia lancarkan. Aku perhatikan tenaga Sanaya mulai menurun sehingga fokusnya buyar, hal itu membuka celah lebar diantara kedua tumpuan tangannya.
Aku berhasil memanfaatkannya dan menguit pedangnya dengan teknik Kendo yang juga aku kuasai, sehingga pedangnya terlepas. Pedang Sanaya kembali melayang di udara dan tergeletak ke tanah.
"Teknik macam apa itu??" ucap Sanaya keheranan.
Wasit yang melihat itu juga nampak terkejut.
[Exp +5⬆️] Level Up
Exp Sanaya bertambah.
[Exp +2⬆️]
Exp ku juga bertambah.
"Itulah macam-macam teknik berpedang dalam dunia ku. Tunggu apa ini? Exp +2! Apa aku mendapat poin?"
"Ya itu karena kita sedang bertarung. Selain berlatih kita juga akan mendapatkan Poin Exp. Aku bahkan mendapat Exp 5 poin."
"Menarik sekali, ini benar-benar mirip game!"
"Game, sebenarnya apa itu. Sejak awal kau selalu bilang Game!" sembari Sanaya melihat ku dengan tatapan bingung.
Karena pedang Sanaya tak jauh terpental dariku, aku berinisiatif mengambilnya dan menyerahkannya kepada Sanaya. Aku pun memungut Pedangnya.
"Ya ampun, kau lengah sekali yah!"
"Bi-biasa saja, itu karena statistik mu jauh diatas ku, jadi wajar saja aku kalah." ujarnya tergagap.
"Ini pedang mu!"
Sesaat ku menyerahkan pedangnya Sanaya beserta seluruh orang yang ada di tempat latihan ini mengangkat alisnya.
"Tu-Tunggu! Kenapa kau bisa menyentuhnya?" kata Sanaya.
"Haa, kenapa? Entahlah!" sambil ku melihat Pedang Sanaya.
"Ti-tidak ada yang bisa atau berani menyentuh Pedang milik Tyan Putri, Tuan Yudha!"
Kenapa tidak berani, apa mungkin hanya putri yang boleh menyentuhnya? Hal ini membuatku terheran-heran.
"Haa? Jadi, pedang ini tidak boleh sebarang orang menyentuhnya?"
__ADS_1
"Bukan begitu Yudha-kun, hanya Pahlawan Pedang yang bisa menyentuhnya!"
Ah, sekarang aku cepat mengerti! Aku menyimpulkan, karena pedang ini adalah salah satu sejata legendaris, tentunya hanya pemiliknya saja yang dapat menyentuhnya. Akan tetapi kenapa aku bisa menyentuhnya. Apa karena aku Lord Hero?
Aku lantas teringat dengan penjelasan yang pernah Juragan Leonard ceritakan sebelumnya. Bahwa senjata legendaris milik Pahlawan hanya bisa disentuh oleh pahlawan saja.
"Apa jangan-jangan kau benar Lord Hero?"
"Entahlah? Aku memang dari dunia lain. Kalau aku bisa menyentuh pedang ini berarti aku benar Lord Hero yang dimaksud." jelasku.
"Ya!! Sekarang aku percaya kamu adalah Lord Hero itu! Buktinya kau bisa mengangkat Pedang ku, tanpa terkena sengatan."
"Ya sudah kubilang sedari awal kan? Karena kau dan Raja tidak percaya, jadi aku hanya diam setelah kalian mentertawakan ku."
"Aku bukannya tidak percaya Yudha-kun. Aku hanya kurang yakin soal itu."
"Ya sudahlah!" pungkas ku.
"Vilia, kita sudahi saja pertarungan uji coba ini!"
"Tunggu Vilia yang dibilang Sanaya? Sepertinya aku pernah mendengar namanya." gumamku.
"Baik, Putri Sanaya!" kata Vilia.
"Sebentar, namamu tadi Vilia ya?"
"Benar, memang kenapa?"
"Vilia Leonard?"
Vilia kemudian mengangkat alisnya setelah aku mengatakan nama aslinya. Mengetahui namanya bukan suatu hal tapi mengetahui marganya adalah hal yang tidak biasa.
"Bagaimana kau bisa tahu marga ku, bukankah kita belum lama bertemu?"
"Jadi, kau sudah tahu dia ya Yudha-kun?"
"Ya aku tahu tentang dia dari ayahnya. Dia bilang Vilia berada di kerajaan dan mungkin ini kebetulan kita bisa berjumpa."
"Aha ha ha!" Vilia hanya tertawa kecut menanggapi ku.
Mungkin dia berfikir ayahnya pasti menceritakan hal yang tidak-tidak pada ku, tapi nyatanya tidak.
"Tapi Sanaya apa kau yakin? Namamu bisa tercoreng loh!"
"Ya, kau benar. Aku kira kau akan merasa harga diri mu jatuh karena ku."
"Kenapa harus begitu, kau kan Lord Hero, tentu saja kemampuan mu di atasku. Aku tidak apa-apa!"
"Pertarungan kali ini Selesai dan Yudha pemenangnya." ujar wasit wanita itu.
Setelah pertarungan itu, aku menyerahkan kedua pedang ke pemiliknya masing-masing.
"Begini Yudha-kun, bagaimana kalau kita tunjukkan kepada Ayah, kalau dirimu benar Lord Hero itu dengan kau menyentuh pedang ini didepannya."
Benar juga kata Sanaya, aku bisa membuktikan kepada Raja bahwa aku memang seorang Lord Hero yang dimaksud. Dengan ini, aku tanpa harus susah payah bertarung untuk membuktikan bahwa aku seorang Lord Hero.
Tapi memikirkan hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Justru hal itu akan membuat masalah Sanaya dengan Si Brengsek itu tidak terselesaikan. Sepertinya mengambil jalan tengah akan lebih baik.
"Ide yang bagus San-chan!"
Aku memanggilnya, San-chan untuk mempersingkat panggilan Sanaya agar lebih mudah disebut.
"Sa-sa-san-chan, apa?" gumam Sanaya dengan ekspresi terkejut dengan wajah blusing.
"Tapi aku ada cara yang lebih epic daripada usul mu itu! Tunggu kenapa wajahmu memerah?"
"Di-diam lah!!!"
'Bukkk'
"Uaaagh!"
Tidak ada angin, tidak ada hujan tiba-tiba Sanaya memukul perut ku. Aku yang tanpa persiapan menerima serangan itu terkejut.
"uhuk ~ uhuk kenapa kau memukul perut ku?"
"Habisnya, kau terus menggoda ku!"
"Menggoda? apa maksudnya? Apa kau tidak suka aku memanggil mu seperti itu"
"Bu-bukan se-seperti itu! Ahh Su-sudahlah lupakan! Ja-jadi, cara apa yang akan kau lakukan." katanya dengan ekspresi Tsundere.
Melihat Sanaya bicara dengan wajah memerah terlihat cukup imut bagiku.
"Caranya adalah..."
__ADS_1
****
Hari ketiga pun tiba, hari yang dimana aku akan menghajar bokong Si Brengsek itu. Tentunya aku sudah latihan keras sebelum bertarung melawan Si Brengsek.
Kutukan yang diberikan oleh Pahlawan Perisai juga telah menghilang dariku. Bahkan aku sudah beradaptasi dengan senjata yang baru aku dapatkan.
Aku juga sudah melakukan ritual dan berdoa pada Sang Maha Kuasa, agar aku diberikan kekuatan dan perlindungan lebih oleh-Nya. Sehingga hari ini aku penuh percaya diri untuk dapat menendang bokong Si Brengsek itu.
Tapi disisi lain ada hal yang mengganjal pikiran ku. Pagi hari yang cerah, Aku berada di kamar sedang merawat Syira yang masih terbaring di ranjang, akibat kutukan yang dia terima dari Pahlawan Perisai sebelumnya.
Selain karena dampak kekuatan besar yang terdapat dalam tubuh Syira. Dirinya juga harus menahan rasa sakit yang di timbulkan oleh kutukan yang semakin menguat.
Sebelumnya aku sempat berfikir, mengingat situasi di kerajaan ini sedang terjadi wabah. Aku curiga kalau Syira sebenarnya terjangkit wabah itu. Tapi Nenek Zunir bilang, kalau Syira memang terkena kutukan dari Pahlawan Perisai.
Nenek Zubir bilang gejala yang ditimbulkan dari penyakit wabah itu berbeda dengan apa yang terjadi pada Syira. Gejala yang dialami Syira antara lain kulit melepuh sehingga keluar cairan nanah, dan demam disertai batuk kering.
Aku juga telah memeriksa Syira dengan teknik pengobatan modern ala kadarnya karena tidak ada alat bantu medis disini. Jadi, yang aku lakukan hanya menyentuh bagian kening dan memeriksa denyut nadi.
Kemudian memberi dia obat Paracetamol, Asam Mafenamat, Dexamethasone dan Ambroxol yang terdapat pada kotak obatku. Tentunya aku juga sudah menerapkan dosis dan aturan pakai yang sesuai.
Namun pengobatan itu hanya memberikan dampak sedikit, setelah efek obat itu hilang Syira kembali merasakan sakit. Aku pikir obat yang aku berikan tidak membuatnya sembuh.
Penyebabnya antara lain karena terkena kutukan yang terus menggerogoti Syira, jadi untuk menyembuhkannya harus dengan sihir pula.
Note : Yang paham farmasi pasti tahulah fungsi kegunaan obat itu. Bagi yang belum tahu search aja di google.
Saat ini posisi ku sedang duduk di bangku dekat ranjang Syira. Aku memegangi lengan Syira sembari ku menatapnya dengan sedih.
"Kenapa kau terlihat murung Yudha-sama?" tanya Syira dengan nada lemah.
"Aku prihatin, Kenapa kau justru semakin parah Syira? Padahal aku yang lebih banyak berhadapan dengan orang itu!"
"uhuk-uhuk, tak apa Yudha-sama! Semua ini sudah menjadi takdir ku. Anda tak perlu sedih seperti itu!"
"Aku pasti akan menyembuhkan mu Syira! Bagaimanapun caranya!"
"uhuk, dan aku percaya itu Yudha-sama!"
Kemudian Sanaya mengetok pintu kamar kami!
'TOK TOK TOK'
"Yudha-kun?"
"Umh? Masuk pintunya tidak di kunci!"
"Baiklah!"
'Grek'
Sanaya datang dengan ditemani sepasang Maid yang sepertinya akan merawat Syira untuk menggantikan aku.
"Sepertinya belum ada perkembangan dari Syira!" ucap Sanaya.
"Ya seperti yang kau lihat!"
"Aku turut prihatin dengan keadaannya!"
"Aku akan baik-baik saja Sanaya-sama. uhuk" ucap Syira.
"Tetaplah beristirahat Syira, jangan paksakan dirimu ya!" balas Sanaya.
"Iya Sanya-sama terimakasih."
"Baiklah Yudha-kun, apa kau sudah siap?"
"Tentu aku sudah siap untuk itu!"
"Kalau begitu biar para Pelayan ini yang akan menjaga dan merawat Syira."
"Ya baiklah!"
"Ayo ikut dengan ku, pertarungan akan segera di mulai!"
Aku kemudian berpamitan pada Syira dan meminta dia agar tetap beristirahat.
"Baiklah Syira aku pergi dulu!"
"Umh! Jaga dirimu Yudha-sama!"
Kami pun menuju Colosseum...
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Petarung")
__ADS_1