
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 45 "Rumah Pohon"
“Faisya... Syukurlah aku menemukan mu!”
Faisya kemudian menoleh kearah ku dan Edna-san berada. Melihat kehadiran ku Faisya langsung menghambur kearah ku dan langsung memeluk ku.
“Kakak!!!!.....”
““Ara~Ara””
Entah mengapa Edna-san dan Nona Roseta, secara berbarengan mengucapkan kalimat yang sama. Membuat mereka saling menatap satu sama lain dan tertawa bersama.
"“Ha ha ha ha”"
Faisya yang tengah memeluk ku tak kuasa menahan tangisnya.
“Kakak, kemana saja kau pergi? Kau tahu aku selama ini selalu mencari mu dan khawatir pada mu.”
“Maafkan aku Faisya... Aku tak sadarkan diri selama dua minggu ini. Jadi, aku tak bisa segera menemui mu.”
“Apa? Jadi kau pingsan selama itu! Bagaimana kondisi mu sekarang kak?”
“Aku sudah pulih dan sehat, jadi sudah tidak apa-apa.”
Nona Roseta, kemudian berjalan kearah ku lalu menepuk tangannya.
‘PLAK’
“Baiklah, karena sudah disini kenapa tidak masuk kedalam saja. Ayo mari kita bicarakan didalam rumah.”
“Ayo kak kita kedalam!”
“Ah ya..”
Kami pun masuk kedalam rumah pohon.
****
Saat memasuki rumah, Faisya langsung bergegas pergi kedalam sebuah ruangan. Aku tak tahu pasti ruangan apa yang dia masuki. Sekilas aku melihat dari balik gorden seperti ruangan dapur.
Aku dan Edna-san, melihat-lihat isi ruangan ini. Tata letak ruang tengah ini begitu rapi dan minimalis. Aku bahkan tidak melihat kesan menyeramkan dari rumah seorang Penyihir. Selam ini yang terbesit dipikiran ku adalah rumah penyihir itu selalu suram dan menyeramkan seperti dalam dongeng.
Namun, setelah melihat langsung rumah ini. Aku tidak merasakan kesan tersebut. Justru rumah ini terlihat seperti rumah orang lain pada umumnya.
"Ah! Maaf ya! rumah ku terlalu sempit. Ha ha!"
Dia bilang sempit? Aku justru melihat rumah pohon ini begitu besar. Nona Roseta, terlalu merendahkan diri.
"Tidak apa-apa! Nona Roseta." kata ku sungkan.
"Kalau begitu menginaplah kalian untuk malam ini. Anggap saja rumah sendiri ya!!" kata Nona Roseta menyusul Faisya ke ruangan dapur.
"Ba-baiklah aha ha ha!" balas ku tertawa masam karena merasa sungkan.
“Ayo kak, Nona! makan dulu!” tawar Faisya yang tiba-tiba datang dengan dua piring Pancake.
"Wah! Sepertinya terlihat enak, uhu hu!" kata Edna-san.
Setelah melihatnya, aku tidak yakin kalau Edna-san akan memakannya. Soalnya dia makan dagingkan?
“Ah, aku akan memakanya.”
“Ara~ karena sudah disiapkan. Baiklah selamat makan.” Kata Edna.
Edna-san pun mulai memakan Pancake nya.
“Uwah! Manis sekali, umm!”
“He?.... Jadi dia bisa makan itu juga!” gumamku.
“Kenapa melihat ku bocah tameng? Apa kau tergoda dengan kecantikan ku ketika makan?”
“Siapa juga yang tergoda saat melihat mu makan?”
Faisya yang menyaksikan hanya bisa terseyum melihat tingkah Edna-san.
Nona Roseta, kemudian muncul dari balik gorden pintu ruang tengah dengan membawa sebuah nampan yang berisi empat minuman gelas.
“Baiklah, ayo diminum!” tawar Nona Roseta.
****
Setelah menyantap hidangan yang disediakan, kami pun mulai mengobrol.
__ADS_1
“Lalu bagaimana pertarungan mu pada malam itu Zef-kun? Bagaimana dengan Feniks itu apakah kau berhasil mengalahkannya?”
Mendengar hal tersebut membuat Edna-san sedikit merubah ekspresinya.
“Sebenarnya pada malam itu aku dirasuki oleh Iblis yang bernama Arnabas. Dia tersegel dalam tameng ini, jadi ketika pada waktu ku mengeluarkan seri kutukan. Dia lalu bangkit dan kemudian merasuki tubuhku.”
Nona Roseta kemudian mengerutkan dahinya mendengar nama Arnabas.
“Arnabas kau bilang? Bukankah dia harusnya sudah mati ratusan tahun silam?”
“Kau juga tahu tentangnya!?” kataku.
“Tentu saja aku tahu tentangnya, aku pernah membacanya disalah satu buku yang menceritakan tujuh Jendral Iblis. Dikatakan dalam buku itu dia harusnya sudah tewas oleh para Pahlawan. Tapi kenapa mereka masih hidup dan bersemayam pada tameng mu."
"Yang kudengar dari Feniks Agung, bahwa para mantan Jendral Iblis ini memang dikalahkan oleh para Pahlawan Bintang sebelum ku. Kekuatan mereka diserap kedalam masing-masing senjata legendaris milik Pahlawan. Mungkin dari sanalah mereka dapat bangkit."
"Oh, jadi seperti itu yang sebenarnya! Lalu bagaimana dengan Feniks itu."
"Feniks Agung ya, dia juga yang menyelamatkan ku. Kalau bukan karena pertolongannya, mungkin aku sudah mati."
Faisya dan Nona Roseta, mengangkat alisnya tak percaya jikalau Tuan Feniks akan menolong orang seperti ku.
"Ti-tidak mungkin dia sebaik itu. Bukankah dia orang yang tidak pandang bulu?" kata Nona Roseta.
"Oho ho ho ho, kau tak salah Nona Roseta, dia memang orang yang sangat dingin."
Tiba-tiba, Edna-san kembali merubah ekspresinya dan menatap Nona Roseta dengan dingin.
"Tapi beliau melakukan itu karena Zef-kun adalah Pahlawan Perisai. Jika pun bukan karena itu, jangan harap beliau mau melakukannya." kata Edna-san.
Suasana menjadi begitu canggung setelah Edna-san berkata demikian. Nona Roseta, juga tampaknya merasakan ada sesuatu yang tidak beres dari tatapan dingin yang diarahkan Edna-san.
Sebenarnya aku tidak mau terjadi konflik disini dan sepertinya keadaan akan semakin buruk, jika aku terus membahas perkara malam itu.
Karena Faisya penasaran dengan wanita yang ikut bersamaku dia pun bertanya padanya.
"Sebenarnya anda siapa Nona dan apa hubungannya dengan Kakak? Apakah anda yang menyelamatkan Kakak ku?" tanya Faisya penasaran.
"Oh, bagaimana menjelaskannya ya? Apa kau tidak keberatan, jika aku menjadi calon ipar mu?"
Pernyataan Enda-san membuat ku tersedak.
"Uhuk~ Apa yang barusan kau bilang?"
"Kakak ayo minum dulu!" tawar Faisya.
Nona Roseta dan Faisya mengangkat alisnya tak percaya.
"Jadi, kau pelayan dari Feniks itu?" kata Nona Roseta yang mulai bangkit dari tempat duduknya, sembari bersiap siaga jika terjadi serangan.
"Tenanglah, aku tidak bermaksud buruk disini. Tujuan ku kemari hanyalah untuk mengantarkan mereka berdua ke T'hearus dengan cepat. Aku menggunakan wujud evolusi ku agar untuk mengelabui orang-orang."
"Maaf, aku telah salah sangka!" kata Nona Roseta.
"Tidak apa-apa kok!" balas Edna-san dengan santai.
"Ah, Bagaimana kalau kita mulai meminum saja?" Faisya mencoba mencairkan suasana.
"Ey, ayo semuanya minum!" Nona Roseta menambahkan.
"Tunggu!? Minuman apa ini?"
...----------------...
...Perhatian, beberapa paragraf di bawah mengandung adegan dewasa. Anak dibawah umur tidak dianjurkan membaca bagian Chapter ini. Harap untuk scrolling kebawah untuk mendapat pemberitahuan selanjutnya....
...Area 18+...
...Adegan Mabuk 🍷...
...----------------...
"Ah, itu Wine! Kenapa Zef-kun kau tidak bisa minum?"
"Aku memang tidak bisa minum itu, ajaran yang kami anut melarang kami meminum Alkohol."
"Oh, begitu rupanya. Maaf aku kelupaan, kebanyakan orang dari T'hearus memang tidak meminum Alkohol. Ha ha ha!" sambil Nona Roseta menegak minumannya.
Aku perhatikan minuman yang Nona Roseta minum bukanlah minuman beralkohol. Mana mungkin juga dia meminum Wine sedangkan dia sekarang tengah hamil.
Sementara Edna-san sudah tampak mabuk padahal baru minum sedikit.
"Nee~ Zef-kun, kau membosankan sekali ya. Ayolah minum sedikit saja, itu tidak akan berdampak buruk pada mu. Hik!"
"Edna-san, kau tidak tahan minum?"
__ADS_1
"Siapa bilang aku tak tahan mi...hikk...num. Aku bahkan bisa minum lebih banyak...hikk.. Nona Roseta, beri aku sepuluh botol wine, maka akan aku guncankan dunia...hik. Nee~ Zef-kun, mau main dengan ku habis ini. Aku jarang sekali menjumpai pria tampan seperti mu...hik... Peluk tubuhku tampan."
Apa-apa ini, Edna-san mulai bicara ngelantur dan dia mulai mengatakan sesuatu yang aneh. Aku tak menyangka Edna-san juga akan semesum ini. Setelah selesai bicara, dia mulai menegak minuman yang tersisa, sebelum dia memasukkan kedalam mulutnya, aku mengambil gelasnya.
"Sudah cukup Edna-san, kau tak tahan minum!"
"Kebalikan minumanku~ hik!"
"Ara~ aha ha ha ha!" Nona Roseta hanya tertawa.
"Faisya, apa kau tadi juga meminumnya?"
"Ti-tidak kak! Aku tidak meminumnya. Aku hanya minum teh seperti yang diminum Eila-san."
"Syukurlah... Hai sudah cukup!"
"Berikan gelas ku...hik.." Edna-san terus mencoba mengambil Wine yang ku rebut darinya.
...----------------...
...Perhatian, paragraf di bawah sudah kembali aman. Silahkan untuk kembali menikmati cerita....
...Area Safe 16+...
...----------------...
Malam pun tiba, aku dan Faisya esok hari akan segera melanjutkan perjalanan menuju T'hearus. Nona Roseta bilang, kalau desa ini juga tidak aman. Banyak sekali aparat pemerintah yang selalu lalu lalang untuk berpatroli.
Oleh sebab itu, aku juga tidak bisa terus berlama-lama di rumah Nona Roseta. Meskipun aku tahu kalau lokasi rumah ini juga jauh dari pemukiman. Tapi pasti akan selalu ada kemungkinan para aparat juga akan kemari.
Saat ini aku sedang berada di atas balkon dan sedang melihat indahnya langit malam. Aku sedang merenungi tentang tujuan hidup ku selanjutnya. Setelah orang tua ku meninggal, aku benar-benar kehilangan arah untuk menjalani hidup.
Seakan-akan, aku merasa kalau hidupku sekarang tak ada artinya. Aku juga harus menanggung tanggung jawab sebagai seorang kakak dan sekaligus menggantikan peran orang tua ku untuk Faisya.
Sekarang aku benar-benar pilu, aku menjadi seorang Pahlawan diluar keinginan ku. Aku hanya ingin hidup normal dengan bahagia, tidak harus melalui cobaan berat seperti ini.
Tapi pada akhirnya aku sadar, bahwa memikirkan saja tanpa melakukan sesuatu, justru akan semakin sia-sia. Saat ini Tuhan sudah menunjuk ku sebagai Pahlawan Perisai.
Berarti aku juga harus terima dengan takdir yang sudah sah ditentukan untuk ku. Maka dengan menjalaninya akan membuat hidup semakin bermakna.
"Ara~ Zef-kun kau belum tidur?" terdengar suara Nona Roseta dari belakang ku.
"Ah! Nona Roseta, maaf aku tak bisa tidur."
"Uhu hu hu! Kau mengingatkan ku pada Fernandez!"
"Nona Roseta, kenapa anda tampak tanang? Padahal beberapa waktu lalu, anda baru saja kehilangan Suami anda."
"Zef-kun, kau kira aku sudah hidup berapa lama? Aku tidak sekalipun merasa gelisah dengan hanya memikirkan tentang suatu hal yang tidak akan bisa kembali. Aku sudah terbiasa hidup menyendiri selama ratusan tahun.
Aku juga sudah terbiasa melihat orang-orang terdekat ku satu persatu menghilang. Jadi ini soal ketegaran hati, semakin kau terbiasa merasakan rasa sakit. Maka kau akan dapat menaklukkan rasa sakit itu."
Aku kembali merenungi perkataan dari Nona Roseta dan mencoba mencerna apa yang dia katakan.
"Jadi, semua perasaan itukan yang membuat anda setegar ini?"
"Ya, kau harus bisa mengikhlaskan sesuatu yang telah hilang Zef-kun. Kadang ku teringat kelamnya masa laluku. Mengingatkan kembali semua memori yang kuharap tak ku ceritakan. Terkadang aku berpikir untuk pasrah, dengan begitu aku akan dapat mengikhlaskannya." ucap Nona Roseta dengan senyum penuh makna sambil menatap indahnya gugusan bintang.
Kalimat yang dilontarkannya penuh dengan arti. Selama aku bisa mengikhlaskan sesuatu, maka aku tak perlu banyak bersedih. Lebih baik, aku melakukan apa yang harus aku lakukan kedepannya daripada harus meratapi hal yang telah terjadi.
"Baiklah! Terimakasih atas nasihat anda Nona Roseta." ujar ku sambil membungkuk.
"Panggil Eila saja ya!"
"Baik Eila-san, sekali lagi terimakasih."
"Baiklah, kalau kau sudah merasa ngantuk. Kau bisa kembali ke kamar ya!" kata Eila-san, lalu melenggang pergi.
Karena aku sudah merasa lelah dan kantuk, aku putuskan juga untuk kembali ke kamar. Pada saat ku memasuki ruangan kamar, aku melihat Faisya dan Edna-san sedang tertidur lelap di masing-masing ranjang mereka.
Kamar ini terdapat empat buah tempat tidur, sehingga cukup luas untuk menampung kami bertiga. Aku mulai menggeliat ke kasur dan lalu menutup mataku.
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Gurun Hera")
Note :
Jangan lupa Spam likenya ya Brand, agar Senpai On fire🔥
Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.
- My Free Life In Another World
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.
__ADS_1
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author