
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 57 "Epilog"
"Aku tidak berniat memanggil mu, keadaanku lah yang memaksanya. Aku minta kau jangan mengambil alih kesadaran ku." Aku menatap pria itu dengan tatapan sinis.
"HA HA HA HA, SANGAT LUCU KAU BOCAH! TENANG SAJA, AKU SEKARANG TAK PUNYA CUKUP ENERGI UNTUK MELAKUKAN ITU. MUNGKIN SEKITAR DUA SAMPAI TIGA MINGGU LAGI AKU BARU BISA MELAKUKANNYA."
"Dan aku minta jangan lagi kau lakukan itu."
"YA ITU TERGANTUNG SITUASI, KALAU DISAAT KAU MEMANGGILKU TETAPI KAU PAYAH. TENTUNYA AKU AKAN MENGAMBIL ALIH KESADARAN MU."
"Cih, kau memang mahkluk yang licik."
"HA HA HA HA, YA YA, TERSERAH KAU MAU BILANG APA. SEKARANG APA YANG KAU INGINKAN?"
"Beri aku kekuatan untuk keluar dari situasi ini."
"YA, AKU BISA SAJA MEMBANTU. TAPI ADA SYARATNYA."
"Apa itu?"
"CARIKAN AKU MUSTIKA SILUMAN AYAM HITAM."
"Siluman? Apa itu?"
"YA AMPUN, ORANG DI BENUA INI MEMANG BODOH. MONSTER AYAM HITAM!!"
"Untuk apa benda itu?"
"JANGAN TERLALU BANYAK TANYA, CARI SAJA MONSTER ITU DAN AMBIL MUSTIKA NYA."
"Cepat kepung Pahlawan Perisai. Jangan biarkan dia kabur!" Disaat kesadaran ku tengah berada di alam bawah sadar. Aku mendengar suara seorang pria yang terdengar berteriak didekat ku.
"SEPERTINYA DILUAR SANA KAU SEDANG DIKEPUNG. BAIKLAH, SEKARANG GUNAKAN KEKUATAN KU SESUKA MU. TAPI INGAT, AKU PUNYA LIMITER."
"Emh!!"
Aku kembali tersadar. Saat ini aku sedang terpejam dan mulai melakukan ancang-ancang untuk menyerang. Aku merasa para Prajurit sedang memperhatikan ku dengan ketakutan.
Entah mengapa aku merasa kekuatan yang amat dahsyat dari sebelumnya.
"Hati-hati, aku merasa Aura merah itu amat berbahaya."
"HEAAAAAAARRRGHH!!!!"
'BLASHHH'
Seketika tameng ku mengeluarkan gelombang kejut yang membuat para Prajurit itu sedikit terpental.
"Awas!! Dia berbahaya! Siapkan tombak kalian. SERANG!!"
""HAAAAA!!""
Para Prajurit serempak menyerang ku dengan tombak mereka. Aku langsung bersiap siaga melindungi diri dengan tameng ku. Sesaat ku perhatikan, para Prajurit ini berjumlah enam orang termasuk dengan Komandan mereka. Lima diantaranya menyerang ku secara bersamaan dengan menggunakan tombaknya.
'TRANGG!!'
Tameng ku dengan sukses menahan tombak mereka dan kudorong hingga mereka secara bersamaan terjungkal ke tanah. Aku langsung mengucapkan nama jurusku untuk membakar mereka dengan api kutukan.
"CRUSE FIRE SHIELD!"
"""AAAARGGHH"""
Merekapun menjerit kesakitan akibat terbakar dengan api kutukan yang membara.
"Kurang ajar! Kau memang Iblis."
'SRING!!'
"Haaaaa!!"
Dengan keberanian penuh, Komandan bodoh itu menarik pedangnya dan berlari kearah ku.
'TRANGG'
Serangan itu dengan mudah kutangkis. Aku dengan cepat menendang perutnya hingga ia terjatuh dan pingsan. Dengan jurus api, aku kembali membakarnya hidup-hidup.
****
Singkatnya, aku berhasil keluar dari penjara itu. Tak sedikit Prajurit yang tewas di dalam sana. Kebanyakan mereka mati dengan cara mengenaskan.
Aku juga sudah memeriksa semua Sel tahanan didalam sana. Namun, aku tidak menemukan keberadaan Faisya dan Edna-san ditahan.
Siang itu, aku dihadang oleh seorang pria berzirah emas tengah berdiri dengan sebuah pedang besar yang tertancap di tanah. Dia menghadang ku di depan pintu keluar penjara.
"Cih, baru saja aku ingin mengunjungi mu. Tapi kau berani melarikan diri begitu saja. Sebelum itu langkahi dulu mayat ku, Perisai Iblis."
"Dengan senang hati!! Ku antar kau menemui kakek mu yang diatas." Ucapku yang masih diselimuti oleh emosi.
Aku langsung menyerangnya. Pria itu dengan sigap menahan pukulan tameng ku dengan pedang besarnya, sehingga menimbulkan dentingan keras. Tanpa ada jeda, kuterus melakukan serangan demi serangan.
Sekarang giliran ku yang terdesak. Pria itu membalas serangan ku dengan menebaskan pedang besarnya itu hingga membuat jarak kami agak menjauh.
"Kau boleh juga Perisai Iblis. Tapi jangan berpikir untuk bisa mengalahkan ku."
__ADS_1
"Cih, 'IRON FIRE SHIELD'" Setelah ku mengucapkan nama jurus. Muncul beberapa balok besi yang terbakar di ruang hampa. Besi-besi itu kemudian meluncur dengan cepat kearahnya.
Dengan hanya bermodalkan pedang, ternyata dia berhasil menangkisnya membuat besi-besi itu terpental ke segala penjuru arah.
"Ha ha ha ha, Kau perlu menaikan statistik mu terlebih dahulu sebelum mengalahkan ku."
"Berhenti!!"
Terdengar suara teriakan seorang perempuan dari kejauhan. Karena suara itu, kami berdua mengalihkan perhatian.
"Cukup Azrael, hentikan tindakan mu!" Ucap seorang wanita sembari turun dari kudanya.
Aku belum mengetahui siapakah perempuan ini. Tetapi setelah melihat zirah yang dikenakannya, aku yakin dia juga seorang Bangsawan.
Ternyata tidak hanya dia saja, ada juga beberapa Prajurit Wanita. Aku menyimpulkan bahwa wanita ini adalah pimpinan mereka.
"Kau lihat sendiri kan Sayang ku, dia adalah Iblis." Ucap pria berzirah emas itu.
"Aku tidak bertanya kepada mu, Bajingan! Berhentilah kau memanggilku seperti itu."
"Ouh, ucapan mu terdengar seperti senandung puisi ditelinga-"
"Cukup Azrael, aku sedang tidak ingin bercanda dengan mu!"
Terbesit dipikiran ku mengenai kondisi Faisya dan Edna-san. Lantas aku tanyakan kondisi mereka.
"Dimana kalian menahan adik ku?" Tanya ku dengan penuh amarah.
"Kau punya adik?" Wanita berzirah itu mengerenyitkan keningnya.
"Cepat katakan! Dimana dia?"
"Ha ha ha, disaat kondisi mu sekarang kau masih ingat dengan adik mu. Mungkin dia sudah mati." Ucap Si Bedebah sialan.
"Pembohong!!"
'BUK'
"Arghh!"
Dengan penuh emosi, kupukul pipinya hingga ia terpental cukup jauh. Sepertinya dia kurang siap menerimanya.
"Ku-kurang ajar, bagaimana bisa kau-"
"IRON FIRE SHIELD"
Balok-balok besi mulai bermunculan dan melesat dengan cepat kearah Pria Bedebah itu. Namun, sebelum akan mengenainya. Wanita berzirah itu dengan cepat datang melindungi dan menangkisnya dengan pedangnya.
'TRANG TRANG TRANG TRANG'
"Mana ku tahu? Para anak buah ku hanya membawanya saja." Ucap pria yang bernama Azrael.
Kalau dia tidak tahu keberadaan Faisya, lantas apakah mungkin Edna-san, berhasil mengamankannya? Aku tidak cukup informasi mengenai ini.
"Saudara Zef, benarkan nama mu Zef? Tolong tenanglah, kita bisa bawa berunding!"
"Berunding kau bilang? Setelah menangkap ku kau mengajakku berunding? Lucu sekali! Karena aku sudah ada disini. Aku akan menuntut balas-"
"OI OI OI, BOCAH JANGAN GEGABAH! AKU TAHU APA YANG KAU PIKIRKAN. JIKA KAU INGIN MEMBALASKAN DENDAM MU, LEBIH BAIK KAU PERKUAT DULU KEMAMPUAN MU. APALAGI DIDEPAN MU SEKARANG ADA PAHLAWAN PEDANG. KEKUATANNYA SEKARANG LEBIH TINGGI DARIPADA DIRI MU. SESUAI YANG KU PINTA, BERIKAN AKU MUSTIKA AYAM HITAM. MAKA KAU AKAN LEBIH KUAT DARI SEKARANG." Aku kembali mendapatkan bisikan gaib.
"Pahlawan pedang!? Jangan bilang dia Putri Sanaya!" Kataku.
"AKU TIDAK PEDULI DENGAN NAMA ATAUPUN STATUSNYA. YANG PENTING SEKARANG DIA JAUH LEBIH KUAT DIBANDING DIRIMU DAN LEBIH BAIK KAU PERGI DARI SINI. LALU KEMBALI LAH SETELAH LEBIH KUAT."
"Lalu bagaimana dengan Faisya?"
"FOKUS SAJA DENGAN PELARIAN! PIKIRKAN LAGI NANTI!!"
"Baiklah!"
Setelah aku mendapatkan bisikan gaib, aku kembali menatap mereka dengan sinis.
"Cih, sekarang aku hanya minta kebebasan ku. Biarkan aku pergi!!"
"Kau bercanda, Perisai Iblis!? Setelah bersusah payah, kau ingin aku membiarkan mu pergi begitu saja?" Kata Azrael dengan penuh emosi.
"Cukup Azrael, biarkan dia. Dia seorang Pahlawan seperti ku. Kau tidak pantas memperlakukan dia seperti itu."
"Dia kutukan bagi dunia! Dia tak pantas untuk hidup!"
"Aku yakin dia akan dapat mengontrol kekuatannya! Berikan dia waktu sementara untuk pergi."
Sementara mereka berdua memperdebatkan ku. Aku langsung pergi dari hadapan mereka. Sekarang yang menjadi prioritas ku adalah dapat menemukan Faisya. Semoga saja Faisya dan Edna-san dalam kondisi baik sekarang.
Aku berlari dengan cepat keluar dari lokasi tahanan Istana. Dalam pelarian ku sempat dihadang oleh para Prajurit. Dengan mudah ku kalahkan mereka dan terus melangkah keluar.
****
Setelah aku berlari cukup jauh dari Penjara Istana, sampailah aku di kota. Aku berbaur dengan masyarakat agar aku tidak mudah tertangkap. Selama sehari selama penuh, aku berada di kota tersebut.
Aku bahkan tidak makan ataupun tidur dalam semalam. Aku mendengarkan apa yang di katakan Arnabas untuk tidak kembali ke mode normal terlebih dahulu agar aku dapat menahan lapar dan kantuk.
Aku bersembunyi diantara gang-gang sempit, agar aku tidak berurusan dengan para Prajurit Kerajaan. Aku hanya menghindar pertarungan yang tidak perlu. Karena hal itu akan menguras banyak energi.
Di esok hari, aku mulai keluar dari persembunyian ku untuk kembali mencari pintu gerbang keluar. Aku tidak mencari Faisya dan Edna-san dikarenakan, aku yakin mereka ada diluar sana atau bahkan mungkin masih berada di T'hearus.
__ADS_1
Selama hidupku di Elceria, aku belum pernah sekalipun ke Ibukota dan ini adalah kali pertama ku berada di sini. Jadi, aku masih buta arah mengenai tempat-tempat lokasi di kota ini.
Aku terus berjalan menyusuri jalan tanpa ada hambatan yang berarti. Namun, sepertinya orang-orang sudah mengenal ku dan mereka menatap ku dengan tatapan sinis hingga bahkan banyak yang menghindar.
Aku tidak peduli dengan reaksi mereka dan aku terus melangkah maju.
****
Setelah ku menyusuri jalanan kota, akhirnya aku melihat pintu gerbang keluar kota. Aku terus melangkah maju tanpa memperdulikan orang-orang di sekitar ku. Namun, ketika ku ingin melangkah lebih jauh, bahu ku disentuh oleh seorang pria berjubah hijau dengan pakaian yang tampak aneh. Karena itu aku menghentikan langkahku.
"Hay bung! Apa yang terjadi padamu?" Tanya pria itu.
"Jangan menyentuh ku!!!" Aku secara spontan langsung memukulnya dengan tameng ku.
'PLANG BUK'
Dia dengan refleks menangkis dengan lengan kirinya. Hingga ia bergeser beberapa senti.
POV 3
Disanalah Zef berkonfrontasi dengan Yudha dan Syira. Terjadi sebuah petarung diantara mereka yang membuat Zef sempat terdesak. Ketika Yudha berhasil mendesak Zef lebih jauh, para Prajurit penjaga gerbang yang bersenjatakan tombak langsung mengepung Zef.
Zef begitu sulit ditaklukkan, dia berhasil membuat para Prajurit itu kocar-kacir. Yudha lagi-lagi bertindak untuk menghentikan Zef. Akan tetapi Yudha sadar, dia belum cukup kuat untuk dapat mengalahkannya. Yudha pun membiarkan Zef untuk pergi keluar pintu gerbang.
POV Zef
Aku berhasil melakukan pelarian diri keluar dari gerbang Ibukota. Seperti yang di pinta Arnabas, aku pun pergi ke hutan sebelah barat kerajaan mencari keberadaan monster Ayam Cemani untuk mengambil mustikanya.
Awalnya aku merasa kesulitan untuk mencari monster Ayam tersebut. Setelah kurang lebih tiga hari lamanya menyusuri pedalaman hutan, aku akhirnya menemukan Ayam tersebut. Tak sulit menemukan Ayam itu di kerajaan ini, karena disini banyak terdapat habitatnya.
Setelah ku jumpai, aku kembali dihadapkan dengan pertarungan antara diriku dan seekor Ayam Cemani jantan raksasa. Segala upaya telah ku lakukan, aku bahkan sempat terpojok karena seekor ayam. Dengan paruh besarnya, dia terus berupaya mematok ku. Namun, syukurnya serangannya berhasil ku tangkis dengan Perisai ini.
Bila dibandingkan dengan kekuatannya monster-monster lain yang pernah ku temui. Ayam ini termasuk monster tingkat menengah. Meskipun masih belum berevolusi, ayam ini masih begitu kuat dan cerdik.
Pada akhirnya pun aku berhasil menyembelih dan mengambil mustikanya. Batu mustikanya berwarna hitam legam dan sedikit mengkilap.
Pada saat ku ingin menyerap batu mustikanya, tiba-tiba tameng ku berubah menjadi seri kutukan tanpa keinginan ku.
"Kenapa, aku tidak merubahnya? hey hey."
"AKU YANG MERUBAHNYA!"
"Sudah kuduga ini ulah mu."
"SEKARANG, CEPAT SERAP MUSTIKA ITU DALAM MODE AMARAH INI."
Aku pun mulai menyerapnya. Sama seperti sebelumnya, batu itu berubah menjadi asap lalu terserap kedalam bola kekuatan tameng.
[ Proses Ekstraksi dimulai ]
Selesai...
Menganalisa
Mustika Ayam Cemani
- Penambahan level +4
Level Up 50⬆️
- Level mencukupi Perisai Baru terbuka Dragon Shield
- [ KEKUATAN TERLARANG DI TAMBAHKAN ]
Menambah Buff kekuatan tameng amarah hingga sepuluh kali lipat.
"Ini!!"
"HA HA HA, BAGUS! BAIKLAH BOCAH, SEKARANG WAKTUNYA MEMBALAS DENDAM!"
"Ya tentu saja! Akan ku hancurkan semua yang telah merenggut semua hal yang berharga dalam hidupku! Kubalaskan dendam pada mereka yang telah menginjak harkat dan martabat ku. Bunuh... Bunuh... Bunuh!"
END~
Note :
Pengerjaan Audiobook sedang tertunda lantaran beberapa Dubber kita sedang dalam kesibukannya di Realife. Sementara ini, Senpai akan melakukan revisi kembali.
Saat ini kita sedang mempertimbangkan apakah novel ini akan dilanjutkan atau tidak. Mengingat biaya produksi kita lebih tinggi daripada Novel lainnya. Senpai kemungkinan berencana akan jadi me-remakenya ke sebelah. Jika memang keuntungan disini belum menjanjikan.
Senpai ucapkan terimakasih buat kamu yang udah setia mengikuti alur cerita dari novel ini sampai akhir.
...INFORMASI LEBIH LANJUT LIHAT DI KOLOM KOMENTAR 👇👇...
...----------------...
Mampir juga ke Audiobook Senpai dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan favorit terimakasih.
* My Free Life In Another World
* Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium
* The Rising Of The Lord Hero (1)
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author
__ADS_1