
Calon istri dia bilang, tak lain dan tak bukan ia adalah Azrael.
"Cih, kenapa kau ada disini bajingan? Minggir!" ujar Sanaya.
"Ah! sebutan yang indah sekali!"
Indah katanya? Apa otaknya sudah rusak, kata itu tidak lebih dari menghina. Tapi kenapa orang ini malah senang dipanggil seperti itu? Sanaya tidak menanggapi dan menarik ku pergi.
"Hey, kenapa kau mengindari ku dan siapa pria yang kau gandeng itu?"
Sanaya berhenti melangkah.
"Itu tidak penting bagimu!" pungkas Sanaya lalu melanjutkan langkahnya.
Azrael kemudian menghadang kami lagi. Jujur melihat perilakunya itu membuat ku kesal. Dia terlihat seperti seorang lelaki buaya yang memberikan kesan romantis kepada mangsanya.
Tipikal orang sepertinya memang sudah banyak aku lihat di anime, manga dan light novel. Jangankan di ketiga hal itu, di dunia nyata pun aku sering menjumpainya.
"Kenapa kau mengacuhkan ku? (Azrael melirik ku dengan tajam) Apa itu karena pria Bar-Bar ini?"
Bar-bar terus, aku muak mendengarnya, tatapan itu seperti ingin menantang ku. Sebenarnya aku tidak peduli, karena aku tidak punya masalah dengannya.
"Cukup, memang sialan kau ya, ini bukan karenanya." bentak Sanaya.
"Lalu siapa dia? Apakah dia calon suami yang kau maksud itu?"
Sesaat Sanaya terdiam dan memikirkan kembali dengan ucapan yang mungkin pernah dia katakan.
"Apa calon suami? Apa mungkin Sanaya pernah berkata sesuatu tentang hal itu dengan Azrael, serius? Sepertinya aku harus meminta jawaban langsung dari Sanaya!" pikirku dalam hati.
Dengan sedikit menahan perkataan Sanaya mengiyakannya.
"Ya, dia calon suami yang aku maksud. Sekarang kau puas! Dan jangan pernah mengganggu ku lagi."
Oh tidak, ini akan menjadi runyam, bukankah Azrael itu tunangannya. Kenapa Sanaya malah berkata seperti itu? Calon suami? Jelas-jelas aku baru bertemu dengannya beberapa hari ini.
"Apa yang kau kat-" sebelum aku mengakhiri kalimat ku. Sanaya menutup mulut ku dengan tangannya. Sesaat pula aku sadar sepertinya Sanaya sedang bersiasat.
"Kurang ajar kau, beraninya merebut calon istri ku!" teriak Azrael dan menarik kerah seragam ku.
Aku sontak dengan refleks mendorong, menepuk perut dan dadanya dengan teknik silat yang aku kuasai. Ia pun melepaskan pegangannya dari kerah seragam ku dan terdorong kebelakang.
Andai aku melepaskan tenaga dalam, mungkin Si Brengsek ini akan terpental. Tapi sudahlah aku harus menahan emosi.
"Argh!!! Beraninya kau!" kata Azrael.
"Sudah cukup!! Apa kau tidak mendengar penjelasan ku tadi, Azrael? Jika kau ingin bertarung maka lawanlah aku sebagai sesama kesatria." kata Sanaya dengan tegas.
"Dia sudah mempengaruhi mu rupanya! Hey kau orang bar-bar! Aku menantang mu bertarung satu lawan satu di Colosseum itu! Bagaimana, kau menerimanya?"
Aku cukup terkejut orang ini mau menantang ku. Aku sebenarnya malas untuk terlibat masalah ini, tapi aku sudah tak bisa menghindarinya.
"Jangan asal menantangnya Bajingan! Dia baru saja sembuh dari lukanya! Apa kau tidak punya hati? Kenapa kau tidak menantang ku saja sebagai kesatria?" kembali Sanaya dibuat naik pitam.
"Aku memang tidak punya hati. Hatiku hanya untukmu Sanaya. Ini bukan karena sebagai kesatria. Tapi dia telah menjatuhkan kehormatan ku dengan mendorong ku. Tentu saja itu adalah bentuk penghinaan!"
Secara mengejutkan, Sang Raja mendengar perkataan Si brengsek dan menerima usulan darinya.
"Aku mendengarkannya. Komandan Divisi tiga Kerajaan, Azrael menantang sang Lord Hero abal-abal dalam sebuah pertarungan satu lawan satu. Aku perintahkan kepada Sang Lord Hero untuk menerima tantangan dari Komandan Azrael. Ini sekaligus pembuktian untuk mu!" ujar Raja.
Bagiku bertarung dengan orang gila hanya akan membuang waktu tenaga dan pikiran. Sejujurnya, aku malas untuk meladeninya dan saat ini aku juga masih belum mengetahui, kemampuan dan kekuatan yang aku miliki sebagai Lord Hero.
Jadi, aku tidak bisa sembarangan menerima tantangan yang cukup kontroversial ini. Tapi ini juga untuk membuktikan, kalau akulah Lord Hero itu. Dengan terpaksa aku menerima tantangan itu.
"Baiklah aku terima!! Akan aku buktikan pada kalian dengan mengalahkan Si Brengsek ini!" ucapku tegas.
"Beraninya kau!!" Si Brengsek semakin kebakaran jenggot.
__ADS_1
"Sudahlah Azrael!" Sanaya mendorong Si Brengsek.
Si Brengsek, tampak kesal dengan omongan ku. Tapi aku sama sekali tidak peduli.
"Ayah aku punya usulan!" kata Sanaya.
"Apa itu?" balas Raja.
"Mengingat Yudha baru sembuh! Aku mengusulkan untuk pertandingan diadakan tiga hari lagi." usul Sanaya.
"Aku akan mendengarkan usulan mu. Tapi dengan syarat. Syaratnya jika Azrael memenangi pertarungan, kau harus menikah dengannya. Apa kau sepakat?"
Kesepakatan yang tidak sehat menurut ku, padahal Sanaya hanya ingin aku beristirahat untuk beberapa waktu.
Tapi Si Raja sampah itu malah memberikan syarat yang tak masuk akal. Sanaya terdiam sesaat dan memejamkan mata. Kemudian berkata.
"Baiklah, aku akan menikahinya! Tapi aku juga punya Syarat. Jika Yudha yang menang, jangan pernah menjodohkan ku lagi."
Aku hanya menepuk jidat ku mendengarkan Sanaya menyetujui persyaratan bodoh itu. Sepertinya Sanaya sangat yakin kalau aku dapat memenangkan pertarungan itu.
"Baiklah, sudah ditentukan Komandan Azrael akan bertarung tiga hari lagi dari sekarang. Aku juga mengizinkan Lord Hero untuk melatih kemampuan terlebih dahulu dan memilih senjata yang akan digunakan."
"Hegh! Si bar-bar ini tak akan mungkin menang melawan ku!" sembari Si Brengsek menyeringai.
"Hegh! Percaya diri sekali kau ini. Khawatir sekali calon istrinya akan di rebut." balasan ku menirukan ekspresinya.
"Cih! Ku habisi kau sekarang!"
"Sudah cukup Azrael! Habisi dia dalam pertarungan." ujar Raja.
Si Brengsek menoleh kearah Sang Raja.
"Baiklah Raja! he ha ha ha. Bersiaplah untuk menjemput ajal mu."
Melihat karakter dari Si Brengsek, aku menyimpulkan kalau dia adalah seorang yang mudah terprovokasi. Kelakuannya tak lebih dari seorang bocah. Hal ini bisa menjadi caraku untuk terus mempermainkan emosinya agar dia terus terpancing.
"Ajal ku? Hegh jangan bercanda. Menyentuh ku saja kau tidak bisa."
"Kita buktikan dalam pertarungan nanti! Jika kau lelaki sejati!" pungkas ku.
"Cih!! Ku bunuh kau sekarang!!"
Dengan amarah yang memuncak, Si Brengsek menarik pedang besar yang terdapat di punggungnya. Kemudian menyerang ku.
Akan tetapi Sanaya dengan sigap menangkis serangan dengan pedangnya yang mengeluarkan energi listrik.
"Matilah kau!!! teriak Brengsek.
'STRING STERELELEZZZ'
"Haa??" Brengsek mengangkat alisnya melihat serangannya di tangkis.
Kedua pedang saling berbenturan, sehingga mengeluarkan percikan api dan petir. Si Brengsek terkejut dengan tangkisan itu.
Meskipun pedang milik Sanaya lebih kecil, akan tetapi itu cukup menghentikan pedang besar milik Azrael. Ya mengingat itu senjata legendaris milik Pahlawan.
"Aku peringatkan padamu Bajingan! Jika kau berani menyentuhnya, maka aku lah lawan mu sekarang! Bersiaplah pasukan mu berhadapan dengan pasukan ku! Dan ayo kita bertarung sebagai seorang kesatria! Mengerti!!" ancam Sanaya dengan tatapan sinisnya terhadap Si Brengsek.
"Apa kau dengar itu? Apa kau sudah tuli? Buktikan di-"
"Cukup Yudha-kun, jangan membuatnya terprovokasi lagi." Sanaya memperingati ku dengan tatapan tajam.
"Ups! Oke~" pungkas ku.
"Cih!!!" Si Brengsek menurunkan pedangnya.
"Dan kau sekarang, cepat pergi dari sini! Jangan pernah menampakkan muka mu sebelum kau berhadapan dengannya di Colosseum nanti." ujar Sanaya.
__ADS_1
Si Brengsek sepertinya dia mulai menahan emosi dan hanya menghela nafas. Dengan tatapan tajam ke arahku ia lalu pergi.
Namun sebelum ia meninggalkan lokasi, hal tak terduga terjadi. Syira tiba-tiba datang melesat ingin menyerang Si Brengsek dari arah samping kanan ku.
"Akan ku bunuh kau!!" teriak Syira.
Sebelum akhirnya Syira menyerang Si Brengsek, aku berhasil meraih lengannya dan menariknya ke pelukan ku. Aku tahu mungkin itu agak kasar, tapi ini untuk mencegahnya agar tidak berbuat berlebihan.
"Sudahlah cukup Syira!" teriakku.
Kejadian ini hampir sama pada saat melawan Pahlawan Perisai. Syira juga mengeluarkan aura biru yang kuat dan aku merasakan hawa buas dari auranya. Sanaya yang melihat itu juga terkejut akan perubahan sifat Syira yang berubah drastis.
"Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" tanya Sanaya.
"Aku juga tidak bisa menjelaskannya, dia juga seperti ini ketika aku berhadapan dengan Pahlawan Perisai!"
Syira terus memberontak meski sudah aku peluk. Aku bahkan hampir kewalahan menahannya, dia terus bergerak kesana kesini.
"Kemari kau bedebah sialan!! Aku bunuh kau, beraninya kau memperlakukan Yudha-sama seperti itu." ujar Syira sambil menantang.
"Sudahlah Syira! Lihat aku baik-baik sajakan!" kataku berupaya menenangkan Syira.
"Kurang ajar kau Budak rendahan, beraninya kau bicara seperti itu! Bosan hidupkah dirimu haaaa!" kata Si Brengsek.
"Cukup Azrael! Bukankah aku menyuruh mu pergi!!" ujar Sanaya.
"Tapi aku tidak bisa membiarkan budak kurang ajar itu!" tegas Si Brengsek.
"Kemari kau bedebah sialan!!!" sembari Syira terus memberontak.
"Aku bilang pergi!! Atau bersiaplah pasukan mu berhadapan dengan pasukan ku." ancam Sanaya.
"Cih!" tanpa banyak bicara, Si Brengsek akhirnya pergi!
Sementara itu, Syira terus mengamuk di regapan ku. Aku mencoba menenangkannya.
"Mau kemana kau bedebah!?" Syira masih berteriak ketika Si Brengsek itu sudah pergi.
Aku lantas membalikkan badannya menghadap ku, Syira lalu menatap mata ku dengan terkejut.
"Syira, sudah cukup! Aku tidak apa-apa, sudahlah jangan seperti itu lagi yah!" ucapku dengan lemah lembut.
"Tapi bedebah it-"
"Settttt, sudahlah biarkan saja dia!" sembari ku mengacungkan jari telunjuk ku ke bibirnya.
"Baiklah Yudha-sama!" kata Syira yang kini menurunkan intonasi suaranya.
"Nah begitu!" sambil ku mengelus kepala Syira dan memeluknya.
Aura biru yang kuat itupun akhirnya memudar dan menghilang, emosi Syira pun semakin tenang. Sanaya yang melihat itu, terlihat seperti cemburu. Tapi sudahlah aku tidak memperdulikannya.
"Uhumm! Baiklah sepertinya situasi sudah kondusif. Ayo kita kembali!"
Tak lama Sanaya bicara Syira pun pingsan.
"Syira, hey Syira bangun!" ujarku khawatir.
"Dia kenapa?" tanya Sanaya.
"Aku tidak tahu! Mungkin ini karena dia mengeluarkan aura tadi!"
"Kalau begitu ayo cepat bawa dia kembali ke kamar!"
Dengan cepat aku menggendongnya dan membawanya ke kamar tempat kami istirahat sebelumnya.
Bersambung...
__ADS_1
(Chapter berikutnya "Kondisi Syira")
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author