
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 37 "Prolog Zef"
POV Zef
Namaku Zef Beskytter, aku adalah anak dari seorang Petani di suatu desa kecil di wilayah barat Kerajaan Elceria, tepatnya di kota Westria.
Sebenarnya tidak juga bisa disebut sebagai seorang Petani. Karena Ayah ku dulu pernah menjadi seorang Ksatria yang mengabdikan dirinya untuk Elceria selama dua puluh tahun.
Ayahku bernama Horman Beskytter. Pada akhirnya ayahku memutuskan untuk berhenti ketika ku berumur sepuluh tahun.
Ayahku akhirnya memutuskan untuk memulai kehidupan baru sesudah hengkang dari dunia militer dan bekerja sebagai Petani.
Sebelumnya aku tidak tahu apa yang menyebabkan ayahku berhenti dari militer. Padahal dulu dia sangat gemilang pada karirnya.
Aku setiap harinya membantu ayahku mengurusi ladang dan hewan ternak yang kami pelihara.
"Zef, apa kau sudah beri makan sapi-sapi itu?"
Dia yang bicara adalah ibuku yang bernama Aira. Ibuku adalah seorang wanita yang sangat menyayangi ku dan mencintai ku. Begitu pun dengan ku yang juga sangat mencintai ibuku.
"Sudah Bu!" balasku yang kini sedang berada di dapur mengambil sepotong roti dan segelas susu.
Mengenai latar belakang, aku adalah seorang yang berdarah dari penduduk Kesultanan T'hearus. Ibuku dulunya adalah orang dari Kesultanan T'hearus dan sekarang menetap di Elceria.
Pada suatu masa, Kesultanan T'hearus sempat dilanda bencana kekeringan yang parah, sehingga membuat rombongan keluarga ibu ku hijrah dari kota Al-khairoh menuju Westria yang menjadi kota persinggahan terakhir.
Orang tua ku saling pertama kali bertemu ketika Ayah ku mengunjungi Westria, mengirimkan bala bantuan untuk korban pengungsian. Pada waktu itulah terjadi hubungan cinta antara ibu dan ayahku.
Setelah beberapa tahun menjalin hubungan, pada akhirnya ayahku menikahi ibu ku. Keluarga besar ibuku memutuskan untuk menetap atau tinggal di Elceria dan lahirlah aku sebagai anak pertama.
Aku saat ini masih berumur tujuh belas tahun. Pada saat ini kehidupan ku masih terbilang sangat damai dan normal. Tidak ada sesuatu hal yang menyedihkan dalam hidup ku.
"Ya sudah! Habis makan kamu mandi ya!" ucap ibuku yang sedang menyapu lantai dapur.
"Iya Bu!"
"Kakak! Nanti kita jadikan ke rumah kakek?"
Dia yang memanggil ku kakak adalah adik perempuan ku yang bernama Faisya Beskytter. Aku juga sangat menyayangi adikku, dia berumur tiga tahun lebih muda dariku. Dia selalu menggunakan kerudung atau hijab putih untuk menutupi rambutnya dan selalu berpakaian serba putih. Faisya juga bermata biru seperti ku dan ia memiliki ciri tai lalat di pipinya.
"Iya kakak tidak lupa! Kita belajar ke rumah kakek bersama ya!"
"Umh!" Faisya mengangguk.
__ADS_1
Aku dan adikku memang sangat gemar belajar ke rumah kakek untuk belajar ilmu filsafat dan keagamaan.
****
Seusai makan dan mandi, aku dan adikku pun pergi di sore hari menuju rumah kakek yang berada diatas bukit Saga. Kami berjalan karena rumah kakek ku tidaklah jauh dari rumah ku.
Setelah sekitar seperempat jam berjalan kaki menuju rumah kakek, akhirnya kami sampai.
""Assalamualaikum kek!"" aku dan Faisya serempak memberikan salam.
"Walaikumsallam!" balas kakek ku.
Aku dan adikku kemudian masuk kedalam rumah kakek. Kamipun mulai belajar ilmu agama dari mengaji hingga mendengarkan dakwah dari kakek.
Kakek ku mempunyai ilmu agama yang sangat tinggi. Walaupun demikian beliau hanya mengajarkan ilmu tauhid ini kepada orang-orang tertentu yang memang ingin memeluk atau memperdalam ajaran Islam.
Seusai belajar di petang hari, kamipun pulang menuju rumah. Saat diperjalanan pulang hal tak terduga terjadi padaku.
Tangan kanan ku menjadi berat dan secara tiba-tiba muncul sebuah tameng yang aku sendiri tak mengerti kenapa benda ini bisa ada ditangan kanan ku. Faisya menjadi panik mengetahui diriku mendapatkan sesuatu yang aneh.
Aku terus mencoba melepaskan tameng itu dari tangan ku. Namun benda ini lengket dan tak bisa dilepaskan.
"Kakak apa yang terjadi pada mu?!"
"Entahlah... Benda ini tak bisa dilepaskan!'
Kami pun kembali ke rumah secara terburu-buru. Setibanya kami sampai dirumah, aku langsung masuk kedalam rumah dan langsung menemui Ayah ku yang baru selesai ibadah.
"Ayah!!" teriak ku histeris.
Ayah yang mendengar ku berteriak langsung bangkit dari tempat duduknya. Ibuku yang sedang memasak hidangan malam langsung keluar dari dapur.
"Kenapa Zef? Ada apa?" balas Ayah yang juga panik.
"Saat kami di perjalanan pulang. Tiba-tiba di tangan kakak muncul sebuah tameng Ayah!" Faisya menjelaskan keadaan.
"Tameng!?" ayah ku yang mendengar kata tameng mengangkat alisnya.
Aku kemudian menjelaskan keadaan ku mengenai tameng yang tiba-tiba muncul di lengan kanan ku. Ayah yang melihat bentuk tameng itu mengerutkan dahinya.
"Apa!! Tidak!! Bukankah tameng ini!"
"Kenapa ribut-ribut begini!" Ibu ku yang berada di dapur menghampiri kami yang tengah berada di ruang tengah.
"Nak! Darimana dirimu mendapatkan benda terkutuk ini?" tanya ayahku.
__ADS_1
Aku menjelaskan keadaan ku pada Ayah.
"Aku tidak tahu Ayah! Tiba-tiba benda ini muncul secara ajaib di lengan ku."
Ayah yang mendengar ku berkata demikian seakan tak bisa percaya. Tubuhnya bergetar ketika tahu tameng yang aku bawa ini bukan tameng sembarangan.
"Nak! Cepat lepaskan benda itu!" perintah Ayah ku.
"Aku sudah mencobanya Ayah, tapi tameng ini tak bisa lepas!"
"Memangnya kenapa dengan tameng itu!" Ibuku menimpali.
"Tameng itu adalah tameng terkutuk! Pembawa kutukan bagi kerajaan. Jika aparat pemerintah ada disini maka habislah kita. Zef mulai sekarang bersembunyi lah di dalam rumah. Jika orang lain tahu maka selesailah kita." kata Ayahku yang mengucurkan keringat dingin.
"Tapi Ayah itu sama saja mengurung Zef didalam rumah" balas Ibuku yang tidak terima.
"Apa kau ingin keluarga kita mati disini! Seminggu kedepan kita harus pergi dari kota ini. Kita akan ke T'hearus."
"Apa? Memangnya kenapa bisa seserius itu? Lalu jika kita pergi bagaimana ternak dan ladang yang kita urus Ayah." kembali ibuku bertanya.
"Ayah akan jual semuanya dalam seminggu ini. Kita akan benar-benar pergi dari sini. Kalau mereka sampai tahu Pahlawan Perisai terpilih disini, maka takkan ada kesempatan hidup untuk kita!"
Suasana menjadi hening seketika setelah ayah ku berkata demikian. Sebelum akhirnya aku berbicara.
"Jikalau seperti itu baiknya aku yang harus pergi Ayah!"
"Tidak! Apa kau bodoh, meskipun kau pergi Orang tua mu ini akan tetap menjadi sasaran. Makanya kita sekeluarga memang harus pergi dari sini."
"Ayah sabar dulu, Allah pasti melindungi kita Ayah!" ucap Ibuku yang mencoba menenangkan Ayah ku.
"Allah memang mencoba melindungi kita! Itu dengan kita pergi ke T'hearus secepatnya. Sudahlah, Zef jangan mencoba untuk keluar dari rumah sebelum kita berangkat Minggu depan. Ayah akan mencoba menjual aset selama waktu yang tersisa."
"Apa tidak ada jalan keluar lain Ayah!"
"Tidak ada, cara satu-satunya kita memang harus pindah dari kota ini."
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Peristiwa")
Note :
Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.
- My Free Life In Another World
__ADS_1
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author