The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Chapter 33 "Amukan III"


__ADS_3

Para perwira yang melihat ku bicara secara non formal dihadapan Tuan Putri mereka. Hanya bisa geleng-geleng kepala.


Aku juga mendengar mereka berbisik kalau aku adalah orang yang akhir-akhir ini cukup dekat dengan Sanaya. Tapi aku tidak peduli dengan ucapan mereka.


Sanaya yang mendengar ku memanggil dirinya dengan sebutan Sana-cwan. Malah justru membuat wajahnya semerah tomat dihadapan rombongan perwiranya.


Suasana yang tadinya tegang menjadi lebih sedikit membaik daripada sebelumnya.


"San-chan lagi di-dia bilang!!"


Sanaya pun mulai menghadap ku dan menatapku dengan tatapan dingin. Dia juga mencengkeram kan jari-jarinya ke pundak ku.


"Korosssszz!!" Atau Bunuh! dalam arti bahasa Indonesia nya.


"Tidaaaak!!!" Teriak ku histeris aahh.


"Uhum!! Baiklah saatnya serius. San-cwa-"


Belum selesai bicara Sanaya langsung memotong ku berbicara. Dia lalu membisikkan sesuatu ke telinga ku malu-malu.


"Bisakah kau tidak memanggil ku seperti itu dihadapan mereka! Aku tidak masalah jika hanya kita berdua, tapi ini dihadapan para bawahan ku!"


"Bukannya kau sendiri yang menyuruhku tidak usah terlalu formal?"


"Iya itu jika diantara kita saja!" masih dengan suara berbisik


"Baiklah terserahlah! Pinjamkan aku pedang mu!"


Mendengar ku berkata demikian membuat Sanaya mengangkat alisnya.


"Apa?! Tidak Yudha-kun untuk apa?"


"Tentu saja kau sudah tahu kan?"


"Jangan bilang kau akan-"


"Ya tentu saja melawan Pria Tameng itu!"


"Tidak, kau takkan bisa mengalahkannya!"


"Apa kau ingat aku pernah berhasil memojokkannya!"


"Itu berbeda dengan sekarang kau tahu! Dia sungguh begitu lebih kuat setelah dia pergi!"


Aku pun mencoba mengambil pedang itu dari tangan Sanaya.


"Kau lihat sendiri keadaan mu! Bahkan kau lebih parah dari ku. Sebaiknya kau beristirahat dan pulihkan dirimu. Lihat dan perhatikan aku bertarung mengerti!"


Sanaya pun melepaskan genggaman tangannya dari pedangnya dan membiarkan aku memakainya.


"Baiklah, aku mohon padamu Yudha-kun kalahkan dan hentikan dia!" ucap Sanaya berkaca-kaca.


Para perwira yang sebelumnya tidak menonton ku bertarung melawan Brengsek hanya bisa menaikan alisnya. Tak menyangka aku akan dapat menyentuh pedang milik Pahlawan itu.


Bukan hanya mereka saja yang terkejut. Li Mei dan Kakak seperguruannya juga sama halnya dengan para perwira prajurit itu. Sepertinya mereka sudah mengetahui hal ini dan bukanlah suatu yang patut dirahasiakan.


"Ya tentu saja! Aku akan mengalahkan pria tameng itu. Tapi aku takkan membunuhnya."


"Apa yang kau katakan... Jika kau bisa membunuhnya bunuh saja dia. Kalau kau membiarkan si tameng sial seperti dia tetap hidup di-"


Belum selesai salah satu perwira berucap lantang. Sanaya langsung memotongnya.


"Diaaammm!!! Kalian tahu kalau semua ini terjadi karena ulah kalian-"


"Cukup basa-basinya! Seri Kutukan 'Perisai Amarah'" Zef berdecak kesal sambil mengucapkan nama jurusnya.


Ketika itu pula, Zef membuat tamengnya bertranformasi menjadi perisai berwarna hitam legam dengan desain Iblis.

__ADS_1


Mata Zef menjadi merah darah dan dia mengeluarkan aura yang membuat orang disekitarnya merasa merinding ketakutan.


Bagi yang tidak mampu menahan aura itu malah justru berakhir pingsan dan tak sadarkan diri.


Aku yang melihat itu merasakan sensasi yang tidak biasa. Aura kematian sangat menyelimuti Zef, pertanda dirinya memang di kuasai Tameng itu.


Tanpa banyak basa-basi aku langsung berlari ke arah Zef dan mulai melepaskan beberapa tebasan. Meskipun tubuh ku merasa bergetar aku tidak gentar.


Lebih dari sepuluh jurus aku keluarkan, namun Zef masih cukup keras. Sangat mencolok sekali perbedaan ketika aku pertama kali bertarung dengan Si Tameng ini.


Kali ini dia benar-benar sangat kuat dari sebelumnya. Sanaya dan para orang-orang yang menyaksikan hanya bisa terpana melihat aksi ku.


"Yudha-kun!! Dia dikendalikan oleh-"


"Ya Aku sudah tahu! Sebenarnya ada sesuatu yang mengendalikan pikirannya. Maka dari itu salah satu kelemahannya adalah pada tameng itu. Jika aku berhasil merebut benda itu, mungkin saja dia akan sadar." ucapku dengan menggebu.


Semua orang yang mendengar mengangkat alisnya. Tak menduga jika ada penjelasan yang masuk akal itu.


"Takkan aku biarkan!!" ucap Zef dengan ketus.


'STRANG!! STRANG!!'


Dua senjata legendaris terus berbenturan hingga menghasilkan percikan api. Puluhan jurus golok sudah ku lepaskan, tapi Zef masih bisa bertahan cukup intensif.


Sambil terus menyerang, aku juga mencari informasi di bar statistik mengenai senjata yang aku gunakan sekarang. Aku menemukan petunjuk cara penggunaan skill Pedang Pahlawan.


Jenis Senjata


PEDANG PAHLAWAN


Level : 300


Bahan : Infinity Iron


[OPSI!] HELP!


OPSI!


[Opsi Skill]


Opsi Teknik


...


...


Opsi Skill


Skill atau jurus Pedang tergantung pada elemen yang digunakan pengguna. Jika pengguna menguasai elemen tertentu, maka pengguna hanya perlu merapalkan nama jurus sesuai elemen tersebut.


Jika pengguna menguasai elemen petir maka penyebutan Skill sesuai elemen yang dikuasai.


Contoh :


"[Thunder] Sword Blaster"


"[Thunder] Strike Sword"


"[Thunder] Arm Sword"


...


...


...


Banyak sekali opsi Skill yang bisa aku pakai sehingga aku sulit menjelaskannya satu persatu. Tanpa pikir panjang lagi, aku mencoba salah satu skill dan memilih secara acak elemen yang kira-kira aku kuasai.

__ADS_1


"FIRE SWORD BLASTER"


Aku meneriakkan nama jurus ku. Seketika muncul sebuah api yang berkobar hebat pada bilah pedang ku. Aku heran kenapa aku tidak merasa panas padahal ada api ditangan ku.


Tapi aku tidak mau ambil pusing untuk memikirkan itu, karena ada sesuatu yang harus aku utamakan. Kemudian aku menebaskan skill itu dari jarak sedang kearah Zef yang tengah berdiri di depan ku.


Seketika api itu memanjang dari bilah pedangku hingga membelah udara disekitar. Tentunya Zef sudah siap dengan ancang-ancang bertahannya.


Skill itu kemudian berhasil mengenai Zef, akan tetapi Zef bahkan tak tergores sedikitpun dari serangan ku barusan. Membuatku mengumpat dalam hati.


"Sial dia benar-benar sangat keras!"


Sanaya dan orang-orang yang menyaksikan hanya bisa terpana melihat ku mampu menggunakan pedang Sanaya seefektif itu.


"Sepertinya percuma jika aku menggunakan Pedang ini untuk bertarung melawan Pria ini. Pakai Skill saja tidak bisa apalagi menebasnya. Tak ada pilihan lain." kembali aku berspekulasi dalam hati.


Aku kemudian menancapkan pedang Sanaya ke tanah. Aku berfikir untuk bertarung dengan tangan kosong melawan Zef.


"Apa yang kau lakukan Yudha-kun? Kenapa-"


"Sudah lihat dan perhatikan saja!"


Aku berlari ke arah Zef dan menerjang dia dengan kaki kanan ku. Dengan teknik beladiri dari berbagai macam seni beladiri, aku berhasil memojokkan Zef.


Tamengnya memang ampuh untuk melindungi dari benda tajam. Akan tetapi Tameng ini tidaklah efektif untuk bertarung melawan seni beladiri.


Aku mengincar bagian vital Zef untuk membuat dia kelelahan dan pingsan. Seperti rahang, tulang kering, perut, alat vital dan kepala.


Aku memukul, menendang dengan seluruh kemampuan beladiri ku untuk memojokkan Zef. Benar saja Zef mulai kewalahan meladeni gerakan lincah ku.


"Siaaal, Bagaimana kau... ugh... ugh.. ahhh!!" ucap Zef yang terus terkena pukulan ku.


Tapi walaupun begitu tak juga memberikan dampak yang signifikan, dia masih sangat kuat menahan serangan pukulan ku. Aku terus membuka pertahanannya hingga muncul celah terbuka.


"Nah akhirnya kena kau... Haaa!!!"


'BUK!!'


Aku berhasil memukul rahangnya hingga membuatnya sempoyongan. Tanpa ada jeda aku terus memukul, menendang dan membantingnya hingga membuat dia tersungkur.


Tak berhenti sampai disitu aku berusaha mengunci pergerakannya.


"Pukulan mu tidak buruk Bocah Tameng! Tapi soal beladiri kau sepertinya perlu banyak belajar!" ucapku sambil terus mencoba menguncinya.


Sambil terus menguncinya dengan teknik beladiri Judo membuat Zef tak bisa bergerak. Aku juga mengunci lehernya agar sirkulasi pernafasannya tidak teratur dan membuat dia sulit berbicara.


Hal itu aku lakukan agar Zef cepat kelelahan dan tentunya akan sulit merapalkan nama jurusnya.


"Fisik mu terlalu lemah bocah Tameng! Kau hanya mengandalkan sihir dan kemampuan Tameng mu saja. Tapi tak pernah berlatih fisik. Kita lihat sejauh mana tameng itu bisa menguasai mu!"


Keadaan Zef kini tak sebaik sebelumnya, dia kelelahan dan kesulitan bernafas. Wajahnya kini memerah semerah cabai.


Melihat ada kesempatan itu dan Zef kini mulai lemas membuat ku segera mengubah teknik kuncian ku. Dengan membuat Zef telengkup dan menarik tangan yang memegangi Tameng terkutuk itu.


Kemudian aku memelintir tangan kanannya kearah berlawanan dan mematahkannya. Hingga mengeluarkan bunyi geretakan dari tulangnya.


'GREDAAKKK'


"Aaaaargh!!"


Zef hanya bisa mengerang kesakitan setelah tangan kanan dia ku patahkan. Tentunya aku tidak mematahkannya sekaligus. Aku hanya membuat tulangnya terpelintir dan dari engselnya.


Semua yang menyaksikan mengangkat alisnya tak terkecuali Sanaya. Mereka seakan tak percaya, hanya dengan tangan kosong aku bisa melawan Pahlawan Perisai semudah itu.


Dengan mematahkannya itu sudah cukup untuk dia tidak bisa menggunakan tameng itu sementara waktu. Aku kemudian menarik tameng itu dari lengannya yang patah. Namun...


Bersambung...

__ADS_1


(Chapter berikutnya "Tumbang")


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author


__ADS_2