
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 38 "Peristiwa Zef"
Tiga hari kemudian setelah peristiwa yang menimpaku. Aku mematuhi perintah Ayah ku untuk tetap berada di dalam rumah.
Ayah ku mulai menjual ladang dan beberapa aset kepada serikat dagang di kota ini. Kami mendapatkan keuntungan yang memang tidak terlalu memuaskan dari penjualan itu.
Tapi semua ini dilakukannya untuk membiayai perjalanan kami dan untuk memulai kehidupan baru di T'hearus. Namun belum genap seminggu kami akan pergi dari kota ini. Kabar mengenai kemunculan Pahlawan Perisai baru telah tersebar luas ke seluruh wilayah kerajaan.
Para prajurit mulai berpatroli menyusuri tiap-tiap pelosok wilayah tak terkecuali kota Westria. Aku dan keluarga sangat kebingungan mengenai situasi yang saat ini terjadi.
Kakek ku juga telah mendengar kabar mengenai diriku menjadi Pahlawan Perisai. Sebenarnya Kakek ku tidak mempermasalahkannya bahkan justru bangga dengan ku.
Hanya saja memang sosok Pahlawan Perisai di Kerajaan ini sangat amat dibenci. Ayah ku yang notabenenya seorang mantan militer sebenarnya sangat tidak terima kalau aku menjadi seorang Pahlawan Perisai.
Akan tetapi takdir berkata lain, Perisai Pahlawan ini justru memilihku menjadi penggunanya.
Setelah semua perabotan dan aset laku terjual, kami sesegera mungkin berkemas dan pergi meninggalkan kota ini. Tapi para Prajurit telah mengetahui kabar mengenai diriku dan sekarang mereka sedang mengepung rumah ku.
Ibu dan Faisya kemudian menghampiri tempatku bersembunyi. Sedangkan Ayah dan Kakek terlihat sibuk mengalihkan perhatian para Prajurit itu.
Ayah ku mencoba meyakinkan para punggawa kerajaan itu dengan berkata kalau aku sedang tidak ada di kota ini. Tak lama dalam perbincangan itu terdengar suara riuh diluar rumah.
Aku mencoba untuk mendengarkan apa yang sedang terjadi diluar. Walaupun pendengaran ku menjadi terbatas akibat dinding yang menghalang-halangi, tapi aku yakin Ayah dan Kakek ku sedang bertarung dengan para Prajurit itu.
"Nak Ibu berpesan pada kalian! Cepat kalian pergi dari tempat ini. Ibu tidak mau kalian mati terbunuh ditempat ini. Cepat lari nak!!"
"Tapi Bu!! Ibu harus ikut dengan kami" ucapku.
"Tidak Nak! Kalau Ibu ikut dengan kalian, Ibu justru akan memperlambat kalian... Cepat tidak ada waktu!"
"Cari Tameng Iblis itu sampai dapat!" teriak salah seorang Prajurit.
"Cepat!!" pinta Ibuku.
"Ibu kami mohon ikutlah juga!" pinta Faisya.
"Tidak usah khawatir Nak! Ayah dan Ibu akan mencoba berbicara dengan para Prajurit itu. Kalian pergilah."
Mendengar Ibu dan Ayah akan mengorbankan dirinya hanya demi aku. Tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan, Anak mana yang mau melihat orangtuanya menderita.
"Tidak Bu!! Jika Ayah dan Ibu yang harus menanggung semua ini, maka aku tidak akan tinggal diam. Biarkan saja aku yang berkorban!"
"Tidak nak!!!"
Tanpa pikir panjang aku keluar dari tempat ku bersembunyi pada malam itu. Akan tetapi aku menyaksikan suatu hal yang tidak harusnya aku lihat pada malam itu.
...----------------...
...Perhatian, paragraf di bawah mengandung adegan dewasa. Anak dibawah umur tidak perkenankan membaca bagian ini. Silahkan untuk melewati bagian Chapter ini, jika merasa tidak nyaman....
__ADS_1
...Area 18+...
...Adegan Kekerasan ‼️...
...Adegan Pembunuhan 🔪...
...----------------...
"Cepat katakan Horman!! Dimana Anak mu?" bentak seorang komandan.
Ayahku sedang disekap dan tangannya ditahan oleh dua orang prajurit berbadan kekar, sehingga dipaksa berlutut.
"Sudah kubilang dia tidak ada-"
'BUKK'
Sebuah batangan kayu dipukulkan kearah kepala Ayahku, hingga kepalanya bersimbah darah.
"Kau tahu apa hukumannya bagi seorang penghianat seperti mu. Tapi kau tak usah khawatir, Raja pasti akan meringankan hukuman mu karena kau pernah berprestasi!"
"Cuih, aku lebih baik mati daripada harus kembali pada Raja bodoh itu."
"Kau! Berani mencela Raja dihadapan langsung para Prajuritnya. Sungguh tindakan bodoh!Hukuman bagi pencela Raja dan Penghianat adalah. MATI!"
Komandan itu kemudian menarik pedangnya dengan teknik memutar badan sambil mengayunkannya kearah leher Ayah ku. Ayahku memejamkan matanya dan mengucapkan kalimat suci terakhirnya.
'CLAKK'
Aku yang baru muncul di tempat kejadian sudah mendapati Ayah dan Kakek ku terbunuh didepan teras rumah dengan dikelilingi oleh para Prajurit Kerajaan.
Seketika aku terdiam sembari berlutut, tubuh ku bergetar tak sanggup lagi menopang kedua lutut ku. Aku benar-benar terlambat untuk menyelamatkannya. Tatapan ku pun menjadi kosong.
"Ayah!! Kakek!!"
"Wah Wah Wah! Perisai Iblis muncul juga rupanya! Seperti yang diharapkan. Cepat borgol anak itu dengan rantai!" kata Komandan itu.
""Siap!!"" jawab mereka serentak.
"Lapor Komandan Hart! Sepertinya kita mendapatkan sesuatu disini."
"Lepaskan kami!!" mendengar suara Faisya membuat ku menatap Prajurit itu.
Sejak kapan mereka masuk kedalam rumah dan menangkap Ibu dan Faisya?
"Tidak!! Apa yang kalian lakukan! Jangan apa-apakan Ibu dan Adikku!" ucap ku yang kini tengah diborgol.
Komandan itu lalu mendekati Ibu dan Faisya yang tengah disekap, sembari terus mengamatinya dengan tatapan mesum.
"Hem sepertinya kita dapat barang bagus disini! Bawa yang perawan ini ke tenda ku. Sedangkan yang milf kalian ambil saja, dia juga tidak kalah cantiknya dengan putrinya.
Pastikan dia hidup setelah kita berpesta dengan mereka, lalu jual sebagai Budak!"
__ADS_1
""Siap Komandan!""
'Hehehehe' tawa bejat para Prajurit itu.
Ibu dan Faisya yang mendengar pernyataan tersebut mengerutkan kening.
"Tidak!! Kami lebih baik mati daripada melakukan itu!" tegas Ibuku.
"Mana mungkin aku akan tega membunuh barang berharga seperti kalian. Daripada mati terbunuh dan merasakan sakit, lebih baik mati dengan penuh kenikmatan." ujar Komandan bejat itu.
Aku yang menyaksikan itu tidak berdaya mengingat pergerakan ku terbatas akibat borgol.
Secara mengejutkan Ibuku mencoba menggigit lidahnya untuk bunuh diri, situasi ini membuat pikiran Ibuku menjadi kalut. Ia berpikir lebih baik mati bunuh diri daripada kehormatannya diambil.
Para Prajurit itu mengerutkan dahinya melihat tindakan Ibuku yang mungkin akan ditiru oleh Faisya. Mereka lalu menyumpal mulut kami dengan kain sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.
Pada malam itu kehormatan Faisya direnggut oleh Komandan bejat. Ibuku bahkan di perkosa didepan mata ku sendiri oleh puluhan prajurit. Sedangkan jasad Ayah dan Kakek ku dibakar dengan sadis.
Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan tubuh terborgol dan terikat oleh rantai. Pikiran ku menjadi gelap, hanya terdapat kebencian didalamnya.
Pada malam itu pula ada sesuatu yang tiba-tiba membisikan ketelinga ku.
"Apa kau sudah puas melihat semua ini! Apa kau ingin menghancurkan mereka!" terdengar suara dari seorang pria garang.
Tanpa pikir panjang aku mengiyakan kalimat itu.
"Iya! Iya! Aku akan bunuh mereka!!! Aku akan habisi!!"
"Kau butuh lebih banyak kebencian!! Pikirkan semua yang membuat mu lebih membenci lagi!" kembali suara pria aneh itu terdengar menggema.
"Aku benci mereka!!! Aku akan runtuh kan kerajaan terkutuk ini!"
"Baiklah sepertinya sudah cukup banyak kebencian yang kau miliki! Aku akan memberikan kekuatan ku! Namun untuk sementara aku akan mengendalikan emosi dan pikiran mu, sampai dendam mu terbalaskan."
"Lakukan Saja!!! Aku sudah tidak peduli!!! Bunuh mereka!!!"
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Pembantaian")
Note:
Baru kali ini Senpai buat Chapter sesadis ini dan ini adalah Chapter paling sadis dari semua Chapter yang sudah Senpai tulis. Kalau kalian suka yang sadis lagi komen aja!
Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.
- My Free Life In Another World
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author
__ADS_1