The Rising Of The Lord Hero (1)

The Rising Of The Lord Hero (1)
Chapter 4 "Lembah Naga"


__ADS_3

The Rising Of The Lord Hero


> Chapter 40 "Lembah Naga"


Aku dan Faisya terkejut melihat kehadiran Sang Legenda Feniks Naga Langit, melayang tepat di atas kepala kami. Aku sempat mengira, kalau dia memang merasakan kehadiran kami sebelumnya sehingga dia menghadang perjalanan kami. Akan tetapi ternyata tidak seperti yang aku kira.


"Feniks Naga Langit, aku datang kesini untuk membalas kematian Suami ku!" teriak salah seorang Wanita.


"Hoo! Nyali mu boleh juga Manusia, apa kau sadar akan kekuatan mu?" kata Feniks Naga Langit dengan dingin.


Sayangnya aku tidak dapat melihat Perempuan yang bersuara tadi. Mendengar suaranya sepertinya ia berada di atas tebing batu didekat kami.


Aku dan Faisya tak berani keluar dikarenakan tak mungkin aku dan Faisya akan keluar dari persembunyian ini. Kami lebih memilih untuk terus lanjut menyusuri jalan diantara celah bebatuan sambil bersembunyi.


Aku tidak akan bodoh untuk menantang Feniks Naga Langit untuk bertarung, mengingat akan kemampuan ku yang masih jauh di bawahnya. Aku lebih memilih untuk kabur saja daripada jika harus meladeninya. Meskipun ini cara pengecut lebih baik mencegah kematian ku sedini mungkin.


"Aku sangat sadar dengan kemampuan ku lebih dari cukup untuk memenggal kepala mu. Turunlah kita buktikan sekarang." kata Wanita itu.


"Untuk apa aku turun? Kata mu kemampuan mu lebih cukup untuk memenggal ku. Harusnya kaulah yang kemari! Aku pernah mendengar jika Manusia bisa terbang bila sudah mencapai kekuatan tahap tertentu. Jika yang kau katakan itu cukup, maka terbanglah kemari!" kata Feniks masih dengan suara dinginnya.


"Sombong! 'Lightning Ball''


Tak lama kemudian muncul sebuah bola-bola petir di sekitaran Wanita itu dan melemparkannya ke arah Feniks.


"Sihir rapalan ya. hegh! Kau pikir itu bisa cukup mengalahkan ku, ternyata tak lebih dari seorang anak-anak. Lebih baik ku akhiri saja."


Ketika bola-bola petir itu akan mengenai Sang Feniks, justru bola-bola itu berbalik arah dan menyerang Wanita itu. Untuk mengetahui lebih lanjut apa yang sedang terjadi aku dan Faisya mengintip pertarungan itu dengan memanjat sebuah batu besar.


Kulihat bola petir itu secara kilat menghantam Wanita tadi.


'BLASH BLASH BOOM'


Karena debu yang dihasilkan dari efek serangan barusan, aku tak dapat melihat apa yang terjadi pada wanita tadi. Secara berangsur debu yang berterbangan mulai menghilang.


Kulihat wanita barusan terlihat baik-baik saja, ia berpenampilan layaknya seorang penyihir. Dia menggunakan gaun serba hitam dan topi penyihir. Terdapat pula tongkat sihir yang bentuknya futuristik sebagai senjata utamanya.


Benar kuduga kalau dia memang seorang penyihir. Sang Feniks mengangkat alisnya tak percaya jika penyihir wanita itu dapat bertahan dari serangan balik.


"Hoo! Menarik kau cukup tangguh juga."

__ADS_1


"Diam! Ini untuk kematian Suami ku!! 'Wahai kuasa alam, uraikan hukum alam dan tunjukan kekuatan mu dan binasakan orang yang jadi musuh ku. 'DESTROYER FIRE'"


Kali ini munculah sebuah lingkaran sihir yang berukuran besar di tongkat sihirnya. Kemudian munculah sebuah tembakan api yang cukup besar pada lingkaran sihir tersebut. Tembakan api itu meluncur dengan cepat kearah Sang Feniks.


'DUARRS'


Sebuah Ledakan dahsyat terjadi, menyilaukan langit malam seketika. Sebuah asap kemudian mengepul dengan sangat pekat usai ledakan barusan sehingga menyelimuti Sang Feniks.


Penyihir itu tersenyum puas melihat Sang Feniks yang ia rasa berhasil dikalahkan nya. Namun sepertinya serangan barusan cukup menguras Ayna miliknya sehingga dia terlihat kelelahan dan tertunduk lemas di tanah dengan bantuan tumpuan tongkat sihirnya.


"Destroyer Fire kah?! Lumayan kau menguasai ilmu sihir tingkat tinggi. Tapi kau perlu waktu sepuluh ribu tahun untuk bisa mengalahkan ku Manusia!" suara Sang Feniks kembali menggema dingin dari balik asap yang masih menyelimuti.


Penyihir wanita itu tak kuasa menahan keterkejutannya. Ia mengangkat alisnya tak bisa mempercayai bahwa Sang Feniks masih bertahan dari serangannya yang paling mematikan.


"Apa!? Ti-tidak mungkin kau masih bisa bertahan!"


Sang Feniks kemudian menyapu bersih asap yang sedari tadi menyelimuti dirinya dengan teknik sihir. Aku yang melihat dari balik bebatuan tak bisa percaya serangan dahsyat barusan bisa ditahan dengan mudah olehnya.


Setelah ku perhatikan secara teliti perut Wanita itu tampak mengembung. Perkiraan ku sepertinya dia tengah hamil muda. Aku kembali di buat terkejut, bagaimana mungkin seorang Wanita hamil harus bertarung.


Seharusnya dia mengutamakan keselamatan Janin yang ada dalam kandungannya. Sang Feniks juga seakan tak peduli dengan Janin yang ada dalam kandungan Wanita itu. Ia masih menatap Wanita hamil itu dengan dingin penuh kebencian.


Aku akui serangan mu barusan cukup membuatku terhibur, ternyata kau bisa menggunakan sihir kuno yang diciptakan orang itu. Sedikit membuat ku bernostalgia setelah ribuan tahun lamanya." kata Sang Feniks.


Siapa maksudnya orang itu? Apa orang yang dimaksudnya itu pernah membuat sihir mengerikan ini? Wanita itu mengerutkan dahinya, masih belum bisa menerima situasinya.


"Cih! Aku tahu semua tentang dirimu termasuk kebencian mu terhadap Manusia. Aku datang kesini untuk menuntut balas atas kematian para orang-orang yang telah kau bunuh." pungkas Wanita penyihir yang tengah hamil muda itu.


"Bodoh! Kau bahkan tak peduli dengan Janin mu sendiri. Berlagak seperti Pahlawan yang ingin menumpas kezaliman itu (Sedikit menatapku) Dimana naluri mu sebagai Ibu?"


Saat Sang Feniks menoleh ku aku rasa dia sudah tahu keberadaan ku. Sial sepertinya Feniks itu dapat mengetahui keberadaan ku dan Faisya.


"Diam!! Lebih baik aku mati bersama bayi yang ada dalam kandungan ku ini. Daripada hidup dengan penuh penyesalan dan dendam." kata Wanita itu.


"Baiklah jika itu yang kau mau! Aku kabulkan permintaan mu dan segeralah menyusul Suami mu. Akan ku tunjukkan cara menggunakan Destroyer Fire dengan benar. Jadi, apa kata terakhir mu."


Secara masif munculah sebuah lingkaran sihir yang ukurannya jauh lebih besar dari lingkaran sihir wanita tadi. Aku tak kuasa melihat kejadian itu, filing ku mengatakan kalau serangannya juga akan berdampak pada ku dan Faisya.


Aku secara spontan ingin memeluk Faisya akan tetapi...

__ADS_1


"Faisya dimana kau!?"


Saat ku mencari keberadaan Faisya, ternyata dia sudah berada di depan Wanita yang tengah tertunduk lemas itu dengan merentangkan kedua tangannya.


"Aku mohon lepaskan dia Sang Feniks yang Agung! Dia sedang hamil apa kau tega membunuhnya." tegas Faisya.


Ya ampun Faisya kenapa dia melakukan itu. Hal ini membuatku menepuk jidat ku. Faisya memang memiliki solidaritas yang cukup besar antar sesama. Dia memiliki cinta kasih yang kuat sebagai wanita. Tak ayal ia selalu membantu orang lain yang tengah kesulitan.


Setelah sebuah kejadian yang sempat menimpanya membuat mental Faisya semakin kuat. Dia tak akan membiarkan sesuatu hal buruk terjadi pada orang lain seperti yang telah ia rasakan. Aku akui dia sangat perhatian, tapi tidak disaat darurat seperti ini.


Penyihir Wanita itu menatap lurus kearah punggung Faisya, raut wajahnya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sedangkan Sang Feniks Agung masih menatap dengan dingin.


"Hoo! Semakin menarik! Kau ternyata keluar dari persembunyian mu. Sebenarnya aku tidak peduli dengan keberadaan kalian berdua. Jadi, mungkin akan kubiarkan saja kalian untuk menyaksikannya. Tapi karena kalian telah ikut campur, maka jangan salahkan aku."


Tanpa memberikan aba-aba, Sang Feniks melancarkan serangannya kearah Faisya dan Wanita penyihir itu. Sebelum serangan itu mengenai tanah.


Aku mengeluarkan seri kutukan Perisai karena menyadari dengan kekuatan itu akan dapat setidaknya menghentikan serangan pamungkas itu.


"SERI KUTUKAN PERISAI AMARAH"


Setelah itu aku berlari secepatnya menuju tempat mereka dan tibalah aku didepan Faisya dengan menyodorkan tameng ke arah serangan yang akan mengenai kami.


"MASSIVE PROTECTOR STRIKE SHIELD"


'DEBUARRSSS'


"HEEEEEE AAAAAAARRRGGHH"


Bersambung...


(Chapter berikutnya "Roh Tameng")


Note :


Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.


- My Free Life In Another World


- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.

__ADS_1


Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author


__ADS_2