
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 43 "Kaiju Naga Langit"
'SKLAAAAAAAAAARRRRR'
"Sial sial sial siaaaal!"
'BREZZZ... BREZZZ... BREZZZ... DUARRSS'
Arnabas terlihat berlarian menghindari serangan petir dari Kaiju Naga Chuvash. Naga Chuvash sendiri adalah wujud asli Shenron. Selama lebih dari empat abad lamanya Shenron tidak sekalipun pernah menampakkan wujud aslinya.
****
Sementara itu di lain tempat, Faisya dan Eilaria berusaha untuk melarikan diri. Melihat wujud asli dari Sang Feniks Agung. Eilaria tak bisa percaya dengan apa yang disaksikannya.
"Tidak kakak!!!!" teriak Faisya yang khawatir dengan kondisi Zef di atas.
Eilaria tak menyangka kalau wujud asli Shenron akan jauh lebih mengerikan daripada yang digambarkan di dalam buku sejarah. Eilaria pun memanggil sapu terbang miliknya dengan teknik sihir.
"Nak Faisya! Ayo cepat kita pergi sebelum hal buruk terjadi."
"Tapi bagaimana dengan kakak?" balas Faisya khawatir.
"Tidak perlu mencemaskan, sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan hidup mu!"
"Tidaaaak! Aku harus ketempat Kakak!"
"Tidak ada cara lain, Nak Faisya maafkan aku!"
Secara mengejutkan Eilaria menggunakan ilmu sihirnya untuk membuat Faisya tak sadarkan diri. Eilaria pun membawanya pergi dari lokasi dan kembali pulang ke bukit Turas.
****
Sementara itu, Arnabas hanya bisa berlari dan terus melindungi dirinya dari serangan Shenron. Andai saat ini Arnabas memiliki kekuatan penuhnya mungkin masih bisa memberikan perlawanan intensif.
"Baiklah - baiklah, aku menyerah!!! Aku sudah kehabisan waktu!" teriak Arnabas mengakui kekalahannya.
'SKLAAAAARRRR'
"MENYERAH!? BARU KALI INI AKU MENDENGAR MU MENGUCAP KALIMAT ITU. AKU TAK AKAN PERCAYA DENGAN TIPUAN MU." balas Shenron dengan suara yang menggelegar.
'SKLAAAAARRR'
"Sudah cukup! Tubuh anak ini sudah tidak kuat lagi. Baiklah aku akui kau bertambah kuat. Andai tubuh asli ku bebas dari tameng sialan ini, aku pastikan akan memberikan perlawanan serius seperti ketika pertama kali kita bertemu. Ingat jika kau membunuh ku itu sama saja kau membunuh anak ini."
"AKU TIDAK PEDULI, MASIH BANYAK KANDIDAT YANG LAYAK UNTUK MENGGANTIKANNYA."
"Apa kau lupa kalau aku tidak bisa mati? Meskipun kau membunuh anak ini, itu adalah tindakan percuma. Aku masih bisa bersemayam kembali kedalam tameng ini."
Shenron terdiam sejenak memikirkan kembali perkataan Arnabas. Sebenarnya, pada awalnya Shenron hanya ingin menguji seberapa tangguhnya Zef sebagai penerus Pahlawan Perisai.
Akan tetapi Shenron di kejutkan dengan keberadaan musuh bebuyutannya yakni Arnabas, membuat Shenron berubah pikiran untuk membunuh Zef sekaligus Arnabas.
Setelah dia mendengarkan pernyataan dari Arnabas, Shenron pun akhirnya paham akan situasi yang sedang Zef alami.
"APA TUJUAN MU MERASUKI BOCAH ITU ARNABAS!? JIKA KAU BERTUJUAN UNTUK KEMBALI BERBUAT KERUSAKAN. MAKA AKU AKAN MELENYAPKAN MU BESERTA ANAK ITU."
"Dengarkan aku! Sepertinya ada kesalahpahaman disini. Aku sudah tidak seperti empat ratus tahun lalu. Aku sudah tobat dan kembali ke fitrah ku, aku hanya ingin memastikan keselamatan anak ini dan orang terdekatnya itu saja."
"PEMBOHONG! KAU ADALAH MAKHLUK PENDUSTA. SEMUA UCAPAN MU BERTOLAK BELAKANG DENGAN YANG KAU UCAPKAN. KEHADIRAN KAUM MU RIBUAN TAHUN LALU SUDAH BANYAK BERBUAT KERUSAKAN DUNIA INI. TAK AKAN KUBIARKAN MAHKLUK SEPERTI MU HIDUP DI DUNIA INI."
Arnabas terdiam beberapa saat dia menyadari, berbicara dengan Shenron hanya akan memperumit masalah. Karena waktu Arnabas mulai habis dia kembali mengembalikan kesadaran Zef dan kembali bersemayam kedalam Tameng Pahlawan.
"Terserah kau saja! Waktu ku sudah habis, semua ku pasrahkan pada mu."
Cahaya merah kemudian muncul di tameng pahlawan. Secara berangsur-angsur, aura merah yang tadinya masih menyelimuti tubuh Zef kini masuk kedalam tameng. Kemudian tameng pahlawan bertransformasi menjadi seperti semula.
"Baiklah bocah, aku sudah sampai batas ku! Kau coba saja yakinkan dia jika kau ingin selamat darinya."
Arnabas pun berhenti merasuki Zef. Shenron yang menyaksikan Arnabas menatap dengan tajam kearahnya. Dia tak bisa percaya, Jin yang dulunya sulit ditaklukkannya kini menyerah begitu saja.
"ARNABAS! KU HARAP KAU TAK MERASUKI BOCAH ITU LAGI!"
"Ah, sampai aku cukup energi untuk bisa bangun lagi."
Pandangan Arnabas pun mulai memudar dan kesadaran Zef pun kembali meskipun membuat Zef pingsan.
"Cih! Aku akan tertidur untuk waktu yang lama! Ternyata tidak mudah menguasai wadah yang tidak sempurna ini." gumam Arnabas.
__ADS_1
****
Sementara itu di lain tempat, Eilaria sudah kembali kerumahnya. Rumahnya terletak didalam sebuah pohon besar tepat disela-sela akarnya.
Dia terlihat menggendong Faisya di punggungnya, mereka tampak basah kuyup kehujanan akibat hujan yang disebabkan oleh amukan Shenron.
Eilaria kemudian membuka pintu rumahnya dan segera mengeringkan diri. Singkat cerita di keesokan harinya, Faisya di bangunkan oleh cahaya mentari pagi yang masuk melalui jendela di kamarnya.
"Emh! Dimana ini? Kakak? Kakak!!??" Faisya terbangun dari tidurnya mencari kakaknya.
Eilaria yang sedang memasak di dapur dikejutkan oleh suara Faisya yang baru bangun dari tidurnya. Ia pun segera menuju kamar Faisya.
"Nak Faisya tenanglah!"
"Kakak dimana Eila-san?"
"Kakak mu..."
Eilaria hanya bisa terdiam tak menanggapi lebih jauh
"Nanti kita cari Kakak mu ya... sekarang kau tenanglah, semua akan baik-baik saja!"
"Tidak Eila-san! Kakak ku adalah orang satu-satunya yang aku miliki. Kalau dia sampai kenapa-napa bagaimana?" kata Faisya sambil menangis.
"Tenang saja Faisya-chan! Kakak mu sepertinya orang yang kuat, dia pasti bisa kembali dengan selamat."
Eilaria kemudian mengambil sebuah ramuan herbal yang dia racik, agar dapat menenangkan Faisya. Ia menyeduhnya kedalam teh yang telah ia siapkan untuk Faisya.
"Minuman ini akan memenangkan mu! Coba minumlah!" tawar Eilaria.
Tanpa basa-basi Faisya langsung meminum teh tersebut. Seketika pikirannya langsung plong dan dia sudah bisa berfikir dengan jernih.
"Bagaimana?"
"Terimakasih, sekarang aku tidak terlalu khawatir. Minuman ini seperti ada efek khusus."
"Ara~Ara, Syukurlah! Soal kakak mu kau tenang saja kita tunggu sampai suasana menjadi lebih baik dulu ya."
POV Zef
"Ugh! Dimana aku... Arhg tubuh ku sakit semua. Sebenarnya apa yang terjadi?" ucapku sambil rebahan.
"Kau sudah bangun ya bocah?" ucap pria misterius itu.
"Kau siapa dan dimana aku?"
Pria itu lantas membalikan badannya dan berjalan kearah ku. Melihatnya aku sudah paham dengan situasi ku sekarang.
"Ternyata Anda?"
Aku mulai sedikit panik karena orang yang menyelamatkan ku ternyata adalah Sang Feniks Naga Langit.
"Benar! Kau sudah pingsan selama empat belas hari. Tubuh mu telah dirasuki oleh Iblis dan Iblis itu telah membuat dirimu sekarat."
"Aku!?..."
Sepertinya memang benar yang di ucapkan oleh Tuan Feniks. Terakhir kali aku mendengar ada suara seorang pria misterius yang terdengar di telingaku. Dia berkata akan mengambil alih kesadaran ku.
"Tapi kenapa anda tidak membunuh ku?" tanya ku padanya.
"Hehg! Itu karena kau seorang Pahlawan."
"Pahlawan!?"
"Sebenarnya aku tidak peduli dengan kehadiran mu disini. Karena kau mencoba melindungi Penyihir itu jadi aku juga tidak segan menyerang mu. Tapi kau justru menggunakan seri kutukan tameng untuk menghentikan serangan ku."
"Maaf tapi serangan mu pada saat itu memang tidak bisa aku hentikan. Oleh karena itu aku menggunakan seri terkuat dari tameng ini untuk menghentikan serangan anda."
"Kau tahu jika menggunakan seri kutukan, itu akan berdampak negatif terhadap diri mu. Sebenarnya apa yang menyebabkan kau mengeluarkan seri kutukan itu?"
"Sebenarnya..."
Aku lantas menceritakan semua hal yang telah terjadi sebelumnya kepada Sang Feniks. Setelah mendengarkan aku bercerita, wajah Sang Feniks menjadi kusut.
"Tak ku sangka kau mengalami banyak masalah seperti ini. Manusia memang selalu berbuat kezaliman dan selalu merusak. Bahkan sesama Manusia saja masih ada yang saling menyingkirkan. Menyedihkan sekali."
Sang Feniks kini berjalan mendekati ku. Dia kemudian menyentuh tameng ku dan seketika muncul sebuah cahaya biru yang menyelimutinya. Setelah dia selesai melakukannya, muncul sebuah pemberitahuan di pengelihatan ku.
OPTIMALISASI
__ADS_1
[PENAMBAHAN LEVEL UP ⬆️ 10+]
[SERI TAMENG BARU DITAMBAHKAN (TERKUNCI 🔒)]
Perlu mencapai Tameng level 50 untuk membuka seri ini!
[KEMAMPUAN BARU DITAMBAHKAN]
"Dengan begini sudah cukup! Naikan lah level tameng mu dengan begitu kau tak perlu lagi bergantung pada Seri Kutukan."
"Ini!.. "
Aku sangat terkejut melihat peningkatan level kemampuan ini. Aku tidak menyangka Sang Feniks akan berbalik hati padaku. Sebelumnya aku mengira dia akan membunuh ku tapi justru sebaliknya.
"Jangan salah paham bocah! Aku melakukan ini hanya karena aku ingin melakukan kewajiban ku sebagai Feniks. Aku juga tak peduli dengan nasib mu kedepannya, yang terpenting adalah, jika terjadi sebuah bencana aku tak perlu repot-repot menemui mu lagi begitupun sebaliknya."
"Terimakasih banyak atas kebaikan anda!"
Sang Feniks agung hanya mendengus.
"Lalu dimana adikku sekarang Tuan Feniks!"
"Aku sudah tidak melihatnya semenjak dia pergi waktu itu. Kemungkinan dia ada di bukit Turas."
"Bukit Turas? Bukankah lokasi itu cukup jauh?"
"Tidak akan terlalu jauh jika kau menempuh melalui udara. Salah satu anak buah ku nanti akan mengantar mu."
"Sekali lagi aku ucapkan terimakasih! Argh!" sambil ku membungkukan badan, akan tetapi tubuh ku malah justru tambah sakit.
"Hegh! Sepertinya Arnabas terlalu memaksakan tubuh mu sampai di luar batas kemampuan mu."
"Arnabas? Siapa dia?"
"Dialah Iblis yang merasuki tubuh mu! Sebaiknya kau berhati-hati dengannya! Dia adalah makhluk yang sulit dipercayai, jangan sampai terperdaya olehnya dan jangan sampai terkena pengaruhnya lagi. Itu sebabnya aku melarang mu menggunakan Seri Kutukan."
"Baiklah aku akan mencoba agar tidak terpengaruh olehnya. Karena dialah yang menyebabkan kematian orang-orang terdekat ku."
"Jangan menyimpulkan sesuatu yang tidak pasti. Dari cerita mu tadi, kau bilang tameng itu memilih mu sebagai penggunaannya. Itu berarti kau memang orang yang terpilih. Bukan berarti Iblis itu pelakunya, walaupun aku benci mengakuinya."
"Entahlah... kenapa harus aku yang jadi Pahlawan Perisai?... Kenapa tidak orang lain sajaaaa?... Kenapa ini terjadi pada ku? Kenapaaaa??"
"Berteriak saja tak akan menyelesaikan masalahmu bocah. Itulah takdir untuk mu dan kau harus terima itu."
"Takdir haaa~ persetan dengan semua itu... kenapa tuhan tidak berlaku adil untuk ku? Lebih baik tameng ini kau hancurkan saja!!!"
"Kau pikir dengan aku menghancurkan benda itu akan mengembalikan orang tua mu? Tentu tidak, itu semua adalah ujian dari Tuhan dan kau harus bertahan dari ujian itu. Lagipula aku pun tak akan bisa menghancurkan benda itu."
"Ujian?? kenapa aku harus melalui ujian seperti itu?"
'CESSSRZZ'
"Sudah cukup bocah! Kontrol amarah mu, cih!"
Feniks kemudian kembali menyentuh tameng ku. Tameng ku sempat beberapa kali berkontraksi ketika aku marah membuatnya khawatir jika aku akan kembali dalam mode amarah.
Seketika Tameng ku kembali normal dan sekarang aku lebih bisa mengontrol emosi ku.
"Sepertinya Seri Kutukan juga telah mempengaruhi emosi mu. Kau jadi lebih emosional dan itu bisa sangat berbahaya untuk mu. Kau harus bisa menahan diri agar tidak emosional mengerti, hegh!"
Setelah berkata demikian Sang Feniks kembali memalingkan badannya.
"Ingatlah, Tuhan sudah menuliskan garis kehidupan kita! Jika ingin merubah takdir agar bisa lebih baik, maka kau harus siap menjalani ujiannya."
Aku tidak membantahnya lebih jauh memang semua yang dikatakan oleh Feniks benar. Jalan hidup ini memang sudah ada yang mengaturnya. Seperti yang pernah diajarkan Ibu dan Kakek dulu dan aku tidak pernah lupa akan hal itu.
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Tunggangan")
Note :
Jangan lupa Spam likenya ya Brand, agar Senpai On fire🔥
Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.
- My Free Life In Another World
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.
__ADS_1
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author