
"Itu bukankah... itu Perisai suci legendaris Dragon Shield dari lembah Naga!"
"Ha ha ha ha, yah kau tahu juga rupanya! Ternyata kau yang bukan pengguna Perisai juga mengetahui kehebatan Dragon Shield ini."
"Darimana kau mendapatkan tameng suci itu?"
"Bukan urusanmu! 'Edragon Fire'" jawab Zef ketus dan mulai melakukan serangan tiba-tiba.
Kemudian munculah semburan api di sekitar Tameng Zef. Secara refleks Sanaya menghindar, karena dia pikir takkan bisa menahan serangan itu.
Kini serangan itu nyasar ke arah kuda hitam Sanaya dan ke arah ku.
"Ya ampun kenapa seperti ini! Hash ini takkan sempat." kataku.
'Tarian angin musim dingin'
Aku mendengar seorang suara gadis yang terdengar sangat asing di telingaku. Sama sekali aku tidak mengerti apa yang di teriakannya. Tapi ku yakin gadis itu meneriakkan nama jurusnya.
'Wosshh'
Tiba-tiba sebuah angin berhembus kencang dari belakang ku. Angin itu kemudian berbenturan dengan serangan nyasar barusan. Sehingga membuat semburan api menjadi padam.
"Uwaa dingin sekali mberrr!!" mataku terbelalak ketika terkena hembusan angin itu.
Kemudian munculah seorang gadis bercadar melayang tak jauh dari permukaan tanah, dari belakang ku berdiri. Gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Pendekar yang barusan aku jumpai.
Dia menggunakan sepasang kipas giok yang dialiri dengan tenaga dalam. Seperti yang aku lakukan pada pedang Sanaya sebelumnya. Sekali lihat aku yakin itu kipas pusaka!
"Apa saudara tidak apa-apa?" ucap gadis bercadar itu yang kini mendarat didekat ku.
"Haa kau bicara apa?" ucapku dalam bahasa Indonesia.
Aku tidak mengerti bahasa yang digunakan gadis ini. Ucapanya mirip dengan bahasa Mandarin, tidak... Bukan mirip lagi melainkan memang bahasa Mandarin.
"Ehem Sebentar..."
Gadis itu lalu mengeluarkan semacam bola cahaya kecil kekuningan di jari telunjuknya. Lalu memasukkannya kedalam tenggorokan melalui lehernya. Kemudian dia mulai berbicara.
"Maaf kan aku Saudara. Aku pikir kau orang yang berasal dari negeri kami!" Ucapnya ke Bahasa Indonesia.
Aku mengangkat alis ku tak percaya. Gadis ini sangat fasih berbahasa Indonesia. Aku dibuat terkejut untuk kesekian kalinya.
"Apaaaaaa!!!"
"Umh! Kenapa dengan mu Saudara?"
"Kenapa kau bisa berbicara dengan lidah ku?"
"Ah ini ya... Ini sihir penerjemah. Siapapun yang mendengarkan ku berbicara, orang itu akan mendengar seperti aku berbicara dengan bahasanya!
Dan aku yang mendengarnya berbicara dengan bahasanya, akan seperti dia berbicara dengan bahasa ku. Sihir ini termasuk ke kategori sihir ilusi menengah." jelas gadis bercadar itu.
"Wah praktis sekali! Dengan sihir itu kita tidak perlu belajar bahasa asing."
Mungkin gadis ini pikir aku orang yang mirip dengan orang mereka. Melihat ciri-ciri fisik ku yang tak jauh berbeda dengan mereka.
__ADS_1
Meskipun begitu tetap saja ada perbedaannya. Mataku lebih lebar dan berkulit sawo matang. Aku tidak bermaksud rasis memang itu perbedaan orang Indonesia dan Tiongkok.
Sepertinya tak salah jika mempelajari sihir itu, jelas sihir itu akan mempermudah ku dalam berkomunikasi. Ya aku tahu sihir dilarang dalam kepercayaan ku.
Tapi ini dunia lain dan dunia ini setiap orangnya hampir bisa sihir. Maka tak salahnya mempelajarinya untuk membela diri.
Sepertinya aku juga belum menjumpai makhluk sebangsa jin disini. Biasanya makhluk Jin adalah perantara sihir. Jika Jin tidak ada, kalau begitu ilmu sihir disini sangat berbeda dengan di dunia ku.
Hukum menggunakan sihir juga tergantung pada situasi dan penggunaannya. Sama halnya Internet ada dampak positif dan negatifnya. Semua itu tergantung pada si pengguna itu sendiri.
Kembali ke situasi, Zef dan Sanaya mengangkat alisnya ketika mengetahui ada sesuatu yang datang. Seketika itu Sanaya melirik ke arahku dan mengerutkan dahinya.
"Yudha-kun apa yang kau lakukan disini! Bukankah aku menyuruh mu untuk memulihkan luka-luka mu itu."
Kini aku dan gadis bercadar itu mengalihkan perhatian ke Sanaya.
"Aku tidak bisa berdiam diri saja merasakan situasi ini. Tentunya aku sebagai Lord Hero akan menengahi pertarungan ini."
"Cih! Kau lagi rupanya!" ucap Zef ketus.
"Ternyata kau masih ingat ya!" balasku.
"Apa kau yang mengembuskan angin barusan Yudha-kun?"
"Tidak... Bukan aku tapi dia..."
Aku menunjuk gadis bercadar barusan. Gadis itu kemudian menundukkan kepalanya lalu memperkenalkan diri.
"Maaf jika kehadiran ku akan menggangu pertarungan saudara dan saudari sekalian. Izinkan aku mengenalkan diri. Namaku Li Mei, pendekar dari Kekaisaran Yin."
Ya dari informasi yang aku dapatkan dari Syira. Bahasa Greis adalah bahasa yang kebanyakan digunakan di benua Tenggara.
Oleh sebabnya bahasa Greis menjadi bahasa yang umum digunakan oleh Ras manusia. Seperti yang aku jelaskan pada waktu lalu, bahasa ini mirip dengan bahasa Inggris hanya saja berlogat Jepang.
Maka dari itu aku bisa fasih berbahasa Greis karena aku bisa berbahasa Inggris dan Jepang.
"Kekaisaran Yin? Jauh sekali... bukankah itu negeri dari benua timur? Aku kira itu hanya negeri dongeng, ternyata memang ada negeri manusia di benua timur." ujar Sanaya.
Seperti yang pernah dijelaskan oleh Juragan Leonard. Benua di Ceos di bagi menjadi tujuh benua. Terdiri dari benua Barat, Tengah, Timur, Utara, Tenggara, Selatan dan benua terlarang yang disebut benua Hitam.
Konon katanya benua Hitam adalah sarangnya Ras Iblis, itu sebabnya disebut benua terlarang.
Intinya Kekaisaran Yin berada di Benua Timur dan menjadi salah satu negeri manusia disana. Meskipun ada negeri lain yang sama dengan Kekaisaran Yin yang juga dihuni oleh mayoritas manusia.
"Itu benar Nona Pahlawan! Kami datang ke benua Tenggara punya alasan tersendiri."
"Kami? Kau tidak sendirian?"
"Cih... Kurang ajar... Jangan lupa pertarungan kita baru dimulai!!" Zef berdecak kesal karena tidak dihiraukan.
"Oh aku tidak lupa!" balas Sanaya dengan dingin.
"Kita teruskan pembicaraan ini nanti. Yudha-kun dan Nona Li menyingkirlah dari sini!"
Sanaya menyuruh ku dan Li Mei untuk pergi, dia mungkin berfikir kami akan menjadi beban dalam pertarungannya.
Tentu saja aku tidak tinggal diam, aku akan menghentikan mereka ketika ada kesempatan.
__ADS_1
Sanaya kemudian melesat ke arah Zef dan mereka bertarung dengan sengit. Zef hanya bisa bertahan dengan tamengnya.
Dua senjata legendaris saling berhadapan menimbulkan kerusakan yang sangat dahsyat di sekitar area pertarungan.
Lebih dari dua puluh jurus yang dikeluarkan Sanaya, akan tetapi semuanya dengan mudah ditahan oleh Tameng Zef.
Tak jarang juga serangan-serangan itu nyasar kearah kami, namun syukurnya kami berhasil menghindari serangan nyasar itu.
Li Mei yang mengamati pertarungan sengit itu hanya bisa mengangkat alisnya.
"Perisai itu jenis pusaka langit! Tidak ku sangka Pahlawan Perisai akan memilikinya."
Mendengar itu aku malah tambah di buat pusing.
"Pusaka langit!?" gumamku.
Sekali lagi Li Mei juga mengamati pedang Sanaya.
"Pedang itu, setingkat dengan pusaka penguasa dunia. Emh~ (Li Mei menggelengkan kepalanya) tidak... mungkin di atasnya, itu Pusaka Dewa!" ujar Li Mei mengangkat nada bicaranya
"Pusaka Penguasa dunia? Pusaka Dewa?" kembali aku di buat pusing olehnya.
Apa itu berarti Pedang Sanaya masih lebih unggul kah? Sepertinya tidak juga, menurut ku Perisai Zef juga sama kuatnya dengan Pedang Sanaya, mungkin diatasnya.
Kembali ke situasi pertarungan, sekarang sudah puluhan jurus yang dilepaskan Sanaya dan tak ada satupun yang berhasil melukai Zef. Pertahanan Zef sangat tebal membuat Sanaya kewalahan dibuatnya.
"Hehehahaha! Hanya begitu saja kemampuan mu... Lemah! 'Dragon Iron Fire'"
Seketika itu muncul balok besi-besi hitam terbakar melayang di sekitar Tameng. Kemudian balok-balok besi api melesat ke arah Sanaya.
Secara refleks Sanaya menangkis setiap balok yang datang padanya. Kini balok besi api yang di buat Zef semakin banyak membuat Sanaya tak lagi sanggup menangkis balok-balok itu.
Secara beruntun balok-balok itu mulai mengenai baju zirah Sanaya dan membuat sebagian kainnya terbakar. Dua diantara balok api itu menghantam wajah Sanaya dengan keras, membuat Sanaya terpelanting ke belakang.
Darah segar pun mengalir di sebagian tubuh Sanaya. Terutama di bibir, lengan, dada, dan paha.
"Sepertinya Sanaya sudah sampai batasnya." ucapku berdecak kesal.
"Saudara ingin membantu Tuan Putri? Apa Saudara yakin! Kemampuan saudara tak lebih dari Pendekar Ahli. Sedangkan-"
Tanpa basa-basi dan mendengarkan ucapan Li Mei. Aku bergegas menuju Sanaya yang tengah terpojok.
Sanaya yang mulai kehabisan Ayna miliknya hanya lemas dan tak berdaya, nafasnya pun kini tak beraturan. Sepertinya istilah tenaga dalam di negara ini tidak terlalu banyak dimengerti oleh orang-orangnya.
Kini Sanaya hanya bisa berlutut dengan mengandalkan pedangnya untuk bertumpu. Baju zirahnya pun kini sudah compang-camping dan baju lapisannya sudah banyak yang sobek akibat terbakar, membuat sebagian aurat di tubuhnya kini terlihat.
Rambut yang tadinya berkuncir dua mulai terurai dan menjadi kusut akibat terkena balok besi api barusan.
Ketika ku ingin melangkah lebih jauh. Tiba-tiba munculah sebuah Pedang besar melesat cepat ke arah Zef. Zef yang terkejut dengan serangan tiba-tiba itu tentu saja belum siap.
Akan tetapi Tameng ditangannya seakan bergerak sendiri untuk melindungi Zef. Sehingga serangan itu berhasil di tangkis dengan tamengnya. Karena serangan itu Zef tergeser mundur beberapa meter.
Bersambung...
NEXT PART 2
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author
__ADS_1