
The Rising Of The Lord Hero
> Chapter 44 "Tunggangan"
"Jika kalian ingin nekat menembus Gurun Hera, aku tak bisa menjamin adik mu bisa bertahan dari wilayah itu."
"Tapi orang tua ku dulu bisa melaluinya, lalu kenapa adik ku tidak bisa?"
"Gurun Hera sekarang tidak seperti dahulu lagi. Aku sudah berulang kali pergi kesana, baru-baru ini aku menjumpai banyak sekali Monster yang berevolusi, hampir setingkat Petualang Bergelar. Aku masih bisa yakin kau sendiri dapat kesana, tapi untuk adik mu. Itu terserah kau saja..."
Ternyata Feniks Naga Langit juga punya kepedulian. Aku kira dia memang orang yang sangat kejam tapi justru sebaliknya. Apa mungkin ini karena status ku sebagai Pahlawan?
"Lalu bagaimana cara kami agar dapat menuju T'hearus?"
"Aku benci melakukan ini... tapi aku bisa menyuruh anak buah ku untuk mengantar mu."
"Sekali lagi aku berterimakasih atas kebaikan anda!"
Sang Feniks kemudian kembali mendekati ku dan meraih kepalaku. Seketika ada sebuah aura hijau yang terasa nyaman menyelimuti tubuh. Tubuhku kemudian tidak merasakan sakit lagi bahkan lebih ringan dari sebelumnya.
"Berhentilah berterimakasih, itu sangat menggelikan! Segera pergi dari sini dan temui adik mu."
"Baiklah!"
Sang Feniks kemudian keluar dari Goa dan mulai melakukan sesuatu.
'SIUUUUUUU'
Sang Feniks kemudian bersiul seperti tengah memanggil seseorang. Lalu muncul seekor naga langit merah besar terbang mendekatinya dan mendarat tepat didepannya. Naga itu lalu memberi hormat kepada Feniks.
"ADA APA MEMANGGIL HAMBA PADUKA?"
Aku mengangkat alisku tak percaya, naga itu dapat berbicara? Sepertinya rata-rata naga disini sudah banyak yang berevolusi.
"Antar Pemuda itu ke bukit Turas!"
"SEORANG MANUSIA! KENAPA ANDA MAU MEMBANTU ORANG SEPERTINYA?"
"Aku juga benci mengakuinya, tapi dia seorang Pahlawan yang hampir setingkat dengan ku kedudukannya. Lakukan saja! Dan Satu lagi, setelah dia menemukan adiknya segera antar mereka melewati Gurun Hera."
"BAIK PADUKA, HAMBA AKAN MENJALANKAN PERINTAH!"
Feniks kemudian menoleh ke arah ku.
"Cepat tunggu apa lagi! Aku sudah muak melihat mu. Jangan sampai aku berubah pikiran." kata Feniks ketus.
"Ba-baiklah!"
Sesegeralah aku menaiki punggung naga itu dan kemudian terbang meninggalkan lokasi.
****
POV 3
Sementara di bukit Turas, Faisya sedang merana di rumah pohon Eilaria karena sudah dua minggu lamanya, dia dan Eilaria belum menemukan Zef di lokasi sebelumnya.
Faisya semakin khawatir akan keselamatan Zef yang masih simpang-siur. Hari ini dia dan Eilaria akan kembali mencari keberadaan Zef.
"Eila-san, berapa lama lagi kita dapat menemukan Kakak? ini sudah dua minggu lamanya."
"Aku juga sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi bola kristal ku tidak menampilkan gambar apapun. Penghalang sihir disana terlalu kuat, jadi maaf aku belum bisa memastikannya Faisya-chan."
Selama dua minggu mereka berupaya mencari keberadaan Zef dengan berbagai macam cara, namun tak membuahkan hasil yang maksimal. Keberadaan Zef masih tidak diketahui.
"Eila-san ayo kita cari kakak lagi, siapa tahu sekarang dia ada disana." ucap Faisya yang menjadi gelisah.
"Faisya-chan, kita sudah kesana dua belas kali dan tidak ada tanda-tanda kakak mu."
"Ku mohon Eila-san.... sekali lagi saja...."
POV Zef
'WOSSSSSH!!!!'
__ADS_1
"Uwaaaaaaaaaa! Ini cepat sekali! Tu-tuan naga apa kau bisa lebih pelan?" ucap ku yang kini terbang di udara.
Sejujurnya ini adalah pengalaman pertamaku menunggangi seekor naga langit. Biasanya mereka akan sangat agresif dan protektif pada manusia, sehingga orang-orang jarang sekali mengendarai naga langit.
"OI BOCAH, AKU HANYA INGIN SEGERA MENYELESAIKAN TUGAS KU DAN SEGERA KEMBALI. SETELAH ITU AKU TAK LAGI BERURUSAN DENGAN MU. HUFH!"
'WOOSSSSH'
"Sial ini semakin cepat aaaaaa!!!"
Aku terus berteriak tanpa henti, aku sangat takut dengan ketinggian. Apalagi sekarang menunggangi seekor naga dengan kecepatan tinggi. Aku hanya berharap tidak jatuh darinya.
Beberapa saat kemudian akhirnya aku melihat sebuah bukit yang penuh dengan pepohonan dari kejauhan. Tetapi aku belum menemukan tanda keberadaan Faisya.
"WOY BOCAH, KITA SUDAH SAMPAI. SEKARANG DIMANA KITA AKAN MENDARAT?"
Aku lalu mengamati daerah sekitar untuk mencari tempat mendarat yang aman dari pengelihatan penduduk. Akan sangat berbahaya kalau sampai dilihat orang-orang.
Sesaat ku amati akhirnya aku melihat tempat yang agak sedikit tersembunyi dengan pepohonan yang rimbun dan lebat.
"Bagaimana jika disana?"
"BAIKLAH!!"
"Uaaaa~"
Kamipun mendarat di tempat itu.
"TURUNLAH BOCAH!"
"Baiklah!"
Aku lantas turun dari naga itu, kemudian melihat area sekitar. Setelah ku amati lebih jelas daerah hutan ini cukup lebat.
Aku memberi tahu pada naga itu agar tidak menampakkan wujudnya. Aku lalu berbalik badan dan terkejut mengangkat alisku setelah melihat sesuatu yang mengejutkan.
"Apa yang kau lihat bocah tameng?"
"Kau pikir siapa lagi haaa? Aku yang kau naiki barusan."
"Apa... jadi dia seorang perempuan?" kataku dalam hati.
Aku tidak menyangka dengan apa yang aku alami sekarang. Hal yang membuat ku bingung adalah suara dari naga tadi terdengar seperti seorang pria. Tapi ternyata dia seorang perempuan?!
"Kau pasti bingungkan melihat wujud ku dalam bentuk manusia? Ya aku seorang perempuan, jadi perlakukan aku seperti ratu. Mengerti!!"
"He? Apa • • • • •?"
Kenapa sifatnya seperti ini? Penampilan wanita ini tampak seperti Shenron sebelumnya, ia berpenampilan seperti orang timur dengan pakaian yang jarang aku lihat di Elceria.
Gaun yang dikenakannya berwarna merah dengan corak yang unik, serta ia juga memamerkan kedua bahunya dan belahan dadanya. Aku menjadi salah fokus karena dada besarnya itu. Hal ini wajar saja karena aku seorang pria, tapi aku mencoba untuk tidak melihatnya.
"Apa yang kau lihat Bocah tameng?"
"Ahh tidak-tidak! Em bisa panggil aku dengan nama ku?"
"Aku kira kau melihat sesuatu yang menonjol dari ku! (sambil membusungkan dadanya) Aku tidak tahu nama mu, jadi aku memanggil mu Bocah tameng!"
Perempuan ini apa dia seseorang yang mesum? Dia dengan bangganya memamerkan auratnya itu. Sepertinya dia orang yang bermasalah.
"Ah ya sebelumnya kita belum berkenalan. Nama ku Zef Beskytter. Ya seperti yang kau tahu sebelumnya kan?"
"Jangan sok berkenalan dengan ku bocah! Aku bukan wanita gampangan mengerti! Tapi karena kau tampan jadi tidak apa-apa hu hu hu."
"He? • • • • • Heeeee"
"Baiklah nama ku Edna, Wanita tercantik di dunia ini. Beruntunglah kau bertemu dengan ku manis! hu hu hu hu."
"Apa apaan dia ini? Aku jadi punya firasat buruk." gumamku.
"Sudahi perkenalannya, ayo kita cari adik mu dan segera pergi dari sini."
"Ah iya!"
__ADS_1
Kami pun berjalan menyusuri hutan dan dalam perjalanan aku sedikit berbasa-basi kepada Nona Edna.
"Edna-san, bukan kah kau juga membenci manusia? Tapi kenapa kau mau mengantarkan ku. Kau bahkan terlihat bersahabat dengan ku, apa karena aku Pahlawan Perisai?"
"Oh! Pertanyaan yang bagus. Aku memang benci ras kalian, tapi bukan berarti aku tidak mau berinteraksi dengan manusia.
Naga juga makhluk sosial sama seperti manusia kau tahu kan! Aku sudah banyak berinteraksi dengan manusia dengan wujud ini jadi bukan hanya kau saja."
"Tapi kalian biasa memakan manusia kan?"
"Oho ho ho ho! ya pada hakikatnya kami adalah makhluk pemakan daging tentu saja kami bisa memakan manusia. Tapi kau tahu, itu untuk naga yang belum berevolusi dan masih berinsting layaknya hewan. Setelah berevolusi dan sudah memiliki akal, kami sadar kalau daging manusia itu sangat menjijikkan. Kenapa kau bertanya tentang itu bocah? Apa kau takut aku makan. Oho ho ho ho!"
"Eh tidak juga!" kata ku dengan ekspresi jijik.
Siapa juga yang takut dengan naga seperti ini rasanya aku mau memukul kepalanya.
"Jadi, kau benar-benar membenci manusia?" tanya ku yang masih ragu-ragu.
Nona Edna langsung menutupi mulutnya dengan kipas ditangannya dan kemudian menampilkan ekspresi dingin dengan tatapan sinis.
Secara bersamaan pula dia mengeluarkan sebuah aura hitam pekat dari tubuhnya. Seketika aku kesulitan bernafas dan merasa sesak dengan aura itu.
"Kau pikir aku bercanda bocah! Aku sudah banyak membunuh ribuan manusia dengan tangan ini dan aura membunuh ini sebagai buktinya."
"Uhuk~uhuk"
"Oh maafkan aku! Sepertinya aku terlalu berlebihan. hu hu hu!"
Nona Edna kemudian menarik kembali aura membunuhnya. Sepertinya yang dikatakannya, aura membunuh itu sudah membuktikan betapa banyaknya nyawa yang berakhir ditangannya.
"Ingatlah satu hal bocah! Jangan menilai seseorang dari satu sisi saja ya."
****
Setelah lama berjalan kaki kami tiba di sebuah pemukiman penduduk. Aku bertanya pada salah satu warga disana mengenai keberadaan rumah Penyihir yang dijuluki sebagai Penyihir dari bukit Turas.
"Permisi paman, apa kau tahu rumah dari Penyihir dari bukit Turas?"
"Ah beliau ya! Rumahnya ada di hutan sana. Jika kau menemukan sebuah pohon besar yang terdapat rumah, maka itu rumahnya."
"Terimakasih Paman!"
"Ya sama-sama!"
Kami lalu meneruskan perjalanan.
****
POV 3
Sementara itu Faisya dan Eilaria mulai bersiap untuk pergi menuju Lembah Naga. Beberapa saat ingin meninggalkan rumah Eilaria, mereka dikejutkan oleh kedatangan sepasang orang.
"Faisya!!!"
Bersambung...
(Chapter berikutnya "Rumah Pohon")
Note :
Tolong ya Brand... buat memberikan komentar terhadap karya ini. Senpai butuh sekali masukan dari kamu agar Senpai merasa tertantang untuk membuat cerita ini sesuai dengan selera kalian.
Kalaupun ada bab yang kamu rasa gk enak di baca ngebosenin. Ayo berkomentar pasti bakal Senpai perbaiki.
Jangan lupa Spam likenya ya Brand, agar Senpai On fire🔥
Mampir juga ke Audiobook terbaru Senpai Ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, coment dan Votenya terimakasih.
- My Free Life In Another World
- Reinkarnasi : Kembali ke tahun milenium.
Follow juga Instagram author untuk mendapatkan informasi update dan perkembangan novel ini di @sapta_yudha.author
__ADS_1