
Nathaniel Artado tengah menurunkan peti-peti berisi stoberi, dari hasil perkebunannya di Bogor, ia membawa dan menjualnya di pasar-pasar tradisional atau pun pabrik pengolahan stroberi yang berada di Jakarta.
Kebetulan pabrik pengolahan stroberi yang baru saja bekerja sama dengannya, berada di kawasan gang senggol, saat itu ia melihat seorang wanita muda yang cantik berjalan di sepanjang jalan.
Wanita cantik itu berpakaian hitam, dengan di temani seorang pria bertubuh besar dan membawa pistol di pinggul sisi kirinya. Wanita itu berhenti sesaat untuk melepas topinya dan bergerak anggun dengan kepala yang terangkat tinggi.
Sungguh Nathan tidak bisa mengalihkan pandangan dari wanita itu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, ia merasakan aliran adrenalin bercampur dengan kegembiraan. Ya Tuhan. Ya Tuhan!
"Luar biasa, bukan?" ucap Joseph, salah satu pekerja pabrik pengolahan stroberi yang ikut menurunkan box stroberi dari mobilnya. “Itu namanya Angel. Gadis tercantik di tempat prostitu*i di gang ini, dan menurutku dia wanita tercantik yang pernah aku lihat sumur hidup, melibihi seorang artis." ia berlalu masuk ke pabrik.
Nathan mengikuti Joseph dengan memanggul satu box stroberi. "Apa yang kamu ketahui tentang dia?"
“Tidak ada, hanya dia sering berjalan-jalan di sekitaran sini setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat sore, kadang dia membeli roti stroberi di sini."
"Siapa pria yang bersamanya?" Pikiran buruk terlintas di benak Nathan. “Suaminyakah?"
"Suami?" Joseph tertawa terbahak-bahak. “Dia seorang budak s*x mana mungkin punya suami. Pria itu pengawalnya, namanya Morgan. Pria itu yang memastikan jika Angel tidak kabur dari gang ini dan memastikan tidak ada yang mengganggunya, dan memastikan tidak ada yang mendekat ke arah Angel kecuali mereka telah membayar undian.”
Nathan sedikit mengernyit dan kembali ke luar. Dia berdiri di belakang mobil baknya dan menatap Angel yang semakin menjauh. Saat Joseph keluar dan kembali mengangkat box yang terakhir, Nathan mengajukan pertanyaan yang membara di dalam dirinya. “Bagaimana caraku bertemu dengannya?”
__ADS_1
Joseph tersenyum sedih. “Kau harus mengikuti undian yang setiap hari di adakan oleh Madam sang pemilik prostitu*i, tiket undiannya sebesar 500.000."
"Madam?"
"Iya Madam, pemilik prostitu*i yang di sana itu loh!" Jiseph menunjuk le arah ujung gang, arah Angel berjalan bersama pengawalnya.
Nathan memanggul satu box lagi stroberi dan membawanya ke dalam pabrik. "Aku pernah mencoba membeli undian itu, tapi tak berhasil mendapatkan Angel, aku mendapatkan wanita lain," ucap Joseph. “Sepertinya aku harus banyak membeli undian agar bisa mencicipinya."
Nathan membutuhkan udara segar, dia kembali ke luar saat telah menerima bayaran atas stroberi yang di beli oleh pabrik itu. Nathan kembali menoleh ke arah jalan yang di lalui gadis ramping berbaju hitam tadi, namun gadis itu sudah tidak ada.
Joseph menepuk bahunya “Kau terlihat seperti banteng yang baru saja ditaruh pentungan di kepalanya.” Senyumnya kecut. “Atau mungkin kamu terlalu lama berada di tanah pertanianmu, sehingga tak pernah melihat seorang wanita.”
"Kau harus memiliki cukup banyak uang untuk mendapatkannya," ucap Joseph.
Nathan hanya tersenyum kecut, bagaimana bisa Joseph menebak jika dirinya menginginkan Angel.
"Baiklah kalau kau mau pergi, mana bayaranku yang telah membantumu mengangkat box-box stroberimu?" pinta Joseph.
"Kau sedang memalakku?” Nathan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Hei, tadi aku lihat. Bosku membayar stroberimu lebih dari tagihan yang kau ajukan!" protesnya.
"Baiklah," Nathan menyelipkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan di saku Joseph. "Itu upahmu dariku."
Joseph tertawa senang mendapatkan tambahan uang dari Nathan. "Terima kasih," ucapnya, ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Nathan. "Jadi bagaimana apa kau ingin bertemu dengan Angel? sebentar lagi undian akan segera di buka. Aku akan mengantarmu ke sana," bisiknya.
"Untuk kali ini, tidak!!"
Joseph mengangguk. "Baiklah, tadinya aku pikir uang dari bosku akan kau gunakan untuk membeli undian hari ini."
"Tidak, aku akan membeli beberapa ekor sapi. Selain menanam stroberi aku ingin mencoba berternak."
"Bagus," ucap Joseph menyetujui. “Kembang biakan sapi itu dengan cepat, karena daging dan susu sapi lebih mahal harganya dari pada stroberi, dan kau akan mendapatkan keuntungan yang banyak untuk membeli banyak tiket undian Angel.”
Tanpa memperdulikan ucapan Joseph, Nathan masuk ke mobil baknya dan pergi dari pabrik. Ia melewati tempat prostitu*i Angel, hatinya tergelitik untuk masuk ke tempat itu.
Nathan pun memarkirkan kendaraannya di seberang tempat prostit*si, dan masuk ke tempat itu. Di dalam ternyata tempat itu cukup besar dan penuh dengan laki-laki, kebanyakan dari para pria itu masih muda, beberapa berkumis dan beberapa berpipi mulus, tapi hampir semuanya mabuk atau sehat cara untuk menjadi begitu.
Seorang pria bertubuh besar sedang membagikan kartu undian kepada pria yang telah membayar, kemudian tak lama seorang wanita paruh baya berpakaian berwarna merah datang bersama seorang gadis kurus, berpakaian hitam, dengan wajah cantik. Ya gadis itulah yang tadi ia lihat di jalan saat menurunkan stroberinya di pabrik. "Angel," gumam Nathan.
__ADS_1
Saat ia menyebutkan nama gadis itu, ja merasa penantiannya selama ini telah berakhir. "Tuhan," ucapnya berat. "Tuhan ini persis dengan apa ada dalam pikiranku selama ini. Beritahu aku bagaimana bagaimana caranya menikahi gadis itu."