
Dua Tahun Kemudian
Nathan dan dua putra kembarnya yang bernama Albert dan Gilbert, sudah siap menghadiri acara wisuda Bella. Bapak anak itu nampak kompak dengan stelan batik berwana biru.
Satu jam menunggu Nathan mulai gelisah, sebab Bella tak kunjung keluar dari kamar. "Main sama Aa Denis dulu ya," Nathan menitipkan kedua putra pada Joseph dan anaknya yang sudah berusia tiga, ia kemudian bergegas menghampiri Bella di kamar.
"Sayang, kenapa kamu belum juga siap?" Nathan nampak heran dan terkejut melihat istrinya masih mengenakan handuk. "Ada apa sayang?" tanyanya panik sebab Bella masih terdiam, tak menjawab pertanyaannya.
Nathan meraih tangan Bella, ia hendak menggenggam tangannya, namun Nathan di kejutkan dengan test pack yang berada di genggaman istrinya. "Aku hamil," ucap Bella lirih.
"Puji Tuhan," Nathan memeluk Bella dengan erat ia menghujani Bella dengan banyak ciuman di wajahnya, tapi kemudian Nathan berhenti mendapati istrinya tak memberikan respon apa pun. "Lalu masalahnya di mana? Kenapa kau seperti tidak senang kita mendapatkan anak lagi?"
"Ada dua kegelisah yang aku rasakan," ucap Bella. "Yang pertama, dua anak kembar kita masih kecil-kecil, dan yang kedua bagaimana jika anak ini laki-laki lagi? Tadinya tahun depan aku mau program untuk anak perempuan."
Nathan tertawa terbahak-bahak, ia semakin mempererat pelukannya. "Nathan ini tidak lucu," Bella mendorong tubuh Nathan menjauh darinya, tapi sepertinya sia-sia sebab Nathan terlalu kencang memeluknya.
"Untuk kegelisahanmu yang pertama, aku rasa tidak masalah. Aku akan selalu siap siaga membantumu mengurus anak-anak, kau bisa mengandalkan aku untuk hal apa pun kecuali memberinya ASI." Nathan mengelus payudara Bella dengan lembut. "Untuk kegelisahanmu yang kedua, jika anak ini laki-laki aku sangat senang sekali karena sekutuku bertambah banyak, dan kau bisa tetap melaksanakan program kehamilan untuk anak perempuan."
Bella kembali mendorong Nathan, kali ini upayanya berhasil, ia bisa lepas dari pelukan suaminya. "Kau sangat meyebalkan, Nathan," ia berjalan menuju lemari pakaiannya, dan mengambil setelan kebaya berwana biru senada dengan batik yang di kenakan Nathan dan putra kembarnya.
Nathan mendekat ke arah Bella dan kembali memeluknya dari belakang. "Sayang, bukankah dari awal kita sepakat untuk tidak menggunakan alat kontrase*si? Kita menerima apa yang di berikan Tuhan untuk kita."
Bella terdiam untuk beberapa saat, ia mengelus perutnya dengan lembut. Bella pernah merasakan sakitnya menjadi anak yang tidak di harapkan, mengapa sekarang ia melakukan hal itu kepada calon buah hatinya. "Oh maafkan Bunda sayangku, Bunda tidak bermaksud tidak mengharapkan kehadiranmu," ucapnya dengan penuh rasa penyesalan. "Bunda hanya khawatir tidak bisa menjagamu dengan baik."
Tangan Nathan menyelinap di antara perut dan tangan istrinya. "Kita akan menjaganya bersama-sama sayang, kau tidak perlu khawatir," bisik Nathan.
__ADS_1
Bella berbalik menghadap Nathan, ia memang tak seharusnya mengkhawatirkan hal itu. Sebab selama ini Nathan selalu membantunya mengurus anak-anaknya tanpa ia minta, Nathan selalu bisa di andalkan dalam segala hal.
"Sekarang kamu pakai baju, aku tunggu di bawah ya," Nathan mengecup bahu polos istrinya sebelum keluar dari kamar.
Tiga puluh menit kemudian Bella menyusul Nathan dan kedua anak kembarnya di teras rumah, Bella nampak sangat cantik dengan balutan kebaya modern yang di kenakanannya. Tak hanya Nathan yang di buat terpukau, kedua anak kembarnya pun seolah tersihir oleh kecantikan ibunya, mereka berdua berebut meminta di gendong oleh Bella.
"Kau adalah idola dan pujaan hati kita bertiga." Nathan mendudukan kedua buah hati di bangku belakan, kemudian membukakan pintu mobil untuk istrinya.
Nathan amat bangga dan bahagia bisa mendampingi istrinya wisuda, ia tak berhenti di buat kagum oleh prestasi yang di raih Bella. Bella berhasil mendapatkan IPK tertinggi di program studi yang di ambilnya. "Dari dulu, aku selalu percaya bahwa kau adalah wanita yang sangat cerdas," gumam Nathan dalam hati, ia kemudian berbisik kepada kedua anak-anaknya (Albert berada di pangkuannya, sementara Gilbert di pangku oleh asistennya) "Lihat Bunda, nak." ketika Bella naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan atas perstasinya.
Meski usianya baru satu tahun Albert dan Gilbert seolah sudah mengerti, mereka berdua bersorak dan meberikan tepuk tangan untuk ibunda mereka.
...****************...
Seperti yang saat ini, yang sedang ia lakukan, memeriksa laporan keuangan perkebunannya. Bella menutup laptopnya ketika Nathan masuk ke ruang kerjanya. "Ada apa sayang?" Perhatian Bella sepenuhnya tertuju pada Nathan.
Nathan mengulurkan sebuah surat yang baru saja ia dapatkan dari pak pos. "Apa ini?" tanya Bella penasaran.
"Buka-lah!"
"Wow.." Bella terkejut sekaligus bangga, suaminya mendapatkan undangan untuk menerima penghargaan dari pemerintah daerah atas tempat wisata yang paling banyak di kunjungi tahun ini.
"Selamat sayang," Bella langsung beranjak dari tempat duduknya dan memeluk Nathan. "Aku bangga sekali padamu," ia memberikan kecupan manisnya di pipi Nathan.
"Ini semua berkatmu sayang. Kau yang mengatur semuanya, kau terus memberikan inovasi-inovasi terbaik sehingga tempat ini menjadi sebesar ini," Nathan memandangi Bella lekat-lekat. "Tanpamu tempat wisata ini tidak akan pernah ada."
__ADS_1
"Ini adalah kerja sama kita berdua," ujar Bella. "Aku punya satu berita baik untukmu," ia melepaskan pelukannya dan beralih ke laptopnya. "Nampaknya kau akan mendapatkan satu sekutu lagi." Bella memperlihatkan sebuah email dari dokter kandungannya yang mengirimkan hasil jenis kelamin calon buah hati Bella dan Nathan.
"Istrinya Joseph tadi pagi meminjam laptopku, rupanya dia lupa mengeluarkan akun emailnya dan aku tidak sengaja membukanya." Bella kembali menatap Nathan dengan serius. "Sepertinya mereka akan membuat kejutan gender reveal party untuk kita, jadi bersikaplah seolah kita tidak mengetahuinya untuk menghargai usaha mereka yang ceroboh ini."
Nathan mengangguk setuju. "Kau tidak sedih anak kita laki-laki lagi?"
Bella menggeleng. "Tidak ada alasan untuk aku bersedih, kau dan anak-anak begitu mencintaiku dan aku pun mencintai kalian. Yang terpenting bagiku, janin ini sehat dan selamat."
Nathan menarik Bella ke dalam pelukannya. "Kau adalah idola kami," ia menciumi pipi Bella yang terlihat chubby dan menggemaskan.
Kemesraan itu seketika terhenti ketika Mariam datang dan memberi kabar jika Paul jatuh dari tangga.
"Kita ikuti saja permainan mereka," bisik Bella.
"Ayo kita segera kesana!" Nathan dan Bella bergegas menghampiri Paul di kediamannya, dan benar saja dugaan Bella. Begitu ia dan Nathan membuka pintu, mereka semua menyemprotkan confetti popper berwana biru.
"IT'S A BOY," teriak mereka kompak, mereka semua memberikan ucapan selamat kepada Nathan dan Bella, termasuk eyang yang baru saja menerima ajakan Bella untuk tinggal bersamanya di perkebunan. Bella ingin selalu berkumpul bersama orang-orang tercintanya.
Pada perayaan gender reveal party ini Nathan mengajak seluruh karyawannya untuk makan siang bersama mereka, karena selain ingin membagi kebahagiaan atas jenis kelamin calon buah cintanya dengan Bella, ia pun ingin berterima kasih kepada pegawainya yang telah membantunya membesarkan perkebunannya sehingga ia berhasil mendapatkan penghargaan dari pemerintah.
Di tengah keramaian dan suka cita yang Bella rasakan, ia terus memandangi suaminya yang berada di sebelahnya. Kau telah membuktikan bahwa jatuh cinta padamu adalah hal yang sangat membahagiakan, dan Nathan benar. Tuhan tidak pernah menghukum umatnya.
...****************...
Note: Aku lanjut nulis Jakarta Difusi lagi, jangan lupa mampir ya😊
__ADS_1