
Murphy datang di tengah kekacauan yang terjadi di salonnya. “Apa yang sedang kau lakukan? Aku menyuruhmu tunggu di bawah untuk menunggu giliran."
"Minggir." Murphy merentangkan kakinya dan mengepalkan tinjunya. “Kamu pikir kamu bisa melewatiku?"
Angel pernah melihat Murphy beraksi sebelumnya dan yakin Nathan bukan lawan yang sepadan untuknya. "Nathan, tolong jang—"
Nathan seolah tak peduli dengan peringatan Angel, ia mendorong Angel ke satu sisi dan melangkah di depannya. Murphy mendatanginya, tapi Nathan bergerak sangat cepat, hingga Murphy terjatuh sebelum dia tahu apa yang menimpanya.
Nathan menangkap pergelangan tangannya dan menariknya lagi. Sebelum mereka mencapai tangga, Murphy sudah bangun. Dia meraih lengan Angel dan ditarik ke belakang begitu keras, hingga Angel berteriak kesakitan.
Nathan berbalik mendang Murphy hingga jatuh ke dinding. “Terus berjalan dan jangan berhenti.”
Di depan Max menyerang Nathan saat mereka mencapai dasar tangga. Nathan meninjunya dengan keras. Angel tak pernah melihat pria bertarung segigih itu, Nathan berhasil menghajar siapa pun yang menghalangi jalannya.
"Siapa lagi yang ingin menghalangiku menjemput istriku? Ayo!" serunya dengan gagah berani. Tidak ada yang berani bergerak dari tempatnya, ia menarik Angel keluar dari salon.
Angel cukup terkejut saat melihat seekor kuda berada di depan salon. "Hanya ini kendaraan yang kupunya dan yang paling cepat untuk sampai ke sini. Mobilku masih di bawa Paul." ia meraih pinggang Angel dan membantunya naik ke punggung kuda, baru kemudian ia duduk di belakang Angel memegang tali kendali.
Sungguh tak pernah terbayangkan dalam benak Angel, naik seekor kuda di tengah kota dengan banyaknya kendaraan yang lalu lalang. Namun Angel terlalu takut untuk berkomentar, terlebih Nathan memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.
Setelah beberapa mil menjauh dari gang senggol, Nathan mulai menurunkan kecepatannya, ia menyeka darah yang menetes di bibirnya.
"Biarkan aku turun dari kuda ini, Nathan."
"Kau pulang bersamaku."
"Agar kamu bisa membunuhku?"
“Yesus, apakah kamu mendengar ucapan wanita ini? Mengapa Engkau memberiku wanita yang begitu keras kepala?"
__ADS_1
"Lepaskan aku!"
“Aku tidak akan melepaskanmu!" Suaranya begitu lembut namun sorot matanya tajam, ia kembali memegang erat tali kendali agar kuda berlari dengan cepat. "Kita harus bergegas sebelum gelap."
...****************...
Nathan hampir gila ketika Angel meninggalkannya, dengan menunggangi kudanya ia mencari keberadaan Angel, hingga ia menemukan bekas ban dan manik-manik pakaian Angel yang terlepas saat Angel berlari mengejar mobil Paul. Dari situlah Nathan menyadari apa telah terjadi, Angel telah pergi dengan Paul. Mereka sedang dalam perjalanan kembali ke Gang senggol.
Menjelang tengah malam, mereka tiba di kediaman Nathan. Sementara Paul pulang keesokan harinya. Nathan sakit hati dan terluka pada mereka. Mengapa Paulus melakukannya? Mengapa dia tidak membawa Angel pulang, tapi malah membawanya ke gang senggol? Nathan memarahi Paul habis-habisan.
“Dia pergi atas kemauan dia sendiri, dia mengejar mobil yang aku bawa. Aku sama sekali tak membujuknya untuk pergi," ucap Paul dengan wajah pucat dan takut.
“Nathan, maafkan aku. Aku bersumpah itu bukan salahku. Aku pernah memberitahumu bahwa dia sekali pelac*r maka selamanya..."
“Pergi dari hadapanku, Paul.”
Nathan hampir saja tak menyusul Angel, namun rasa khawatir yang begitu besar dan cinta yang begitu dalam padanya membuat hati Nathan tak tenang. Nathan telah menganggap Angel adalah istrinya, sampai maut memisahkan, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke gang senggol.
Nathan bergidik dan menjauh dari Angel. "Ayo makan," ucap Nathan dengan kaku, pagi tadi ia membuatkan sup dan bubur untuk mereka berdua sarapan.
Angel tak berani menatap Nathan, terlebih Nathan baru saja memarahi Paul habis-habisan, ia makan dengan patuh. “Nathan, untuk apa kamu menjempetku?"
"Kamu adalah istriku."
“Tapi aku sudah melepas cincin itu dan meninggalkannya di atas meja! Aku tidak mencurinya.”
“Itu tidak mengubah apa pun.”
"Kamu seharunya melupakanku dan mencari wan...." Angel berhenti sebab Nathan memelototinya.
__ADS_1
“Ini adalah komitmen seumur hidup, yang tidak akan pernah aku langgar."
Wajah Angel terlihat bingung. "Kau masih mengatakan komitment, bahkan setelah kamu melihatku telanjang dengan pria lain." Angel sungguh tidak mengerti dengan Nathan. "Mengapa?"
"Karena aku mencintaimu," ucapnya dengan tegas. “Sesederhana itu, Mara. Aku mencintaimu. Kapan kamu akan mengerti bahwa aku mencintaimu?"
Tenggorokannya menegang, dan Angel menundukkan kepalanya. "Aku memang tak mengerti cinta."
"Tinggal-lah disini bersamaku, dan menikahlah secara resmi denganku. Maka aku akan memberikan semua cinta yang kumiliki untukmu."
“Aku hanya kotoran, Nathan. Sampai kapan kamu akan terus berkubang di dalamnya?” Angel memalingkan muka, bahunya merosot di kursinya.
"Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu, sekali pun kau tidur dengan adiku."
Wajah Angel menegang. "Kau tahu jika paul...? Siapa yang memberitahumu?"
“Siapa pun tidak perlu memberitahuku. Hal itu sudah tertulis di seluruh wajahnya, aku begitu mengenal adikku."
Angel tidak memberikan pembelaan, ia juga tidak memberikan alasannya. Bahunya semakin lemas, ia menatap lurus ke depan. Nathan dapat melihat Angel menyalahkan dirinya sendiri, tetapi dia dan Paul sudah melakukannya
“Mengapa kamu kembali ke gang senggol? Aku tidak mengerti."
Angel menutup matanya, mencari alasan yang cukup bagus. "Untuk mendapatkan uangku," ucapnya muram.
"Untuk apa?"
"Aku ingin rumah kecil di hutan."
"Kamu sudah punya rumah ini."
__ADS_1
“Aku ingin bebas, Nathan. Hanya sekali seumur hidupku. Bebas!" Suaranya pecah, Angel menggigit bibirnya dan mencengkeram ujung meja begitu keras.
Wajah Nathan melembut, kemarahan lenyap tapi bukan lukanya, bukan rasa sakitnya. "Kamu sudah bebas. Kamu hanya belum menyadarinya.”