The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 31


__ADS_3

Judge not, that ye be not judged. For with the judgment you pronounce you will be judged, and the measure you give will be the measure you get. MATTHEW 7:1


Paul membuang perlengkapannya yang sedikit dan berdiri di lereng bukit. Dia melihat Nathan bekerja di ladang dan menangkupkan tangan ke mulutnya untuk berteriak. Nathan meninggalkan sekop untuk menemuinya di tengah jalan menuruni bukit. Mereka berpelukan. Paulus hampir menangis saat merasakan lengan yang kuat itu.


"Oh, aku senang bertemu denganmu, Nathan," ucapnya, dengan suaranya serak kelelahan dan emosi.


Kelegaan yang begitu besar hongga Nathan menitikan air matanya ketika melihat adiknya pulang, ia melihat adiknya seperti orang yang belum bercukur berminggu-minggu, rambutnya telah tumbuh panjang dan pakaiannya sangat lusuh. Nathan meletakkan tangannya di bahunya. “Kamu akan terlihat jauh lebih baik setelah kamu bersih-bersih dan makan.”


Paul terlalu lelah untuk memprotes saat Nathan naik ke atas bukit dan memikul barang bawaannya. “Bagaimana hasil merantaumu? Setiap kali aku membawa Stroberi ke Jakarta aku tidak lagi bisa menemukanmu.”


Paul meringis. “Suram dan dingin, akunsudaah pindah dari kostan lamaku.”


"Kenapa kau mencariku?"


“Tentunsaja, aku mencarimu. Kau satu-satunya saudara yang kupunya, aku harus memastikan kau masih hidup.”


Paul melihat ke arah ujung lembah dan memikirkan Ibundanya. Beberapa hari terakhir telah diisi dengan memikirkan ibundanya, kehilangan sosok ibu adalah hal terberat dalam hidupnya. Setiap kali ia memikirkannya, ia merasakan rasa sakit. Oh, Ibu. Kenapa kau harus meninggalkanku? Matanya terbakar ia sangat membutuhkannya.


"Apakah kamu pulang untuk selamanya?" tanya Nathan.


Paul berdehem. “Aku belum tahu,” jawabnya datar. "Aku baru saja di tipu." ia terlalu lelah untuk memikirkannya apa yang akan ia lakukan besok. “Aku bahkan tidak yakin bisa pulang, karena uangku habis di bawa lari oleh temanku.”


Tapi sekarang ia bisa bersyukur, ia bisa pulang. Dengan membantu Nathan di kebun, ia akan memiliki uang kembali, pikirnya. “Ini bukan apa yang aku inginkan, tapinaku tidak punya pilihan lain selain pulang," ucapnya.


Nathan meletakkan tangannya di bahunya. "Aku senang kau ada di rumah," ia menyeringai. “Ada ladang untuk ditanami, dan ada pekerjanya yang bisa kau kerjakan.” Nathan selalu membuatnya mudah.


Paul tersenyum kecut. "Terima kasih. Pekerjaan itu tidak seperti yang aku harapkan di luar sana.”


"Untuk sementara kerjakan saja apa yang ada," ucap Nathan.


"Tidak pelangi setelah hujan, setelah Ibu pergi aku sama sekali tak menemukan kebahagiaan dan kemudahaan."

__ADS_1


“Mana ada pelangi jika yang datang hujan deras? Pelangi hanya akan datang saat gerimis di sertai cahaya matahari. Jika kau pikir ada pelangi setelah hujan badai, kau bodoh."


Mereka tertawa. Nathan selalu memakai logikanya setiap kali mematahkan istilah yang di lontarkan adiknya. "Apa yang terjadi di sekitar sini saat aku pergi?" ia bisa melihat Nathan telah mendirikan beberapa bangunan, semuanya tertata rapih dan bersih.


"Aku menikah."


Paul berhenti dan menatapnya. "Dengan siapa?" tanyanya seakan tak percaya. “Maaf, tapi aku belum melihat wanita yang baik sejak kita tiba di sini.” ia melihat tatapan aneh di wajah Nathan. “Lau pasti bertemu dengannya di gereja.”


Sebab Nathan selalu berkata bahwa dia menunggu orang yang tepat, dan taat. Paul berusaha bahagia untuknya, tetapi ternyata tidak. Dia cemburu. Sewaktu ia berada di jalan pulang, ia berharap untuk duduk di depan api dan berbicara dengan Nathan, dan sekarang Nathan punya istri. Sungguh keberuntungan tak berpihak padanya, padahal ia membutuhkan nasihat kakaknya yang bisa membuat masalahnya ringan.


Mengapa seseorang harus mendapatkan kakaknya sekarang? "Menikah?" gumam Paul. "Selamat ya."


"Sebetulnya kami belum meresmikannya, tapi dia sudah ada di rumah."


"Tidak masalah, bagaimana kamu bisa menemukan wanita idamanmu? ceritakan padaku tentang dia. Seperti apa dia?"


Nathan mengangguk ke arah kediamannya. "Dia ada di rumah."


"Mara."


“Mara, mana yang bagus." Dia menyeringai jahat. "Apakah dia cantik, Nathan?"


"Sangat cantik."


Sangat cantik? Paulus tidak bermaksud membuat penilaian apa pun sampai dia melihatnya sendiri. "Biarkan aku tidur di gudang malam ini," ucapnya. “Aku terlalu kotor dan lusuh, aku ingin bertemu dengan istrimu setelah aku bersih-bersih.”


Nathan membawakannya selimut, sabun, dan baju ganti. Sementara adiknya membersihkan tubuh, Nathan menyiapkan makanan untuk adinya.


Nathan kembali lagi dengan makanan panas, setelah Paul selesai mandi "Kamu harus makan sesuatu, tubuhmu hanya tinggal kulit dan tulang.”


Paul tersenyum lemah. “Apakah kamu memberi tahu istrimu bahwa ada seorang pengemis kotor di gudang?"

__ADS_1


"Dia tidak bertanya." Nathan membersihkan gudang, agar adiknya bisa lebih nyaman.


“Gudang ini tidak terlalu buruk untuk di tempati, dan lumayan hangat.”


"Ini akan menjadi seperti surga setelah tanah yang keras selama berbulan-bulan." ia mulai mencicipi makanan yang di bawa oleh Nathan dan mengangkat alisnya.


“Kau punya juru masak yang baik. Sampaikan terima kasihku padanya."


Setelah makan, Paul berbaring pada tempat yang sudah Nathan siapkan. "Aku lelah. Aku rasa saya belum pernah selelah ini." ia tidak bisa membuka matanya lagi. Hal terakhir yang dia lihat adalah Nathan membungkuk untuk menutupinya dengan selimut tebal.


...****************...


Paul terbangun oleh ringkikan kuda, tubuhnya kaku dan sakit saat bangun. Ia melakukan peregangan, kemudian pergi untuk melihat keluar pintu gudang.


Nathan sedang menggali lubang untuk tiang pagar, ia menghampiri kakaknya. Nathan berhenti bekerja dan bersandar pada sekopnya, saat tahu adiknya menghampirinya. “Kapan kamu akan bangun? Kamu sudah tidur selama dua hari.


aul menyeringai. “Betulkah? Aku ketiduran selama itu sampai aku lupa bertemu dengan istrimu.” Nathan tertawa. “Ayo kembali ke rumah, sebelum Mara tidur siang."


Paul mulai menantikan kehadiran seorang wanita, ia mengharapkan seseorang seperti Ibundanya. Seseorang yang lembut berwatak baik dan taat. Wanita itu datang di belakang Nathan, Paul sangat ingin bertemu dengannya. Sorang gadis bertubuh ramping berdiri di depan api, membelakangi mereka. Dia mengenakan rok persis seperti yang dikenakan Ibundanya.


Paul sedikit mengernyit saat wanita itu membungkuk ke panci masaknya, dan Paul bisa dengan cepat menyadari bahwa wanita itu memiliki bokong yang sangat indah.


"Mara, adikku datang," ucap Nathan.


Ketika Angel berbalik, Paul merasakan perutnya jatuh ke lantai, ia menatap tak percaya. Tapi wanita itu ada di hadapannya, seorang pela*ur dari gang senggol. Paul melirik Nathan dan melihatnya tersenyum, seolah-olah Angel adalah matahari di langit. "Paul, aku ingin kamu berkenalan dengannya."


Paul menatapnya dan tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan. Nathan berdiri di samping adiknya dan menunggu adiknya berkenalan dengan Angel.


Paul memaksakan senyum kaku. "Aku Paul, adik kandung Nathan. Senang bertemu denganmu, Mara." Mengapa Nathan menikah dengan wanita seperti ini? Apakah dia tahu jika gadis ini adalah seorang pel*cur? Tapi Nathan belum menikahinya, dia tidak boleh menikahi gadis ini sebab Nathan seorang yang sangat taat, dia tidak pernah berpacaran, bahkan kakaknya itu belum pernah menginjakkan kaki di rumah bordil seumur hidupnya.


Angel! Apa yang penyihir itu lakukan hingga bisa mendapatkan hati Nathan? Haruskah ia memberi tahu Nathan sekarang?

__ADS_1


Nathan menatapnya dengan aneh. Angel tersenyum, tapi itu bukan senyum ramah. Matanya biru indahnya berubah menjadi sangat dingin sebab Angel tahu Paul mengenali dirinya.


__ADS_2