
Rintik hujan mulai turun ketika Nathan pergi meninggalkan Bella, ia merasakan sakit seperti yang Nathan rasakan. Tapi ia tak ingin terus-menerus menjadi beban untuk Nathan, Bagi Bella, sudah cukup semua kebaikan yang Nathan berikan untuknya. Kini ia harus bisa berdiri dengan kakinya sendiri dan melepaskan Nathan. Bella ingin Nathan bahagia bersama Mariam, kalau pun tidak bersama Mariam, seorang pria sebaik dan setampan Nathan pasti menemukan wanita yang lebih baik dan pantas untuknya.
Hujan turun semakin deras, Bella tetap berdiri di pinggir trotoar, diam dan tak bergeming, ia bahkan tak peduli dengan pakaiannya yang mulai basah kuyup. Bella ingin menangisi hatinya yang begitu terluka, tapi ia tak bisa karena keputusan yang ia ambil untuk kebaikan Nathan.
Bella berdiri di tempat itu cukup lama, ia tak memperdulikan orang-orang yang lalu lalang dan memperhatikannya, menatapnya dengan tatapan heran. Lama ia meneguhkan hatinya, ia tak kuasa menahan buliran-buliran bening yang jatuh ke wajahnya, Bella menagkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan ia berjongkok. Ia menangis dalam derasnya hujan yang mengguyur kota Bogor.
Perlahan Bella mendongak ketika ia menyadari ada seseorang yang memayunginya, ia menatap wanita paruh baya yang mungkin usianya sekitar enam puluh lima tahun ke atas. Meski garis-garis penuaan memenuhi wajahnya tapi dia masih terlihat cantik dan sehat. "Kenapa kau hujan-hujanan di sini nduk? Nanti kau sakit. Di mana rumahmu?" tanya wanita itu.
Bella hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, kau ikut eyang pulang. Rumah eyang tak jauh dari sini," wanita itu menepuk bahu Bella, memintanya untuk bangun dan ikut dengannya.
Bella bangkit, kemudian ia menggelengkan kepalanya. "Tidak usah eyang, terima kasih. Aku tidak ingin merepotka eyang."
Wanita tua itu memaksa Bella. "Tidak, tidak. Bajumu basah, kau harus ganti baju baru kau boleh pergi," ia merangkul punda Bella dan membimbingnya jalan menuju kediamannya.
"Tapi eyang..."
"Sudah kau jangan membantahku, temani aku minum teh sebentar di rumah. Jika hujan sudah reda, kau boleh pergi."
Wanita tua itu tak menerima penolakan, sehingga mau tak mau Bell menurutinya. Bella mengambil payung dari tangan wanita tua itu sebab tinggi badanya melebihi wanita tua itu. "Biar aku saja eyang yang bawa payungnya."
"Nah begitu dong," ia terlihat senang Bella mau ikut dengannya.
Kediaman wanita tua itu hanya dua belokan dari jalan besar tempat Bella berdiri, hanya butuh waktu sekitar dua belas menit, mereka sudah sampai di rumah mungil wanita tua itu. Meski terlihat mungil, nyatanya di dalam rumah itu di penuhi barang-barang mewah.
__ADS_1
Tapi sayangnya rumah itu terlihat kosong dan sepi. "Kau duduklah di sini," ia meminta Bella untuk duduk di ruang tamu.
Wanita tua itu pergi ke dalam dan kembali lagi dengan segelas teh hangat dan handuk di tangannya. "Kau keringkan saja dulu tubuhmu!" aku akan mencari pakaian milik putriku.
Bella buru-buru mencegah wanita tua itu. "Jangan eyang, aku tidak enak dengan putrimu. Setelah hujan reda aku akan segera pergi."
Tatapan wanita itu berubah menjadi sedih, ia menepuk bahu Bella sembari menghela napas beratnya. "Putriku sudah lama pergi, aku mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengannya," wanita tua itu tersenyum. "Jadi kau pakai saja, dia tidak mungkin marah," ia kembali masuk.
Kali ini ia keluar lebih lama. "Maaf, membuatmu menunggu lama. Eyang sempat lupa menaruhnya di mana," ia mengulurkan pakaian panjang cantik berwana merah muda. "Eyang rasa ini pas di badanmu."
Dengan ragu-ragu, Bella menerimanya. "Terima kasih eyang."
"Sudah sana, kau ganti baju. Kamar mandinya ada di belakang," ia menunjukan arah petak kamar mandi. "Dari sini lurus saja, kemudian belok kiri."
Bella beranjak dari tempat duduknya, sembari berjalan menuju kamar mandi ia mengingat-ingat wajah wanita tua itu yang nampak tak asing baginya. Sebetulnya ia ingat, namun ragu dengan tebakannya.
Sekembalinya ia ke ruang tamu, Bella mencoba menanyakan soal putri eyang itu. "Eyang, bolehkah aku tahu sosok pemilik pakaian ini? Pakaian ini sungguh pas di badanku." Bella meraih cangkirnya dan menyesap teh hangatnya.
Wanita tua itu memandangi Bella, lalu tersenyum. "Sosoknya sama sepertimu, dia memiliki mata dan rambut yang indah, persis dirimu."
"Lalu sekarang dia ada di mana?"
Wajah wanita tua itu kembali terlihat sedih, perlahan ia menggelengkan kepalanya.
"Maaf, jika pertanyaanku membuat eyang sedih. Eyang tak perlu menjawabnya," Bella menggenggam tangan wanita tua itu, ia betul-betul merasa bersalah karena telah membuatnya sedih.
__ADS_1
Pandangan wanita itu menghadap ke arah depan ruamhanya, ia memandangi hujan sembari bercerita tentang putrinya. "Putriku pergi meninggalkan kami, demi mengejar cinta pria yang telah beristri. Hal itu membuat ayahnya marah besar dan menganggap dia sudah mati, sampai-sampai ketika suatu hari dia datang lagi karena di campakan oleh pria itu, ayahnya tidak mau menerimanya. Meski putriku datang bersama anak kecil yang sangat cantik."
Wanita tua itu menyeka air matanya. "Aku sungguh sangat menyesal, tak bisa membantu banyak. Suamiku begitu keras, aku tak berani membantahnya, tapi setiap hari aku selalu mendoakan kebahagiaan untuknya dan cucuku," ia menghela napas dalamnya baru kemudian ia melanjutkannya lagi. "Pindah ke kota ini membuat, harapanku untuk bertemu dengannya semakin tipis, namun aku tidak punya pilihan, sebab suamiku di pindah tugaskan di kota ini, beliau meninggal lima tahun yang lalu dan aku kini hidup sendiri."
"Eyang, apa nama putrimu Claudia? Apa nama cucumu Bella?"
Seketika wanita tua itu menoleh ke arah Bella. "Dari mana kau tahu? Apa kau mengenal mereka?"
Bella tersenyum. "Engkau menyelipkan uang seratus ribu di tangan Mama, ketika eyang kakung mengusirnya dari rumah."
Air mata mengalir deras di wajah kedua wanita itu, keduanya saling berpelukan melepas kerinduan. "Bella..." isaknya.
"Eyang hiks..."
Cukup lama mereka menangis sambil berpelukan, hingga akhirnya eyang melepaskan dan merangkum wajah Bella. "Sayang, di mana ibumu?"
Bella menunduk dan menggeleng. Ia menceritakan perjalan hidupnya setelah eyang kakungnya mengusirnya dari rumah.
"Ya Tuhan," eyang membekap mulutnya dengan kedua tangannya. "Maafkan aku sayang, maafkan aku..." ia kembali menangis sembari meneluk Bella dengan erat, eyang begitu menyesal karena tak berhasil meluluhkan hati suaminya unyuk bisa memaafkan putrinya. "Seandainya saja..."
Bella mengelus punggung eyang dengan lembut. "Ini bukan salah eyang, eyang tak perlu merasa bersalah."
"Lalu sekarang kau tinggal di mana? Apa kau sudah menikah?"
"Aku tidak punya tempat tinggal, aku baru saja bercerai dengannya."
__ADS_1
"Tinggal-lah disini bersama eyang, sayang. Hanya kamu yang eyang miliki," pintanya. Eyang membelai wajah Bella dengan lembut.
Bella menganggukan kepalanya. "Iya Eyang, aku mau tinggal bersama eyang."