The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 21


__ADS_3

Saat Nathan masuk ke tempat prostitusi, seseorang menyentuh punggungnya, dan ia menoleh, melihat seorang wanita tua menatapnya dengan mata merah. Rambutnya gelap dan keriting, dan dia mengenakan gaun hijau berpotongan rendah. "Aku Lucyana," ucapnya. “Temannya Angel.”


"Iya ada apa?" tanya Nathan.


"Kaulah orangnya? Orang yang terus meminta Angel untuk ikut denganmu?"


"Ya, memangnya ppa lagi yang dia katakan padamu?"


“Jangan marah, tuan. Temuilah Angel dan tanyakan lagi padanya."


"Apakah dia menyuruhmu turun ke sini?" Apakah dia di atas sana menertawakannya dibalik tirai? Batin Nathan.


"TIDAK." Lucy menggelengkan kepalanya. "Angel, tidak pernah menyuruhku." Air mata memenuhi mata wanita itu, dan dia menyeka hidungnya dengan syalnya. "Dia bahkan tidak tahu aku sedang berbicara denganmu.”


“Yah, terima kasih, Lucy, tapi terakhir kali aku bertemu dengannya, dia ingin aku pergi dan tidak akan pernah kembali."


Lucy menatapnya. “Bawa dia keluar dari kamar itu, Tuan. Bahkan jika Angel tidak mau. Keluarkan saja dia dari sana.”


Tiba-tiba rasa khawatir mendera Nathan, ia menangkap lengan Lucy saat wanita itu berbalik. “Apa ada masalah dengannya, Lucy? Apa yang ingin kamu katakan padaku?”


Lucky menyeka hidungnya lagi. “Aku tidak bisa bicara lagi. Aku harus kembali sebelum Madam mencariku.” Lucy pergi menuju kamarnya.

__ADS_1


Sesaat Nathan melihat ke arah tangga sebelum akhirnya ia menaikinya. Ia merasa aneh karena tak aengawal yang biasanya berdiri di kaki tangga untuk menghentikannya naik ke atas sebelum memperlihatkan bukti pembayaran atau tiket memenangkan undian.


Lorong menuju kamar Angel terlihat sepi, tapi tak lama Nathan melihat seorang pria keluar dari kamar Angel, dan Madam bersamanya. “Apa yang kamu lakukan di sini? Tidak ada yang diizinkan naik ke atas."


"Aku ingin melihat Angel."


"Dia tidak bekerja hari ini."


Nathan melihat tas putih (Jas dokter) di tangan pria itu. "Ada apa dengan dia?"


"Tidak ada," jawab madam dengan tajam. “Angel hanya butuh beberapa hari untuk istirahat. Sekarang kau pergi dari sini.” Madam mencoba menghalangi jalannya, tetapi Nathan mengatur langkahnya ke sampingnya dan akhirnya bisa masuk ke kamar.


Dokter menatapnya dengan tatapan dingin. "Tidak bu. Saya tidak mau.”


Nathan mencapai tempat tidur dan melihatnya. “Ya Tuhan…” ia melihat Angel nampak mengenaskan.


"Itu ulah Morgan, dan dia sudah aku usir dari sini." ucap Madam dari belakang, ia nampak ketakutan dengan tatapan Nathan yang begitu tajam.


"Dia benar," ucap dokter. “Jika Madam tidak masuk saat itu, dia mungkin akan membunuhnya.”


"Sekarang, maukah kamu keluar dari sini dan meninggalkannya sendirian?" pinta Madam kepada Nathan.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan pergi," jawab Nathan. "Dan aku akan membawanya bersamaku."


Madam mengomel lagi. "Angel menginginkan kegelapan."


Angel terbangun karena sentuhan seseorang, ia merasakan kehangatan, namun ia tak bisa membuka matanya. "Aku akan membawamu pulang bersamaku,” ucap Nathan dengan suara lembut itu.


"Kau ingin membawanya pulang? Baikkah. Aku akan membungkusnya dengan bungkus kado, ”ucap Madam. "Tapi kamu harus membayarnya dulu."


Nathan merogoh semua uang yang ia miliki di kantong. "Kau mendapatkan semua uangku," ucap Nathan, kemudian ia kembali beralih ke Angel, sementara Madam meninggalkan kamar Angel, di susul dokter setelah ia memberikan obat kepada Nathan.


Rasa sakit meledak di kepala Angel, dan dia mengerang. Ia bisa mendengar ada banyak orang sedang berbicara. Salah satu dari mereka berbicara dengannya. "Aku ingin menikahimu Angel, bersediakah kau menjadi istriku dalam senang mau pun susah?” Seseorang meraih tangannya, Angel mengira itu Lucy, tapi kemudian ia menyadari jika tangan yang memegang tangannya besar dan keras, kulitnya kasar dan kapalan. “Katakan Angel!" pinta Nathan dengan penuh harap pada Nagel


"Ya," jawab Angel lirih, kemudian Nathan menyelipkan cincin di jarinya.


Nathan mengangkat kepala Angel dengan lembut, dan ia meminumkan obat kepadanya. Lucy meraih tangan Angel. “Istirahatlah dengan nyenyak di mobilnya, dia akan membawamu pulang," ia mengelus kepala Angel dengan lembut.


“Kamu biasa menikah dengannya sekarang, Angel. Dia memiliki cincin kawin yang di kalungkan di lehernya, dan dia mengatakan itu milik ibunya. Angel, dia menempatkan pernikahan ibunya cincin di jari manismu. Bisakah kau mendengarku, sayang?”


Angel ingin bertanya dengan siapa dia menikah, tapi apa bedanya? Menikahndengan siapa pun akan terasa sama saja. Angel sangat lelah dan sakit untuk bertanya. Mungkin dia akan mati setelah ini dan semuanya berakhir.


Angel mendengar dentingan botol di atas gelas, Lucyana sedang minum lagi. Angel bisa mendengar wanita iti menangis dan merem*s tangan Angel. “Aku akan merindukanmu, Angel. Jangan lupakan teman lamamu, Lucy.”

__ADS_1


__ADS_2