The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 51


__ADS_3

Dua Tahun Kemudian


Sejak tinggal bersama eyangnya, banyak yang berubah dari kehidupan Bella. Ia kini kembali meneruskan pendidikannya, Bella memiliki mobil kecil hadiah dari eyangnya untuk mobilitasnya sehari-hari dan tak hanya itu Bella juga ikut membantu eyangnya berjualan bunga di florist kesayangan eyangnya. Eyang sama seperti Mama yang menyukai bunga, sehingga beliau memanfaatkan uang pensiun suaminya untuk membuka toko bunga.


Dari sekian banyaknya perubahan yang terjadi dalam hidup Bella, hanya satu yang tak berubah dari diri Bella, ia masih selalu memikirkan Nathan. Pernah sekali ia melewati perkebunan Nathan hanya sekedar ingin tahu kondisi Nathan dan perkebunannya. Bella senang melihat pembangunan perkebunan Nathan yang semakin indah dan sepertinya sudah siap di buka untuk umum.


Namun sepanjang, kendaraan yang ia kendarai melintasi perkebunan Nathan. Bella tak melihat tanda-tanda keberadaan Nathan, yang ia lihat justru Mariam dengan perut besarnya. Hal ini menguatkan dugaan Bella bahwa Nathan dan Mariam telah menikah dan mereka akan segera memiliki bayi.


Bella menghempaskan pikirannya mengenai Nathan. "Aku tak ingin seperti Mama yang mencintai suami orang, aku tak boleh membiarkan pikiranku di penuhi oleh proa yang tegah menunggu kehadiran malaikat kecilnya. Aku harus bahagia seperti Nathan," gumamnya sembari menepikan kendaraannya di depan toko bunga eyangnya.


Hari ini malam Natal, toko bunga hanya buka sampai jam tiga sore dan eyang pun tidak ikut menjaga toko bunga sebab beliau sibuk mempersiapkan untuk malam Natal bersama cucu tercintanya.


Dan Bella pun sebenarnya membuka toko itu hanya untuk membuatkan beberapa pesanan pelanggannya yang sudah memesan beberapa hari yang lalu. Ketika semua pesanan sudah ia berikan kepada kurir, ia bergegas melepas apronnya dan bersiap untuk pulang dan ke gereja bersama eyangnya.


Ya satu lagi perubahan dari diri Bella, kini ia tidak takut lagi untuk datang ke gereja. Setiap minggu pagi dan acara-acara besar, ia menemani eyangnya ke gereja.


"Aku tidak sabar untuk brownies dan teh hangat buatan eyang, sebelum ke Gereja," pikirnya sambil membalik papan penanda TUTUP. Bella tersentak ketika pintu itu di buka dan di dorong oleh seorang pria dari luar.


"Aku mohon jangan tutup dulu," ucapnya dengan napas yang terengah-engah. "Aku ingin membeli bunga istriku yang sedang hamil," pria itu mendongak, menatap Bella.


Baik Bella maupun pria itu, kedua sama-sama terkejut.


"Angel?"


"Paul?"

__ADS_1


Ucap mereka secara bersamaan, masih dengan wajah herannya, tapi kemudian Paul menghilangkan wajah keterkejutannya. "Bisakah aku mebeli buket bunga mawar putih untuk istriku?"


"Sebenarnya, aku sudah tutup dan ingin segera pulang," ujar Bella. "Tapi karena ini untuk istrimu, baiklah akan aku buatkan," Bela berbalik dan bergegas kembali mengenakan apronnya.


Tak butuh waktu lama bagi Bella untuk merangkai bunga mawar putih, menjadi buket bunga yang cantik dan indah. Keahliannya itu ia dapatkan dari Mama, saat masih tinggal di desa, ia sering memperhatikan Mama merangkai bunga.


"Sudah jadi," Bella mengulurkan buangan cantik itu kepada Paul. "Karena istrimu sedang hamil, maka aku beri gratis. Siapa nama istrimu?" tanya Bella ketika ia mengambil sebuah kartu ucapan yang ingin ia selipkan di bunga cantik itu.


"Mariam."


Bella terdiam untuk beberapa saat. "Mariam yang...."


"Mariam yang kau kenal, yang tinggal bersama kamu dan Nathan, sebelum kamu pergi meninggalkan rumah," sambung Paul menegaskan bahwa dialah yang akhirnya menikahi Mariam bukan Nathan.


Paul mengangkat alisnya, memandangi Bella. "Apa kau pikir jika Nathan akan menikahi Mariam? Tidak. Pria itu sampai sekarang masih menganggapmu istrinya," ia meraih kartu ucapan dari tangan Bella. "Terima kasih untuk bunganya, aku permisi dulu."


Hati dan pikiran Bella semakin tidak tenang, bahkan ketika ia menghadiri misa malam natal di gereja bersma eyangnya, hatinya tak berhenti berdoa meminta petunjuk pada Tuhan.


Eyang mengelus punggung Bella dengan lembut. "Ini adalah Natal kedua kita," ujar eyang. "Tapi sepertinya kamu tidak menikmati misa tahun ini," ia menggandeng tangan cucunya keluar dari gereja. "Apa yang sedang mengganggumu, nak? Apa tugas kuliahmu sangat sulit?"


Bella menggeleng, ia mengarahkan kunci ke mobilnya sembari menekan tombol buka. "Tidak ada eyang, aku hanya ingin beristirahat." Ia bersama eyangnya masukmke mobil secara bersamaan.


"Kau pasti capek. Nanti pagi, biar eyang ke gereja sendiri saja."


Bella mulai melajukan kendaraannya menuju kediamannya. "Tidak eyang, aku hanya butuh istirahat sebentar saja. Nanti pagi aku pasti sudah enakan." Begitu tiba di rumahnya Bella langsung pamit untuk beristirahat.

__ADS_1


Di kamarnya Bella tidak dapat memejamkan matanya, hati dan pikirannya begitu gelisah memikirkan Nathan. "Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan," ia mondar-mandir kesana kemari sebab kegelisan yang menderanya.


Bella berjalan ke ruang keluarga dan menyalakan televisi, berharap terlevisi bisa meredakan gelisahannya. Ia menekan beberapa saluran televisi mencari tayangan yang pas untuknya, namun jempolnya berhenti menekan ketika sebuah saluran lokal menayangkan seputar tempat liburan di kota Bogor.


Meski terjadi perubahan total pada tempat itu, namun Bella masih sangat menenalo tempat itu, tempat yang pernah memberikan kehangatan dan kenyamannan baginya. Air mata Bella mengalir deras di pipinya, ketika ia melihat Nathan di wawancarai oleh wartawan yang meliput.


"Ini semua adalah ide cermelang istriku, Mara," ucapnya dalam sesi wawancara itu. "Sebelumnya aku tidak pernah kepikiran untuk membuka tempat ini menjadi tempat wisata, apa lagi membuka pengolahan susu dan stroberi. Tapi Mara, memberiku banyak masukan dan dukungan."


Tubuh Bella gemetar begitu hebat, benar apa yang di sampaikan Paul bahwa Nathan masih menganggapnya istrinya. "Aku benar-benar wanita yang jahat hiks..." Bella merasakan ada sentuhan lembut di pundaknya. "Apa dia suamimu sayang?" Eyang duduk di sebelah Bella dan memeluknya dengan hangat.


"Iya eyang, dia suamiku hiks..."


"Kembalilah padanya, jika kau masih mencintainya."


Bella menggeleng. "Tidak, aku bisa kembali padanya sebab aku tidak bisa memberikan dia anak."


Eyang membelai wajah Bella dengan lembut. "Benarkah kau tidak bisa memberikannya anak? Apa kau sudah memeriksakan kandunganmu?"


Bella terdiam, selama ini ia sama sekali tidak pernah memeriksakan kandungannya ke dokter. Ia hanya mendengarkan kata Tuan yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan bisa punya anak lagi.


"Eyang punya kenalan dokter kandungan, sepulang dari gereja kita datang ke rumahnya ya! Kebetulan dia buka praktek di rumah."


"Tapi eyang, bagaimana jika aku memang tidak bisa punya anak?"


"Eyang akan tetap temanimu, menemui suamimu. Kamu bicarakan baik-baik dengannya, jika memang keputusanmu tetap ingin berpisah, berpisahlah dengan cara yang baik."

__ADS_1


"Terima kasih, eyang." Bella tenggelam dalam pelukan hangat eyangnya, rasa gelisahnya berangsur menghilang.


__ADS_2