The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 52


__ADS_3

Setelah dua tahun pergi meninggalakan perkebunan, ia kembali menapakan kakinya di perkebunan Nathan. Dengan menggandeng tangan eyang, ia melangakah memasuki gerbang perkebunan stroberi.


Dari kejauhan ia melihat punggung seorang pria yang sangat ia rindukan, pria itu tengah sibuk mengajari pekerjanya cara memupuk stroberi dengan benar.


Sementara Nathan sendiri, ia merasakan tak seperti bisasanya. Tiba-tiba saja jantungnya berdegub dengan kencang, dan ia merasan getaran yang berbeda dari dirinya. Ia berhenti sejenak, lalu menoleh kebelakang.


Nathan seolah tak percaya jika di belakangnya ada Bella, ia kembali menoleh ke pekerjanya lalu menoleh lagi ke Bella, seolah memastikan benar Bella yang beridir di ujung sana.


Beberapa detik kemudian Bella dan Nathan berlari, saling menghampiri, dan begitu tepat berada di depan Bella, Nathan membawa Bella ke dalam pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di bahu Bella, sembari menghirup aroma tubuh Bella yang selalu ia rindukan. Terima kasih Tuhan.


Setiap hari Nathan berdoa agar istrinya pulang, dan hari ini adalah Natal terindah dalam hidupnya, Tuhan memberikan hadiah paling istimewa untuknya.


Bella melepaskan pelukan suaminya, dan menggenggam tangannya dengan erat. "Nathan apa aku masih istrimu?"


Nathan mengangguk. "Tentu saja sayang," ujarnya. "Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia. Sampai mati, kau tetap istriku." ia melepas cincin ibundanya yang ia sematkan di jari kelingkingnya. "Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi sayang," ia menyematkan cincin itu di jari manis Bella.


Bella menggeleng. "Tidak akan, aku tidak akan meninggalkanmu," ia merangkum wajah Nathan dan mengecup bibirnya. "Aku mencintaimu Nathan."


Eyang tersenyum lega menyaksikan kebahagiaan cucunya, ia berjalan mendekat ke arah Bella. "Apa kau tidak ingin mengenalkan suamimu pada eyang?" ucapnya dengan tawa.


Bella menoleh ke belakang. "Astaga aku sampai lupa," ia beralih ke Nathan. "Sayang, kenalkan ini eyangku. Ibu dari Mama."

__ADS_1


Nathan tersenyum, sembari meraih tangan eyang. "Senang berkenalan dengan nyonya, aku Nathan, suami Bella." Dengan hormat Nathan mencium tangan eyang, ia kemudian mengajak istri dan eyang ke rumahnya.


Bella melihat sekeliling, ternyata Nathan tidak hanya merombak perkebunannya saja tapi juga kediamannya. Dari kejauhan rumah Nathan yang dulu hanya rumah petak yang memiliki satu ruangan saja di mana ruang makan, dan ruang tidur gabung menjadi satu, kini rumah itu terdiri dari dua lantai.


"Kamar kita ada di lantai dua," tunjuk Nathan pada sebuah kamar yang jendelanya langsung menghadap ke perkebunan. "Kalau pagi indah sekali, kau pasti akan betah."


Bella merapatkan tubuhnya ke tubuh suaminya. "Aku akan betah asalkan bersamamu."


Nathan tersipu malu, tak pernah terbayangkan sebelumnya jika Bella akan membalas cintanya. Ia merangkul bahu Bella dan mencium puncak kepalanya.


"SELAMAT NATAL."


Mariam dan istri Yoseph membuatkan acara makan malam, menyambut hari Natal. Mereka semua terkejut melihat kedatangan Bella dan eyangnya. Semua menyambut kedatangan keduanya dengan penuh suka cita.


"Terima kasih," Bella duduk di samping kanan Nathan, sementara eyangnya duduk di samping kiri Bella.


Nathan tak membuang waktunya untuk melepaskan rasa rindunya kepada Bella, selesai makan malam ia langsung membopong tubuh Bella ke kamarnya.


"Nanti aku akan mengantar eyang, ke kamar tamu," ucap Mariam sembari tersenyum ke arah Nathan dan Bella.


"Terima kasih Mariam," Bella tak kuasa menahan rasa gelinya saat Nathan mencumbuinya, ia tertawa sepanjang lorong yang mengarah ke kamarnya.

__ADS_1


Bella sudah tidak lagi merasa minder, hasil pemeriksaan kandungannya menujukan tidak ada masalah dalam kandungannya. Selama ini ia tidak bisa hamil sebab Max memasang alat kontrase*si IUD di rongga rahimnya, ketika ia berusia 10 tahun, dan untung saja Bella belum terlambat untuk memeriksakan dirinya ke dokter sehingga alat itu bisa segera di lepas dannia siap untuk menjalani program hamil.


"Kau mau punya berapa anak?" Bella mengalungkan tangannya di leher Nathan saat Nathan bersiap menyatukan tubuhnya.


"Menikahimu karena panggilan Tuhan, sementara anak adalah bonus. Jadi berapa pun Tuhan memberinya atau bahkan tidak memberi sama sekali, aku akan menerimanya." Nathan menggerakan tubuhnya secara perlahan.


'Terima kasih Tuhan, kau memberikanku pria berhati malaikat, kau masihnizinkan akununtuk bersamanya. Aku janji, akan menjadi istri yang baik untuknya.' Bella melayani Nathan dengan penuh cinta, ia menumpahkan hasrat kerinduannya yang dia pendam selama ini.


...-SELESAI-...


Hai, readers


Terima kasih sudah membaca sampai akhir, pasti gereget kenapa Bella/ Mara/ Angel hobby sekali kabur dari rumah Nathan๐Ÿ˜ kalau di perhatikan, setiap kali Bella kabur pasti ada sesuatu yang terungkap.


๐Ÿ‘‰ Yang pertama kali saat bersama Paul, di situ jadi tahu watak Paul sebenarnya.


๐Ÿ‘‰ yang kedua saat bersama Yoseph, di situ terjadilah pertemuan Bella dengan Alex, ayah kandungnya.


๐Ÿ‘‰ Dan yang ketika saat Bella meminta cerai dan turun dari mobil saat Nathan mau mengantarnya pulang, dari kejadian itu Bella jadi bisa bertemu dengan eyangnya. DN dia bisa kembali kepada Nathan dengan versi terbaiknya. Bella lebih berpendidikan, lebih mengenal Tuhannya dan ia jadi tahu dan tidak merasa kurang percaya diri lagi karena sebenarnya tidak ada masalah apa pun dalam rahimnya.


Sekali lagi terima kasih kepada yang sudah membaca, nantikan 1 episode epilog yang up besok,

__ADS_1


Salam sayang


Irma๐Ÿ˜š


__ADS_2