The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 07


__ADS_3

Claudia menjual cincin dan kalung mutiaranya untuk bertahan hidup, ia mencoba melamar pekerjaan di beberapa tempat namun rupanya sulit untuk mendapatkan pekerjaan di kota kecil, terlebih Claudia hanya tamatan SMP.


Keungan yang semakin menipis membuat Claudia meminta Bella mengembalikan angsa kristal untuk ia jual, kemudian mereka pindah ke kota besar. Mereka tinggal di rumah kumuh dekat dermaga.


Di situ akhirnya Bella melihat laut. Namun sayangnya laut yang Bella lihat banyak terdapat sampah yang mengambang di atasnya, tapi tetap saja Bella sangat menyukainya, ia menyukai bau garam laut.


Terkadang Bella turun dan duduk di dermaga melihat kapal kargo yang bersandar, orang-orang yang turun dari kapal tersebut datang dari berbagai kota, beberapa dari mereka terlihat sangat kasar namun Mamanya tetap mendekati mereka.


Claudia akan meminta Bella menunggu di luar gubuk kumuhnya sampai mereka pergi, mereka tidak pernah singgah terlalu lama. Terkadang mereka mencubitnya pipi Bella dan berkata mereka akan kembali ketika ia sudah sedikit lebih besar, dan beberapa dari mereka mengatakan bahwa ia lebih cantik dari Mamanya, tapi Bella tahu itu tidak benar, itu hanya sebuah lelucon.


Bella benar-benar tidak menyukai orang-orang itu, tapi ia selalu Mamanya tertawa ketika mereka datang dan menyambut mereka dengan dandanan mencolok dan baju sexynya. Hal yang sebaliknya terjadi ketika mereka pergi, Mamanya menangis hingga tertidur di tempat tidur kusut di dekat jendela.


...****************...


Pada usia tujuh tahun, Claudia memutuskan untuk menikah dengan Rudi, dan keadaan menjadi lebih baik. Bella sudah jarang melihat Mamanya menyambut orang-orang yang turun dari kapal, meskipun terkadang Mamanya masih melakukannya ketika Paman Rasy tidak punya uang sepeserpun untuk makan.


Paman Rudi bertubuh besar dan berwajah kusam. Namun Mamanya merawat Paman Rudi dengan kasih sayang. Mereka tidur bersama di tempat tidur dekat jendela, dan Bella memiliki kecil sendiri.

__ADS_1


“Paman Rudi tidak terlalu pintar,” ucap Claudia pada Bella, “tapi dia memiliki hati yang baik dan dia berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan kita, meski terkadang dia pulang tanpa membawa uang.”


Suatu hari, saat hujan turun dengan derasnya. Bella membuka pintu dan ia menemukan timah kaleng kemudian mencucinya sampai bersinar seperti perak. Bella mengaturnya di bawah kebocoran atap, kemudian Bella duduk di depan kaleng itu, ia dengarkan musik yang dibuat tetesan air ke dalam kaleng.


Bik Kara benar, menangis tidak ada gunanya. Mamanya terus menangis dan menangis sampai Bella ingin menutup telinganya dan tidak pernah mendengarnya lagi. Semua Tangisan Mamanya tidak pernah mengubah apapun, hidupnya tetap terasa sulit.


Satu tahun berlalu, usia Bella hampir menginjak delapan tahun. Mamanya jatuh sakit, namun Claudia tidak ingin memeriksakan diri ke dokter. Claudia selalu mengatakan yang ia butuhkan hanyalah istirahat.


Tapi kondisi Claudia terus memburuk, napasnya terdengar tersenggal-senggal. “Jaga gadis kecilku, Rud,” ucap Claudia sembari tersenyum kemudian memejamkan matanya.


Claudia meninggal tepat di hari ulang tahun Bella yang ke delapan, ia menggenggam manik-manik rosario di tangannya yang putih pucat. Radi menangis tersedu-sedu, tapi Bella sama sekali tidak menitikan air mata. Beban di dalam dirinya tampak terlalu berat untuk ditanggung.


Tanpa Bella sadari, matanya terasa berpasir dan panas. Ia berbisik berulang kali, “Bangun, Mama. Bangun. Tolong bangun." Bella tidak bisa menghentikan air matanya yang mengalir dengan deras.


"Aku ingin pergi bersamamu mah. Bawa aku juga. Tuhan, tolong, aku ingin pergi bersama ibuku." Bella menangis sampai kelelahan dan tertidur dimsamping jenazah ibundanya.


Bella terbangun ketika Rudi mengangkatnya dari tempat tidur, ia datang bersama dengan beberapa orang yang akan mengurus jenazah ibundanya. Bella yang tak percaya dengan kematian ibundanya, berteriak pada mereka yang mengurus jenazah ibundanya, ia meminta mereka untuk meninggalkan gubugnya.

__ADS_1


"Bella tenang lah," Rudi memeluknya erat-erat, ia baru melepaskan Bella ketika Bella kelelahan dan mulai tenang.


Rudi menghampiri orang yang datang untuk melayat Claudia. “Aku yakin Claudia dulunya sangat cantik,” ucap salah seorang pelayat.


"Dia lebih baik mati," ucap Rudi, menangis lagi. “Setidaknya sekarang dia bebas," lanjut Rudi,


'Bebas', pikir Bella. Bebas dariku. 'Jika aku tidak lahir ke dunia, Mama akan tinggal di rumah yang bagus di pedesaan dengan bunga-bunga di sekelilingnya. Mama pasti senang. Mama akan tetap hidup.'


“Tunggu sebentar,” ucap salah seorang pengurus jenazah, yang melepaskan rosario dari jari Claudia, lalu memberikannya kepada Bella. "Aku yakin mamamu pasti ingin kamu memilikinya, sayang."


Orang itu memasukan mamanya ke peti, sementara Bella menjalankan manik-manik melalui jari-jarinya yang dingin dan menatap mamanya. Tak lama kemudian mereka semua pergi, dengan membawa Mamanya untuk di makamkan di tempat yang tak jauh dari gubugnya.


Selesai upacara pemakaman Claudia, Bella duduk sendirian di sudut gubugnya untuk waktu yang lama, batinya bertanya-tanya apakah Rudi akan menepati janjinya untuk merawatnya.


Saat malam datang dan Rudi tidak kembali, Bella pergi ke dermaga dan melemparkannya rosario ke laut. "Apa bagusnya kamu?" ia berteriak ke langit.


Bella ingat Mamanya rajin pergi ke gereja dan berbicara dengan seorang pendeta, mereka berbicara lama sekali, dan Mamanya mendengarkan semua nasehat pendeta itu dengan kepalanya tertunduk, air mata mengalir di pipinya.

__ADS_1


Sejak saat itu Mamanya rajin berdoa dan memainkan rosario dengan jari-jemarinya. "Apa bagusnya kamu? Kamu tidak pernah mendengar doa-doa Mama," Bella berteriak lagi, hingga seorang pelaut melihat ke arahnya dengan tatapan penuh tanda tanya saat pelaut itu lewat.


__ADS_2