
Keesokan paginya, Bella mengenakan pakaian yang Nathan berikan, saat Nathan keluar dari pintu depan kediamannya. Ia mengenakan kamisol dan mengikat pita yang berjumbai. Kainnya tebal dan panjang, menutupi tubuh Bella sepenuhnya. Bella tidak pernah mengenakan pakaian seperti itu sederhana, sangat manis, dan.... sangat murah.
Jika dilihat dari pakaiannya menandakan bahwa ibunda Nathan wanita yang sangat sopan. Bella menemukan kancing di boot kiri dan memakai sepatunya. Bella berputar sembari memandangi pakaian yang di kenakannya hingga ia tersadar Nathan datang, dan dia menatapnya.
Bella terkejut dan mengangkat satu alis. "Ibumu pasti seorang yang sangat sopan, dengan pakaian panjang ini."
"Ya, beliau orang yang rutin datang ke Gereja. Bahkan ketika beliau sakit, beliau rutin beribadah dan mengikuti semua kegiatan keagamaan.” Sakit rasanya, setiap kali mengingat hari di mana ibundanya di kebumikan, kematian ibunda tercintanya merupakan patah hati terhebat dalam hidupnya.
"Ibumu sakit apa?"
"Gula darah, beliau sulit sekali di ajak ke rumah sakit. Beliau selalu mengatakan bahwa yang di butuhkan hanya-lah istirahat, nanti akan pulih sendiri."
Seketika Bella teringat akan kematian Mama, dulu sebelum meninggal Mama pun mengatakan hal yang sama. Hanya saja, sekarang Bella mengerti mengapa Mama tak ingin di bawa ke dokter, sebab saat itu mereka tak punya cukup uang untuk berobat.
"Lalu apakah kau tidak punya saudara?" Sejak menginjakan kakinya di kediaman Nathan, ia sama sekali tak pernah melihat siapa pun berkunjung di rumahnya.
"Aku punya satu adik laki-laki, tapi dia tinggal di Jakarta," jawab Nathan. "Kematian ibu merupakan pukulan terberat baginya, ia memutuskan untuk merantau. Tapi sayangnya gemerlap ibu kota merubahnya 180°. Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia terkapar bersama P*K di sebuah bar karena mabuk."
Bella tersenyum miris. “Jadi kau punya adik yang cukup liar," ia mengira bahwa semua keluarga Nathan merupkan keluarga yang taat namun ternyata tidak. Nathan berbalik dan menatapnya. Bella merasakan pandangan itu dan dia tahu apa yang dia ingin tahu. “Kalau dia laki-laki dan dia ada di Jakarta, dia mungkin pernah mengunjungi gang senggol.
"Aku tidak tahu apakah dia pernah ke gang senggol atau bahkan ke kamarmu, seandainya iya pun, kemungkinan dia tidak ingat. Kalau dia ingat, aku pasti akan memberikan pengertian padanya," ucap Nathan.
“Kamu tidak perlu khawatir apakah dia mengenalku atau tidak. Aku akan pergi sebelum dia pulang.”
"Kamu akan terus berada di sini bersamaku." Nathan tersenyum dingin.
__ADS_1
“Natal sebentar lagi tiba, aku yakin dia akan pulang. Kau tidak akan mungkin mengatakan: "Kenalakan ini istriku." Kemudian dia berkata: "Aku pernah memakainya di gang senggol." ”
“Tidak masalah dia maunpupang atau tidak. Aku akan tetap menikahimu secara resmi," mata Nathan tertuju pada cincin ibundanya yang masih melingkar di jari manis Bella.
"Ohh, itu cukup mudah untuk luruskan." Bella melepaskan cincin itu darinya jari. "Lihat? sekarang kita sudah tidak terikat apa pun lagi.” Dia mengulurkannya pada Nathan dan menaruhnya di telapak tangan tangan pria itu. "Sederhana bukan?"
Nathan mengamati wajah Bella. Dia menganggap hal itu mudah? Hanya dengan melepaskan cincinnya, ikatan itu batal dan semuanya kembali seperti semula? “Di situlah letak kesalahanmu, Mara. Mau kau pakai atau tidak, kita tetap bisa menikah di gereja. Jadi aku minta kau tetap memakainya." Nathan mengembalikan cincin itu.
Bella sedikit mengernyit, ia memutar-mutar cincin itu di jarinya. “Lucy bilang itu milik ibumu.”
"Benar." Nathan membiarkan tangannya jatuh ke sisi tubuhnya. “Jadi bersediakah kau mengenakannya kembali?.”
"Aku tidak mau." Bella meletakkan tangannya di pangkuannya dan menatapnya dengan malas. "Apa pun yang kau inginkan, tuan aku akan menurutinya kecuali menikah.”
“Aku benci kalimat itu. 'Apa pun yang kamu mau.'" Apapun yang kamu mau. Dia selalu menggunakan itu untuk menawarkan tubuhnya kepada pria hidung belang.
Bella tidak tahu apa pun tentang Tuhan, yang ia tahu Mama begitu yakin dengam Tuhan, tapi Tuhan tak pernah mendengarkan doa dan tangisan Mama. Bella juga tidak tahu tentang pernikahan, yang ia tahu Alex Kenedy tak pernah menganggapnya dan pergi meninggalakan Mama.
...****************...
...Take my yoke upon you and learn from me, for I am gentle and humble in heart, and you will find rest. JESUS, MATTHEW 11:29...
Setelah seminggu bisa berdiri, Mara memberanikan diri keluar. Nathan memandangi Bella dari pintu, kepedihan terasa dalam benak Nathan setiap kali melihat Mara mengenakan pakaian ibundanya.
Mara dan ibundanya merupakan sosok yang berlawanan arah. Ibundanya: manis dan perhatian, tidak rumit dan terbuka. Sementara Mara: dingin dan acuh tak acuh, kompleks dan tertutup. Ibundanya: berkulit gelap dan berotot. Mara: pirang dan ramping, dan berkulit putih.
__ADS_1
Nathan tahu jika Mara keluar karena dia bosan dan kesepian. Untuk itulah Mara terlihat gelisah dan defensif. "Jadi kapan kau akan mengajari memupuk stroberi?" tanya Mara ketika menyadari Nathan mendekat ke arahnya.
"Di musim tanam berikutnya." Nathan tertawa dan menyisir rambut Mara ke belakang dari bahunya. “Kamu mau jalan-jalan sebentar?”
"Seberapa jauh?"
"Sampai kamu bilang berhenti."
Mara mengangguk setuju. Pertama-tama Nathan mengajak Mara ke sebuah bangunan yang tak jauh dari sungai. Bangunan itu rencananya untuk menyimpan daging dan produk susu, tapi sayangnya ia baru memiliki seekor sapi saja.
Lalu Nathan mengajak Mara menuju kandang kuda. "Tadinya ada empat, tapi saat aku tinggal ke Jakarta selama beberapa hari, kudanya hanya tinggal dua."
"Apa yang terjadi dengan dua kuda lainnya?"
“di curi, ”ucap Nathan, ia menyeka keringat yang bercucuran di dahi Mara, dengan punggung tangannya, sembari bertanya apakah Mara ingin pergi kembali. Mara mengatakan tidak. Tapi Nathan tetap mengajak Mara pulang.
"Kalau begitu untuk apa kau bertanya?" gerutu Mara. Dalam perjalanan pulang Nathan menujukkan perkebunan stoberinya.
"Apa itu semua milikmu?" tanya Mara takjub pada luasnya kebun yang di miliki Nathan. Nathan mengangguk.
"Menurutku, kebun seluas ini lebih baik kau buka untuk umum. Kau tak perlu menjual stoberimu ke Jakarta, lebih baik kau olah sendiri agar pengunjung yang datang menjadikan olahan stoberimu sebagai oleh-oleh." Mara melihat sekeliling. "Tempat ini sangat luas, banyak yang bisa di manfaatkan misalnya kebun binatang mini. Kau sudah punya sapi dan kuda, aku pikir itu bisa di manfaatkan juga."
Nathan terpukau pada semua gagasan yang di ungkapkan Mara, yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. "Maukah kahnkau menwujudkan semua gagasan utu bersamaku?"
“Tidak. Jangan menggantungkan harapanmu padaku, tuan. Aku punya rencanaku sendiri, dan di rencana itu tidak ada kamu.” Mara berjalan lebih dahulu sendiri.
__ADS_1
Jalan-jalan itu memang bagus untuk Mara, tetapi dia kelelahan. Tapi tetap saja itu lebih baik dari pada terkurung di kediaman Nathan. Mara menyeret kursinya keluar pintu sehingga dia bisa duduk sembari merasakan hangatnya sinar matahari di wajahnya. Dia ingin mencium udara segar. Angin yang lembut memainkan rambutnya, dan dia bisa mencium bau bumi, kuat dan kaya. Otot-ototnya mengendur, dan dia menutup matanya.