
Hari itu Angel bangun lebih pagi dari biasanya, ia menyiapkan banyak makanan untuk Nathan dan juga untuk perbekalan Joseph datang dan pergi dari perkebunannya, membawa hasil panen sebab mobil Nathan masih di pinjam oleh Jhon sehingga Nathan meminta Joseph mengambil sendiri hasil panennya di kebunnya.
Nathan menghampiri istrinya di dapur dan melihat meja makan di penuhi makanan. "Wah, banyak sekali kamu memasak?" ia memeluk Angel dari belakang, kemudian mengecup bagian tengkuknya.
"Rasanya tidak sopan jika tidak menjamu teman baikmu yang sudah banyak membantu kita," ucap Angel sembari membalik ikan segar yang ia ambil dari sungai.
"Kau memang istri terbaik di dunia," Nathan menghujani Angel dengan banyak ciuman di pipi istrinya, hingga membuat Angel meronta. "Nathan, aku sedang menggoreng ikan nanti go..." Nathan membungkam protes Angel dengan mendaratkan bibirnya di bibir istrinya.
"Kalau kau mau, tunggu-lah setelah aku selesai memasak." Akhirnya Angel bisa mendorong Nathan menjauh darinya sebelum ikan dalam wajan meghitam.
"Aku hanya ingin menciummu, tadi malam aku sudah cukup puas dengan apa yang kau berikan," Nathan meraih topinya. "Aku ke kebun dulu ya, membantu Paul membereskan stroberi."
"Dua puluh menit lagi, makanan siap."
"Siap kapten," Nathan melangkah meninggalkan kediamannya.
Nathan kembali lagi ke kediamannya bersama dengan Paul dan Joseph. Joseph sempat terkejut ketika melihat ada dua orang wanita selain Angel di rumah Nathan, semula Nathan mengira bahwa mereka berdua, namun Joseph lebih terkejut lagi setelah mengetahui bahwa Lea dan Mariam hanya-lah dua orang yang tengah singgah untuk sementara.
"Aku ingin bicara denganmu," Angel menarik Joseph menepi saat Paul sudah keluar dan Nathan tengah bermain dengan Lea di depan.
Joseph mengangkat alisnya, menunggu Angel berbicara yang selanjutnya. "Aku ingin meminta tumpangan untuk sampai ke kota."
__ADS_1
"Kota? Apa kau mau bekerja di gang senggol lagi? Lalu bagaimana dengan suamimu?"
Angel menunjuk ke arah Nathan dan Lea yang tengah bermain, kemudian tak lama Mariam menghampiri mereka berdua dengan membawakan susu hangat untuk Lea dan Nathan. "Apa kau tak lihat mereka berdua seperti keluarga sungguhan?"
"Tapi Nathan??"
"Nathan akan baik-baik saja dan bahagia bersama Mariam yang bisa memberinya anak berapa pun Nathan mau."
Joseph agak ragu menuruti permintaan Angel, ia tak ingin memiliki masalah dengan Nathan yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama. "Seorang janda masih jauh lebih terhormat di banding merpati kotor yang tak bisa memberikan cinta dan anak kepada Nathan."
Sekilas Joseph memandang ke arah Nathan. "Jadi selama ini kau tak mencintainya?"
Angel menggeleng. "Tidak. Aku mau menikah dengannya hanya untuk balas budi atas semua yang telah Nathan lakukan kepadaku. Aku rasa sekarang saatnya membalas semua kebaikan Nathan, dengan membiarkan bahagia bersama wanita yang sepadan dengannya," ia mengambil rantangan besar yang sudah ia siapkan sejak pagi tadi. "Ini untuk bekal perjalanan kita," kemudian Angel merogoh sakunya, ia meraih tangan Joseph dan memberikan beberapa lembar uang lima puluh ribuan di tangan Joseph. Uang tersebut merupakan uang belanja yang di berikan Nathan kepadanya. "Ini ongkosnya, hanya itu yang aku punya."
Sementara Angel bersiap untuk pergi ke hulu sungai, ia berpura-pura hendak ke kebun belakang kemudian menyelinap keluar dari perkebunan Nathan. Tak sulit baginya untuk bisa keluar dari area perkebunan, sebab ia sudah hafal seluk beluk perkebunan suaminya.
Angel tiba di hulu sungai hanya beberapa saat setelah Joseph tiba. "Apa kau menunggu lama?" tanya Angel saat ia masuk ke mobil.
"Baru saja," ia mulai menyalakan mesin mobil, dan bergerak mengendarainya.
Hanya keheningan yang menyelimuti perjalanan mereka, Angel memalingkan wajahnya ke jendela mobil, menatap untuk terakhir kalinya jalanan perkebunan Nathan yang mungkin tidak akan ia datangi lagi.
__ADS_1
Kali ini Angel bertekad untuk tidak kembali lagi kepada Nathan, ia ingin Nathan menikah dengan Mariam, wanita sepadan yang bisa memberikan segalanya untuk Nathan.
Joseph melirik ke arah Angel yang tengah termenung menatapi jalanan yang di laluinya. "Aku tidak keberatan mengantarmu kembali, jika kau menyesal meninggalkan Nathan."
Angel menggeleng sembari menoleh ke arah Joseph. "Tidak. Aku tidak ingin kembali ke Nathan."
"Baiklah," Joseph melanjutkan perjalanan hingga menuju ke Gang Senggol.
...****************...
Joseph menepikan kendaraannya di sebuah rumah makan tua di dekat gang senggol. "Aku kenal dengan pemiliknya, dia pria paruh baya yang mengurus rumah makannya sendiri. Apa kau keberatan jika kau membantunya? Dia akan memberimu makan, tempat tinggal dan uang, tapi mungkin tidak banyak."
Joseph seakan mengerti jika Angel saat ini membutuhkan pekkerjaan. "Aku sama sekali tidak keberatan, aku mau bekerja di sini."
"Kalau begitu turun, biar aku kenalkan kau dengan pemiliknya." Joseph turun dari mobil dan menghampiri pemilik rumah makan. Mereka nampak berbincang dengan serius, hingga akhirnya Joseph memanggil Angel untuk mendekat ke arahnya.
"Mara, ini Pak Budi," Joseph mengenalkan Angel kepada pemilik restoran. "Dia bersedia menerimamu bekerja di sini. Kau bebas makan apa pun yang ada di sini, tapi untuk tempat tinggal kau hanya bisa tinggal di rumah makan ini, kau bisa menggelar kasur saat rumah makan ini tutup jam 21.00 malam. Bagaimana?"
"Tidak masalah, aku bisa tidur di mana pun."
"Kalau begitu aku tinggal dulu, aku harus segera ke pabrik." Joseph berbalik ke arah temannya untuk berpamitan kemudian ia pergi meninggalkan rumah makan.
__ADS_1
"Aku tak yakin kau tak mencintai Nathan, tunggu-lah sampai Nathan menjemputmu," gumam Joseph, ia melajukan kendaraannya menuju pabrik, suasana hatinya sedang baik sebab ia sudah tidak perlu memikirkan toko kain di Jogja, semuanya sudah di ambil alih oleh keluarganya sehingga ia bisa kembali ke Jakarta.
Di hari pertamanya bekerja, Angel di tugaskan untuk mencatat pesanan, membawakan pesanan dan mencuci piring. Angel pikir rumah makan tua itu sepi ternyata di luar dugaannya, ternyata sangat ramai di jam-jam makan siang. Angel hampir kualahan melayani para pengunjung. Yang menjadi pertanyaan dalam benaknya, mengapa Pak Budi tak memiliki karyawan sebelum dirinya bekerja di sini? Sungguh luar biasa sekali orang tua sepertinya mengerjakan semuanya sendirian.