
Keesokan harinya Nathan menepati janjinya, ia dan Angel berjongkok di depan tungku “Untuk membuat api di tungku itu membutuhkan latihan, jadi tidak apa-apa kalau kemarin kamu salah, kamu tidak perlu menyalahkan diri.”
Angel mengawasi Nathan menyalakan api dan memukul batu api. Percikan tertangkap, dan Nathan meniupnya dengan lembut sampai serutannya berasap dan mulai terbakar. Nathan menambahkan kayu bakar kecil, lalu cabang yang lebih besar. Dalam beberapa menit, api itu menyala dan ia menaruh panci berisi air di atasnya.
Nathan meminta Angel melakukan hal yang sama di tungku di sebelahnya. Angel berlutut lebih dekat, dia menyalakan api seperti yang telah dilakukan Nathan. Ia memukul batu api dan membuat percikan api, tetapi tidak berhasil. Angel mencoba lagi, lebih keras, dan gagal. Tangannya yang terbakar sangat sakit, tidak berdaya, dia mencengkeram alat-alat itu dengan penuh tekad yang dia miliki, telapak tangannya mulai berkeringat.
Dengan setiap kegagalan, dadanya semakin sakit, sampai rasa sakit begitu meresap, begitu dalam dan melumpuhkan. "Aku tidak bisa."
"Tidak apa-apa, nanti kau bisa menggunakan kompor kalau mau masak. Hari ini aku akan membeli gas."
"Tapi kau bilang masak dintungku lebih enak di bandingkan dengan di kompor."
"Mau masak di mana pun akan sama enaknya jika kamu yang masak," Nathan tersenyum dan memperhatikan Angel memegangi bahunya. "Sakit ya? aku pijat ya!" ia meremas ketegangan dari otot-otot bahu Angel.
"Rasanya enak," ucap Angel sumringah, ia menaruh tangan di pahanya. "Kau mau membuat apa tuan di pagi ini?"
"Teh hangat, dan pindang ikan. Apa kau suka?"
"Apa saja yang akan di masak aku akan memakannya." Angel mengangguk. Setelah di rasa cukup memijat Angel, Nathan mengajak Angel ke sungai untuk mengajarinya membersihkan ikan. Selangkah demi selangkah Anggel mulai bisa mengeluarkan insang dari dalam kepala ikan, kemudian mencucinya sampai bersih. "Kapan tuan menagkap ikan ini?"
"Sebelum kau bangun tadi." selesai membersihkan ikan, mereka kembali ke rumah dan melihat rebusan air sudah mendidih. Sementara Anggel membuat teh hangat, Nathan menaruh wajan yang berisi air ke tungku lalu membuat bumbu pindang.
Angel memperhatikan dengan seksama bumbu-bumbu apa yang tengah di racik oleh Nathan, ia bertanya untuk hal yang tidak ia ketahui dan menghapalnya. "Kau mandi-lah," ucap Nathan setelah ia memasukan bumbu dan ikannya ke wajan. "Ini hanya tinggal menunggu matang."
"Baik tuan."
****************
__ADS_1
Setelah kejadian pagi itu Nathan merasakan perubahan pada Angel, tapi itu bukanlah perubahan itu membuatnya bahagia. Angel memang sudah mulai bisa masak dan membantunya sedikit demi sedikit di kebun, namun Angel seakan mundur dan menjaga jaraknya.
Memar di tubuhnya hilang dan tulang rusuknya sudah sembuh, tapi dia masih berjalan tertatih, namun Angel tidak ingin Nathan mendekat. Angel mendapatkan kembali berat badannya yang hilang setelah pemukulan kejam yang di lakukan Morgan beberapa waktu lalu. Angel tumbuh kuat secara fisik, tetapi Nathan merasakan lebih dalam kerentanan dalam dirinya.
Nathan memberinya pekerjaan ringan agar Angel tak merasa bosan, namun tidak ada kehidupan yang bersinar di matanya. Kebanyakan pria akan merasa puas memiliki wanita yang bisa membatunya bekerja, namun Nathan tidak. Dia tidak menikahi Angel untuk bekerja keras.
Nathan menginginkan seorang wanita sebagai bagian dari hidupnya, bagian dari dirinya sendiri. Setiap malam adalah cobaan. Nathan berbaring di sampingnya dan menghirup aroma tubuhnya sampai kepalanya pusing. Angel selalu mengatakan bahwa Nathan bisa menggunakan tubuhnya kapan saja dan bagaimanapun Nathan mau. Angel menatapnya setiap malam saat ia melepas pakaiannya, tetapi Nathan tidak mau melakukan apa-apa sebelum Angel bersedia menikah dengannya secara resmi.
Nathan menunggu, sembari berdoa agar hati Angel melunak. Nathan sering terbangun dengan tubuh gemetar, dan basah oleh keringat. Meski demikian Nathan tetap tidak akan membiarkan dirinya menyentuh Angel.
Angel merawat kebunnya, memasak, menyapu, mencuci, dan menyetrika. Bahkan Angel pernah membantunya memotong kayu bakar untuk tungku. Kini kulitnya berwarna coklat, punggungnya kuat, dan tangannya kasar. Angel melihat ke dalam kaleng mengkilap lagi dan melihatnya wajahnya sudah kembali normal. Bahkan hidungnya sudah kembali lurus. 'Sudah waktunya untuk mulai membuat rencana untuk kembali'. Batin Angel.
“Berapa kau menjual stoberi-stroberi itu ke Jakarta?” Angel bertanya pada Nathan suatu malam saat makan malam.
"65.000 per kilogram," Nathan mendongak.
Angel tak begitu memperdulikan rencana-rencana yang akan di buat oleh Nathan agar kebunnya bisa di buka untuk umum, karena akan tiba di mana hari Angel melepas cincin ibunda Nathan dan melupakan semua tentang dia.
Selesai makan Angel mencuci piring dan menyetrika sementara Nathan membaca Alkitab dengan keras. Angel tidak ingin mendengarkannya, seperti Tuhan yang tak pernah mendengarkan doa ibundanya sehingga ia harus terjerembab dalam tempat prostitu*i belasan tahun.
Ia telah tinggal di kebun dengan pria ini selama bulan, ia telah bekerja seperti budak; dia tidak pernah bekerja sekeras ini sebelumnya tempat prostitu*i.
Angel menatap tangannya. Kukunya patah dan pendek, dan ia punya kapalan. Apa yang akan dikatakan madam tentang penampilannya yang sekarang? Angel mencoba membuat rencana, tapi pikirannya mengembara ke kebun, ke bayi burung di sarang di luar jendela kamar tidurnya, ketenangan yang dalam dan sunyi dalam suara Nathan saat dia membaca Alkitab.
Apa apa dengan pikiranku? Mengapa aku merasa berat meninggalkan ini? aku pikir pergi ya pergi saja. Bayangan itu akan hilang ketika aku sudah kembali ke Jakarta dan mendapatkan haknya pada Madam. Wanita tua itu telah menipunya dan Angel tak akan membiarkannya, ia harus mengambil uangnya dan memulai kehidupan barunya SENDIRI, tanpa bergantung pada siapa pun.
Sepanjang malam itu ia terus berdebat dengan batinnya. Kamu harus kembali, Angel. Harus. Kamu tidak akan pernah bebas jika kamu datang lagi. Jangan. Kamu akan mendapatkan uangmu. Uangmu sangat banyak, dan kamu akan bebas. Kamu akan bisa membangun rumahmu sendiri dan itu akan menjadi milikmu sepenuhnya. kamu tidak perlu membaginya dengan siapa pun termasuk pada pria yang gila berdoa pada Tuhan yang tidak pernah peduli.
__ADS_1
Angel menaruh setrikaannya, dan berkata. "Kapan kita akan kembali ke gang senggol untuk menyuplai stoberi ke pabrik?"
Nathan berhenti membaca,ia menutup Alkitabnya dan memenadang ke arah Angel. "Kita tidak akan pernah kembali ke Gang Senggol."
"Sama sekali tidak? Kenapa? Bukankah kau menjual stoberimu di pabrik di Gang senggol?"
"Aku memutuskan lebih baik jangan kembali ke sana, panen yang kedua ini akan aku jual ke distributor di dekat sini saja."
"Kamu harus kembali dan mendapatkan uangmu setidaknya."
"Uang apa pabrik itu sudah membayar penuh tagihanku yang terakhir?"
"Uang yang kau bayarkan untukku." Mulut Angel menegang.
"Itu tidak masalah bagiku." Nathan menatapnya.
“Itu seharusnya penting. Apakah kamu tidak peduli bahwa kamu ditipu oleh Madam?” Anggel kembali menyetrika. Nathan mengawasinya dan menyadari jika Angel betul-betul ingin kembali. Bahkan setelah semua kebersamaan yang telah mereka lalui, Angel masih mendambakan kehidupannya di Gang senggol, tubuh Nathan menjadi panas dan tegang.
Angel terus menyetrika seolah-olah tidak ada yang salah dengan ucapannya, dan ia tampaknya buta terhadap perasaannya. Nathan ingin meraihnya dan mengguncang akal sehat ke dalam dirinya. Apakah pekerjaan di kebun ini terlalu keras baginya? Atau dia hanya bosan dengan kehidupan yang tenang seperti ini? Astaga, apa yang harus aku lakukan agar dia tetap bersedia tinggal di sini? Apa dia harus di rantai? ' Nathan memikirkan sesuatu untuk mengalihkan pikiran Angel dari gang senggol dari untuk sementara waktu.
"Aku punya pekerjaan yang seru untukmu besok," ucap Nathan. "Jika kamu tidak keberatan." Nathan berpikir untuk mengajaknya jalan-jalan, tapi Nathan sendiri belum tahu mau mengajak Angel kemana agar wanita itu tidak bosan.
"Apa itu?" katanya singkat.
“Ada pohon kenari hitam di padang rumput, dan kacangnya telah jatuh. Bagaimana jika kita mengambilnya. Aku punya karung goni di gudang. Kamu bisa menjemurnya di halaman untuk dikeringkan.”
"Baik," katanya. "Apapun yang kamu mau."
__ADS_1
Nathan menggertakkan giginya. Kata-kata itu lagi. Apapun yang kamu mau. Jika dia berkata satu kata lagi dia akan berteriak. "Sudah malam ayo kita istirahat."