The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 30


__ADS_3

Ketika Nathan kembali ke kediamannya untuk makan, ia mendapati Angel ttelah tiada. Nathan bergegas memasang pelananya kuda dan pergi mencari Angel.


Nathan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mengawasinya, ia mengikuti jejak kaki Angel yang ia temukan, hingga sampai ke sungai. Di sungai tersebut ia menemukan selendang ibundanya, pakai oleh Angel. Nathan terus menelusuri bukit, dimana jejak itu mengarah ke sana. Hujan mulai turun dan Nathan sangat mencemaskan Angel, ia khawatir Angel basah kuyup, kedinginan dan mungkin juga ketakutan.


Tak jauh dari sana Nathan menemukan menemukan sepatunya, ia semakin mempercepat langkahnya melompati ke puncak bukit dan terus mencarinya. Akhirnya Nathan bisa melihat Angel berjalan melintasi padang rumput, ia berlari dan mengkap tangannya. “Mara!”


Angel berhenti dan berbalik. Nathan memperhatikan wajah Angel yang kotor, baju di bagian pinggangnya yang sobek, ia juga melihat noda darah di roknya. Tatapan matanya membuat Nathan menahan lidahnya. "Aku mau pergi," ucap Angel.


"Dengan tanpa memakai alas kaki?"


"Mau bagaimana lagi."


"Mari kita bicara, Mara!"


Ketika Nathan melepaskan tangan Angel, Angel menatapnya tajam dan menampar wajahnya. Nathan terhuyung mundur selangkah, heran. Ia menyeka darah dari darahnya mulutnya dan menatapnya. "Kamu kenapa?"


“Aku bilang aku mau pergi. Tapi kamu malah mau membawaku kembali, harus berapa kali aku katakan jika aku tidak bisa tinggal di sini untuk selamanya?”


Nathan berdiri diam, kemarahannya membakar lebih panas dari pipinya, tapi ia tahu apa pun yang ia katakan sekarang tak akan di dengarnya.


“Apakah kamu mendengarku, Nathan? Ini adalah negara bebas. Kamu tidak bisa memaksa aku untuk menikah dan tinggal denganmu."


Nathan masih diam, tidak mengatakan apa-apa.

__ADS_1


“Aku bukan milikmu, meski kau sudah membayarku dari Madam!"


Kesabaran Nathan mulai menipis, ia menyeka darah dari bibirnya. "Aku akan memberimu tumpangan ke jalan." ia berjalan menuju kudanya.


Angel berdiri, dengan mulut terbuka. Nathan melirik ke arahnya. "Kau ingin tumpangan atau tidak?" ucap Nathan.


Angel masih diam, sementara Nathan sudah naik ke Kuda. “Di sana ada jalanan besar yang terdapat angkot dan bus,” ucap Nathan. "Mungkin saja Morgan telah menunggumu di sana." Nathan menunjuk ke arah yang berlawanan arah. "Sementara itu adalah arah rumah kita, jaraknya hanya satu mil. Ada pemanas, pakaian dan makanan. Sekarang sudah malam, kau mau ikut denganku pulang ke rumah yang hangat atau terus ke arah jalan besar yang mungkin saja ada Morgan?"


Hari semakin gelap ketika Angel membuka pintu rumah, ia berdiri di depan perapian dengan wajah pucat, tegang, dan tertutup debu jalanan. "Aku akan menunggu hingga beberapa hulan lagi untuk kembali ke Jakarta," ucap Angel getir, ia kemudian duduk di depan perapian


Nathan tak begitu mendengarkan ucapan Angel, ia ke dapur mengambil semangkuk sup dan bubur dari panci kemudian membawanya ke hadapan Angel. Nathan yakin Angel pasti lapar dan haus sehingga ia pun membuatkan teh hangat untuknya.


"Ayo duduk di sini!" perintah Nathan sembari menaruh nampannya di meja di samping tempat tidur.


Tenggorokan Angel terbakar, melihat apa yang di lakukan Nathan kepadanya. Nathan bahkan memijat betis Angel yang terasa kencang dan sakit, tangan Nathan begitu lembut merayap di betisnya, pria itu memijat betisnya dengan sangat berhati-hati.


Setelah selesai memijat Nathan membuang air kotor ke luar dan menggantinya dengan air yang baru, ia menaruh bak di pangkuannya.


Nathan mengambil tangan Angel dan mencuci, lalu Nathan mencium telapak tangannya yang ternoda dan tergores dan mengoleskan salep. Lalu Nathan membungkus tangan Angel dengan perban.


Angel mundur karena malu. Ketika Nathan mengangkat kepalanya, Angel melihat ke dalam matanya. Warnanya biru, seperti langit musim semi yang cerah, ia tidak pernah benar-benar menyadari hal itu sebelumnya. "Kenapa kamu melakukan ini untukku?" tanya Angel.


“Karena, kau sudah berjalan jauh dan kakimu terluka.” Nathan membersihkan debu dan kusut dari rambut Angel, ia melepaskan pakaian Angel, dan menidurkannya.

__ADS_1


Nathan pun membuka bajunya, ia berbaring di samping Angel dan ia tidak mengatakan apa-apa dan tidak bertanya apa-apa. Angel ingin menjelaskan sesuatu, ia ingin mengatakan bahwa dia menyesal, namun mulutnya terkunci.


Nathan berbalik ke samping dan menyangga kepalanya di atas tangannya. Dia membelai rambut Angel ke belakang dari pelipisnya. Tubuh Angel seperti es, ia menariknya ke dalam pelukan hangatnya. Angel tidak bergerak ketika Nathan mencium kepalanya. "Cobalah untuk tidur," ucap Nathan. "Kamu berada di rumah dan aman."


Rumah. Ia menarik napas panjang dengan gemetar dan menutup matanya. Ia tak punya rumah sejak ia dan Mama meninggalkan kediamannya di desa. Angel menyandarkan kepalanya di dada Nathan, ia bisa bisa mendengarkan detak jantung Nathan yang begitu menenangkan.


Angel menarik dirinya menjauh dan terlentang. "Apakah kamu akan bicara sesuatu?" tanya Nathan.


"Tentang apa?"


"Kenapa kamu pergi."


"Aku tidak mau membicarakn itu."


Nathan menelusuri sisi wajahnya. "Ya sudah jika kamunyidak mau membahasnya sekarang."


Angel menelan ludah, melawan emosi yang bahkan tidak bisa ia identifikasi. "Aku tidak bisa mengunngkapkan dengan kata-kata.” Angel meringkuk.


" Aku ingin sekali, bisa masuk ke dalam dirimu, ke dalam hatimu,” ucap Nathan dengan suara parau, ia menelusuri wajah Angel dengan satu jarinya.


"Aku mohon tinggal-lah di sini bersamaku, Mara." Bibir Nathan yang lembut menyentuh kepala Angel, ia kembali menarik Angel ke pelukannya. "Tidurlah sayang." ia mengelus kepala Angel.


Tak butuh waktu lama bagi Angel untuk tertidur, tubuhnya terlalu lelah. Oa bersandar pada dada Nathan yang begitu hangat dan nyaman.

__ADS_1


Nathan berbaring dalam kegelapan, ia terjaga. Ia tak bisa berhenti untuk mengharapkan Angel. Tuhan, aku tahu wanita ini sudah terlalu banyak menanggung sakit di hatinya, izinkan aku menyembuhkannya, izinkan aku masuk ke hatinya yang begitu keras. Sungguh hanya engaku yang mampu membolak-balikan hati manusia.


__ADS_2