
Angel membuat sup di dapur, sembari memperhatikan Nathan bermain dengan Lea dan mengobrol dengan John. Sementara Mariam sendiri mengurus Elizabeth. Elizabet bercerita jika Mariam adalah seorang janda yang di tinggal mati oleh suaminya karna penyakit serangan jantung mendadak.
Kini Mariam harus mengurus dan membesarkan Lea seorang diri, dan menguris kedua orang tuanya yang sudah mulai renta. Pandangan Angel kembali ke Nathan, ia nampak senang bermain dengan Lea. Apa Nathan menginginkan seorang anak?
"Jangan terlalu memikirkan cerita ibu, aku senang mengurus Lea sendiria," Mariam mendekat ke arah Angel. "Ada yang bisa aku bantu?"
"Worten dan kenatangnya belum di kupas dan di potong, kau bisa mengerjakan itu."
"Tentu saja," tak perlu menunggu waktu lama Mariam langsung mengerjakan. "Apa kau orang Bogor?" ia membuka obrolannya dengan Angel.
"Tidak. Aku berasal dari Surabaya dan tinggal di Jakarta sebelum akhirnya Nathan membawaku kemari."
"Berarti kalian berkenalana di Jakarta?"
"Ya. Kami berkenalan di tempatku bekerja di rumah bordir."
Mariam terdiam cukup lama dan memandangi Angel. "Kamu serius?”
"Ya."
Mariam menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan. "Kau tidak perlu bercerita apa-apa lagi," ucap Mariam akhirnya.
"Kenapa?"
"Aku mengatakan yang sejujurnya agar, jika kau mendapatkan informasi dari orang luaran sana kau tidak terkejut."
__ADS_1
"Aku tidak ingin terlampau jauh mengurusi urusan orang lain, aku hanya ingin berteman denganmu, aku bisa berteman dengan siapa saja."
Angel memaksakan seulas senyuman. Bisa berteman dengan siapa saja? Kalimat yang sungguh tidak mengenakan di telinga Angel. Makan malam berlangsung singkat, Angel bergegas ke gudang untuk beristirahat, di susul dengan Nathan setelahnya.
"Terima kasih, kau sudah berbaik hati memberi mereka tempat untuk bermalam," Nathan mengelus pipi Angel dengan lembut, kemudian mengecup bibirnya.
"Itu rumahmu sayang. Apa yang aku miliki semuanya milikmu, termasuk diriku." Nathan menyesapi bibir Angel yang begitu manis, perlahan ia mulai merayap di tubuh istrinya dan menumpahkan hasratnya. "Miliki aku, sayang.." ucap Nathan lirih sebelum ia memejamkan matanya.
Angel mebelai wajah Nathan yang tertidur pulas dalam pelukannya. Bayangan akan tawa bahagia Nathan saat bermain dengan Lea tadi kembali muncul dalam benaknya, kemudian ia melihat wajah Tuan berada di hadapannya. Dia menjambak rambut Angel dan menyeretnya ke tempat tidur. "Aku akan memastikan kau tidak akan pernah hamil lagi."
Angel meronta saat dokter datang. Tuan mengikat tangan, kaki serta mulut Angel. Semuanya terasa gelap seketika, hingga ia terbangun dengan perut yang begitu sakit. "Kau akan pulih dalam beberapa hari," ucap Tuan sembari tertawa, dengan penuh kemenangan sembari keluar dari kamar Angel.
Angel menatap Tuan dengan penuh kebencian. Tuan telah merenggut keperawanannya, menghamilinya, dan mengaborsi janin yang pernah Angel kandung, dan kini membuat Angel tak bisa hamil. Puas memakai Angel, dia menjual Angel pada Madam dengan harga tinggi.
...****************...
Angel bangkit dari tempat tidurnya, dan berdiri di ambang pintu. Lagi-lagi ia melihat Nathan tengah bermain dengan Lea, ia menggendong balita itu di pundaknya, mengajaknya menyusuri perkebunan stroberi. Ia ragu untuk menghampiri Nathan, tapi ia ingin memeluk Nathan, ia ingin di tenangan oleh suaminya dari mimpi buruk yang menimpanya semalam.
"Masa bodo ah," Angel melangkah menghampiri Nathan, namun langkah terhenti ketika melihat Mariam menghampiri Nathan dan putrinya.
"Sarapannya sudah siap, aku membuatkanmu sayur bayam dan ikan ikan goreng. Semoga kamu suka," ucap Mariam, ia menyentuh dada Nathan hendak mengambil Lea dari gendongan Nathan.
"Biar aku membawanya ke rumah," ucap Nathan ketika bocah itu tak ingin lepas dari Nathan.
Angel menundukan kepalanya, ia membalik tubuhnya dan melangkah ke gudang. "Mau kemana?" Nathan menarik tangannya."Kita sarapan sama-sama yuk," ajaknya.
__ADS_1
Ingin rasanya Angel menolak ajakan Nathan, namun ia tak punya alasan, sebab sehabis ini ia harus mengurus kebunnya di belakang. Hujan deras tadi malam pasti memporak-porandakan kebun sayurnya, Angel harus memperbaikinya.
Nathan menggandeng Angel masuk ke rumah. Dengan senyuman manisnya Mariam mengambilkan nasi, lauk dan sayur ke piring Nathan dan Angel. "Aku harap kalian suka dengan masakanku, hanya ini yang bisa kulakukan untuk membayar semua kebaikan kalian."
Makan berlangsung hening, hanya ada celotehan ringan dari mulut Lea yang terdengar, dan Nathan begitu riang menaggapinya. "Nathan, apa aku bileh merepotkan kalian sekali lagi?" tanya Jhon.
Nathan mengangkat alisnya, ia sama sekalintak keberatan jika bisa membantu mereka. "Katakan-lah Pak Jhon, apa yang bisa aku lakukan untukmu?"
"Aku mau mengantar istriku ke rumah sakit dan membeli sparepate di bengkel kota, bisakah aku menitip Mariam dan Lea selama aku dan Elizabeth di kota?"
Elizabeth terbatuk. "Kami tak bisa mengajaknya sebab kami tak bisa mengajak balita terlalu di rumah sakit, jika hanya meninggalkan Lea saja, tentu pasti akan merepotkan kalian. Sehingga kami pikir lebih baik Maria, dan Lea di sini untuk sementara waktu, dia bisa membantu kalian bersih-bersih atau...."
Angel membulatkan matanya, ia tak ingin Mariam dan Lea tinggal di rumahnya, ia ingin menolak usulan itu, namun sayangnya Nathan sudah terlebih dahulu mengiyakan sebelum Nathan meminta persetujuannya.
"Kami senang bermain dengan Lea, tentu kami sama sekali tidak keberatan Lea tinggal disini," ia menoleh ke arah Angel. "Iya kan sayang?"
Angel menarik tangan Nathan keluar dari rumah. "Kau gila Nathan," bentaknya. "Kau biarkan seorang janda menginap di rumah kita."
Nathan memandangi Angel dengan bingung, mengapa tiba-tiba istrinya mengamuk padanya, apa salahnya membantu orang lain yang dalam kesulitan. "Kamu kenapa Mara? Yang di katakan Pak Jhon benar, tidak bagus anak seumuran Lea berlama-lama di rumah sakit, pemeriksaan Elizabeth pasti membutuhkan waktu yang lama, jadi biarkan Mariam dan Lea menunggu orang tuanya di sini sampe mereka pulang dari kota, lagi pula kamu dan Mariam bisa berteman."
"AKU TIDAK AKAN PERNAH BERTEMAN DENGANYA!!" selera makan Angel hilang, ia memilih untuk ke kebun belakang, ketimbang meladeni suaminya yang begitu polos dan tak mengerti perasaannya.
"Apa istrimu tidak setuju dengan rencana ini?" Jhon mendekat ke arah Nathan.
"Dia hanya salah paham, nanti aku akan bicara dengannya, kau tak perlu khawatir." Nathan mengulurkan kunci mobilnya kepada Jhon. "Berangkat-lah, nanti keburu siang dan rumah sakit semakin ramai. Aku doakan semoga hasil lemeriksaannya bagus."
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih Nathan, kami akan kembali secepatnya." Jhon dan Elizabeth pun pergi dari kediaman Nathan.