The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 47


__ADS_3

Tiga hari sudah Angel bekerja di rumah makan Pak Budi, di satu sisi ia senang karena tak ada tanda-tanda jika Nathan akan menjemputnya, yang artinya rencanyanya untuk lepas dari Nathan berhasil. Kehadiran Mariam dan Lea mampu membuat Nathan mudah melupakannya. Nyatanya Nathan tak jauh berbeda dengan ayah dan pria lainnya, nyatanya pendapatnya mengenai cinta hanya omong kosong dan ilusi benar adanya.


Tak salah jika selama ini dirinya membentengindiri untuk tidak jatuh hati hati pada Nathan, karena Nathan bisa semudah itu melupakannya dengan hadirnya orang ke tiga yang lebih sempurna darinya.


Yang harus Angel lalukan sekarang hanya-lah belajar terbiasa untuk sendiri, ia tak bisa menafikan bahwa kehadiran Nathan dalam hidupnya selama hampir satu tahun ini membawa pengaruh yang luar biasa. "Aku hanya perlu belajar terbiasa tanpanya, aku yakin ini tidak sulit," gumamnya, sebelum ia memejamkan matanya.


Angel beristirahat di atas tikar yang ia gelar di sudut rumah makan. Tak ada perapian hangat, tak ada kasur empuk dan selimut tebal seperti yang ada di kediaman Nathan, dan juga tak ada pelukan hangat Nathan. Tapi Angel harus terbiasa dengan ini semua, ia harus bahagia seperti Nathan yang bahagia tanpanya bersama Mariam dan Lea.


Baru beberapa menit Angel memejamkan matanya, ia sudaah di kagetkan dengan suara Pak Budi yang terdengar begitu panik. "Mara, ayo bangun!!! Rumah makan kita terbakar."


Angel langsung terperanjat dari tempat tidurnya, ia melihat sekeliling rumah makan tempatnya bekerja sudah di penuhi oleh orang-orang yang membawa ember, panci dan apa aja yang bisa di gunakan untuk mengangkut air, untuk memadamkan api yang berkobar di dapur.


"Ayo Mara, cepat keluar dari sini, ini bahaya. Api mulai merambat kemana-mana," Pak Budi menarik Angel keluar dari rumah makannya.

__ADS_1


Sebelum keluar dari rumah makan, Angel melihat tong bekas susu segar tergeletak di bawah meja makan, ia meraihnya dan keluar mencari sumber air. Angel bersama warga sekitar bahu-membahu berusaha memadamkan api hingga mobil pemadam kebakaran datang.


Sayangnya mobil pemadam datang di saat api telah melahap seluruh rumah makan Pak Budi, sehingga tak ada yang tersisa dari rumah makan itu. Ketika semua orang yang membatunya sudah pergi, pria tua itu duduk lemas menagisi rumah makannya. "Tidak ada yang tersisa, huhu...."ia menagkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Tak ada banyak yang bisa Angel bisa lakukan untuk pria itu, sebab ia juga harus memikirkan nasibnya setelah rumah makan itu terbakar. Angel tak tahu harus tinggal dan bekerja di mana setelah ini sebab uang dan pakaiannnya pun ikut terbakar.


Namun Angel akan berusaha semampunya menghibur Pak Budi, ia melepas ember dalam genggamannya dan melangkah mendekati pria tua itu. Baru beberapa langkah ia berjalan, langkahnya terhenti oleh suara pria yang tak asing baginya.


"Akhirnya aku menemukanmu, tikus kecil."


"Aku bertemu dengan Madam beberapa waktu lalu, dia mengatakan bahwa rumah bordirnya hangus terbakar dan kau melarikan diri dari rumah bordir itu. Aku sudah mencarimu kemana-mana, akhirnya aku menemukanmu." Tuan tertawa puas bisa menemukan Angel. "Ayo ikut denganku, kau tidak pelu lagi bekerja kasar seperti ini, aku punya penawaran bagus untukmu!!"


Angel menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak manu." ia berbalik untuk kabur dari Tuan namun sayangnya dua orang penjaga bertubuh besar sudah menghalangi Angel.

__ADS_1


Angel meronta ketika dua penjaga itu membekap tubuhnya. "Lepaskan aku... Lepas...." hanya sesaat Angel meronta, setelahnya pandangannya menjadi gelap. Ia tak sadarkan diri ketika tubuhnya di bawa masuk oleh kedua penjaga itu.


...****************...


Angel terbangun oleh segelas air yang disiramkan Tuan ke wajahnya, kepalanya masih sangat pusing untuk mengingat apa yang terjadi dengan dirinya, hingga ia bisa berada di sebuah kamar mewah.


"Ayo bangun! Pelangganmu sudah menantimu."


Angel ingat dua pengawal Tuan membekapnya dan membawanya pergi. Ia bernajak dari tempat tidurnya dan mundur menjauh dari Tuan. "Tidak, aku tidak akan menjadi budak s*x mu lagi."


"Kali ini kau tidak akan menjadi budak lagi, pelangganku kali ini sedang mencari istri simpanan, dia sudah membayar lunas dirimu selama satu tahun ke depan sehingga kau hanya melayani satu orang saja." Tuan mendekat ke arah Angel, ia meraih dagu Angel memaksa wanita itu menatapnya. "Kau akan mendapatkan rumah bagus di sehiah desa, uang belanja tiap bulannya dan seorang pelayan yang melayani dan menemanimu. Penawaran yang bagus bukan?" ia melepaskan dagu Angel, kemudian Tuan merogoh sakunya untuk mengambil sesuatu.


"Ini adalah tempat tinggalmu yang akan kau tempati, jika sekarang kau bisa memuaskannya." Tuan melempar foto sebuah rumah ke wajah Angel. "Jadi pikirkan baik-baik dan jangan buatnya kecewa!!" Sebelum pergi meninggalkan kamar itu, ia menyuruh Angel bersiap menyambut tamunya.

__ADS_1


Perlahan Angel meraih foto yang di lemparkan Tuan ke wajahnya, kerungat dingin mulai bercucuran, tangannya gemetar begitu hebat saat melihat rumah dalam foto itu. Rumah itu begitu familiar dalam ingatannya, meski cat dinding dan pagarnya sudah berubah, dan tidak ada lagi bunga-bunga di sekitarnya. Angel tetap bisa mengenali bahwa rumah itu adalah rumah masa kecilnya yang ia tinggali bersama Mama.


__ADS_2