
Nathan beranjak dari tempat duduknya, "Aku akan melihat kudaku, dia pasti lelah dan butuh makan yang banyak stelah menempuh perjalanan jauh," ia pergi keluar.
Sementara Angel seperti biasanya merapaihkan rumah, ia mengambil kemeja wol merah, dan menempelkan wajahnya ke kemeja itu. Angel menghirupnya aroma tubuh Nathan. Apa yang telah aku lakukan? Mengapa aku menyakiti pria sebaik Nathan, tiba-tiba saja kata-kata Paul muncul: 'Kamu wanita tak berharga.'
Itu benar. Aku hanya-lah seorang pela*ur dan hanya itu yang bias aku lakukan, bahkan hanya butuh waktu sehari baginya untuk jatuh kembali ke lubang yang sama. Dengan tangan gemetar, Angel melipat kemeja itu, ia terlihat sangat hati-hati lalu menyimpannya di laci. Aku harus berhenti memikirkan itu, aku harus bertahan seperti yang aku lakukan sebelumnya. Tapi bagaimana sekarang? Bagaimana? Pikiran putus asa
Aku akan melakukan apapun yang Nathan inginkan, selama yang Nathan inginkan, jika Nathan membiarkanku tetap tinggal di sini. Angel pergi ke ladang sayuran, memetik beberapa sayur, ia berencana membuatkan makanan makanan kesukaan Nathan, meski ia tahu Nathan sedang berselera makan tapi ia yakin Nathan akan pulang begitu dia lapar.
Sementara menunggu daging dan sayur matang, Angel menyapundan merapuhkan rumah. Satu jam berlalu dari jam makan siang, lalu satu jam lagi. Nathan tak juga kembali pulang, padahal biasanya pukul 12.00 siang Nathan sudah pulang untuk menikmati makan siangnya, dan bercerita perkembangan perkebunannya.
__ADS_1
Apa yang di pikirkan Nathan? Apakah kemarahannya tumbuh? Apakah dia sudah berubah pikiran tentang sebuah ksesalah karena telah membawanya kembali ke sini? Apakah dia akan mengusirku sekarang? Aku akan tinggal di mana jika Nathan mengusirku?
Kenangan tentang Tuannya yang menjualnya, kembali teringat, hingga membuat perutnya melilit. Apakah Nathan akan menjualnya? Tidak. Nathan tidak seperti Tuan.
Setiap orang pasti akan sakit hati ketika dikhianati, tapi Nathan pasti akan memaafkannya. Pikirannya berputar seperti burung elang yang mencari bangkai.
Batin Angel berteriak. Siapa aku? Aku bahkan tidak punya sesuatu yang berharga dalam diriku, yang aku punya hanya-lah sepotong nama Bella yang tidak di ketahui oleh siapa pun.
Matanya begitu panas, akhirnya Angel tidak tahan lagi dan pergi mencari Nathan. Ia menyusuri perkebunan stroberi, namun tak menemukan Nathan di sana. Di mana dia? Ia kemudian teringat jika Nathan mengatakan ingin mengurus kudanya, ia pun pergi ke kandang kuda.
__ADS_1
Perlahan Angel memasuki kandang, ia melihat Nathan tengah duduk di antara tumpukan jerami, dengan kepala masuk ke tangannya dan dia menangis. Hati Angel tenggelam saat melihat Nathan menangis. Aku telah melukainya, aku mungkin juga telah mengambil pisau dan menusukkan ke hatinya. Seharusnya waktu itu Morgan membunuhku, seharusnya aku tidak pernah di lahirkan. Angel memeluk dirinya sendiri, kemudian ia berlari ke kediamannya.
Angel berlutut di depan perapian. Itu salahnya. Rasa bersalah muali membanjiri ruang hatinya: Jika dia mengabaikan Paul… jika dia tetap tinggal di sini dan tidak pernah pergi… jika dia tidak kembali ke ke gang senggol dan menjalin kerja sama dengan Murphy. Jika, jika, jika… Tapi aku melakukan semua itu. Ya. Dan sekarang sudah terlambat, dan Nathan duduk menangis sementara aku tidak memiliki air mata untuk apa pun.
Angel menahan diri dan bergoyang-goyang. “Kenapa aku pernah dilahirkan? Mengapa?" ia menatap tangannya. "Untuk ini?" ia bisa merasakan kotoran menyelubungi tubuhnya luar dan dalam.
Nathan telah membawanya keluar dari jurang maut dan memberikannya kehidupan yang lebih baik, tapi ia justru menolaknya. Ia pergi lagi ke jurang itu dan Nathan datang lagi, menjemputnya langsung dari tempat tidurnya yang kotor dan membawanya ke rumah ini. Nathan tetap setia pada kebodohannya sendiri, sementara Angel hanya membalasnya dengan membersihkan rumah sepanjang hari, tanpa pernah berpikir untuk membersihkan dirinya.
Angel beranjak dari tempat duduknya, ia mencari sesuatu dengan panik. Sampai akhirnya menemukan sabun di tempat peralatan mandi, kemudian ia berlari ke sungai. Dalam gerimis yang mulai turun ia melepas pakaiannya dan membuangnya sembarangan, dia mengarungi arus sungai yang cukup deras. Udara sedingin es dan air menggigit dagingnya, tetapi Angel tidak peduli. Yang Angel inginkan hanyalah menjadi bersih, membersihkan semuanya dari seluruh yang ada dalam ingatannya, mungkin saat ia masih dalam kandungan ibundanya.
__ADS_1