The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 32


__ADS_3

Nathan memandang ke arah Paul dan Angel bergantian, kemudian ia mengerutkan keningnya. "Duduklah, Dek."


Paul duduk dan berusaha mengalihkan pandangan dari Angel. Keheningan membentang ketat. Nathan bersandar di dinding. “Kamu sudah istirahat, kamu bisa cerita apa saja yang terjadi di Jakarta, mengapa kau pindah kostan tapi tak memberiku kabar?”


Selaigi Paul bercerita, Angel menghidangkan semangkuk bubur untuk keduanyadan secangkir kopi. "Terima kasih," ucap Paul dengan kaku. Angel cantik, terlalu canti, seperti dewi pualam yang dingin, tapi aku tidak sudi duduk semeja dengannya, dia hanya wanita kotor tak pantas bersanding dengan Nathan. Dia pasti sudah mengelabuhi Nathan. Dan jika aku memberi tahu Nathan, kakakku pasti mengusir jala*g ini.


Kemudian Paul bertanya tentang pertanian dan membiarkan Nathan yang berbicara, sementara Paul mencuri pandang pada Angel. Bagaimana bisa Nathan tidak tahu bahwa wanita pujaannya seorang jala*g? Bagaimana mungkin dia tidak curiga? Itu benar-benar tidak masuk akal. Nathan bukanlah seorang perayu. Dia pria jujur ​​dan penuh kasih. Aku harus mengatakan yang sebenarnya padanya. Tapi bagaimana caranya? Kapan?


Nathan bangkit untuk menuang kopi lagi, dan Paul menatap Angel. Angel melihat ke arahnya, dagunya sedikit miring, mata birunya mengejek. Hingga Paul hampir saja mengungkapkan kebenarannya saat itu juga, tapi kata-kata tersangkut di tenggorokannya ketika ia melihat wajah Nathan.


Angel menurunkan selendangnya dari pengait di dekat pintu. "Aku akan mengambil air di sungai,” ucapnya sembari mengambil ember. “Aku yakin kalian berdua masih ingin banyak bertukar cerita." Angel menatap tepat ke arah Paul sebelum Angel keluar dari pintu.


Nathan menatapnya dengan serius. "Apa yang ada di pikiranmu, Paul?"


Paul tertawa serak dan mencoba kembali sikap seolah biasa saja tidak tahu apa-apa. "Bagaimana kamu bertemu dengan Mara?”


“Intervensi ilahi.”


Cmpur tangan Tuhan? Nathan berada di lubang hitam yang bahkan dia tidak mengetahuinya. Dia telah jatuh cinta pada ibl*s dengan mata biru, berambut pirang dan memiliki tubuh yang menggoda, batin Paul.


Nathan berdiri. “Ayo keluar dan aku akan menunjukkan kepadamu, perubahan yang terjadi di perkebunan selama kau pergi."


Paul mengikuti Nathan berkeliling, ia melihat Angel tengah mencuci pakaian, gerakanannya begitu anggun dan mempesona. “Nathan apakah kau membolehkan aku berbicara empat mata dengan Mara? Aku ingin berterima kasih padanya untuk makanan yang sudah ia siapkan dan pakaianku yang sudah ia cuci."


"Tentu saja boleh, itu dia sedang berada di sungai," tunjuk Nathan pada Angel. "Aku sedang membuat kandang sapi yang baru, kamu dapat membantuku setelah selesai bicara dengan Mara."


"Aku akan menyusul sebentar lagi." Paul berjalan menuju Angel.

__ADS_1


Di hadapan Angel, ia memandanginya dari atas ke bawah, kemudian balik lagi dari bawah ke atas. Tidak salah salah lagi, ini adalah primadona gang senggol, pelac*r kelas kakap, dia mengenakan pakaian ibuku. Paul merasakan amarah yang panas di dadanya. Bagaimana bisa Nathan memberikan pakaian ibundanya yang suci pada palac*r?


“Halo, Angel,” sapanya, berpikir bahwa hal itu mungkin akan membuatnya terkejut.


Angel berbalik, tetapi ekspresinya dingin. "Angel?" ucapnya mengulang kata yang di ucapkan Paul.


“Itu nama aslimu, bukan? Bukan Mara.”


"Ooh ternyata aku ketahuan. Tapi haruskah aku mengingatmu?"


Wanita nakal yang kurang ajar, batin Paul. "Apakah kakakku tahu siapa dan apa pekerjaanmu yang sesungguhnya?"


"Kenapa kamu tidak bertanya langsung pada kakakmu?"


"Apakah itu tidak mengganggumu? Apa yang akan terjadi padanya ketika dia tahu?"


“Bagaimana orang sepertimu bisa terikat dengan kakakku?”


"Dia mengikatku seperti angsa dan membawaku ke sini dengan mobil baknya."


“Omong kosong yang tak masuk akal.” ucapan Angel membuat ia marah.


"Menurutmu apa yang akan dia lakukan jika aku mengatakan kepadanya bahwa aku pernah melihatmu sebelumnya, di rumah bordil di gang senggol?”


"Aku tidak tahu. Menurutmu apa yang akan Nathan lakukan?"


"Sepertinya kau cukup percaya diri, bahwa Nathan tidak akan mengusirmu dari sini."

__ADS_1


Angel mengambil keranjang dan meletakkannya di pinggulnya. “Kau beritahu dia apa pun yang kamu ingin beritahukan, tuan. Itu tidak berpengaruh bagiku.” Angel berjalan pergi meninggalkan Paul.


"Wanita si*lan," gerutunya, ia berjalan menuju Nathan, ia memutuskan untuk memberitahunya, tetapi ketika ia berada di hadapan Nathan, dia tidak bisa berbicara.


Paul menghabiskan sepanjang hari bekerja di samping Nathan dan tidak bisa mendapatkan keberanian untuk berbicara. Ketika mereka pulang, Paul menolak makan malam bersama kakaknya dan juga Angel. Ia mengatakan jika ia terlalu lelah untuk makan. Paul pergi ke gudang sebagai gantinya dan makan dendengnya yang terakhir. Ia tidak ingin duduk semeja bersama pela*ur, ia tidak bisa mempertahankan kepura-puraan bahwa ia senang kakaknya itu menikah dengan pela*ur penipu.


Dia memasukkan barang-barangnya ke dalam tasnya, menyampirkannya di bahunya, kemudian ia berjalan keluar dari perkebunan. Nathan berdiri di ambang pintu kediamannya yang terbuka, ia melihat adiknya pergi dari kebunnya. Nathan menggosok bagian belakang lehernya dan berbalik.


Angel menatap Nathan dan merasakan ketegangan kembali muncul di dalam dirinya, ia duduk di kursi willow yang Nathan buat untuknya dan mengawasinya menutup pintu dan duduk di depan perapian.


Nathan mengambil sepatu botnya dan mulai menggosok lilin lebah ke dalamnya untuk membuatnya tahan air, ia tidak memandang Angel sama sekali, ia bahkan tidak membaca Alkitab.


"Kamu bertanya-tanya, bukan? Apa yang dia katakan sewaktu kami di sungai tadi? Kenapa tidak kau tanyakan saja padaku?” tanya Angel.


"Aku tidak ingin tahu," jawab Nathan, tenggorokannya kencang dan sakit.


"Ini mungkin akan terdengar menyakitkan, tapi aku akan tetap memberi tahumu. Sejujurnya aku tidak ingat dia, karena banyaknya proa yang datang ke kamarku. Aku juga bahkan tidak mengingatmu, aku baru mengingatmu setelah beberapa kunjungan.”


Nathan memalingkan muka, ia tahu itu tidak sepenuhnya benar, tapi tetap saja itu menyakitkan. "Jangan bohong, Mara. Apa pun yang terjadi sebelumnya, itu di masa lalu. Biarkan di sana, kamu yang saat ini adalah miliku. HANYA MILIKKU!!”


“Dua minggu lalu, kamu ingin mendengar segalanya tentang aku. Apakah kamu masih ingin tahu segalanya?”


"Tidak!"


“Apakah kamu melihat wajah adikmu ketika dia mengenaliki?”


"Aku minta maaf dia telah membuatmu sakit hati."

__ADS_1


“Dia tidak bisa menyakitiku, dan kamu juga tidak bisa menyakitiku.” Sudah terlalu banyak yang menyakiti Angel, hingga rasanya ia sudah terlalu kebal dengan rasa sakit, ia pun tak perlu merasa sakit hati saat Paul menatapnya dengan tatapn merendahkan sebab kenyataannya memang Angel hanya seorang pelac*r di Gang Senggol.


__ADS_2