
Setelah malam itu Angel menyetujui permintaan Nathan untuk menikah dengannya meski Angel sendiri belum yakin terhadap Nathan, namun ia menyetujuinya, pernikahan itu di adakkan secara sangat sederhana di kediaman Nathan. Selain itu setelah kejadian itu Angel bekerja lebih keras untuk menebus kesalahannya.
Ketika Angel telah selesai dengan tugasnya sendiri, ia mencarinya dan meminta lebih banyak pejerjaan untuk dilakukan. Angel membantu Nathan bekerja di kebun stroberi, mencari kayu bakar di hutan, mengurus perternakan bahkan ia membatu mengangkat bebatuan, semen atau pasir ketika Nathan membangun bagian lain perkebunannya untuk melengkapi fasilitas kebun agar bisa di buka untuk umum.
Nathan tidak pernah meminta Angel melakukan apa pun, ia mencari hal-hal yang bisa ia kerjakan. Saat malam tiba, Angel merasa sangat kelelahan tetapi dia tidak bisa duduk diam. Kemalasan membuatnya merasa bersalah Angel mengambil kain lap dan membersihkan perabot rumahnya.
Nathan meliriknya sekilas kemudian ia menutup Alkitabnya dan meletakkannya kembali di rak. "Hentikan Mara, kamu bekerja terlalu keras!" Nathan menghampirinya.
Tangannya gemetar begitu hebatnya. “Aku hanya belum terbiasa dengan pekerjaan seperti ini.”
“Kamu sudah cukup melakukan banyak pekerjaan, bahkan kau mengambil separuh pekerjaanku," Nathan meletakkan tangannya di bahunya "Tubuhmu bisa sakit karena membawa batu-batu kemarin, dan pagi ini kamu membersihkan kandang."
"Aku membantu agar pekebunanmu cepat selesai."
"Tapi kamu bilang perkebunan itu tanggung jawabku, tugasmu hanya perkejaan rumah." Tidak ada gunanya berbicara dengannya. Dia akan tetap mengerjakaannya untuk menebus rasa bersalahnya. "Aku akan pergi sebentar, kamu istirshatlah di tempat tidur.”
Nathan naik ke bukit dan duduk, lengan bawah bertumpu pada lututnya. "Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?”
Meski menikah dan seolah keduanya berjalan berdampingan, tapi mereka jarang berbicar, Angel tidak mengizinkan Nathan untuk menyembuhkan luka batin dan trauma masa lalunya.
Angel pikir dengan bekerja keras seperti budak dan menuruti semua keinginan Nathan, dapat menyenangkan hati pria itu, padahal tidak. Nathan membutuhkan cintanya. Tangannya menyisir rambutnya ke belakang dan memegangi kepalanya. Jadi, apa yang harus aku lakukan lakukan, Tuhan? Apa yang harus aku lakukan? Nathan bertanya pada langit malam.
Ia kembali pulang setelah tenang, ia melihat Angel tertidur di kursi. Nathan mengangkat dengan lembut dan membaringkannya di tempat tidur. Angel terlihat sangat rentan, bagaimana tidak Angel di perkosa saat usianya delapan tahun, sehingga tak heran Angel tidak pernah melihat se*s berkaitan dengan cinta.
Satu-satunya yang bisa memperbaiki jiwanya yang hancur hanya-lah Tuhan, tapi bagaimana aku mengajari anak yang terluka untuk mempercayai-Mu? Ketika satu-satunya ayah yang dia miliki membenci dan menginginnya mati? Bagaimana aku mengajarinya bahwa dunia tidak semuanya buruk? Ketika ada seorang pendeta memalingkan wajahnya pada ibunya. Bagaimana cara meyakinkan dia bahwa ada orang baik di dunia? ketika semua orang yang dia kenal hanya memanfaatkannya dan kemudian mengutuknya karena itu?
Nathan mengangkat sehelai rambutnya yang pucat dan mengusapnya di antara jari-jarinya, ia ingin bercinta dengan Angel namun ketika teringat dengan suara melengking Angel yang mengatakan, "Tuannya menyukai gadis kecil," keinginan itu menguap.
Apa yang dia pikirkan saat kita bercinta? Apakah aku seperti semua orang, yang mengambil kesenangan atas tempat tinggal atau makan yang aku berikan? Dia selalu tampak begitu kuat. Cukup kuat untuk mengambil pelecehan yang tak terkatakan dan bertahan hidup. Cukup kuat untuk beradaptasi dengan apapun. Kuat untuk mengunci diri di dalam tembok yang menurutnya akan membuatnya aman.
Di usianya yang masih delapan tahun, dia hanya seorang anak kecil, Tuhan. Mengapa Engkau membiarkan hal itu terjadi? Yesus, aku tidak mengerti. Mengapa? Bukankah Engkau seharusnya melindungi yang lemah dan tidak bersalah? Kenapa Engkau tidak melindunginya? Kenapa Engkau tidak membantunya? Mengapa?
Cinta yang aku tawarkan padanya belum cukup untuk meyakinkannya, dia masih ada di dalam lubang hitam. Aku berusaha meraihnya, tapi dia tidak memegang tanganku.
Hati Nathan merasa sedih, ia duduk di tepi tempat tidur. Rok ibundanya terlepas dan mendarat di tumpukan di lantai. Nathan mengambilnya dan melihat benang-benang kain semeraut. Sambil mengerutkan kening, ia melemparkannya kembali ke tempat tidur
Pertama kali Angel datang, Nathan hanya membelikan empat potong baju murah, kemudian ia meberikannya pakaian bekas ibundanya. Tak sekali pun Angel meminta lagi atau meminta yang lainnya. Nathan berencana untuk mengajaknya ke toko mulik kakak Joseph barang kali ada yang istrinya inginkan.
...****************...
Keesokan paginya, Nathan menemui Paul di puncak gunung, ia meminta Paul untuk menjaga perkebunannya selama ia dan istrinya pergi.
Saat menyebut nama istrinya, Paul memucat. "Kamu mau mengajak Mara?"
"Ya. memangnya kenapa?”
__ADS_1
Paul terdiam, namun kemudian ia setuju untuk mengurus perkebunan.
"Aku akan menginap di Jogja, kebetulan Joseph pulang ke sana menggantikan kakaknya berjualan." ucap Nathan.
"Pergi-lah aku akan menjaga stroberimu dan meneruskan banguan tembok pagarmu."
Nathan mengangguk, lalu ia kembali ke kediamannya. Nathan merasakan keretakan di antara mereka tumbuh lebih luas. Paul dan harga dirinya yang tak tertahankan dan kaku, ia tetap menyalahkan Angel atas kejadian waktu itu.
Nathan mengisi mobil baknya dengan stroberi dan sayuran dari ladangnya. Sebagian ia ingin jual, sebagian lagi akan ia berikan kepada Joseph sebagai oleh-oleh. Sementara Angel hanya berdiri di ambang pintu gudang, berpelukan syalnya di sekitar bahunya. Dia tidak mengajukan pertanyaan apa pun melihat Nathan sobuk berkemas.
"Paul akan menjaga perkebunan," ucap Nathan, sembari menarik box untuk wadah kentang.
"Aku bisa menjaga kebun ini, kau tidak perlu minta tolong padanya."
"Kau ikut denganku."
Angel terkejut mendengarnya, tapi kemudian ia tersenyum. "Aku akan memembuat bolu dan mengemas makanan lainnya untuk bekal perjalanan siang ini," ia berlari ke dapur.
Menjelang sore mereka bertolak menuju Jogja, Mara tidak banyak bicara selama perjalanan. Nathan mengemudi sampai senja sebelum akhirnya ia memutuskan untuk berkemah sebetulnya ia ingin mengajak istrinya menginap di hotel namun Angel menolak.
Nathan mendirikan tenda dan api unggun, sementara Angel menyiapkan makan malam yang ia bawa. Setelah kenyang Angel membungkus tubuhnya dengan selimut dan bersandar di bahu Nathan di depan api unggun yang masih menyala.
"Sejak menikah, kau hanya memakaiku satu kali. Apa kamu menyesal dan tak menginginkanku lagi?" tanya Angel tanpa melihat wajahnya.
"Aku begitu menginginkanmu," ucap Nathan. "Hanya saja aku ingin kau melakukannya dengan cinta bukan bisnis. Kau tak perlu membayar apa pun atas apa yang telah aku perbuat atau aku berikan, aku adalah suamimu. Apa yang aku punya adalah milikmu. Tak ada balas jasa, yang ada hanya cinta, itu yang aku inginkan."
"Mengapa tidak?"
“Karena cinta menjadi obsesif seperti Mama dan pada akhirnya akan menderita." Angel menganggap dirinya beruntung karena dia tidak memiliki kemampuan untuk mencintai.
“Kau bukan pela*ur atau wanita simpanan. Kamu adalah istriku.” Nathan tersenyum sedih dan bermain-main dengan sulur rambut pirang istrinya. “Kamu bisa mencintaiku sebanyak yang kamu inginkan dan merasa aman, aku milikmu.”
Jatuh cinta berarti kamu kehilangan kendali atas emosi dan keinginanmu dan hidupmu. Itu berarti kamu kehilangan diri sendiri, dan Angel tidak bisa mengambil risiko itu dengan jatuh conta pada Nathan.
"Apa yang kamu rasakan ketika aku menyentuhmu?" Nathan bertanya saat ia menjalankan ujung jari di pipi Angel.
Angel menatapnya. "Apa yang kamu ingin aku rasakan?"
“Lupakan apa yang aku inginkan. Aku ingin tahu yang terjadi di dalam dirimu?”
Angel tahu Nathan akan menunggu sampai Angel menjawab, dan Nathan akan mengetahuinya jika Angel berbohong.
"Aku tidak merasakan apa-apa."
Sambil mengerutkan kening, Nathan terus menyentuh wajahnya. “Saat aku menyentuhmu, seluruh tubuhku menjadi hidup. Aku merasakan kehangatan di seluruh diriku. Aku bahkan tidak bisa menggambarkan betapa indah rasanya saat kita bercinta di malam pengantin kita.”
__ADS_1
Angel memalingkan mukanya lagi. Apakah dia harus membicarakannya?
"Kita harus menemukan cara untuk membantumu merasakan apa yang aku rasakan," ucap Nathan, ia mengajak Angel berbaring.
“Apakah itu sangat penting? Bukankah tak masalah aku merasakan atau tidak merasakan?"
"Itu penting bagiku. Kemarilah! Biarkan aku memelukmu.”
Angel berbaring, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu Nathan, dan ia menaruh lengannya menyilang di dadanya yang bidang Nathan yang begitu hangat dan nyaman. "Aku tidak tahu mengapa itu mengganggumu.”
"Itu menggangguku karena aku mencintaimu."
“Wanita tidak seharusnya benar-benar menikmati se*s, Nathan. Itu semua hanya akting.”
"Apakah seseorang memberitahumu akan hal itu?"
"Beberapa."
"Pria atau wanita?"
"Keduanya."
"Yah, aku tahu itu bukan seperti yang Tuhan maksudkan."
Angel tertawa mengejek. "Tuhan? Kamu sangat naif. Se*s telah melemparkan Adam dan Hawa keluar dari surga.”
Jadi dia tahu sesuatu tentang Alkitab? Mungkin dari ibunya, dan teologi yang dipelintir. “S*ks tidak ada hubungannya dengan mengapa mereka diusir. Hawa menginginkannya apel, agar dia tahu segalanya dan menjadi abadi seperti Tuhan. Sayangnya dia tertipu. Adam lemah dan mengikuti apa yang Hawa katakan dari pada mengikuti apa yang Tuhan telah beritahu kepadanya.”
Angel menjauh sedikit dan menatap lagi. "Terserah apa katamu. Kamu ahlinya.”
Nathan tersenyum. “Saya mempelajari Kitab Suci sejak masih kecil, bersama ibu."
Angel menatapnya dengan heran. "Alkitabmu memberi tahumu apa yang harus dilakukan?"
Nathan tertawa. “Memberikan pedoman hidup agar kita tidak tersesat. Kidung Agung memberi tahuku gairah pria dan wanita dimaksudkan untuk saling mendapatkan kepuasan bersama.”
Senyumnya menghilang. "Sebuah berkat bersama.”
Angel melepaskan pelukannya dan menatap bintang-bintang, itu membuatnya tidak nyaman ketika Nathan mulai berbicara tentang Tuhan. Mama bilang Tuhan bisa melihat segalanya, bahkan saat lentera padam, Mama berkata Tuhan bahkan tahu apa yang Anda pikirkan. "Mata-mata di langit" bisa melihat dan menguping setiap pikirannya.
Angel menggigil dalam kegelapan langit malam yang luas hingga membuatnya takut. Benar-benar tidak ada orang di sana, yang ada hanya dirinya dan Nathan.
“Kamu gemetaran. Apakah kamu kedinginan?" tanya Nathan.
"Aku tidak terbiasa tidur di tempat terbuka."
__ADS_1
Nathan menariknya lebih dekat, Angel mendengarkan resonansi suaranya yang dalam. Dia tidak gelisah dengan kegelapan atau suara, dan setelah beberapa saat, dalam pelukan Nathan, Angel tertidur.