The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 26


__ADS_3

Saat Nathan pulang, ia melihat Mara tengah tertidur. Ia tersenyum menatap betapa cantiknya wajah Mara, bahkan sisa-sisa memar pun tak menutupi kecantikannya. Nathan menyeka rambut yang menutup sebagian wajahnya, dan mengusap wajah Mara dengan lembut. Ini sehalus sutra, batin Nathan.


Ingin sekali Nathan membungkuk dan menekan mulutnya di bibir Mara, ia ingin menghirup aroma tubuhnya. Tuhan, aku mencintainya, tapi mengapa dia tidak mau denganku? . Mara terbangun, perlahan wanita itu membuka matanya dan mulai, melihat Nathan berdiri di hadapannya.


Mara mendorong rambutnya ke belakang dan membuang muka. "Apa kamu sudah lama ada di sini?" tanya Mara terkejut.


“Kamu terlihat nyenyak sekali. Maaf jika aku membangunkanmu. Apa kau lapar?"


"Kamu mau mengajariku memasak?"


Nathan mengangguk kemudian mengajaknya ke dapur. Mara meringis dari rasa sakit saat ia bangun dan mengikuti Nathan dari belakang. Ia perlu tahu bagaimana caranya memasak, agar saat nanti ia punya rumah sendiri, ia bisa memasak untuk dirinya sendiri.


"Sebetulnya, akan lebih mudah jika menggunakan kompor. Hanya saja tadi pagi aku kehabisan gas, jadi untuk sementara kita harus menggunakan tungku. Kita akan membuat api yang bagus."


Nathan mulai menyodokkan kayu ke tungku dan membakar kayu tersebut, ia keluar dengan ember dan kembali dengan sepotong daging kambing. Dengan cekatan Nathan memotongnya menjadi beberapa bagian dan menjatuhkan daging tersebut ke dalam panci mendidih.


“Kita tinggalkan masakan itu sebentar. Ayo keluar bersamaku.” Nathan mengambil keranjang, dan Mara mengikutinya ke kebun sayur yang berada di sisi lain kebun milik Nathan.


"Tempat ini sungguh cocok untuk tempat wisata," Mara berkomentar, kemudian ia berjongkok dan memperhatikan Nathan berbicara tentang cara mengetahui wortel dan bawang mana yang siap dipanen.


Nathan mencabut tanaman kentang dewasa. Satu tanaman yang Nathan cabut menghasilkan kentang yang cukup untuk bertahan beberapa hari. Saat Mara berdiri tegak, dia melihat Nathan berjongkok beberapa kaki darinya, Nathan tengah mencabut tanaman dan membuangnya ke samping.

__ADS_1


Sekelebat ingatan yang tajam tentang Mama di taman yang diterangi cahaya bulan membekukannya. “Mengapa kamu merusak kebunmu?”


Nathan menoleh menatap Mara sembari mengibaskan tangannya ke celana. “Aku mencabut rumput liar, rumput itu hama bagi sayuranku. Tapi aku tidak punya waktu untuk mencabutnya. Bolehkah aku mintamu untuk merawat taman ini, tapi nanti saja ketika kamu benar-benar sudah pulih."


Nathan mengambil keranjang dan mengajak Mara ke sungai. " Aku punya pohon blueberry, dan Apel tapi sayangnya sedang tidak berbuah," ia menunjuk ke sisi sungai, kemudian Nathan menyerahkan keranjangnya kepada Mara. "Kamu bisa cuci sayuran itu di sungai ini.”


Mara melakukan apa yang Nathan katakan setelah itu mereka pulang. Nathan menunjukkan bagaimana cara dan memotong sayuran. Lalu ia melihat daging sudah mendidih dan ia mengambil kait besi kemudian menggeser panci ke tepi luar api. “Aduk sesekali, aku mau keluar sebentar."


Mara mengangguk, ia berjongkok melihat rebusan daging itu sepertinya tidak cukup mendidih, sehingga Mara menggeser panci kembali di atas api lagi. Kemudian air itu bergolak dengan cepat. Mara mengaduk sambil sesekali mengusap dahinya yang penuh keringat, dan matanya sangat perih karena asap.


Nathan masuk dengan seember air, ia lalu membantingnya hingga air itu tumpah ke lantai. "Mara, apa yang kamu lakukan?" Nathan menangkap lengannya dan menariknya menjauh dari api.


“Rokmu berasap, bajumu bisa terbakar sayang.” Nathan mengibas-ngibaskan rok Mara, memastikan tak ada api di pakaiannya.


"Tidak sayang, bukan seperti itu."


Nathan melongok ke arah panci, rupanya api yang besar telah menghabiskan air rebusan dan menggosongkan daging kambingnya. ia mengangkat panci itu dari tungku dan berusaha memadamkan api, setelahnya membuka smua jendela kediamannya.


Dengan gigi terkatup, Mara menyaksikan sepotong daging kambing terbakar. "Ini makananmu sudah siap, tuan.” ia nampak takut sekali, tapi Nathan tersenyum padanya. "Tidak apa-apa, besok kita belajar sama-sama," ucap Nathan dengan lembut.


"Maaf, aku tidak tahu apa-apa tentang memasak. Aku juga tidak tahu mengenai hama di wortel. Satu-satunya yang aku tahu hanya di sana!" Mara menunjuk pada tempat tidurnya. “Aku bisa memenuhi semua keinginan tuan di sana, apa pun Anda mau, beri tahu saya!”

__ADS_1


Nathan menghela napas. “Itu hanya sepanci sup, Mara.” ia mendidih karena frustrasi.


'Bagaimana orang suci sepertimu memilihku?" Mara melewatinya dan pergi ke luar.


Dia ingin melarikan diri tetapi tidak bisa, setiap langkahnya masih terasa sakit. Mara terhenti di sungai dan mengatur napas. Ia merasa bodoh karena tidak tahu apa-apa! Bagaimana dia akan mengurus dirinya sendiri jika ia tidak bisa memasak makanan sederhana? ia bahkan tidak tahu cara membuat api.


Mara masuk ke sungai dan merendam tangannya yang nyaris terbakar karena panci kambing tadi. "Aku bodoh," gumamnya.


Mara kembali ketika Nathan telah pergi, ia merasa lega atas ketidakhadirannya. Mara melihat sekeliling rumah telah bersih, yang berarti Nathan telah membersihkan. Hal itu membuat Mara semakin merasa bersalah, ia berani bertaruh jika ibunda Nathan sangat pandai, dia pasti tahu caranya menyalakan api, memasak makanan enak, berkebun, dan melakukan apa pun yang perlu di kerjakan.


Mara merasa kecewa pada dirinya sendiri, ia duduk di lantai di depan perapian. 'Hidupku hanya seperti lubang kosong, dingin, dan tidak berguna. Aku bodoh dan kikuk. Oh, tapi aku cantik.' Ia menyentuh wajahnya. 'Tapi kecantikan tanpa keterampilan untuk apa?'


Nathan berdiri di ambang pintu mengawasinya. Sebetulnya setelah membereskan rumah, Nathan pergi untuk menyusul Mara, ia melihat Mara duduk di sungai dan terlihat begitu sedih sampai-sampai tak menyadari keberadaan Nathan, ia sengaja tidak menghapirinya agar memberikan ruang bagi Mara untuk sendiri. Nathan terus mengawasinya hingga Mara kembali ke rumah.


Nathan melangkah mendekati Mara, ia meletakkan tangannya dengan ringan di rambutnya dan merasakan Mara terkejut. “ Besok kita belajar lagi ya," ia mengulurkan tangannya dan mengajaknya beristirahat.


...****************...


Hi readers,


Aku ingin sedikit meluruskan beberapa hal yang nampaknya, menjadi salah persepsi. Mara/Bella ingin pergi dari rumah Nathan dan kembali ke Gang Senggol bukan untuk menjadi P** lagi, melainkan mengambil uangnya ke Madam dan hidup sendiri.

__ADS_1


Bella menolak lamaran Nathan, lantaran ia merasa malu, tidak pantas untuk orang setaat Nathan dan ia mengalami trust issue. Bagaimana tidak, sejak kecil ia merasa tidak ada yang menginginkannya (Bapak kandungnya, nenek kakeknya, ayah tirinya) Belasan tahun dia hidup dalam lingkungan prostitu*i, dimana semua pria yang datang hanya untuk "Kesenangan", mendengarkan cerita-cerita miris dari kehidupan teman seprofesinya, membuat kata HAPPY FAMILY hanya-lah sebuah ilusi belaka.


Terima kasih sudah membaca, sehat selalu untuk kalian😚


__ADS_2