The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 43


__ADS_3

“Aku minta maaf soal yang tadi aku ucapkan, tentang ibumu."


"Mengapa? Apakah kamu takut jika kamu tidak menyelamatkan jiwaku, aku akan pergi ke neraka?” Angel mengejeknya.


"Mara, kau tidak bisa menyamakan apa yang ibumu alami dengan kondisimu yang sekarang. Pendeta yang pernah memalingkan wajahnya karena mengetahui ibumu seorang simpanan dan pela*ur, dia hanya manusia bisa dan tidak semua pendeta seperti itu. Tapi yang pasti Tuhan maha pengampun, dan penyayang," Nathan menggenggam tangan Angel yang sedingin es.


"Aku pernah sepertimu, membeci orangtuaku dan membeci Tuhan."


Angel langsung menoleh ke arah Nathan, bagaimana bisa orang setaat Nathan membenci Tuhan? Dan bukankah sepengetahuannya dia memliki keluarga yang harmonis, Angel tertawa sinis. "Kau mau mengarang cerita untuk menghiburku?"


"Ayahku pernah di tipu oleh pekerjanya, beluai harus kehilangan sebagian perkebunannya, dan itu membuatnya marah besar dan mencari pekerjanya. Namun beliau tak menemukannya, yang ada hanya-lah keluarga dari pekerja itu. Aku menentang ayah yang ingin membalaskan kemarahannya kepada keluarga itu sebab mereka tidak tahu apa-apa. Pekerja itu setelah mendapatkan keuntungan dari kebun ayah, dia malah pergi ke kota dan menghamburkan uangnya untuk bersenang-senang. Tapi ayah tidak mau tahu, dia tetap membunuh istri dan anak-anak yang tidak berdosa. Aku melaporkannya ke polisi dan ayah mengusirku."


Tiba di pinggir sungai Nathan menepikan kenndaraannya, namun Angel menolak turun sebelum Nathan menyelesaikan ceritanya. "Aku marah, mengapa aku punya ayah sekejam itu, aku marah mengapa keluargaku jadi tercerai berai karena maslah ini. Tapi aku melawan rasa marah dan kecewa itu dengan terus berdoa, aku tetap memilih untuk tetap mencintai ayah sebab tanpanya aku tidak akan ada di sini."


Nathan memandang Angel lekat-lekat, wanita itu memalingkan wajahnya. "Hidup ini pilihan sayang. Mau menerima dan memaafkan masa lalu, kemudian melangkah kedepan dengan lebih baik atau tetap terkungkung dalam kubangan masa lalu. Makan dulu yuk," ia turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Angel.


Angel membentangkan kain dan membuka keranjang. Joseph membawakan roti, keju, sebotol jus apel, gudeg dan ayam kalasan.


Ketika selesai makan, Nathan buru-buru berdiri dan memasang terpal di mobil baknya, ia melihat awan mulai menggelap dan sebentar lagi hujan akan turun. Butuh sekitar satu mil lagi untuk mencapai rumah, dengan kondisi jalan yang jelek, ia tidak mungkin bisa mengebut dan tiba di rumah sebelum hujan.


Angel memperhatikannya. Kemeja birunya yang di lipat ke atas, pinggang yang terlihat mempesona. Angel suka menatap tubuh Nathan, namun seketika ia memalingkan wajahnya, berpura-pura mengemasi barang-barang.


Nathan memasukan tangannya ke saku dan bersandar di mobil. "Siap pulang sayangku?" tanya sembari tersenyum, ia tahu sedari tadi Angel memperhatikannya.


"Sebentar lagi," dengan cepat Angel melipat kain, dan memasukannya ke keranjang. Nathan menghalangi Angel yang hendak menaruh keranjang itu di bagian belakang mobil, ia menangkap pinggang ramping Angel dan merapatkan tubuhnya.

__ADS_1


"Kau tidak ingin bercinta di tengah hujan kan?"


"Kenapa tidak?" Nathan tertawa, ia melepaskan tangannya dan membiarkan Angel menaruh keranjang itu. "Aku punya rumah yang hangat untuk apa bercinta di hutan?" Nathan membukakan pintu mobil. "Silahkan masuk ratuku."


Mereka kembali melanjutkan perjalanan ketika rintik hujan mulai turun, hanya butuh waktu beberapa menit, hujan deras pun turun. Angel menarik selimut menutu tubuhnya, kemudian ia menyandarikan kepalanya di bahu Nathan.


Jarang pandang yang terbatas, membuat Nathan melambatkan laju kendaraannya, ia begitu menikmati sisa perjalanan. Sesekali ia mengecup kepala Angel. "Aku mencintaimu," bisiknya. Sebetulnya Angel mendengar bisikan lembut yang menggetarkan hatinya itu, namun ia memilih berpura-pura tidur di bahu Nathan.


Beberapa meter kendaraan melaju, Nathan melihat satu keluarga basah kuyup di atas mobil bak. Angel yang hanya pura-pura tertidur tentu saja tahu Nathan menghentikan kendaraannya, ia beranjak dari bahu suaminya.


"Kau bangun? Aku mau turun dan membantu mereka." sebelum turun dari mobil, Nathan mengecup kening Angel.


Angel membukkaca mobil, pandangannya mengikuti suaminya dengan sigap membantu pria yang mengalami pecah ban, kemudian ia melihat tiga orang wanita, yang salah seorang di antaranya ada anak kecil berusia sekitar tiga tahun.


"Terima kasi," ucap wanita itu, ia begegas membawa anaknya ke mobil Angel.


Sementara Angel membantu seorang wanita paruh baya untuk turun dari mobil bak mereka. "Terima kasih banyak, nak," ucap wanita itu.


"Sama-sama bu," Angel memberikan selimut kepada mereka, saat mereka sudah berada di mobil Angel.


"Aku Maryam," wnita muda itu mengulurkan tangannya. "Aku Ny. Artado."


Nathan menoleh ke arah Angel ketika ia menyebutkan nama belakangnya, hati Nathan seperti hendak lompat mendengar Angel akhirnya mengakui jika dia istrinya.


"Ini Lea, dan ini ibuku Elizabeth."

__ADS_1


"Sepertinya ibumu sedang sakit?" Angel memperhatikan wajah pucat Elizabeth.


"Ya, kami memang hendak ke kota untuk membawa ibu ke kota untuk berobat, tapi ban kami bocor."


Elizabet tersenyum. "Sudahku katakan jika ibu baik-baik saja dan tidak perlu ke dokter. Lihatlah sekarang apa yang terjadi?"


Nathan mendekat ke arah mereka. "Berita buruk, ternyata mobil Jhon bukan hanya pecah ban, tapi juga turun mesin. Kalian tidak bisa melanjutkan perjalanan, terlebih saat kondisi seperti ini. Di ujung jalan pasti banjir dan jalan akan tertutup air. Bagaimana jika kalian menginap di rumah kami?"


Mata Angel melotot. "Rumah? kita tidur di mana?" bisik Angel pada suaminya.


Nathan menarik Angel mendekat ke arahnya. "kita tidak bisa meninggalkan mereka di sini dalam kondisi seperti ini. Paling tidak malam ini saja, besok aku akan mengantar mereka ke kota untuk membeli mesin dan mengantar ibu itu ke rumah sakit."


Angel melirik ke arah Elizabet yang meringkuk tak berdaya. "Baik-lah." ia kembali ke arah keluarga itu. "Ya kalian bisa menginap di ruamh kami."


Elizabeth meraih tangan Angel dan menggenggamnya. "tuhan memberkatimu, Ny. Artado."


Mereka semua melanjutkan perjalanan menuju kediaman Nathan, namun kali ini Angel duduk bersama Elizabeth dan keluarganya di belakang. Sepanjang perjalanan Angel memperhatikan anak itu merengek, ia meraba-raba keranjang. "Apa kau lapar? Aku punya roti dan beberapa keju."


"Keju!" ucap Lea, wajahnya yang kecil berseri-seri. "Aku mau."


Air mata menggenang di pelupuk mata Elizabeth, ia menangis. Mariam mengelusnya dan merasa malu, Angel tidak tahu harus berkata apa melihat orang tua menangis, ia memotong irisan keju untuk anak itu.


Elizabeth terbatuk lagi, dan tangisannya berhenti. "Maafkan kami telah merepotkamnu."


"Tidak apa-apa." Angel mengulurkan sepotong keju dan roti untuk Elizabeth dan juga Mariam.

__ADS_1


__ADS_2