
Mereka tiba di Jogja ke esokan sorenya, perjalanan terasa lama sebab Nathan mapir ke beberapa daerah untuk mengenalkan produk stroberinya. Rasa tak percaya diri menghinggapi pikiran Angel, ia menutup wajahnya dengan selendang meski ia berada di kerumunan orang yang tak mengenal dirinya.
"Apa kamu pernah ke Jogja?"
"Tidak."
"Lantas mengapa harus di tutupi?" Nathan menatap selembar kertas kecil beisi alamat toko milik kakanya Joseph. Seharusnya ada di sekitaran sini, tapi di mana? ia menginjak rem dan turun dari mobil, hendak bertanya kepada seseorang di sekitar. "Permisi."
Pria itu berbalik menghadap Nathan. "Nathan!!" Joseph terkejut dan langsung memeluknya.
Nathan pun membalas pelukan Joseph dengan hangat. "Aku sudah mengelilingi Malioboro ini sebanyak tiga kali tapi tak menemukan tokomu. Di mana?"
Josep berbalik dan menunjuk toko yang ada di depannya. "Papan namanya baru saja aku turunkan karena sebentar lagi akan di pasang dengan yang baru."
"Pantas saja aku tak menemukannya."
Pandangan Joseph beralih pada pintu mobil yang terbuka, kemudian tertutup dan Anggel turun dari mobil tersebut. "Dia?" tanya Joseph sembari menunjuk ke arah Angel.
"Dia istriku dan kami telah menikah." Nathan berbalik kearah Angel sembari mengulurkan tangannya agar Angel mendekat ke arahnya. “Joseph memiliki beberapa kain aku ingin kamu untuk melihatnya. Pilih yang kamu suka.”
Joseph mengarahkan mereka berdua menuju tokonya, ia mengambil satu gulung kain. "Cukup untuk tiga gaun." ia pergi untuk membantu pegawainya membongkar barang yang baru datang. "pilih saja sesukamu, aku tinggal dulu."
Angel memikirkan apa yang mungkin disukai Nathan, dia memilih salah satu dari kain linen abu-abu tua. woolsey dan cokelat lainnya. Tapi sepertinya Nathan tidak terlihat senang dengan pilihannya.
“Hanya karena ibuku mengenakan pakaian cokelat dan hitam, bukan berarti kamu harus mengenakan baju dengan bahan dan warna yang sama." Nathan menarik kain linsey-woolsey biru dari bawah. “Ini akan lebih cocok untukmu.”
“Ini lebih mahal.”
"Aku mampu membelinya."
Joseph kembali lagi setelah dia selesai. "Bagaimana sudah dapat kainnya?" ia menyuruh pegawainya untuk mengukur tubuh Angel. "Bermalam-lah di sini. Aku bisa menjamin baju ini sudah siap besok pagi."
"Ya itu juga sebenarnya rencanaku, aku ingin mengajaknya berkeliling Malioboro." Nathan memilih ornamen untuk mempercantik pakaian Angel.
"Tidak perlu menyewa hotel aku ada satu kamar kosong di atas." Yoseph mengantarnya ke atas saat mereka selesai memilih kain, ia menjamu Angel dan Nathan dengan segelas teh hangat dan daging sapi panggang. "Orang tuaku menyuruhku menetap di Joga dan menikahi gadis di sini untuk menemaniku mengelola toko ini, kakakku sudah tidak bisa bekerja lagi."
"Lalu?"
"kau kan tahu, aku punya pacar di Jakarta. Aku tidak mau menikahi wanita yang tidak aku cintai."
"Kalau begitu suruh saja pacarmu tinggal di Jogja bersamamu." Nathan menghabiskan suapan terakhir makan malamnya.
"Tidak bisa, dia tidak akan mau meninggalkan karirnya."
__ADS_1
Makan malam selesai, hujan turun membasahi kota Jogja, sehingga Nathan membatalkan janjinya untuk mengajak Angel jalan-jalan. Ia dan Joseph memilih mengobrol membahas seputar polik dan agama sembari menikmati kopi panas.
Percakapan itu berlanjut tanpa henti, samapai-samapi Angel mengantuk dan tidur di sebelah Nathan. “Aku akan menidurkan istriku dulu.”
Joseph menambahkan menuang kopi di cangkirnya "Bawa sajanke kamar." ia memperhatikan Nathan mengangkat istrinya dengan lembut dan membawanya masuk sembari mengaduk-aduk kopi di cangkirnya.
Joseph telah memperhatikan Angel sejak melihatnya di gang senggol untuk pertama kalinya, Angel adalah salah satu wanita cantik langka yang menarik napas pria tidak peduli berapa kali dia melihatnya sebelumnya. Ketika Nathan masuk kembali dan duduk, Joseph tersenyum. “Aku masih ingat raut wajahmu saat melihat Angel untuk pertama kalinya. Aku pikir kamu gila ketika aku mendengar kamu menikah dengannya. Orang baik sering dihancurkan oleh obsesinya melihat wanita cantik." Joseph mengkhawatirkan Nathan, ia tak pernah lihat orang suci berpasangan dengan pendosa.
"Kamu sama seperti yang lainnya." Nathan tertawa dan mengambil cangkirnya.
"Apakah kamu mengharapkan aku memiliki pandangan yang sama dengamu? Yang jelas aku berharap dia betul-betul mencintaimu."
Senyum Nathan berubah, mengisyaratkan rasa sakit. "Dia mencintaiku," ucapnya dan meminum kopinya.
“Semoga,” ucap Joseph, ia ingat dengan jelas burung merpati kotor yang cantik itu yang berjalan di sekitaran gangnsenggol setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Dia selalu keluar dari pabrik untuk melihatnya seperti yang lainnya, terpesona pada kecantikannya. Mungkin Nathan hanya melihat kecantikan Angel, lalu jatuh hati padanya.
Tuhan tahu Angel tidak akan pernah menemukan pria seperti Nathan sebelumnya, karena tidak akan lernah ada di dalam bisnisnya. Nathan akan menjadi sesuatu yang baru bagi Angel. Joseph diam-diam menertawakan dirinya sendiri, Nathan juga sesuatu yang baru baginya. Teman yang memiliki hati yang baik dan lembut, ia berdoa semoga Angel tidak akan merobek hati Nathan dan meninggalkannya dalam kehancuran.
...****************...
Seperti yang di janjikan Joseph, keesokan paginya baju-baju Angel telah siap dan mereka pun bisa kembali lagi ke Bogor. Perjalanan pulang terasa lebih cepat, sebab Nathan tak singgah di daerah lain.
Ia hanya singgah satu kali vegitu memasuki kota Bogor, ia memarkirkan kendaraannya di depan toko benih untuk membeli keperluan tanamannya. Angel baru menyadari jika di samping toko benih terdapat sebuah bangunan kecil.
Nathan tersenyum. "Cobalah, untukku." ia meraih tangannya lagi.
Mereka masuk ke dalam, dengan jantung Angel berdebar kencang sehingga dia mengira dia tersedak. Beberapa orang mendongak dan menatapnya. Angel bisa merasakan hawa panas mengalir ke wajahnya karena lebih banyak orang memperhatikan kedatangan mereka yang terlambat.
Nathan menemukan tempat untuk mereka duduk. Angel mengepalkan tangannya di pangkuannya dan menundukkan kepalanya. Seorang wanita di barisannya mencondongkan tubuh untuk melihat Angel. Angel menatap lurus ke depan.
Kemudian ada seorang lagi di baris depan melihat ke belakang melewati bahunya. Tempat itu tampak penuh dengan wanita baik-baik tidak seperti dirinya. Angel juga merasakan ada seorang wanita berambut hitam dengan topi coklat sedang mengamatinya.
Mulut Angel menjadi kering. Apakah mereka tahu siapa aku? Apakah di kepalaku ada tanda seorang pela*ur? Pengkhotbah menatap lurus ke arahnya dan berbicara tentang dosa dan kutukan. Keringat mengucur di tubuhnya, dan ia merasa kedinginan.
Semua orang berdiri dan mulai bernyanyi, Angel belum pernah mendengar Nathan bernyanyi sebelumnya, Nathan memiliki suara yang dalam dan indah.
Angel menatap ke depan lagi dan melihat ke dalam mata pengkhotbah. 'Aku harus keluar!' batinya. Ketika mereka semua duduk kembali, bayangan Angel pengkhotbah itu akan menunjuk langsung padanya dan bertanya apa yang dia lakukan di gereja?
Dalam keadaan panik, Angel berjalan melewati semua orang di barisan. "Permisi, biarkan aku lewat, tolong," ucap Angel, panik untuk keluar.
Semua orang menatapnya sekarang, seorang pria menyeringai padanya saat dia bergegas menuju pintu belakang. Angel tidak bisa bernapas, ia bersandar pada mobil Nathan dan melawan rasa pusing.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Nathan.
__ADS_1
Angel tidak berharap Nathan mengikutinya. "Aku baik-baik saja," ia berbohong.
"Maukah kamu masuk lagi dan duduk di sampingku?"
Angel berbalik dan menatapnya. "TIDAK."
"Kamu tidak harus mengambil bagian dalam layanan."
"Tidak, akuntidak mau." Angel memeluk dirinya sendiri.
“Mara, aku sudah berbulan-bulan tidak ke gereja. Aku butuh beribadah.”
"Kau pergi saja sendiri, aku akan menunggumu di sini."
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Ya," ucap Angel, ia membuka pintu mobil dan duduk di dalam.
Nathan menyadari ada hal yang tak beres di diri Angel, namun ia tak ingin berdebat dengannya sehingga Nathan kembali melanjutkan perjalanan. "Mari kita pulang saja."
Saat mendekati kediamannya, ia melihat Angel sudah terlihat lebih baik. "Gedung itu sangat kecil bahkan tidak terlihat seperti gereja sungguhan," ucap Nathan menuruni bukit menuju jalan sungai. “Jadi kenapa kamu begitu takut berada di dalam gereja?”
“Aku tidak takut.”
"Kamu takut setengah mati." Nathan meraih tangannya. “Telapak tanganmu berkeringat.” Angel mencoba melepaskan tangannya, tetapi Nathan menggenggamnya erat.
"Tadi pengkhotbahnya mengatakan kutukan, aku tidak ingin Tuhan mengutukku."
“Tuhan tidak mengutuk, DIA mengampuni.” Nathan melepaskan tangannya.
"Tapi Tuhan tidak memaafkan ibuku?"
Nathan menghela napas beratnya, kemudian ia menatap Angel. "Mungkin Ibumu sendiri yang tidak pernah memaafkan dirinya sendiri.”
Kata-kata itu seperti pukulan, Angel menatap lurus ke depan.
...****************...
Hai semua,
Terima kasih yang masih setia untuk membaca, semoga kalian suka dengan tulisan ini. Dalam kesempatan kali ini aku mau menginformasikan jika ada 1 novel lagi yang up mulai hari ini, berjudul JAKARTA DIFUSI. Ceritanya ringan namun tetap asik untuk di baca, jangan lupa mampir ya.
Terima kasih ❤
__ADS_1