The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 23


__ADS_3

Kegelapan masih menyelimuti dirinya, Bella tidak peduli apakah dia akan bangun lagi atau tidak, ia ingin mengakhiri hidupnya yang menyedihkan dan penuh rasa putus asa, namun sepertinya dia gagal lagi. Bella masih hidup.


Alih-alih menemukan kedamaian yang dia dambakan, ia justru menemukan rasa sakit, dan terikat dengan pria lain. Kenapa aku tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar? Mengapa semua rencanaku selalu gagal?


Nathan adalah satu-satunya pria yang paling ingin ia hindari, tapi justru sekarang pria itu memiliki dirinya. Bella tidak memiliki kekuatan untuk melawannya, yang buruk lagi, ia harus bergantung pada Nathan untuk makanan, air, tempat berlindung.... semuanya. Angel semakin membencinya oleh sebab itu.


Seandainya Nathan adalah pria biasa, Bella pasti tahu bagaimana cara bertarung dengannya, tapi Nathan tidak. Tidak ada kalimat yang Nathan lontarkan yang mengganggunya. Nathan begitu lembut dan sangat tenang, hal itu yang membuat Angel menjadi bingung, perasaannya tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata.


Nathan pernah berkata bahwa dia telah belajar banyak tentang dirinya selama dirinya demamnya, tetapi Nathan tidak mengatakan apa-apa. Angel khawatir dirinya mengigau hal yang tidak-tidak hingga Nathan mengetahui segalanya tentang dirinya.


Setiap kali Bella bangun, Nathan selalu ada di hadapannya, padahal Bella ingin Nathan meninggalkannya sendirian. Angel ingin merasakan kesunyian di kediaman Nathan yang hangat, yang tak pernah Angel rasakan di tempat prostitusi.


Entah mengapa Nathan seolah mengerti dengan apa yang di butuhkan Angel, selama seminggu, Nathan meninggalkannya di rumah sendirian selama beberapa jam sewaktu Nathan bekerja.


Bella tidak tahu apa yang Nathan lakukan, dan ia tidak bertanya. Angel tidak peduli, dan ia lega karena Nathan tidak hilir mudik di hadapannya, menyeka alisnya atau menyendokkan sup ke mulutnya.


Bella ingin bersama dirinya, berpikir, dan merasa tidak ketergantungan kepada siapa pun. Namun kenyataannya kesendirian yang ia dambakan berubah menjadi kesepian.


Hari itu hujan deras, ia mendengarkan dentuman di atap… dan dengan jantung yang berdebar-debar muncul bayangan tentang gubuk di dermaga, dan Mama serta Rudi. Memikirkan Rudi mengarah ke Tuan, dan Tuan mengarah ke yang lainnya, dan dia berpikir dia akan menjadi gila.


Mungkin dia akan mulai berbicara dengan Tuhan juga, seperti yang di lakukan pria gila yang telah menyematkan cincin kawin ibunya di jarinya. Mengapa dia melakukannya? Mengapa dia menikahinya? Secara mengejutkan, Nathan sudah berada di ambang pintu. Ia besar, kuat, pendiam, dan berpenampilan apa adanya.


Bella ingin mengabaikan Nathan, tetapi tubuh Nathan yang besar dan tinggi memenuhi rumah mungilnya. Bahkan ketika dia hanya duduk diam di depan perapian sambil membaca buku usang, Nathan seolah mengambil alih seluruh tempat.


Nathan mengambil alih seluruh isi rumah. Bahkan ketika Bella menutup matanya, Bella masih bisa melihat Nathan di sana. Nathan sedang duduk di sebuah kursi di depan perapian, tepat di dalam kepala Bella.

__ADS_1


Sekarang Bella tidak dapat memahami Nathan, dia nampak berubah. Dari awal mengenalnya di tempat prostitu*i Nathan selalu nampak ceria dan banyak bicara, tapi entah mengapa akhir-akhir ini Nathan sangat irit bicara. Padahal biasanya Nathan selalu tersenyum dan bertanya bagaimana kondisinya? Apa yang di rasakan? Atau menayakan apa yang di butuhkannya.


Hari demi hari berlalu, Bella melihat Nathan hendak mengambil topinya di dekat pintu masuk dan Bella tahu Nathan akan meninggalkannya sendirian lagi. “Tuan,” ucapnya, bertekad untuk tidak pernah memanggilnya dengan namanya, “mengapa kamu membawa aku ke sini jika yang akan kamu lakukan hanyalah meninggalkan aku sendirian di dalam rumah ini?"


"Aku memberimu waktu untuk berpikir."


"Berpikirkan tentang apa?"


“Apa pun yang perlu kamu pikirkan." Nathan mengambil topinya dari pengait di dekat pintu dan pergi.


Sinar matahari pagi masuk melalui jendela yang terbuka, perut Bella kenyang, dan ia hangat terkena sinar mentari. Seharusnya Bella puas, seharusnya ia bisa bersantai dan tidak memikirkan tentang apapun.


Kesendirian ini seharusnya cukup, tapi ada apa dengannya? Mungkinkah itu adalah kesunyian. Bella terbiasa dengan suara yang menyerangnya dari semua sisi. Laki-laki mengetuk pintu, laki-laki yang mengatakan apa yang mereka inginkan, laki-laki memberitahunya apa yang harus dilakukan, laki-laki berteriak, laki-laki bernyanyi, laki-laki mengumpat di bar di bawah. Kadang-kadang suara kursi menabrak dinding dan kaca pecah, dan selalu ada suara Madam yang selalu memberitahunya betapa Bella seharusnya bersyukur karena telah di urus dan di besarkan olehnya. Atau suara teriakan Morgan dari balik pintu kamarnya yanb memberi tahu pelangganya bahwa waktunya sudah habis dan jika pelanggannya tidak memakai celananya dan keluar, Motgan akan menyeretnya.


Tidak pernah ada keheningan seperti ini, Bella mengeluh. “Ada banyak suara,” ucap Nathan yang tiba-tiba sudah pulang. “Dengarkan saja.”


Selama hampir tiga bulan akhirnya, Bella bisa berdiri di atas kakinya sendiri, ia ingin mencari sesuatu untuk bisa ia pakai, namun ia tidak menemukan apa pun, Nathan baru memberlikan empat potong baju, karena dia belum sempat ke kota, dan ke empatnya sedang berada di jemuran.


Apa yang harus aku pakai? Karung goni yang gatal? di lemari Nathan hanya ada sepasang celana jeans panjang usang, sepasang celana jengki, dan beberapa kaus yang semuanya terlalu besar untuknya.


Ada sebuah koper hitam tua yang sudah usang ada di atas lemari, tapi Bella terlalu lelah untuk membuka dan mengobrak-abriknya. Telanjang dan terlalu lemah untuk menyeret selimut dari tempat tidur untuk menutupi dirinya, dia hanya bersandar di ambang jendela dan menghirup udara segar dan dingin.


Setengah lusin burung kecil beterbangan dari dahan ke dahan di sebuah pohon besar, ke pohon yang lebih besar. Burung-burung itu mondar-mandir dan mematuk tanah yang jaraknya tidak lebih dari enam kaki dari rumahnya.


Angin sepoi-sepoi bertiup masuk, dan dengan itu Bella hampir bisa merasakan padang rumput dekat rumah Mama dulu berbau seperti ini. Bella menutup matanya dan menikmatinya.

__ADS_1


Bella membuka matanya lagi dan menatap hamparan tanah. “Aduh, Mara,” bisik Nathan. Seketika tenggorokan Bella menegang. Kelemahan merayapi tulang punggungnya, dan tulang rusuk Bella mulai sakit lagi.


Bella gemetar dan kepalanya terasa pusing saat Nathan masuk dan melihatnya berdiri telanjang di dekat jendela. Tanpa sepatah kata pun Nathan bergegas mengambil selimut dari tempat tidur. Ia meraup tubuh Bella dengan lembut. "Sudah berapa lama kamu bangun?"


"Lumayan."


Nathan memeluk Bella seperti seorang anak kecil, kehangatan tubuh Nathan meresap ke dalam dirinya. Nathan berbau tanah dan matahari.


"Kamu bisa turunkan aku sekarang. Tapi tidak di tempat tidur. Aku bosan berada di tempat tidur terus selama berbulan-bulan.”


Nathan tersenyum, ia memangku Bella di kursi di depan perapian. Berada di pangkuan Nathan, rasa sakit yang tadi menyerang di sepanjang sisi tubuhnya seakan sirna.


Nathan menyentuh wajahnya dengan hati-hati dan mengerutkan kening.


"Wajahku kenapa? apakah kamu punya cermin?" tanya Bella.


"Aku hanya melihat memar di wajahmu yang sudah mulai memudar. Sebentar," Nathan mengangakat tubuh Bella dan menudukannya di kursi, kemudian ia mengambil kaleng mengkilap yang dia gunakan untuk bercukur dan memberikannya padanya. "Hanya itu yang aku punya."


Bella kaget melihat wajahnya yang sudah tidak semulus dulu, bekas luka ada di mana-mana. "Tunggu beberapa minggu lagi, pasti semuanya akan pulih," ucap Nathan menghibur Bella.


"Ya setidaknya gigiku masih utuh," ia menurunkan tangannya dan meletakan kaleng itu di pangkuannya. " Jadi berapa banyak uang yang kamu keluarkan untuk membeliku?"


“Semua yang aku miliki.” Nathan tertawa lemah.


"Tuan, kamu bodoh," ucap Bella kesal. "Kamu membeli wanita yang sudah rusak dengan semua uang yang kamu punya."

__ADS_1


"Aku mencintaimu bukan karena penampilanmu. Menikahlah besok, denganku di gereja, Mara," pinta Nathan, sembari berlutut di hadapan Bella.


__ADS_2