
Rudi tidak pulang selama dua hari dan ketika dia pulang, dia dalam kondisi mabuk parah hingga tidak ingat siapa dirinya. Dia duduk bersila di sudut gubug, dengan linangan air mata yang mengalir ke janggutnya. Pria itu mengangkat botol yang sudah setengah kosong, hingga botol tersebut kosong, kemudia ia jatuh dan mendengkur.
Bella meletakkan selimut di tubuhnya, kemudian ia di samping pria itu. “Tidak apa-apa, Om. Sekarang aku yang akan menjagamu,” ucap Bella, ia tidak bisa melakukan seperti yang dilakukan Mamanya, tetapi dia akan berusaha.
Hujan kembali turun, Bella mengambil kalengnya dan memblokir pikirannya untuk segala hal kecuali suara tetesan yang jatuh ke dalamnya. Bella membuat sebuah afirmasi untuk dirinya sendiri. 'Aku senang,' ucap Bella pada dirinya sendiri. 'Sangat senang. Tidak ada pria pelaut yang datang ke gubugnya lagi. Mama sudah terbebas deriku yang menjadi bebannya.'
...****************...
Pagi harinya, Rudi terbangun dengan perasaan bersalah yang menderanya. “Aku sudah berjanji pada Claudia jika aku akan menjagamu, kalau tidak dia tidak akan beristirahat dengan tenang.” Rudi merangkum wajah Bella dan menatapnya dengan mata merah yang bersedih.
“Apa yang akan aku lakukan padamu, nak?" Rudi melihat ke dalam lemari dan ia tidak menemukan apa-apa selain sebingkus roti warung seharga 2.000. Dia membukanya dan makan setengah, ia meninggalkan sisanya untuk Bella. “Aku akan keluar sebentar dan memikirkan semuanya."
Bella berbaring di tempat tidur dan menekan bantal Mamanya ke wajahnya, ia menghirup aroma mamanya yang masih melekat pada bantal tersebut. Bella menunggu Rudi untuk kembali. Satu jam, dua jam berlalu Rudi belum kembali. Tubuh Bella mulai gemetar, hujan kembali turun. Bella mengambil roti sisi Rudi dan memakannya kemudian ia menyeret selimut dari tempat tidur dan membungkus dirinya di dalamnya.
Matahari terbenam, dan kesunyian terasa seperti kematian. Semuanya melambat di dalam dirinya dan Bella berpikir jika ia menutup matanya dan rileks, dia bisa berhenti bernapas dan mati. Ia mencoba untuk berkonsentrasi pada hal itu, tapi Bella mendengar suara seorang pria, berbicara dan bersemangat. Itu adalah Rudi.
“Kamu akan senang. Aku bersumpah. Dia anak yang baik, cantik dan juga pintar." ucap Rudi saat ia membuka pintu.
Rudi sudah tidak mabuk, matanya terlihat cerah dan ceria. "Semuanya akan baik-baik saja sekarang, Nak," ucapnya pada Bella, kemudian ia meminta seseorang untuk masuk ke gubuknya.
Orang asing itu bertubuh seperti buruh pelabuhan di dermaga, dan matanya terlihat tajam, ia menatap Bella.
"Berdiri," pinta Rudi kepada Bella. “Tuan ini datang untuk menemuimu. Dia bekerja untuk seseorang yang ingin mengadopsi seorang gadis kecil."
Bella tidak mengerti apa yang dibicarakan Rudi. Orang asing itu menangkup dagu Bella dan mengangkat wajahnya, memutarnya dari sisi kanan dan sisi kiri untuk mengamatinya. "Bagus," ucapnya dan tersenyum. “Sangat bagus. Dia akan menyukai gadis ini.”
Jantung Bella berdegup kencang, ia menatap Rudi, tetapi Rudi terlihat santai.
"Dia mirip Mamanya," ucap Rudi dengan suaranya pecah. "Dia kurus dan kotor," lanjutnya. “Kami miskin,” ucap Rudi dengan sedih.
Orang asing itu mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dari sakunya, kemudian ia memberikannya kepada Rudi. “Bersihkan dia dan belikan dia pakaian yang layak. Lalu bawa anak ini ke sini." Orang asing itu memberi Rudi alamat dan pergi.
__ADS_1
"Aku menemukan orang yang akan mengadopsimu, janjiku pada Mamamu akan lumas." Rudi meraih tangan Bella dan mengajaknya keluar.
Rudi mengantar Bella ke gubuk lain beberapa blok dari gubuknya, menemui seorang wanita berambut cokelat, keriting, dan dia memiliki lingkaran di bawah mata cokelatnya.
"Aku butuh bantuanmu, Stella." Rudi menjelaskan semuanya kepada wanita itu.
Stella mengerutkan kening dan menggigit bibir bawahnya. “Kamu yakin tentang ini, Rud? Kau sedang tidak mabuk kan?"
"Ya, boss tempatnya bekerja ingin mengadopsi seorang anak."
"Lalu kenapa dia mencari anak perempuan di dermaga? Mengapa tidak di panti asuhan?"
“Tidak masalah, bukan? Ini kesempatan terbaik yang Bella punya, dan aku berjanji Claudia, kalau ada orang yang mengadopsinya dan memberikan tempat, pakaian dan pendidikan yang layak, janjiku terpenuhi.” ucap Rudi dengan suara bergetar karena air mata.
Stella menatapnya sedih. “Ya baiklah. Aku akan mendadani anak itu dengan sangat cantik. Lebih baik kau pergi dan kembali lagi setelah dia siap.”
Tanpa membatah, Rudi pun pergi. Setelah itu Stella mengobrak-abrik lemari pakaiannya sampai dia menemukan sesuatu yang lembut dan berwarna merah muda. "Aku akan segera kembali," ucapnya dan mengambil sebuah ember untuk mengambil air.
Ketika dia kembali, dia memanaskan air di dalam panci. “Sekarang, kamu mandi dulu dengan air hangat, tidak akan ada yang mau mengadopsi anak yang kotor," ucap Stella. Bella melakukan apa yang diperintahkannya karena rasa takut tumbuh di benaknya.
Bella ingat Mamanya melakukan hal yang sama saat mereka tinggal di rumahnya di pedesaan. Stella kemudian memakaikan blush on dan lipastik warna pink. “Kamu sangat pucat. Jangan takut, sayang. Tidak akan ada yang akan menyakiti malaikat kecil cantik sepertimu.”
Rudi kembali keesokan harinya, ia datang dengan kondisi mabuk dan tidak ada uang sama sekali di sakunya. Matanya lebar dan kosong. “Hai, nak. Kau nampak lebih cantik dan bersih,” sapanya pada Bella.
Bella memeluk pria itu dengan erat. “Jangan suruh aku pergi dari sini, Om. Bukankah kau selarang ayahku,”
"Ya? Dan apa yang harus aku lakukan terhadap seorang anak kecil?" Rudi melepaskannya dan menatapnya dengan senyum sedih. "Aku punya cukup banyak masalah."
“Kamu tidak perlu melakukan apapun, aku dapat menjaga diriku sendiiri. Om cukup membiarkan aku tinggal di sini saja.”
“Aku tidak punya uang untuk membiayai hidupmu. Apa kamu akan ikut mencuri bersamaku? Tentu tidak kan? Kau harus pergi dari sini agar kau memiliki kehidupan yang baik. Sekarang, ayolah,” ajak Rudi.
__ADS_1
Mereka berjalan sangat lama, hingga hari mulai gelap dan Bella takut pada bayangan yang mengikutinya. Bella menggenggam erat ke tangan Rudi, mereka menyusuri jalan-jalan yang dipenuhi rumah, rumah besar yang mewah, yang belum pernah Bella lihat sebelumnya.
Bella menggigil, kakinya mulai sakit dan perutnya keroncongan. Rudi berhenti dan mendongak di rumah besar. “Bukankah tempat ini sangat hebat?" ia menatap kagum.
Tidak ada bunga, batu, dan terlihat gelap. Bella terlalu lelah untuk peduli akan semua itu, ia duduk di anak tangga paling bawah teras kediaman besar itu, dan berharap ia kembali ke gubuk dermaga dengan aroma laut yang terbawa arus. “Ayo, Nak!”ucap Rudi menyuruhnya berdiri
Bella menatap ketakutan pada kepala singa kuningan besar yang ada di pintu. Sementara Rudi mengetuk pintu kediaman besar itu.
Tak lama kemudian seorang pria bersetelan jas. membuka pintu dan menatap Rudo dengan pandangan mengejek. Rudi menyerahkan kertas yang di berikan pria asing yang kemarin datang ke gubuknya.
Itu pria membaca kertas tersebut, lalu membuka pintu cukup lebar untuk mereka masuk. "Masuk-lah,” ucapnya dingin.
Di dalam rumah itu terasa hangat dan berbau harum. Terbentang permadani dengan motif bunga yang indah di atas lantai yang mengilap. Di atas ada lampu permata yang berkilauan. Bella belum pernah melihat sesuatu yang sebagus ini. Surga pasti seperti ini, pikirnya Bella.
Seorang wanita berambut merah dengan mata gelap dan mulut semerah cabai datang menyambut mereka. Dia mengenakan gaun hitam yang indah dengan di hiasi manik-manik yang mengedip di bahu dan payud*ranya terlihat penuh.
Wanita itu menatap Bella dan mengerutkan keningnya. Matanya berkelebat ke arah Rudi dan kemudian menatap mata Bella lagi dengan lebih lembut. Wanita itu membungkuk dan mengulurkan tangannya. “Namaku Sally. Siapa namamu?”
Bella hanya menatapnya dan mundur ke belakang Rudi.
"Dia pemalu," ucap Rudi meminta maaf.
Sally menegakkan tubuh dan menatapnya dengan mata tajam. “Kamu yakin kamu tahu apa yang kamu lakukan, tuan?”
“Tentu, aku tahu. Ini adalah tempat yang bagus. Tidak seperti tempat sampah yang kita tinggali saat ini.”
"Baiklah, silahkan naik tangga lalu ke kanan," ucap Sally. “Pintu pertama di kiri. Tunggu di sana." Dia mengulurkan tangan sebelum Rudi melangkah. “Saranku, sebaiknya kau pergi sekarang dan bawa anak ini pulang.”
“Mengapa aku harus melakukan itu?”
"Karena kamu tidak akan melihatnya lagi setelah malam ini." Wanita itu mengangkat bahu.
__ADS_1
“Tidak masalah karena dia bukan anakku.”
"Baiklah, sebentar lagi Tuan akan datang," ucap Sally.