
Angel hanya terdiam, hingga akhirnya Nathan mendekat ke arahnya “Mara,” ucapnya dengan suara lembutnya.
“Namaku bukan Mara. Namaku Angel. Angel."
“Tidak, tidak. Dan aku akan memanggilmu dengan apa yangku lihat. Mara: sakit hati (Pahit) oleh kehidupan. Atau Tirzah: kekasihku yang mengobarkan api dalam diriku hingga aku merasa seperti meleleh," terang Nathan. “Kamu tidak bisa terus melarikan diri. Apakah kamu tidak melihat itu?” Ia berhenti tepat di depan Angel. "Tetaplah disini. Tetaplah bersamaku. Kita bangun perkebunan ini bersama-sama." Nathan menyentuh wajah Angel. "Aku mencintaimu."
Angel memalingkan wajahnya dari Nathan. “Apakah kamu tahu berapa kali aku mendengar kata-kata itu sebelumnya? aku cinta kamu Angel. Kamu sangat cantik. Aku mencintaimu Sayang. Oh sayang, Aku mencintaimu. Katakan kau mencintaiku, Angel. Selama kamu melakukan apa yang aku perintahkan, aku akan mencintaimu. Aku muak mendengarnya!” Angel menatapnya dengan marah.
“Mara, tapi itulah yang aku rasakan kepadamu,” ucapnya dengan jujur.
Mata Angel seperti terbakar. “Aku ingin kembali ke gang senggol secepat mungkin. Aku tidak akan tinggal di sini bersamamu!" Ia mencoba untuk tenang.
Nathan bisa melihat wajahnya putih di bawah sinar lampu, ia tidak tahu apa yang Angel pikirkan, tapi ia tahu Angel tersiksa oleh masa lalunya. “Aku berharap aku bisa membuka pikiranmu dan masuk ke relung hatimu."
Nathan ingin memeluknya, tetapi Angel telah menarik diri, menjaug darinya. Tuhan, bagaimana cara menyakinnya? Batin Nathan. Angel menatapnya dan melihat kemilau kelembapan di matan Nathan. "Apakah kamu menangis? Untukku?" tanya lemah.
"Tidakkah kamu pikir kamu layak untuk di cintai?" Nathan bisa melihat jauh dalam diri angel ada sesuatu yang retak, namun ia tidak tahu apa itu, sebab Angel tak pernah bercerita apa pun tentang masa lalunya. “Bicaralah padaku, Amanda,” bisiknya, “Bicaralah padaku.”
“Amanda? Apa arti nama ini?”
"Aku tidak tahu, tapi kedengarannya seperti nama yang lembut dan penuh kasih." Nathan tersenyum sedikit. “Kupikir kamu mungkin lebih suka itu daripada Mara.”
Nathan adalah pria aneh. Batin Angel. "Jadi apa yang kamu mau dengar, tuan?”
__ADS_1
"Apa pun. Semuanya."
Angel menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa."
Nathan menangkup wajah Angel dengan lembut. “Kalau begitu katakan saja padaku apa yang kau rasakan sekarang."
"Sakit," ucapnya tanpa berpikir, ia mendorong tangan Nathan menjauh dari wajahnya, ia tak ingin Nathan menatap matanya. Hujan yang tina-tiba turun membuat tubuhnya dingin, dan ia sangat ingin mendapatkan kehangatan. Angel berlutut di depan api, tapi kehangatan api pada perapian itu tidak bisa meresap ke tubuhnya.
Nathan menyusulnya dan duduk di sampingnya di lantai, ia memperhatikan Angel saat wanita itu menarik lututnya dan memeluknya di dadanya. "Berikan rasa sakitmu padaku," ucapnya.
Angel terkejut dan menatapnya. Ia tidak ingat kapan terakhir kalinya ia meneteskan air mata, atau bahkan ia tidak punya air mata. Nathan membuatnya bingung, bingung untuk bercerita dari mana. "Bercintalah denganku sekarang," pintanya.
Nathan mengambil sehelai rambutnya dan mengusapnya di antara jari-jarinya. "Kenapa kau selalu mengajakku bercinta? Bukan karena kau meragukan kejantananku kan?" Nathan tersenyum simpul.
"Apakah hanya karena rasa terima kasih menjadi alasan yang cukup untukmu memberikan tubuhmu padaku?"
"Karena kau membuatku tetap hidup." Angel memalingkan wajahnya.
"Hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Tuhan-lah yang telah memberikanmu kesehatan, aku hanya melakukan apa yang aku bisa." Nathan merangkul pundak Angel dan memiringkan kepalanya hingga menyandar di pundaknya. "Aku ingin bercinta denganmu, ingin. Setiap malam, tapi setelah kau bersedia menikah dan tinggal di sini bersamaku selamanya."
Angel beranjak dari pundak Nathan dan menatapnya. Nathan tersenyum sembari membelai wajahnya. "Aku tidak menjajikan pernikahan yang mudah, sebab setiap pernikahan akan selalu ada ujiannya masinh-masing. Tapi aku berjanji akan selalu ada untukmu hingga akhir hayatku."
...****************...
__ADS_1
Kalimat yang di lontarkan oleh Nathan rupanya tak bisa membuat Angel luluh. Ketika Nathan pergi untuk bekerja di kebun, Angel menyelinap ke belakang dan berjaln menuju ke atas bukit.
Angel mengikuti jejak ban sepeda Nathan, sewaktu Nathan melakukan perjalanan ke pasar untuk menjual stroberinya, ia tak menggunakan mobilnya sebab untuk mengirit bensin karena stroberi yang di bawanya tidak begitu banyak. Lama Angel berjalan, jejak ban itu hilang. Segalanya tampak begitu asing dan dia bingung. Apakah ia berjalan ke arah yang benar, atau ia hanya berputar-putar di wilayah kebun Nathan.
Angel semakin panik melihat langit semakin gelap, awan kelabu tebal menutup bersama. Angel menarik selendangnya semakin ketat melilit tubuhnya, tetapi bungkus tipis itu tidak banyak menangkal dinginnya udara.
Angel menuju pegunungan, dengan alasan bahwa ia bisa melihat arah lebih baik dari atas, dan lagi arah itu merupakan arah yang berlawanan dengan perkebunan Nathan. Semakin jauh jauh dari Nathan, semakin baik. Tapi di mana jalan menuju kebebasan? Ia seperti berjalan dengan sia-sia.
Angel melihat sebuah sungai dan, karena haus, ia mendekat. Angel Berlutut, lalu meraup air dan meminumnya dalam-dalam. Angel melepas sepatunya, untuk membasuh kakinya yang panas sebab berjalan terlalu jauh, kemudian ia menarik roknya ke atas, dia mengikatnya di depan dan menyelipkan sepatunya ke dalam lipatan untuk disimpan dengan aman sebelum ia merendam kakinya.
Bebatuan yang licin karena lumut membuatnya terpeleset hingga jatuh. Ia berjuang dengan cepat untuk berdiri, tapi ia sudah basah kuyup. Lebih buruk lagi, kedua sepatunya terlepas dan mengambang di hilir. Ia melepas selendang dan melemparkannya jauh. Satu sepatu diisi air dan tenggelam. Angel mengambilnya dengan mudah dan memasukkannya ke dalam pinggang bajunya.
Sepatu lainnya tersangkut di dahan dari pohon tumbang. Ia berjalan dengan susah payah melalui air ke arahnya. Aliran yang deras semakin dalam dan arusnya tersendat, tetapi ia tahu ia tidak bisa berjalan jauh ke gang senggol tanpa alas kaki. Ia harus mendapatkan sepatu itu. Ia bertekad untuk mendapatkannya, Angel menarik roknya lebih tinggi dan mendekat. Ketika bagian bawahnya miring tajam, ia berpegangan pada dahan.
Jari-jarinya menyentuh sepatunya sekali, dan ranting itu patah. Arus menyeretnya, ia meronta-ronta menarik dirinya keluar dari arus, Angel berhasil meraih tanaman merambat di dekatnya. Duri blackberry menusuknya telapak tangannya, tapi dia bertahan dan menarik dirinya ke tepian yang aman, dan Angel pun ambruk- di sana.
Angel gemetar hebat karena ketakutan, kedinginan, lelah, dan sengsara, dia memakai sepatu yang basah kuyup dan mulai berjalan lagi.
Baru bebelangkah ia berjalan, hujan mulai turun, mula-mula beberapa tetes, lalu lebih deras lagi, hingga rambut dan bajunya basah. Dingin, kaku, dan kelelahan luar biasa, Angel duduk dan meletakkan tangannya di kepalanya. Apa gunanya? Ia tetap kebasahan.
Angel sudah kelelahan, sakit, dan lapar, dan dia bahkan tidak bisa menemukan jalannya. Angel berharap jika ada seseorang yang lewat dan memberinya tumpangan hingga ke Jakarta. Tapi bagaimana jika orang yang ia temui adalah seseorang seperti Morgan?
Pikiran tentang perapian hangat Nathan, selimut tebal, dan makanan yang melimpah. Angel tidak berpikir untuk membawa makanan saat pergi. Ia mengikat perutnya karena lapar. Ia merasa kecewa tetapi ia bertekad untuk bisa tiba ke Jakarta, Angel bangkit dan melanjutkan.
__ADS_1