
"Nathan, bagaimana bisa kamu masih memanggilku Mara? Setelah apa yang aku lakukan?"
"Karena itulah dirimu sekarang."
"Kapan kamu akan mengerti?" teriaknya frustrasi.
“Tidak peduli siapa saja yang telah tidur denganmu."
"Kamu tidak bisa berpura-pura hal itu tidak terjadi," Angel mencengkeram selimut di sekelilingnya, ia memeluk dirinya sendiri. “Aku tidak bisa membasuh kotoran dalam tubuhku, aku tidak bisa bersih meski aku membersihkannya hingga kulitku mengelupas, darahku habis. Aku tetap kotor, aku seperti bau busuk, Nathan. Aku hanyalah seorang pela*ur yang hina." Angel semakin erat memeluk tubuhnya.
"Tidak Mara. Kau bukan pela*ur, kau adalah istriku." Nathan mengulurkan tangannya hendak memeluk Angel, namun Angel mudur menjauh darinya."Menukah-lah denganku secara resmi, kita mulai lembaran baru."
Angel menggelengkan kepalanya. "Tidak Nathan, pernikahan kita tidak akan berhasil. Bawa saja aku kembali ke Gang Senggol, aku pantas berada di sana dan kau akan menemukan wanita lain yang pastinya lebih baik dariku."
“Lebih baik darimu, maksudmu?”
"Ya, wanita lain yang sesuci dirimu."
Nathan kembali mengulurkan tangan untuk meletakkan tangannya di bahunya, tetapi Angel kembali mundur dari Nathan. Sekarang Nathan mengerti, jika Angel dirinya sangat najis sehingga Nathan tidak boleh menyentuhnya. "Apakah kamu pikir aku orang suci?" tanyanya dengan suara serak. " Tidak Mara. Yang kemarin semuanya salahku, seharusnya kemarin aku tidak meninggalkanmu ke hutan, seharusnya aku mengajakmu berburu."
"Nathan, kau tidak salah. Aku sendiri yang ingin pergi, bahkan aku memberi adikmu se*s untuk membayar tumpangan kembali ke Gang senggol. Aku sudah mengkhianatimu."
__ADS_1
Rasa sakit dari kata-kata itu memukulnya dengan keras, tetapi Nathan tidak menyerah, Nathan mengangkat dagu Angel. “Lihat aku, Mara. Aku tidak akan pernah membawamu kembali. Tidak pernah. Kita saling memiliki."
“Kau bodoh, Nathaniel Artado. Orang bodoh yang buta.” Angel menggigil hebat.
Nathan bangkit untuk mengambil selimut kering, ketika ia berbalik, ia menatap wajah Angel yang di oenuhi ketakutan. "Kamu kenapa?" tanyanya mengerutkan kening. "Kamu pikir, aku akan menyakitimu? Mana bisa aku menyakiti orang yang paling aku cintai."
"Nathan kamu menginginkan apa yang tidak aku miliki. Aku tidak bisa mencintaimu, hahkan jika aku mampu mencintaimu, aku tidak akan melakukannya."
Nathan berjongkok, mengambil selimut basah dari tubuh Angel dan menutupinya dengan selimut kering. "Mengapa tidak, Mara?"
“Karena aku menghabiskan delapan tahun pertama hidupku menyaksikan Mama, tersiksa karena mencintai seorang pria." Angel memiringkan dagunya. "Orang yang salah," ucapnya tegas.
Nathan menyelipkan cincin nikah ibundanya kembali di jari manis Angel. "Menikah-lah denganku, Mara." Ia menyentuh pipi Angel dengan lembut dan tersenyum.
Angel menundukkan kepalanya dan menarik tangannya kembali ke bawah lipatan-lipatan selimur. Nathan mencengkeram lengan Angel, ia membuka selimut yang menutup tubuh Angel menelusurkan jemarinya pada setiap goresan yang dibuat Angel di tubuhnya, Nathan merasakan sakit yang sama seperti yang Angel rasakan.
Nathan beranjak untuk mengambil handuk, dengan penuh kesabaran ia mengeringkan rambut Angel. Setelah selesai, Nathan menarik Angel ke pelukannya. "Tubuhmu adalah tubuhku," bisiknya rambut Angel. "Darahmu adalah darahku." Angel memejamkan matanya rapat-rapat, Keinginan Nathan terhadapnya akan berkurang seiring berjalannya waktu. Nathan akan berhenti mencintainya dengan cara yang sama seperti ayahnya berhenti mencintai Mama. Dan jika ia membiarkan dirinya mencintai Nathan seperti Mama mencintai Alex Kenedy, Nathan akan merobek hatinya. Aku tidak ingin seperti Mama yang menghabiskan sisa usianya untuk menangisi pria yang telah pergi.
Nathan merasakan tubuh Angel gemetar. “Kamu sudah menjadi bagian dari diriku, kita akan mulai lagi semuanya dari awal."
"Bagaimana bisa? Semua luka dan dosaku ada di dalam diriku, diukir di atas batu.”
__ADS_1
"Kalau begitu kita akan menggalinya dan menguburnya."
Angel tertawa muram dan tanpa humor. "Kamu harus menguburku."
"Baiklah," ucap Nathan. "Kami akan membaptismu, sekalian meresmikan pernikahan kita." Tidak hanya dengan air tetapi dengan Roh, Nathan mencium rambut Angel dan memeluknya.
Sungguh ironis betapa Angel merasa dekat dengan Nathan sekarang, lebih dekat dari sebelum. Nathan membelai rambutnya ke belakang. “Aku belajar sesuatu. Bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan. Contohnya: Kau dilahirkan dari ayah yang tak mengharapkanmu, di jual ke tempat prostitu*i. Yang bisa kita ubah hanyalah cara kita berpikir dan cara kita hidup ke depan.”
Angel mendesah gemetar. “Dan kau telah memutuskan untuk mempertahankanku bersamamu, untuk sementara.”
“Tidak untuk sementara, tapi selamanya. Aku harap kau mengambil keputusan untuk mau menikah denganku, tinggal di sini bersamaku dan membangun istanah kita bersama." ia membelai wajah Angel dengan lembut.
“Apa pun yang dikatakan orang lain dan yang di lakukan orang lain terhadapmu. Itu diluar kuasaku, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menyerahkan sepenuhnya kepadamu, apakah kamu mau atau tidak mau mempercayaiku."
Angel menatap wajahnya dengan ragu. "Seperti itu?"
"Ya. Seperti itu. Biarkan waktu yang akan menjawabnya."
Nathan membelai pipinya dengan ibu jarinya, lalu ia mencium keningnya. Ia menutup matanya. Tuhan, Tolong aku. Jagalah terus hati dan pikiranku agar aku mencintai dia seperti kau mencintaiku tanpa batas.
Api berderak pelan, dan kehangatan muncul di dalam diri Nathan saat dia menggendong Angel ke tempat tidur. Ia benar-benar berhenti menganggapnya sebagai Angel - pelacur yang ia cintai dan yang mengkhianatinya. Sekarang Nathan melihat Angel sebagai seorang gadis tanpa nama yang pernah rusak dan masih hilang arah.
__ADS_1