The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 09


__ADS_3

Rudi menggandeng tangan Bella menuju tangga, ingin rasanya Bella berlari kembali keluar pintu, tapi dia tak memiliki tenaga yang cukup kuat untuk melakukan itu. Bella menoleh sekilas ke belakang dan melihat wanita berbaju hitam tadi yang kini tengah mengawasinya.


Ruangan d lantai dua terlihat besar dan mewah, meja dan lemari terbuat dari jati, tempat tidur emas, wastafel marmer putih berdiri di sudut, bersama dengan rak handuk kuningan yang dipoles sangat halus sehingga terlihat seperti emas sungguhan. Semua lampu memiliki rumbai permata, dan tirai di jendelanya berwarna merah darah.


“Duduklah di sana dan istirahatlah, Nak,” ucap Rudi sambil menepuk punggung Bella dan menunjuk menuju kursi goyang. Kursi itu sama persis seperti yang biasa Mamanya duduki waktu di kediaman lamanya.


Jantung Bella tiba-tiba mulai berpacu. 'Mungkinkah itu kursi yang ada di rumah? Apakah itu Papa yang menyesal dan mencari Mama dan dirinya selama ini? dan kini Papa telah menemukan di mana dirinya berada dan mengetahu apa yang telah terjadi?' Jantung Bella berdetak lebih cepat seperti ada secercah harapan dan impian yang dibangun dari keputusasaan dan ketakutan memenuhi dirinya.


Rudi berjalan ke meja dekat jendela. "Apakah kamu mau melihat ini?" ia mengelus satu set botol kristal dengan lembut, kemudian mengambil salah satunya dan mengendus cairan yang di dalamnya. “Oh, astaga…” ucapnya sambil mend*sah.


Rudi membawa botol itu ke bibirnya dan memiringkannya, ia meneguk setengah dari apa yang ada di dalamnya, kemudian ia menyeka mulutnya dengan bagian belakang lengan bajunya.


"Ini sungguh nikmat sekali," Rudi mengambil botol yang lainnya dan menuangkan sedikit ke mulutnya yang mulai merasa mabuk, lalu meletakkannya dengan hati-hati botol itu di tempatnya.


Rudi membuka lemari dan melewatinya, sembari memasukkan sesuatu dari dalam lemari ke sakunya. Kemudian ia berjalan ke meja dan melihat yang lainnya juga, ia menyelipkan banyak barang-barang ke dalam sakunya.


Bella mendengar tawa samar. Matanya berat dan dia mengistirahatkan kepalanya di kursi goyang. 'Kapan Papa akan datang?' batinnya. Rudi kembali ke botol kaca dan minum dua botol sekaligus.


Bersamaan dengan itu terdengar suara yang dalam dan rendah. Bella mendongak kaget saat orang itu datang, dan Bella menatapnya. Itu sama sekali bukan papanya. Itu adalah orang asing yang tinggi dan berkulit gelap. Matanya berkilauan, dan Bella pikir dia belum pernah melihat wajah yang sedingin itu, ia berpakaian lengkap hitam dan mengenakan topi mengkilap.


Rudi menaruh botol bir kembali ke meja. "Sudah lama tidak minum bir seenak ini," ucapnya.

__ADS_1


Bella memperhatikan bagaimana wajah Rudi memucat saat pria itu menatapnya dengan mata tajam. Rudi berdeham dan bergeser, ia tampak gugup. Pria itu melepas topinya dan meletakkannya di atas meja. Lalu dia melepas sarung tangan dan menjatuhkannya.


Bella begitu terpesona oleh pria itu hingg ia tidak menyadari jika ada pria lain yang berdiri tepat di belakangnya. Bella berkedip karena terkejut. Itu adalah pria yang yang datang ke gubugnya.


Pria kedua sedang memperhatikan Rudi, dan matanya mengingatkannya pada tikus-tikus di gang belakang gubuk. Dia beralih tersenyum tipis kepada Bella, tapi entah mengapa senyum itu tidak membuatnya merasa lebih baik, dan justru membuat Bella menggigil.


"Siapa Namanya?" Pria itu bertanya tanpa mengalihkan pandangan darinya.


"Saya tidak tahu." Jawab Rudi sembari tertawa gelisah, bingung, dan yang pasti dia mabuk.


"Apa ibunya memanggilnya?" tanya pria itu kemabali dengan datar.


Pria itu mengamati Bella dengan cermat. Bella nampak takut, sangat takut dia tidak bisa bergerak ketika pria itu berjalan ke arahnya. Pria itu tersenyum sembari mengambil segepok uang dari saku celananya, dia menghitung beberapa lembar dan menyerahkannya kepada Rudi tanpa melihat ke arahnya.


Rudi mengambilnya dengan penuh semangat, menghitungnya lagi sebelum dia memasukkannya sakunya. "Terima kasih Tuan. Astaga, saat ada seseorang yang memberitahuku jika kau mencari anak perempuan. Betapa beruntungnya anak itu." Rudi mengoceh.


Bella menggigil lagi, kepanikan kembali muncul di dalam dirinya ketika ia melihat kedua pria itu saling memberikan kode halus, saat Rudi terus mengoceh dan menyanjung dua pria yang berada di hadapannya


Teriakan merobek tenggorokan Bella, tetapi tidak keluar. Tidak bisa. Suaranya membeku ketakutan. Bella menyaksikan dengan ngeri saat Rudi terus berbicara, dia tidak berhenti sampai tali hitam melingkari lehernya, kemudian tersedak, dia meronta mencoba melepaskan tali itu.


Bella melompat dari kursinya dan berlari ke pintu. Dia memutar dan menarik di kenop pintu, mencoba melarikan diri, tetapi pintu tidak mau terbuka. Dia mendengar Rudi tercekik, kakinya menendang dan meronta.

__ADS_1


Satu tangan yang gempal membekap mulut Bella dan menariknya menjauh dari pintu. Bella menendang, menggigit, dan melawan, namun tak ada reaks tubuh pria itu terbuat dari batu.


Rudi terdiam, ia sudah tidak lagi meronta, dan kemungkinan Rudi sudahntidak bernapas.


"Bawa dia keluar dari sini," ucap pria yang menggendongnya, dan Bella melihat sekilas, tali hitam masih di leher Rudi, wajahnya sangat pucat. Pria yang datang ke gubuk melepaskan kabelnya dan menyelipkannya kembali ke sakunya. Ia menarik Rudi, dia menyampirkannya di atas bahunya. "Semua orang akan mengira dia mabuk."


“Sebelum kau membuangnya ke sungai, periksa sakunya dan bawa kembali apa pun yang dia curi dariku, ”ucap suara dingin itu.


"Baik pak."


Bella mendengar pintu terbuka dan tertutup. Ketika pria itu melepaskannya, dia berlari ke sudut terjauh dari ruangan itu dan meringkuk di sana.


Pria itu menghampiri Bella dan berjongkok, memegang dagunya. "Kau sangat cantik, ku rasa, si pemabuk itu bukan ayahmu, kaunsama sekali tidak mirip dengannya."


Jantung Bella berdebar hingga seluruh tubuhnya bergetar, pria itu memegang wajahnya sehingga Bella tidak bisa memalingkan muka. “Selama kamu melakukannya dengan tepat apa yang saya perintahkan kau akan baik-baik saja.” Pria itu tersenyum tipis dan membelai pipi Bella.


"Siapa namamu?" tanyanya.


Bella tidak bisa menjawab. Pria itu mengelus rambut Bella, kemudian turun ke lengannya. “Bailkah, utu tidak masalah bagiku. Aku akan memanggilmu Angel," ia meraih tangan Bella. "Ayo sekarang, Angel. Aku punya banyak hal untuk diajarkan kepadamu.” ia mengangkat tubuh Bella dan mendudukkannya di tempat tidur besar.


"Kamu bisa memanggilku Tuan, saat lidahmu sudah kembali." ia melepas mantel hitamnya, kemudian perlahan mulai membuka dasi dan kancing bajunya.

__ADS_1


__ADS_2