
Nathan beranjak dari tempat duduknya, sembari menyeka air matanya, ia keluar dari kandang kuda dan berjalan perlahan kembali ke rumahnya. Apa yang akan terjadi dengan pernikahan yang dikotori oleh pengkhianatan seksual? Sejak awal Angel tidak pernah mencintaiku. Mengapa aku harus mengharapkan kesetiaan darinya? Dia tidak pernah mau mengucapkan janji pernikahan di Gereja. Dia tidak pernah mengatakan sepatah kata pun tentang penyesalan, Tuhan. Tidak satu kata dalam tiga puluh mil perjalanan pulang dari Gang Senggol hingga ke rumah.
Aku seharusnya meninggalkannya di gang senggol, tapimaku tidak bisa. Dia adalah istriku. Tapi aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkannya. Bayangan akan Angel berada di tempat tidur dengan pria lain terpatri dalam benaknya. Dia tidak bisa mengeluarkannya dari kepalanya. Aku mencintainya, Tuhan. Tapi dia melakukan ini padaku. Ajari aku bagaimana cara memaafkan orang yang bahkan orang tersebut tidak peduli denganku? Yang dia pedulikan hanya-lah kebebasan tanpa adanya diriku.
Sesampainya di rumah, Nathan melihat kediamannya rapih. Api perapian yang hangat menyala, meja yang di penuhi oleh makanan, baju serta barang-barang lainnya tertata sempurna dan bersih. Hanya satu yangntidak ada, Angel menghilang.
Nathan bersumpah untuk pertama kalinya. “Biarkan dia pergi! Aku tidak peduli. Aku muak memperjuangkannya.” ia menendang pot yang berada di teras rumahnya.
“Berapa kali lagi aku harus mengejarnya dan membawanya kembali?” ia duduk sebentar di kursi, tetapi amarahnya terus meningkat, ia sudah tidak tahan lagi dan akhirnya bangkit mencari Angel.
Nathan membanting pintu keluar dari kediamananya, ia berdiri di luar dengam lengan yang terangkat sembari bertanya-tanya ke arah mana Angel kabur kali ini.
Pandangannnya bergrilya mencari petunjuk dan dengan sedikit terkejut, ia melihat Angel berdiri telanjang di sungai. Nathan bergegas menghampirinya. "Apa yang sedang kamu lakukan? Jika kamu ingin mandi, mengapa kamu tidak membawa air ke rumah dan menghangatkannya?”
Angel memunggungi, berusaha menyembunyikan sesuatu dari Nathan. "Pergilah."
Nathan melepas jaketnya. “Ayo keluar dari sungai. Kau akan terkena radang paru-paru mandi di tengah cuaca seperti ini di sungai. Jika kamu sangat ingin mandi, aku akan membawa airnya."
"Pergilah!" jeritnya, berlutut dan membungkuk.
"Jangan bodoh, Mara!" Nathan mengarungi dan menangkapnya. Saat Nathan hendak menariknya ke tepi, ia melihat tangan, payuda*a dan perut Angel dimpenuhi luka. "Apa yang kamu lakukan pada dirimu sendiri?"
__ADS_1
“Aku harus mencucinya, aku terlalu kotor....”
"Sudah cukup Mara!" Nathan mencoba untuk menariknya keluar dari sungai, namun Angel meronta. “Aku belum bersih, Nathan. Pergi saja dan tinggalkan aku sendiri.”
Nathan mencengkeramnya lengan Angel dengan kuat. “Apakah kamu pikir dengan cara ini tubuhmu bersih? Kau hanya melukai tubuhmu sendiri bukan membersihkannya.” ia merangkum wajah Angel dengan lembut. "Tidak sepertinini sayang, kembali-lah masuk bersamaku."
Di balik rambutnya yang basah dan kusut ia mengangguk, ia membiarkan Nathan menggendongnya menuju rumah. Setibanya di rumah Nathan langsung menyelimuti Angel dengan selimut hangat. "Akan kubuatkan teh hangat untukmu."
Sementara Nathan membuatkan teh hangat untuknya, Angel duduk di depan perapian. "Minum-lah," Nathan kembali dengan dua teh hangat ditangannya.
"Jangan kamu ulangi lagi yang tadi, itu sangat berbahaya. Kau bisa terbawa arus atau terkena radang paru karena udara dingin."
"Tidak," ucap Angel pelan.
"Nathan seharusnya kamu tidak menjemputku," ucapnya datar. “Sejak awal seharusnya kamu tidak pernah mendekatiku.”
"Itu benar. Itu semua salahku." Mungkin Mara benar, hati Nathan begitu sakit, ia mengepalkan tangannya.
"Lebih jauh lagi, seharusnya aku tidak pernah dilahirkan." Angel tertawa terbahak-bahak dengan tatapan kosong.
"Bicara apa kau ini? Buka matamu lebar-lebar, Mara. Lihat apa yang ada di hadapanmu!!" seburuk apa pun kehidupan yang menimpa Nathan tak suka melihat seseorang yang membenci atau menyesalai hidupnya sendiri.
__ADS_1
"Mataku terbuka sepanjang hidupku. Aku pernah dengar ayahku sendiri yang mengatakan bahwa seharusnya aku diaborsi sejak dalam kandungan.” Suaranya pecah untuk sesaat, kemudian ia kembali mengontrol emosinya dan melanjutkannya lebih tenang. “Bagaimana bisa pria sepertimu memahami ini?" ia berdiri. "Ayahku sudah menikah, dia sudah punya cukup banyak anak. Suatu hari Ayah bertemu Mama, dan mengatakan bahwa dia hanya ingin bercinta dengan Mama, tapi kemudian Mama hamil. Ayah mengusirnya dan tidak menginginkannya lagi. Semua itu karena aku. Ayah berhenti mencintai Mama karena aku."
Angel terus berbicara dengan suara yang tenang, tapi terasa menusuk. “Orang tua Mama baik, mereka hidup di lingkungan yang terpandang. Tapi mereka tidak bisa lagi menerima mama, terlebih menerimaku." Selimutnya terbuka, dan Nathan menatap bekas kemerahan di kulitnya. Ada garis-garis merah di mana dia telah merobek kulitnya sendiri.
Yesus, kenapa kau melakukan ini padaku? Lebih mudah mundur ke dalam kemarahan daripada melihat ke dalam jiwanya yang terluka.
"Kita berakhir di dermaga," ucap Angel, tanpa emosi. “Mama menjadi seorang pelacur. Ketika para pelanggannya pergi, Mama akan minum sendiri sampai dia tertidur. Sementara Rudi pergi keluar, di minum dengan menggunakan uang Mama. Mama tidak terlalu cantik lagi, Mama meninggal ketika aku berumur delapan tahun.”
Angel menatap Nathan dengan senyuman getir."Jadi kamu lihat sendiri, apa yang aku katakan itu benar. Seharusnya aku tidak dilahirkan, kelahiranku adalah sebuah kesalahan."
Nathan duduk dengan air mata yang menetes di wajahnya, air mata ini bukan untuk dirinya sendiri melainkan Angel. “Lalu apa yang terjadi padamu?”
Angel menundukkan kepalanya dan mengatupkan kedua tangannya erat-erat. Keheningan yang panjang dan berat sebelum akhirnya Angel berbicara dengan sangat pelan. “Rudi menjualku ke rumah bordil. Tuan menyukai gadis kecil.”
Nathan menutup matanya, ia tidak mau memikirkan seorang anak berzin*h dengan pria dewas.
“Itu baru awalnya saja,” ucap Angel dengan murung.
Nathan menundukkan kepalanya, tidak bisa memandang Angel. “Kamu bahkan tidak bisa membayangkan apa yang terjadi dari sana, semua hal yang mereka lakukan kepadaku."
Nathan menatap Angel dengan deraian air matanya. “Kamu pikir kamu yang harus disalahkan atas semua ini?”
__ADS_1
"Siapa lagi? Mama? Dia mencintai ayahku. Dia mencintaiku. Dia mencintai Tuhan. Bagaimana aku bisa menyalahkan Mama? Haruskah saya menyalahkan Rudi? Dia hanyalah seorang pemabuk yang malang dan bodoh yang mengira dia telah melakukan yang terbaik untukku, dia mengira jika dia menjualku untuk mereka adopsi, tapi kenyataannya tidak. Mereka justru membunuhnya tepat di depan mataku sendiri."
Nathan menggelengkan kepalanya, ia tidak harus melakukan apa "Kau tidak bisa menyalahkan dirimu sendiri, Mara."