
Rumah bordil telah hancur. Angel berdiri menggigil di tengah hujan yang turun, banjir sampai ke mata kakinya, dan menatap puing-puing menghitam dari apa yang tersisa. Ia melihat sekeliling dan terlihat jalanan sepi.
Beberapa bangunan setengah roboh dan sudah dimuat di mobil pengangkut sampah. Apa yang terjadi? Di seberang jalan masih ada sebuah salon yang buka, ia ingat pemiliknya bernama, Murphy.
Angel menghampiri salon tersebut untik mencari tahu, saat Angel memasuki pintu ayun, beberapa pria yang ada di dalam berhenti bicara dan menatapnya. Ia melihat Murphy ada di bar. “Bukankah kamu Angel?" Dia menyeringai lebar. “Aku hampir tidak mengenalimu karena pakaian lawas itu. Maks! berikan wanita itu selimut. Dia basah dan setengah beku. Hai, Tuan-tuan, lihat siapa yang kembali! Nona kecil. Dari mana saja kamu, sayang? Kabarnya kau sudah menikah dengan seorang petani.” Ia tertawa seolah-olah itu adalah lelucon besar.
Ingin rasanya, Angel menyuruhnya tutup mulut. “Apa yang terjadi dengan rumah bordil?” tanya Angel pelan, ia berusaha meredam getaran di dalam dirinya.
"Terbakar."
“Ya, aku tahu. Aku bisa melihatnya. Kapan?"
“Beberapa minggu yang lalu. Tanpa rumah bordil itu gang senggol akan menjadi batu yang dingin lalu mati. Aku harus mengatur strategi, agar tidak bangkrut sepperti yang lainnya."
Angel mencoba menahan ketidaksabarannya dan membangkitkan harapannya yang memudar. "Dimana Madam?"
"Mandam? Oh, dia pergi, tepat setelah kejadian kebakaran itu. Dia ke Malang, Surabaya. Aku tidak tau tepatnya di mana."
Hati Angel tenggelam saat semua rencananya hancur. Max memberinya selimut, dan ia langsung membungkus tubuhnya dengan selimut itu untuk menangkal hawa dingin yang semakin meningkat.
Murphy terus berbicara. “Dia tidak punya budak untuk diludahi setelah Morgan terbakar tempat di sekelilingnya. Api juga membunuh dua gadisnya.”
Angel menatap tajam. "Gadis yang mana?"
__ADS_1
“Ling-ling, bunga kecil itu. Aku akan merindukannya.”
"Siapa gadis yang satunya?"
“Yang suka mabuk. Siapa namanya? Aku tidak ingat. Pokoknya dua-duanya terjebak di lantai atas ketika kobaran api mulai membesar. Tidak ada yang bisa mengeluarkan mereka. Kita semua bisa mendengar mereka berteriak. Mereka membuatku mimpi buruk selama berhari-hari setelahnya.”
Lucy, apa yang akan aku lakukan tanpamu?
"Sebetulnya Morgan-lah yang telah membakar rumah bordil itu, dia sempat kabur," ucap Murphy. “Namun kami berhasil menangkapnya, dan mebawanya kembali. Kami langsung mengikat dan menggantungnya seperti bendera. Butuh waktu lama untuk dia mati dalam kobaran api yang menyala."
Angel meninggalkan bar dan duduk di meja, ia perlu sendirian untuk dapat mengendalikan emosinya. Tak lama kemudian Murphy datang dengan membawa botol dan dua gelas. Ia duduk dan menuangkan wiski. "Kau meremehkan keberuntunganmu, sayang." Ia menuangkan ke gelas yang lain minum untuk Angel. "Kau tidak perlu khawatirkan, Angel. Aku punya kamar cadangan di lantai atas.” Ia melirik ke arah para pria. “Kamu bisa kembali berbisnis hari ini juga," ia membungkuk lebih dekat. “Yang harus kita kerjakan hanyalah kesepakatan. Bagaimana dengan enam puluh untukku, empat puluh untukmu? Kamu akan mendapatkan kamar, makanan, pakaian, apa pun yang kamu inginkan. Aku akan menjagamu dengan baik.”
Tubuh Angel mulai bergetar lagi, ia menangkupkan gelas wiski tangannya dan menatap muram ke dalam cairan kuning itu. Semua rencananya hilang, sekarang ia tidak punya uang, tidak punya pakaian selain yang ada di tubuhnya, tidak ada makanan, dan tidak ada tempat tinggal.Tidak akan pernah ada kediaman Nathan yang hangat.
Angel menatap Murphy dan tersenyum pahit, pria itu tahu jika Angel tidak bisa mengatakan tidak. "Aku tidak akan pernah bebas dari jerat prostot*si."
"Jadi apa kau setuju?"
Angel menggerakkan jarinya bolak-balik di lengannya. "Lima puluh lima puluh, jika kau tidak setuju, kita tidak akan berbisnis."
Murphy bersandar dengan alisnya yang terangkat, ia mencoba berhiting untuk waktu yang lama, lalu ia tertawa dan mnenggak wiskinya. Murphy mengangguk. "Cukup adil." ia setuju dengan penawaran Angel.
Murphy tersenyum. "Bekerja sekarang, Sayang." Ia berdiri. “Hei, Maks! siapkan kamar untuk Angel, dia akan segera bekerja di sini.”
__ADS_1
"Dia akan bekerja di sini?" ucap seorang dengan gembira. Murphy menyeringai. "Dia akan bekerja di sini."
“Aku yang berikutnya! Berapa harganya?" tanya yang lain.
Murphy menyebut harga tinggi. Angel meminum segelas wiski. Dengan gemetar, dia berdiri dan berjalan ke kamar barunya. Tidak ada yang akan berubah, jantungnya berdetak lebih lambat dan lebih lambat saat ia menaiki tangga. Pada saat dia mencapai puncak, ia tidak bisa merasakan jantungnya berdetak sama sekali. Angel tidak bisa merasakan apa-apa.
Seharusnya aku tetap bersama Nathan. Mengapa aku tidak tinggal bersama Nathan? Tapi pernikahan itu tidak akan pernah berhasil, Angel. Tidak ada pernikahan yang berhasil, semuanya hanya sementara waktu. Dunia tidak memiliki belas kasih, Angel. Kau tahu bahwa bahwa pernikahan hanya-lah mimpi. Kamu sudah pergi darinya, sekarang kamu kembali ke tempat asalmu berada, melakukan apa yang kamu lakukan sejak lahir untuk dilakukan. Semuanya sudah terlambat untuk memikirkan seandainya saja..... Semuanya sudah terlambat untuk memikirkan alasannya.... Semuanya sudah terlambat untuk memikirkan apa pun.
...****************...
Setelah melayani pelanggan pertamanya, Angel bangkit dari tempat tidur, ia meniup lilin dan duduk di sudut yang gelap. Ia memeluk lututnya di dadanya dan mengayunkan dirinya sendiri. Rasa sakit yang dimulai ketika Paul muncul di perkebunan, menghina dirinya dan memakannya.
Angel memejamkan matanya rapat-rapat, ia tidak bersuara, tapi ruangan itu dipenuhi dengan teriakan dalam diam. Kini Angel milik Murphy, bukan lagi Morgan.
Kamarnya yang kini lebih kecil dan pakaiannya kurang mewah, namun makanan yang ia peroleh sangat melimpah. Angel duduk di tempat tidur, menyilangkan kaki dan berayun-ayun, dan mulai menanggalkan pakaian. Rambutnya masih basah disisir ke belakang, dan ia wangi sabun yang keras.
Pintu terbuka, dan seseorang menarik pemuda itu pergi. Angel menarik napas tajam saat dia mengenali wajah pria yang di tarik itu. "Nathan!"
“Nathan…”
Nathan itu tersungkur di lantai, tapi ia langsung berdiri. Ia memukul pria yang menariknya dan mendorongnya hingga membentur ke dinding. Nathan mengangkat tubuh pria itu, ia memukulnya lagi dan melemparnya hingga ke dinding luar.
Nathan menyambar barang-barang yang ada di sekitarnya, ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan mengancam siapa pun yang berani mendekat ke arahnya. Nathan berbalik. Angel sangat lega saat melihat Nathan, ia ingin jatuh di kakinya. "Cepat pakai baju!" perintah Nathan.
__ADS_1
Angel langsung bergerak, mengenakan pakaiannya. Belum selesai Angel mengenakan pakaiannya, bahkan ia belum mengenakan sepatu namun Nathan sudah menariknya pergi. "Ayo pergi sekarang!"