The Sincerity Of Love

The Sincerity Of Love
Chapter 15


__ADS_3

Nathan memang kembali, pada malam berikutnya dan berikutnya. Dan setiap kali Angel melihat pria itu, keresahan mulai tumbuh dalam benaknya. Baginya harapan adalah sebiah mimpi buruk.


Angel tidak akan tertipu oleh kata-kata dan janji lagi, tidak akan membiarkan seorang pria meyakinkannya bahwa ada sesuatu yang lebih baik dari apa yang dia miliki saat ini. Namun, Angel tidak bisa menghilangkan ketegangan yang meningkat setiap kali ia membuka pintu dan menemukan Nathan berdiri di luar kamarnya.


Nathan tidak pernah menyentuhnya, pria itu baru saja melukis gambar kata kebebasan yang membangkitkan kesedihan, yang pernah ia rasakan sebagai seorang anak. Kesedihan itu tidak pernah hilang, meskipun ia mencoba melarikan diri untuk menemukan secercah kebahagiaan, namun justru bencana yang menimpanya.


Terakhir kali, ia mencoba berusaha untuk lari dari Tuannya. Tuannya justru mendaratkannya di sini, di tempat busuk dan bau ini.


Yah, akhirnya Angel belajar bahwa tidak ada yang lebih baik. Semuanya hanya berubah dari buruk menjadi lebih buruk lagi. Jadi, lebih bijaksana untuk menyesuaikan dan menerima dan bertahan.


Mengapa pria ini tidak bisa memahami bahwa ia tidak pergi ke mana pun, baik itu dengannya atau orang lain? Kenapa dia tidak menyerah dan meninggalkannya? Dia terus kembali lagi dan lagi, itu membuat Angel menjadi gila.


Nathan tidak mulus dan menawan seperti Jordy, Dia juga tidak menggunakan kekuasaannya seperti Tuannya. Dia tidak seperti seratus pria lainnya yang membayar untuk menggunakan tubuhnya. Faktanya, dia tidak seperti siapa pun pernah Angel kenal, dan itu yang paling tidak Angel sukai.


Begitu Nathan pergi dari kamarnya, Angel selalu mencoba menyingkirkan Nathan dari pikirannya, tapi rasanya seperti ada sesuatu tentang Nathan menggerogoti dirinya. Hingga Angel harus memaksakan diri untuk memikirkan hal lain. Ketika Angel berhasil menyingkirkan sejenak tentang Nathan, entah mengapa ada hal lain yang mencoba membangunkannya lagi. "Siapa pria yang bersamamu tadi malam?" tanya Rebecca saat makan malam.


Angel menahan kekesalannya dan mengolesi rotinya dengan mentega. "Yang mana?" tanyanya sembari melirik ke arah si rambut merah.


“Yang besar dan tampan, yang setiap malam berhasil memenagkan undian?"


Angel menggigit rotinya, ia ingin menikmati santapan roti gandum dan ayam bakarnya dengan damai dan tidak ditanyai tentang siapa yang keluar dan masuk dari kamarnya. "Siapa yang peduli seperti apa rupa mereka?" ucapnya setelah beberapa saat. " Mereka semua terlihat sama."


"Bemarkah, Angel?" ucap Rebecca tidak sabar. “Bukannya kamu peduli dengan pria yang bersamamu tadi malam, yang terakhir keluar dari pintumu. Aku melihatnya di lorong saat aku naik ke atas. Rambutnya gelap, mata coklat yang indah, bahu lebarnya, dan dia berotot serta berjalan seperti seorang tentara. Ketika dia tersenyum, aku merasakan getaraannya sampai ke jari kakiku.


Lucyana menenggak botol anggur merahnya. “Jika si cebol yang tersenyum padamu, apakah kamu akan merasakan getaran hingga ke jari kakimu?"


“Minumlah anggurmu, Lucy. Aku tidak berbicara denganmu, "ucap Rebecca ketus, ia kembali menoleh ke arah Angel. “Kamu tidak bisa berpura-pura tidak tahu yang aku maksud? Jadi katakanlah siapa pria tampan itu?" desaknya.


Angel memelototinya. “Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya ingin menikmati makananku dengan tenang," jawabnya kesal.


Ria tertawa. "Dia ingin menyimpan pria itu untuk dirinya sendiri." dia berkomentar dengan logat jawanya yang kental.


“Mungkin Angel akhirnya bertemu pria yang disukainya.” Yang lainnya tertawa.

__ADS_1


“Mungkin dia tidak mau diganggu, seperti katanya,” ucap Lucyana.


Rebecca menghela napas. “Angel, kasihanilah aku sedikit. Aku memiliki satu anak laki-laki, aku butuh seorang pria yang bisa merubah nasibku."


Ria mendorong piringnya menjauh. “Jika seseorang seperti dia datang ke kamarku, aku akan menguncinya dan menahannya di sana.”


Angel menuangkan segelas susu untuk dirinya sendiri dan berharap mereka semua akan meninggalkannya sendiri atau setidaknya diam dan tidak membahas Nathan lagi.


"Itu gelas kedua yang kamu minum," ucap Rere pada Angel. “Madam bilang masing-masing dari kita hanya dapat jatah satu gelas, karena harganya sangat mahal, tapi kamu malah mengambil dua gelas!”


Lucyana menyeringai. “Aku sudah bicara dengan Madam, sebelum makan malam. Angel bisa mendapatkan bagian susuku, jika aku bisa mendapatkan bagian anggurnya."


"Itu tidak adil!" rengek Rere. “Aku juga suka susu sama seperti Angel! Dia selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.”


Lucyana menyeringai. “Jika kamu mendapatkan segelas susu lagi, berat badanmu akan bertambah, dan kamu akan seperti sapi gelonggongan."


Saat mereka mulai bertengkar, Angel ingin berteriak dan meninggalkan meja. Kepalanya berdenyut, seperti di tusuk oleh jarum. Namun sepertinya Rebecca belum menyerah untuk bertanya tentang Nathan. “Dia pasti seorang pengusaha besar hingga dia bisa ke kamarmu tiga kali malam berturut-turut. Siapa namanya? Jangan berpura-pura tidak peduli.”


Yang Angel inginkan hanyalah dibiarkan sendiri. “Dia bukan seorang pengusah. Dia seorang petani.”


“Dia bilang dia petani. Tapi tidak menutup kemungkinan jika dia punya pekerjaan lainnya."


"Jadi siapa namanya?" tanya Rebecca lagi.


"Aku tidak ingat."


"Oh, ya?" Rebecca marah sekarang.


Angbel melempar serbetnya ke bawah. "Aku tidak menanyakan namanya, aku tidak peduli siapa orang-orang yang datang ke kamarku. Tugasku hanya memberikan apa yang mereka inginkan, dan setelah itu mereka pergi."


“Lalu mengapa dia terus kembali?”


"Aku tidak tahu dan aku tidak peduli."

__ADS_1


Lucyana menuangkan segelas anggur lagi. “Rebecca, sepertinya kamu cemburu dia tidak datang ke kamarmu.”


Rebecca memelototinya. “Kenapa kamu tidak menutup mulutmu? Terus saja minum agar madam melemparmu ke belakang."


Lucyana tertawa. "Itu ide yang cukup bagus, aku pun lelah bekerja."


“Sombong sekali. Kalau bukan karena kita penuh dengan pelanggan, tidak ada pria yang mau mendekati pintumu,"Ria mencibir.


Lucyana bersiap untuk berperang. “Mari kita selesaikan di luar!!"


Angel tak menghiraukan baku hantam yang terjadi, ia justru lega ditinggal sendiri. Tapi sekarang, Nathan kembali bersarang di pikirannya.


Melati duduk di sebelah Angel dan dia tidak mengatakan apa-apa selama obrolan tadi, tapi sekarang dia menatap Angel sambil mengaduk kopi hitamnya. “Jadi, seperti apa pria itu, Angel? Apa dia pintar?”


Angel memberinya tatapan gelap. "Undang dia masuk dan cari tahu sendiri."


Melati mengangkat alis dan bersandar sambil tersenyum. "Benarkah? Apa kamu tidak keberatan?"


"Kenapa aku harus keberatan?"


"Tidak bisa begitu, aku melihatnya lebih dulu!" protes Rebecca.


Lucyana kembali dan tertawa. “Kamu harus berhasil menjatuhkannya dan meminta seseorang untuk menyeret dia ke kamarmu.”


“Jangan lakukan itu, madam pasti akan marah," sahut Rere. “Kamu tahu mengapa para pria membayar lebih untuk Angel?”


"Jelas saja, Angel terlihat lebih cantik darimu," Lucyana berkokok.


Rere melemparkan garpu ke arahnya, dan Lucyana berhasil menghindarinya dengan mudah.


“Tolong diam, Lucy,” ucap Angel saat Morgan masuk dan bergabung dengan mereka.


“Jadi, apa kamu benar-benar tak peduli dengan Nathan? Kalau kau tidak peduli, tidak masalah dong jika aku mengundangnya masuk ke kamarku saat aku tidak ada pelanggan,” ucap Rebecca.

__ADS_1


"Kamu bisa mengundangnya dengan izin dariku," ucap Angel, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.


__ADS_2