
TIGA hari sudah Jhon dan Elizabeth tak kembali ke perkebunan, mereka mengabarkan jika Elizabeth harus di rawat di rumah sakit hingga kondisinya membaik.
Angel semakin risau melihat Nathan semakin dekat dengan Lea dan Mariam. "Apa kau cemburu melihat mereka?" bisik Paul, secara mengejutkan tiba-tiba saja dia sudah berada di belakang Angel, padahal sebelumnya Angel melihat sedang mengaduk semen dan pasir di pagar perkebunan.
Angel terperanjat melihat wajah Paul di hadapannya. "Mau apa kau kemari?"
Pual tersenyum sinis pada Angel. "Aku memang tidak mengenal mereka, tapi aku tahu mereka tinggal di desa seberang dan yang pasti Mariam tidak pernah bekerja di rumah bordir. Seorang janda masih jauh lebih terhormat di banding dengan merpati kotor sepertimu dan sepertinya aku lebih senang jika memiliki kakak ipar seorang janda ketimbang mantan P*K." Paul puas menertawai Angel sembari berjalan meninggalkannya.
Angel membuang sekopnya dengan kasar. "Brengsek!!!" ia berlari ke gudang, membenamkan kepalanya di bantal, rasa marah dan cemburu menguasai dirinya. Ia menangis hingga hingga napasnya sesak dan air mata membasih batalnya.
Sayangnya Nathan tak mengetahui jika istrinya tengah bersedih, ia terlalu sibuk di kebun, mengurus stroberi-stroberinya dan mengawasi perkembangan pembangunan perkebunannya. Ia baru kembali setelah air mata Angel kering, namun ia bisa melihat mata sembab istrinya. "Apa yang terjadi sayang?" Nathan mengelus pipi Angel dengan lembut.
"Oh maaf. Aku lupa, aku belum mencuci tangan setelah tadi mengurus stroberi." Nathan langsung menarik tangannya menjauh dari pipi Angel. "Aku akan mencuci tangan dulu sebelum menyentuhmu."
"Kau tidak perlu mencuci tangamu, toh aku hanya wanita kotor."
__ADS_1
Nathan menatap istrinya dengan heran. "Ada apa sayang?" ia sama sekali tak mengerti dengan apa yang Angel maksud.
"Tidak ada." Angel menyesal menghabiskan separuh harinya untuk menangis, seharusnya ia menyelesaikan pekerjaannya, membuat makan malam untuk Nathan. Angel bergegas menuju dapur, ia terkejut saat melihat meja makan sudah tersaji makanan yang di buat oleh Mariam.
"Bukankah sudahku katakan bahwa kau tidak perlu memasak, biar aku saja yang memasak," Angel bicara sewajar mungkin agar Mariam tak menangkap kemarahan dalam kalimat yang ia ucapkan.
"Maaf," Mariam memasang wajah rasa bersalahnya. "Tadi siang aku melihatmu masuk ke gudang dan tidak keluar lagi hingga sore, aku pikir kau lelah, jadi aku berinisiatif untuk masak."
"Sudahlah Mara, lagi pula kasihan Lea jika telat makan. Dia pasti sudah lapar." Nathan merangkul pundak istrinya dan mengajaknya makan bersama.
Angel sama sekali tak berselera makan, terlebih menyaksikan Mariam beramah-tamah dengan suaminya. "Tadi aku sempat memerah susu, dan mengolahnya menjadi puding, apa kalian mau mencobanya? Lea suka sekali dengan puding susu." ia beranjak ke dapur dan kembali dengan semangkuk puding susu buatannya.
Angrl menatap Nathan dengan tatapan tajam, ia tak dapat lagi menyembunyikan rasa marahnya, namun lidahnya kelu untuk mengatakan bahwa dia tidak suka dengan Mariam dan Lea yang perlahan mulai mengambil seluruh perhatian Nathan darinya.
"Apa yang mengganggu pikiranmu, sayang? Katakanlah?"
__ADS_1
Angel menggelengkan kepalanya. "Tidak ada aku hanya lelah."
Paul benar, seorang janda lebih terhormat dari pada merpati kotor sepertinya. Tidak sepatutnya ia marah pada Nathan, Mariam dan juga Lea. Seharusnya ia berterima kasih pada mariam jika dia berhasil merebut hati Nathan, dan justru akan lebih baik jika Nathan bisa jatuh hati pada Mariam, karena dengan begitu Nathan akan melepaskannya dan ia akan dengan mudah lepas dari Nathan, ia akan BEBAS.
Nathan berhak mendapatkan wanita yang bisa memberikannya cinta dan anak, yang tak bisa ia berikan. Nathan memang lebih pantas mendapatkan wanita terhormat, bukan merpati kitor sepertinya.
"Kamu yakin tidak ada apa-apa?" Nathan melihat Angel sudah lebih tenang, ia mengajak Angel kembali ke rumah dan meneruskan makan malam mereka.
Harusnya aku memang berteman dengan Mariam, untuk mempermudah dia mendekati Nathan, pikir Angel. "Mariam, biar aku saja yang mencuci piring, lebih baik kau menemani Lea belajar bersama Nathan."
"Apa kau tidak keberatan?"
Angel menggeleng. "Tidak, Lea membutuhkanmu untuk membimbingnya belajar."
"Baiklah kalau begitu, aku ke sana dulu."
__ADS_1
Dari tempat cuci piring Angel mengamati kedekatan mereka bertiga yang layaknya seperti keluarga sungguhan yang sempurna, ia dapat merasakan betapa bahagianya Nathan ketika Lea dapat menggambar apa yang dia contohkan.
Ini saatnya untuk membalas semua kebaikanmu padaku, Nathan. Dengan membiarkanmu bahagia bersama wanita yang bisa memberimu kebahagiaan secara utuh.