The Valkyrie

The Valkyrie
LEGENDA VALKYRIE


__ADS_3

Ruangan yang penuh dengan kursi-kursi kebesaran yang disusun melingkari meja besar itu terasa penuh. Beberapa pelayan mondar-mandir meletakkan jamuan di hadapan para dewa-dewi.


Ini adalah pertemuan rutin dewa-dewi tiap 100 tahun sekali.


"Sudah berapa tahun lamanya?"


Seorang pria berbalut pakaian dewa bertanya pada teman-temannya. Pria itu menyesap anggur miliknya sembari matanya menatap lekat pada semua orang di ruangan itu.


"Entahlah, Zeus. Kita sudah hidup terlalu lama, aku tak menghitung tahunnya," jawab pria lainnya.


"Athena?" Pria yang dipanggil Zeus itu menoleh pada wanita cantik di sebelah kanannya.


"Jika aku tidak salah, 700 tahun lamanya," jawab Athena datar.


Zeus mengusap dagunya. "Itu artinya, sebentar lagi Yang Mulia Valkyrie harus dibangkitkan. Poseidon, ada kabar dari laut tentang kandidat kali ini?" katanya.


Poseidon yang sedari tadi menyimak mengendikkan bahu. "Sayangnya dari laut tidak ada," jawabnya, "Mungkin jika kau tanya Hades, dunia bawah memiliki banyak kandidat seperti sebelumnya."


Hades yang mengunyah apelnya menjawab, "Tidak, kali ini hanya satu yang memenuhi syaratnya. Tapi aku belum yakin dengan gadis itu. Temperamennya tak masuk akal."


"Daripada itu, bukankah pergerakan kaum Sylph belakangan ini mencurigakan?" Wanita cantik bernama Hera di sebelah kiri Zeus menambahkan.


"Aku setuju," timpal pria dengan baju perangnya, "Tapi bukan mereka saja. Kaum Dryad, Nereid, Neiad, juga Oread sudah memulai pergerakan."


Athena mendengus pelan. "Bukankah itu bagus, Ares? Jika hal itu terjadi, artinya kebangkitan Yang Mulia Valkyrie benar-benar sudah dekat. Tentu saja kelima pelayannya sudah memulai pergerakan," ketusnya.


"Heh." Pria berpakaian perang itu tersenyum sinis. "Tentu saja aku tahu itu, Athena. Aku hanya ingin mengetes daya ingatmu."


Zeus menghela napas pelan. Jika Athena dan Ares sudah saling menyinggung, perdebatan mereka susah dihentikan.


Pria yang dijuluki Dewa Petir dan Langit itu sekali lagi menyesap anggurnya. Kini pandangannya tertuju pada beberapa kursi yang kosong.


"Oh ya, Aphrodite, di mana mereka yang tidak hadir di sini? Seingatku, aku sudah mengirimkan surat pertemuan pada mereka. Apa ada kabar?" tanya Zeus.


Wanita yang berparas paling menawan di sana itu meletakkan mawarnya di hadapannya. Mawar itu melayang beberapa senti di atas telapak tangannya, lalu memancarkan sinar kemerahan.


Tindakan Aphrodite menghentikan perdebatan Athena dan Ares sejenak. Pasalnya, tak pernah ada begitu banyak yang tak hadir dalam pertemuan rutin mereka.


"Hermes berkata ia sibuk dengan bisnisnya, aku tak tahu bisnis apa. Demeter disibukkan dengan musim panen tahun ini. Dia harus mengelola hasilnya demi para warga," kata Aphrodite.


"Lalu Hephaestus?"


"Tak memberi kabar, tapi kulihat dia sedang menempa."

__ADS_1


Zeus mengangguk maklum. "Artemis?"


Sinar merah dari mawar Aphrodite meredup. Wanita menawan itu menggelengkan kepala.


"Ah, kalau saudariku, dia tak mau hadir. Ini bukan malam hari, katanya." Apollo, saudara Artemis cengar-cengir.


Poseidon dan Hades serempak memutar bola mata mereka malas. Mereka tak habis pikir dengan kelakuan teman masa kecil mereka.


"Mentang-mentang dia Dewi Bulan, siang harinya tak mau keluar? Apollo, peringati saudarimu itu," ketus Hades.


Apollo tertawa. "Baik, baik."


--o0o--


"Seraphine!"


Seorang gadis cantik menoleh begitu namanya dipanggil. Ia menemukan makhluk kecil bersayap yang terbang ke arahnya dengan cepat.


Makhluk kecil bersayap itu menubruk pipi Seraphine. "Ada berita besar! Ada berita besar!" pekiknya.


Seraphine yang sedang memeluk buah-buahan itu tersenyum. "Hei, pelan-pelan. Berita apa itu sampai sahabat kecilku ini sangat antusias, hm?"


"Sera, ini bukan saatnya mengumpulkan buah! Kau harus bersiap untuk memulai petualanganmu!" jawab makhluk kecil itu.


Makhluk kecil bersayap yang bernama Rain itu merasa gemas. "Legenda Valkyrie, Sera! Pihak dewa-dewi sudah mulai mengumpulkan kandidat masing-masing! Dua minggu dari sekarang, ujian untuk para kandidat itu akan dilaksanakan. Yang terpilihlah yang akan menjadi Valkyrie berikutnya," ocehnya panjang lebar.


Seraphine memiringkan kepalanya. "Lalu? Hubungannya denganku apa?"


Rain memekik gemas. Sungguh, sifat polos Seraphine membuatnya kewalahan. Bukannya bersalah karena membuat Rain seperti itu, Seraphine malah tertawa renyah.


"Rain, apa yang mau kau katakan? Jika aku terlalu lama menunggumu mengatakannya, perutku kasihan. Aku belum sarapan karena latihanmu itu," kata Seraphine.


Yang dimaksud latihan oleh Seraphine hanyalah bernyanyi dan menari. Sejak kecil, Seraphine memiliki bakat bernyanyi. Sesekali ia akan melompat, meliukkan badan dan tangannya, memutari pepohonan sampai lagunya habis.


Rain bertemu Seraphine tiga tahun lalu secara tak sengaja. Saat itu, Seraphine sedang mengumpulkan buah-buahan di hutan sambil bernyanyi. Rain terpesona dengannya. Bukan hanya karena suaranya, tapi juga karena efek nyanyian dan tarian Seraphine.


Tiap kali nyanyian Seraphine terdengar, udara lembut langsung menerpa, membawa aroma manis yang entah datang dari mana. Para hewan pun seolah menikmatinya dengan berkumpul di dekat Seraphine.


Bukan itu saja. Saat gadis itu menari, menapakkan kakinya di tanah hutan, sontak bunga-bunga kecil bermunculan dari tanah. Begitu tangannya menyentuh sesuatu, sulur pohon menyelimuti tangannya dengan indah.


"Sera itu luar biasa. Seperti keajaiban," gumam Rain.


Rain tanpa sadar tersenyum memandang punggung Seraphine yang menjauh menuju rumah mereka.

__ADS_1


Ya, rumah mereka. Sebelum bertemu Rain, Seraphine hanya seorang diri di hutan itu, ditemani dengan hewan-hewan di sana. Gadis itu berkata bahwa ia tak ingat apa pun sampai ia tiba-tiba terbangun di hutan itu sewaktu kecil.


Tak ada siapa pun dan peninggalan apa pun, kecuali sebuah gelang dari mutiara berwarna pink dan seutas pita merah di rambutnya. Pakaian selutut Seraphine pun bisa dikatakan indah dengan dominan warna putihnya.


Di masa yang mendatang, Seraphine tahu dari Rain bahwa pakaian bermodel seperti itu tak pernah ada di dunia mereka.


Rain mengepakkan sayapnya mendekati Seraphine yang sibuk meletakkan buah-buahan di sebuah alas. "Sera, apa kau menemukan anggur tadi?" tanya Rain.


Seraphine mengangkat setangkai anggur segar. "Tenang saja, aku selalu mendapatkannya untukmu," jawabnya.


Rain mengangguk senang, lalu mengambil anggur itu dan mulai memakannya. Rasa manis dan asam bercampur sempurna begitu ia memakan butir pertama. Lidahnya mencecapnya sampai puas.


Sedangkan Seraphine, gadis itu mulai memakan apelnya lahap. Senyuman tak lepas dari wajahnya.


"Hei, Sera ...."


"Hm?"


Rain menatap Seraphine. "Mengapa kau tak berburu hewan dan hanya memakan buah-buahan saja setiap hari? Apa kau tidak bosan?"


Seraphine tertawa. "Bukankah sudah pernah kukatakan? Aku tak tega membunuh hewan-hewan di hutan ini demi santapanku. Mereka layak mendapat hidup yang tenang. Lagipula, jika tiap hari bisa merasakan kelezatan buah-buahan ini, aku tak keberatan tak memakan daging," jawabnya enteng.


"Tapi, kau harus membiasakan diri memakan daging mulai sekarang, Sera. Perjalanan kita menempuh jarak yang lumayan jauh hingga istana Dewa Zeus," ujar Rain serius.


"Dari tadi kau membahas perjalanan, petualangan .... Apa sebenarnya maksudmu, Rain? Aku tak mengerti hubungan Legenda Valkyrie denganku," kata Seraphine.


Rain meletakkan anggurnya cepat. "Kan sudah aku katakan, Sera! Kau harus bersiap karena kau adalah salah satu kandidatnya!"


"Ha-hah?"


"Dengarkan aku baik-baik, Sera." Rain menatap serius manik biru Seraphine.


"Dua minggu dari sekarang, ujian untuk menjadi Valkyrie akan dilaksanakan. Para gadis yang menjadi kandidat lain pasti sudah dalam perjalanan menuju istana Dewa Zeus. Dari sana, Dewa Zeus akan mengarahkan kita menuju gerbang istana suci Valkyrie. Saat itulah ujian akan dimulai," jelas Rain.


"Tu-tunggu, Rain! Kau sendiri yang mengatakannya. Para kandidat Valkyrie adalah yang diakui oleh dewa-dewi di tempat mereka. Nah, di mana dewa atau dewi yang mengakuiku? Lalu, kenapa harus aku?" sergah Seraphine.


Rain menggelengkan kepalanya. "Kau pasti juga ingat, bukan dewa-dewi saja yang bisa mengirim kandidat, tapi juga kaum yang menjadi pelayan Valkyrie. Sera, aku bertanya, apakah kau tahu asalku?"


Seraphine sontak menggeleng. "A-aku tak yakin. Dryad ... si peri hutan?"


"Bukan, Sera. Aku dari kaum Sylph, kaum pelayan nomor satu Valkyrie."


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2