
Tap!
"Nona, kita sampai."
Seraphine mematung melihat pemandangan di depannya. "Wah! Tempat apa ini, Fu? Indah sekali!"
"Sayangnya, aku juga baru pertama kali ke tempat ini. Mungkin Dahlia yang membangun taman bunga ini," sahut Fu sambil menolehkan kepalanya ke sekitar.
Benar. Fu dan Seraphine, keduanya baru saja sampai di tempat Dahlia setelah melakukan perjalanan selama dua jam. Hanya mereka berdua yang datang untuk menemui guru si Kembar Gemini itu.
"Fu! Lihat, lihat! Bunga apa ini?" Seraphine yang antusias mengelilingi taman bunga segera berlutut untuk melihat lebih dekat bunga yang menarik perhatiannya.
Fu lantas menghampiri gadis itu. "Hm? Sebentar, sepertinya aku sering melihat bunga ini," gumam Fu sambil mendekatkan wajah pada bunga berwarna ungu-pink-putih itu.
"Wah! Kau tahu tentang bunga-bunga?"
Fu mengangguk sambil menepuk dadanya bangga. "Tentu saja, Nona! Karena Dahlia sangat menyukai bunga, aku dan Chia selalu diberikan informasi tentang bunga-bunga ini. Kalau tak salah, bunga ini favoritnya Dahlia. Mungkin namanya juga Dahlia?"
Seraphine tersenyum geli. Kalau bunga ini bernama Dahlia, apa orangnya juga memiliki paras yang cantik seperti bunga ini? Ah, aku ingin segera bertemu dengannya!
"Oh, tidak ... aku sangat ingin memetiknya, tapi apa Aquarius Dahlia mengizinkannya?" gumam Seraphine sambil terus menatap bunga itu.
Fu terkekeh pelan. "Kalau kau sangat ingin memetiknya, kita harus bertemu Dahlia dulu, Nona," ujarnya sambil mengulas tersenyum.
Hehe ... hidup Aquarius Dahlia pasti sangat enak, ya? Bisa dikelilingi oleh berbagai macam bunga, rasanya pasti menyenangkan! Tapi .... Seraphine bangun dari posisi berlututnya. Entah kenapa, aku merasakan aura kesepian di sini ....
"Oh, sudah datang? Kupikir kau juga bersama Chia, tapi hanya bersama Gadis Emas ini, ya?"
Suara seorang wanita mengalihkan perhatian mereka. Fu berbalik, beradu pandang dengan manik biru milik wanita itu.
Bibirnya seketika tertarik ke atas. Fu menunduk sejenak. "Lama tak bertemu, Dahlia."
Seraphine kembali mematung di tempat melihat wanita berambut biru itu. Oh, diakah Aquarius Dahlia yang menjadi guru si Kembar? Cantiknya ....
Dahlia mendengus pelan. "Hmph! Sudah berapa lama kita tak bertemu, Fu? Kenapa Chia tak bersamamu? Apa kalian tak merindukan guru kalian ini?"
"Haha, kau tak berubah. Kupikir kau sudah tahu alasanku tak membawa Chia. Tujuanku menemuimu hanya karena gadis ini," jawab Fu.
"Aku tahu." Dahlia menghela napas, lalu menatap Seraphine tajam. "Jadi, ada keperluan apa kau menemuiku, Gadis Emas? Kuharap kau tak menyusahkan muridku yang mengantarmu sampai sini."
"Hei, jangan sinis begitu padanya," kata Fu, "Dia gadis baik-baik, jadi tak perlu mengubah sikapmu, Dahlia."
"Hah? Mengubah sikap, katamu?" Dahlia memelototi Fu. "Aku tak ingat sudah mengubah sikapku selama ini."
Fu tertawa kaku. Ha-Hahaha ... ini dia. Sikapnya yang sulit ditebak akhirnya keluar juga. Tiba-tiba begini, tiba-tiba begitu. Aku seharusnya menyesal menganggapnya guru.
"Ck! Apa dia bisu, Fu? Dari tadi hanya diam dan melihatku seperti itu!" sinis wanita berambut biru itu.
Fu mengibaskan tangannya cepat seraya berkata, "Pemikiranmu itu salah. Gadis ini sangat cerewet dan aktif, asal kau tahu saja. Iya, 'kan, Nona?"
Seraphine tak menjawabnya. Gadis itu masih terbengong-bengong menatap wajah Dahlia.
__ADS_1
"Nona?" Fu mengernyit heran.
"Ah!" Seraphine tersadar dari lamunannya. "Kak Dahlia! Namaku Seraphine. Kakak bisa memanggilku apa pun yang Kakak mau! Mmm ... tadi malam, Fu menyarankan aku untuk menemuimu. Hehe, tapi tak kusangka Kakak bisa secantik Dahlia!"
"...."
"Hm? Kenapa kalian tiba-tiba diam?" Seraphine memiringkan kepalanya. "Kak Dahlia juga, kenapa memasang wajah terkejut begitu?"
Fu menutup wajahnya. Uwaaah! Ka-Kakak, katanya?! Bagaimana bisa memanggil Dahlia seperti itu!
"No-Nona, seharusnya kau tak sembarangan memberikan panggilan pada Dahlia! Lihat! Dia sampai membeku karena ucapanmu!" bisik Fu panik.
Seraphine gelagapan. "E-Eh? Apa tidak boleh memanggilnya Kakak?"
"Tak boleh! Coba kau perhatikan reaksinya! Lagipula, kenapa harus panggilan 'Kakak'?"
Seraphine tersenyum polos. "Hehe, itu karena dia cantik!"
"... apa?"
Seraphine menunjuk bunga Dahlia. "Bukankah Kak Dahlia sangat cantik seperti bunga ini? Aku langsung menyukainya!"
Fu mengacak-acak rambutnya. Aaah! Kacau! Semuanya kacau! Dahlia sangat tak suka kalau orang-orang memberikan panggilan seenaknya!
"Fu? Kenapa Kak Dahlia mematung seperti itu?" bisik Seraphine sambil menunjuk Dahlia.
"Argh! Itu karena Nona, tahu! Seandainya tidak memberi panggilan aneh padanya, Dahlia tak akan seperti itu! Sekarang bagaimana kita akan membujuknya, hah?!" Rasa frustrasi Fu memuncak.
"Iya! Sangat! Itu panggilan teraneh untuk Dahlia--"
"Pfft! Hahaha! Kalian lucu sekali! Terutama kau, Gadis Emas! Oh tidak, seharusnya aku memanggilmu 'Adik', bukan?"
Fu terbengong melihat tawa Dahlia. Menurutnya, seorang Dahlia tak pernah bisa dibuat tertawa selepas itu. Kenapa tiba-tiba ...?
Dahlia mendekati Seraphine, lalu mengusap pipinya pelan. "Kau menemuiku untuk berguru, 'kan? Jadi, apa yang kau inginkan?"
"EH?!" Fu terkejut. "Padahal tadi kau sangat galak padanya, kenapa tiba-tiba berlaku baik?!"
Dahlia tertawa sebelum berseru, "Diam saja, Fu! Aku yang memutuskan harus apa dan bagaimana padanya! Nah, sekarang jawab pertanyaanku, Seraphine!"
"Eh? Ba-Baik! Aku ingin lebih kuat lagi, Kak!" jawab Seraphine cepat.
"Hoo? Boleh aku tahu tujuanmu setelah menjadi kuat?"
Binar di mata Seraphine perlahan meredup. "Itu .... Selama bersamaku, anggota kelompokku selalu melindungiku begitu bahaya mendekat. Mereka sampai terluka begitu. Apalagi saat kejadian kemarin ...."
Seraphine melepas sentuhan Dahlia pada pipinya, lalu menggenggam kuat tangan wanita itu. "Bintang Hitam menargetkan aku dan sahabatku. Mil menjadi sandera, lalu terkena racun. Dewi Artemis juga tertusuk di perutnya menggantikan aku. Fu beberapa kali melindungiku di balik tubuhnya. Lalu, Chia juga ... dia yang paling parah. Sampai kami berangkat ke sini pun belum siuman. Aku ...."
Dahlia menatap lekat wajah Seraphine. "Tak kusangka ledakan kekuatan muridku yang kemarin aku rasakan ternyata karena ini. Seorang dewi bahkan sampai turun tangan. Chia juga terluka parah," lirihnya.
Sret!
__ADS_1
Seraphine tiba-tiba mengangkat wajahnya. Ada jejak air mata menghiasi pipi gadis itu, tapi tatapannya seolah membara. Fu bahkan tersentak melihat pendar emas yang kemarin ia lihat kini kembali menghiasi manik mata Seraphine.
Dahlia menyeringai karena melihat pendar emas itu juga. "Katakan padaku. Apa tujuanmu setelah menjadi kuat?"
"Aku ingin menjadi kuat untuk melindungi orang-orang di sekitarku! Aku tak ingin melihat mereka terluka lagi karenaku! Aku harus kuat agar bisa melindungi diriku sendiri! Tapi aku ... aku masih lemah! Sangat lemah!" Seraphine semakin menguatkan genggamannya pada tangan Dahlia.
"Aquarius Dahlia, kumohon, bantu aku untuk mengendalikan perasaan ini! Rasa takut untuk melukai atau membunuh ini, aku butuh bantuanmu agar aku bisa menaklukkannya!" Seraphine tersenyum sendu. "Apa kau bisa membantuku ... Kak?"
Wuuush!
Angin menerpa kuat begitu Seraphine menyelesaikan ucapannya. Dahlia tak mengatakan apa pun, tapi tetap menatap lekat pada Seraphine.
Fu yang menyaksikan mereka menelan ludahnya susah payah. Di pikirannya, apakah Dahlia akan menyetujui untuk membantu Seraphine? Atau gurunya yang terkesan tegas dan sulit ditebak itu akan menolaknya?
"Seraphine, aku menyukai tekadmu, tapi ...." Dahlia melepaskan tangannya yang digenggam, melemparkan tatapan serius. "Aku ingin bertanya satu hal. Saat kau berhasil menjadi kuat, apa kau bisa menjamin kalau dirimu tak akan menyalahgunakan kekuatanmu?"
"Maksud Kakak?"
"Aku sudah banyak menemui orang sepertimu, Seraphine. Mereka juga ingin menjadi kuat, berkata mau melindungi orang terdekat, tapi sekarang mereka malah terjerumus hingga menjadi anggota Bintang Hitam. Mereka haus akan kekuasaan. Nah, bagaimana denganmu? Apa kau bisa menjamin hal itu tak akan terjadi padamu?"
Glek!
Fu mengusap tubuhnya pelan. Dirinya lupa satu hal itu. Membayangkan kalau Seraphine akan berubah dari gadis polos nan lembut menjadi seseorang yang haus kekuasaan, apa dia sanggup?
Namun, jawaban Seraphine sungguh tak terduga.
"Kak Dahlia bicara apa? Aku kan tidak sendirian. Rain, Mil, Fu, Chia, bahkan Kak Dahlia pasti akan membimbingku agar tak terjerumus, 'kan? Kakak bertanya apa aku bisa menjamin hal itu? Hehe, ikatanku dengan kalian tak mudah rusak kok! Kakak jangan khawatir seperti itu, ya!"
Dahlia termangu menatap senyuman lebar gadis itu. "Ah ... kapan terakhir kali aku mendengar seseorang berbicara ikatan kepadaku? Seraphine, kau benar-benar ...."
Dahlia mengalihkan pandangannya begitu memetik bunga Dahlia di sebelahnya. Wanita berambut biru itu menyelipkan bunga favoritnya itu di telinga Seraphine.
Dahlia mengusap pelan kepala Seraphine. "Berjuanglah, Seraphine."
Tap!
Dahlia berbalik, lantas melambaikan tangannya tanpa menoleh ke belakang, pun tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Seraphine memandang punggung itu, kemudian melirik Fu. "Mmm ... Fu? Aku gagal, ya? Kak Dahlia sampai meninggalkanku begitu saja," bisiknya. Ada nada getir dalam suaranya.
Fu menyeringai. "Kata siapa? Guruku sampai memakaikan bunga favoritnya padamu, 'kan? Itu hal yang baik, Nona!" sahut Fu gembira.
Seraphine menyentuh bunga pemberian Dahlia. "Tapi, dia hanya menyelipkannya di telingaku ...."
"Hei." Fu melebarkan senyumannya. "Dahlia itu hanya memakaikan bunga pada orang yang benar-benar disukainya. Apa kau tahu artinya?"
"Ka-Kalau begitu ...."
"Tepat! Selamat, Nona! Kau lulus dari ujian Dahlia!"
To be continue ...
__ADS_1