The Valkyrie

The Valkyrie
PERTARUNGAN #2


__ADS_3

"... Dewa Apollo?"


"Oh, kau mengenaliku? Haha, aku ternyata seterkenal itu. Bisa berdiri?" Apollo mengulurkan tangannya pada Chia.


Chia yang masih terbengong-bengong buru-buru menerima uluran tangan itu. "Bagaimana seorang dewa bisa ke sini?" tanya Chia.


"Dan bagaimana seorang anak kecil sepertimu bisa bertarung dengan nenek itu? Kekuatan petirnya sangat kuat, kasihan tubuhmu," balas Apollo tersenyum.


Chia terkekeh pelan. "Aku bukan sekadar anak kecil, Dewa," katanya, lalu menunjuk wanita tua yang masih menggeram itu, "Dia musuhku. Pernah dengar Bintang Hitam, 'kan? Percaya tidak percaya, dia salah satu anggotanya."


Apollo terkejut, menoleh cepat pada wanita tua itu. "Nenek ini dari Bintang Hitam?!"


Chia mengangguk, lantas menepuk-nepuk pakaiannya yang terkena debu. Tongkatnya yang tadi terjatuh segera dipungutnya, lalu diacungkan ke arah wanita tua itu.


"Aku tahu kalau seorang dewa tak boleh mencampuri pertarungan, tapi mereka adalah Bintang Hitam. Bisakah aku mengharapkan sang Dewa Matahari untuk membantuku?" pinta Chia.


Apollo memicingkan mata menatap tongkat di genggaman si Gadis Gemini itu. "Tunggu, sepertinya aku pernah melihat tongkat itu. Pakaianmu juga terasa familier. Nak, siapa kau?"


Chia mendengus geli. "Tak kusangka aku dilupakan secepat itu. Namaku Chia, kembaran dari Fu. Kalau begini, apa sekarang sudah ingat?" jawabnya.


Apollo kembali terperangah. "Fu, Chia ... kau Gemini!"


Wanita tua itu juga terkejut. "Apa? Gemini?! Gadis kecil lawanku ini salah satu kesatria Valkyrie sialan itu?!" pekiknya menunjuk-nunjuk Chia tak percaya.


Rasa kesal langsung dirasakan Chia dan Apollo. Chia bahkan tanpa aba-aba menyerang wanita tua itu.


"Ukh! Hoho, menyerang tiba-tiba, gadis kecil?!"


"Tutup mulutmu!" Chia mengayunkan tongkatnya lagi, menyebabkan angin kuat menggores tubuh wanita tua itu.


Apollo sendiri mengumpulkan sinar matahari di tangannya, lalu menembak dari jauh. "Menyebut Yang Mulia Valkyrie dengan mulut kotormu itu membuatku marah. Bintang Hitam, aku akan membunuh kalian di sini!"


Wanita tua itu refleks mengeluarkan petir, lalu memadatkannya sebagai dinding pertahanan. "Tak kusangka lawanku kalian berdua. Terserahlah, baik dewa maupun kesatria, aku yang akan memenangkan pertarungan ini!"


CTAR!


Chia menahan napas, berkonsentrasi menghindari petir yang datang dari langit. Sedangkan Apollo, dewa satu itu membuat barier di sekeliling tubuhnya sambil terus menyerang wanita tua itu.


"Gemini! Aku akan membunuhnya dalam sekali tembak. Bukakan jalan untukku!" seru Apollo.


Chia berdecak, lantas bergerak lebih cepat mendekati wanita tua itu. Targetnya adalah dinding petir yang akan menghalangi serangan Apollo itu.


DUAK!


"Ukh!" Sekuat tenaga, Chia meninju dinding petir itu. Tangannya langsung kebas, tapi usahanya berhasil. Dinding petir itu terkoyak.


"Chia, minggir! Dinding itu belum hancur sepenuhnya!"


Chia menoleh, mendapati Rain yang terbang cepat ke arah mereka. Tangannya bersinar terang, membuat Chia langsung melompat tinggi.


Sementara wanita tua itu semakin menebalkan dindingnya. Namun, usahanya sia-sia.


BLAR!


Rain berhasil menembus dinding petir yang segera menghilang itu. "Apollo! Sekarang!"


"Usaha yang bagus, Sylph! Hyaa!"


"ARGH! TIDAK!" Wanita tua itu menjerit. Tubuhnya seolah terbakar akibat serangan Apollo.


Rain menjauh hingga dekat dengan posisi Apollo. "Apa itu cukup mengakhiri hidupnya?" tanyanya pada sang dewa.


"Aku percaya dengan kekuatanku, Sylph. Sekalipun dia Bintang Hitam, menerima serangan pamungkas dari dewa sepertiku akan berakibat fatal," jawabnya.


Rain mengangguk puas.


"Kau baik-baik saja, Rain?" Chia mendarat di sebelah Apollo. "Sengatannya tak melukaimu, 'kan?"


"Aku baik-baik saja, Chia. Artemis sudah mengobatiku."

__ADS_1


"Ah iya, di mana kakakku itu?" tanya Apollo.


Rain tersenyum, lantas menunjuk orang-orang bertudung di kejauhan. "Dia di sana. Apa kau akan membantu pertarungannya?"


Apollo menggeleng pelan. "Campur tanganku hanya sampai sini. Itu bagian kakak--"


"APA-APAAN INI?!"


DEG!


Chia jatuh terduduk. Aura mengerikan itu menguar dari laki-laki yang baru saja keluar dari hutan itu. "Tak mungkin ...," lirih Chia.


Sementara Rain dan Apollo sigap memasang kuda-kuda.


"Ck! Muncul juga pemimpinnya. Siapa namanya? Aku lupa karena namanya terkesan menjijikkan untukku," decak si Dewa Matahari.


Rain mengepalkan tangannya kuat. Adrenalinnya berpacu cepat menatap laki-laki yang sedang menatapi tubuh gosong wanita tua itu.


"Hei, Sylph! Siapa namanya?!"


"... Haku. Namanya Haku. Pemimpin Bintang Hitam yang membunuh ibuku."


--o0o--


Seraphine gemetar menggenggam gagang pedangnya. Sudah sejauh ini, tapi dirinya tak juga berani mencabutnya.


Sementara Fu, orang-orang bertudung itu gencar menyerangnya. "Sial! Mereka kuat sekali!" umpatnya. Tangannya yang terbalut terpaksa digerakkan agar serangannya semakin kuat.


Seraphine menggigit bibir bawahnya, merasa bersalah membiarkan Fu yang terluka melindunginya. "A-Aku akan membantumu, Fu!"


"Eh?!" Fu yang menahan pedang lawan dengan tongkatnya menoleh. "Jangan, Nona! Kau masih ragu untuk melawan mereka!"


Sing! Crang!


Fu kembali fokus pada lawannya. "Biar aku yang mengurusnya!"


Begitu Seraphine mengacungkan pedangnya, walau gemetar, kuda-kuda gadis itu terlihat mantap. Sebagian lawan mereka berbalik menyerang Seraphine.


"Huaa! Jangan mendekat!" Seraphine mengibas-ngibaskan pedangnya ke segala arah.


"Ck! Ingat pelajaranmu, Nona! Kendalikan ketakutanmu!" seru Fu sambil melirik Seraphine.


Seraphine menelan ludahnya susah payah. "I-Ingat kuda-kuda yang diajarkan Mil ... kendalikan rasa takutku ...."


Ingatannya melayang pada ajaran-ajaran Mil dan Fu, juga pada perkataan Chia. "Ingatlah ini, Nona. Begitu ada musuh yang menyerangmu, jangan pikirkan hal lain selain keselamatanmu. Mengerti?" kata Chia waktu itu.


Seraphine mengambil napas dalam, memejamkan matanya. Jantungnya berdetak cepat, darahnya serasa mengalir hingga ke ubun-ubun.


"Serang dia!" Salah seorang yang bertudung berteriak begitu Seraphine terdiam sambil mengacungkan pedangnya.


"Sial, Nona!" Fu berteriak panik, menghempas begitu saja lawan di depannya. Ia cepat berbalik hendak membantu Seraphine.


"Tenanglah, Fu ...." Seraphine mengulas senyum, membuka matanya.


Ting!


BLAR!


Seketika semua seolah membeku, baik orang-orang bertudung maupun Fu yang menganga lebar.


Tubuh Fu gemetar melihat mata Seraphine yang berpendar emas. "No-Nona? Apa itu ... kau?"


Tentu saja Fu terkejut. Bukan hanya karena perubahan mata Seraphine, tapi juga tekanan kekuatannya. Seolah segel angin digunakan pada pedang itu.


Seraphine mengibaskan pedangnya kuat, menumbangkan lawan di sekitarnya dalam sekejap.


Orang-orang bertudung yang tadi menyerang Seraphine pun tergeletak tak bernyawa.


Seraphine membalas tatapan Fu. Dia mengerling, lantas tiba-tiba melesat menebas musuh yang tadinya dilawan oleh Fu.

__ADS_1


"GYA! AKH!"


Teriakan kesakitan dari orang-orang bertudung itu memekakkan telinga. Fu sampai menatap horor melihat darah yang terciprat.


"Segel angin, ya? Gadis ini hebat sekali bisa menggunakannya melalui pedang." Suara seorang wanita terdengar dari atas Fu.


Fu mendongak, lantas terlonjak begitu wanita itu mengambang di sebelahnya. "De-Dewi? Kenapa seorang dewi ada di sini?"


Dialah Artemis yang tadinya hendak membantu pertarungan Fu dan Seraphine. Namun, saat melihat Seraphine yang berubah seperti itu, sepertinya bantuannya tak diperlukan.


"Ah, kau pasti Gemini, 'kan? Aku mengenali pakaian dan tongkatmu itu," kata Artemis melemparkan senyuman.


Fu mengangguk. "Kutebak, kau adalah Dewi Artemis?"


"Tepat sekali. Hahaha, padahal jarang ada yang melihatku di saat siang begini, tapi kesatria Valkyrie memang berbeda, ya," sahut Artemis, lalu beralih fokus pada Seraphine yang kini kembali menyarungkan pedangnya.


Fu mengikuti pandangan Artemis. "Aku juga tak menyangka kalau nona berhasil melakukan ini. Selama ini dia selalu takut melukai, apalagi membunuh. Seolah ada sesuatu yang merasukinya," tutur Fu.


Artemis bergumam, "Segel angin bisa saja membuatnya seperti itu, tapi dibutuhkan waktu yang lama untuk menyesuaikan. Gemini, berapa lama dia berlatih?"


Fu terkekeh pelan. "Tak lama, bahkan sangat singkat, Dewi. Aku, kembaranku, juga teman kami yang kini ditahan Bintang Hitam menjadi gurunya. Terhitung tiga hari dia berlatih," jelasnya.


Artemis jelas terkejut. Tak mungkin dalam waktu sesingkat itu bisa mengeluarkan kekuatan segel angin sekuat tadi.


Tap! Tap! Tap!


Seraphine berjalan menghampiri keduanya. Matanya mengerjap pelan, lantas pendar emas itu menghilang.


"Kau baik-baik saja, Nona?" Fu bertanya pelan.


"Eh? Kenapa aku tiba-tiba di sini?" Seraphine memiringkan kepalanya bingung, lalu melihat sekelilingnya yang dipenuhi mayat orang-orang bertudung.


"Me-Mereka sudah mati?! Siapa yang membunuhnya?! Apa itu ... kau, Bibi?" tanya Seraphine pada Artemis.


Sontak Artemis tertawa kencang. "Aku tak pernah dipanggil 'Bibi' oleh siapa pun. Panggil saja Artemis," sahutnya.


Fu membelalakkan mata. "Nona! Wanita ini adalah Dewi Bulan! Namanya Artemis!"


"APA?! De-De-Dewi?! Maafkan aku, Bi! Eh ... Dewi Artemis!"


Artemis kembali tertawa, sementara Fu menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah Seraphine itu tak peka atau bagaimana sampai-sampai tak merasakan aura dewi pada diri Artemis.


Seraphine menatap keduanya serius. "Jadi, siapa yang membunuh mereka--"


"KYAAA!"


BUM! BRAK!


Teriakan seseorang itu membuat ketiganya terperanjat.


Fu membalikkan badan, mendapati kembarannya yang terlempar hingga menabrak batang pohon di dekatnya. Matanya melebar begitu darah mengalir dari tubuh Chia.


"Chia! Chia, kau tak apa?!" Seraphine panik menghampiri Chia. "Darahnya banyak sekali! Bagaimana ini ...?"


"Menepilah!" Artemis meminta Seraphine memberikannya ruang. Sedetik kemudian, tangannya bersinar keunguan, lalu diarahkan pada tubuh Chia. "Ukh! Siapa yang membuatnya terluka separah ini?!"


Seraphine meremas tangannya kuat. Namun, dia tersadar kalau Fu masih di dekatnya. "Fu, bagaimana ini? Dewi Artemis berkata kalau luka Chia--"


Wuuush!


"Fu!" Seraphine menutup matanya. Debu dari tanah beterbangan begitu Fu melesat di atasnya.


"Khh! Siapa pun yang melukai Chia, aku ... aku ...." Fu meremas tangannya kuat sampai kukunya menggores telapak tangannya.


Bayangan tubuh Chia yang menabrak pohon tadi membuat amarahnya menyeruak. Apalagi saat mendengar Artemis berkata bahwa lukanya separah itu, Fu benar-benar kehilangan kendali.


"Bintang Hitam sialan! Akan kuberi mereka pelajaran!"


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2