The Valkyrie

The Valkyrie
AURA EMAS


__ADS_3

Syuuut! Syuuut!


Anak panah itu meluncur mulus dari busurnya. Yien berdecak begitu melihat sasarannya tak kena. Gadis itu mendekati tempat sasarannya, lantas memungut dan mencabut anak panahnya.


Entah sudah berapa kali dia memanah, tapi tak ada satu pun yang kena.


"Aah! Aku tak bisa seperti ini terus!" raung Yien sambil mengentakkan kakinya ke halaman istana berumput itu.


Kata-kata dari dewa-dewi itu masih terngiang di pikirannya. Rasanya sedikit kesal mengetahui alasan dia tak diizinkan ikut ujian Valkyrie.


"Hah .... Aku harus bagaimana? Rain mengatakan untuk melampaui Seraphine, tapi cara yang terpikirkan adalah dengan mengikuti ujian Valkyrie," keluhnya sambil memasukkan anak panah ke dalam tempatnya.


Yien menatap busur baru pemberian An itu. "Kalau dipikir-pikir, aku belum coba memadukan segel elemen dengan busur ini. Hah ... seandainya busur pemberian kakak tak kutukar ...."


"Dari tadi aku perhatikan, kau menghela napas terus, Yien. Kutebak, permintaanmu untuk ikut ujian itu tak diterima, 'kan?" Suara seorang laki-laki itu membuat Yien membalikkan badan.


Begitu mengetahui siapa yang menyahutnya itu, Yien spontan menghela napas kembali. "Katanya mereka tak mengizinkanku karena itu tidak adil untuk kandidat lain. Huh, berkat itu, aku harus cari cara lain untuk melampaui Seraphine!" sungut Yien.


Laki-laki yang melipat tangan di dada itu tertawa kencang. "Bukankah sudah aku katakan dalam perjalanan ke sini? Menyerahlah untuk melampaui Seraphine, Yien. Dia punya Rain dan rekanku di sisinya. Aura miliknya pun hampir sama denganmu, tapi lebih mirip dengan saudarimu itu," cerocos laki-laki itu.


Yien menatap lekat laki-laki yang mengantarnya dan An ke istana Dewa Zeus ini.


Saat itu, Yien dan An sedang berburu di hutan. Namun, entah karena apa, keberadaan hewan-hewan hutan yang biasanya banyak saat itu nyaris tak ada. Burung pun tak terlihat melintas di mana pun.


Yien dan An kelaparan. Beruntungnya, An menemukan beberapa buah, tapi tetap saja tak bisa mengganjal rasa lapar mereka. Bersamaan dengan itu, ada sebuah kereta kuda melintas dekat mereka, lengkap dengan prajurit dan kereta barangnya.


Yien tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Gadis itu pun menghampiri salah seorang prajurit dan mengatakan permohonannya.


"Huh, kalau saja kau lebih cepat turun dari kereta kudamu, aku tak akan bertarung dengan prajuritmu itu, Garbera," sindir Yien kepada laki-laki itu.


"Haha, aku tahu sedari awal kalau itu kau, Yien. Aura emasmu itu terasa sekali. Lagipula, tak ada salahnya, 'kan, mengetes kemampuan bertarungmu setelah sekian lama?"


Benar. Laki-laki yang mengantar Yien sampai istana Dewa Zeus adalah Libra Garbera. Garbera memakai kekuatan anginnya selama perjalanan sehingga kereta kuda mereka bisa sampai lebih cepat.


Garbera dan Yien sangat akrab karena Garbera-lah yang ditugaskan oleh Valkyrie sebelumnya untuk menjadi kesatria pelindung Yien. Karena sifat tegas Garbera itulah Yien bisa menjadi sosok yang tangguh dalam pertarungan.


Tentu bertemu Yien setelah sekian lama akan membuatnya senang. Garbera menyeringai saat mengingat para prajuritnya kesusahan melawan Yien. Mereka salah mengira bahwa Yien adalah musuh yang dikirim untuk mencelakai tuan mereka.


Yien mendengus kasar. "Bagaimana jadinya jika aku tak bisa menang melawan prajuritmu?"


Laki-laki itu mengangkat bahunya tak peduli. "Yang benar saja? Kalau kau tak bisa mengalahkan mereka, itu artinya kau bukanlah Yien yang kukenal," balasnya.


"Terserahmu sajalah. Aku lebih tertarik pada perkataanmu tentang aura. Kau berkata kalau aura Seraphine mirip denganku, tapi lebih mirip dengan aura kakakku. Apa maksudnya?"


Seringai Garbera menghilang. Laki-laki itu mendongak, memandang langit.


"Jika auramu dengan Yang Mulia terasa mirip, itu hal yang wajar karena kalian adalah keluarga. Aura kalian berwarna emas, memancarkan kehangatan mendalam. Aura emas hanya dimiliki oleh Valkyrie dan keluarganya, tapi Seraphine memiliki itu," jelas Garbera.


"Jadi karena itu kau mengatakan kalau aku sebaiknya menyerah untuk melampaui Seraphine?"


Garbera mengangguk. "Dalam sejarah, tak ada catatannya kalau keluarga Valkyrie sebelumnya bisa menjadi Valkyrie selanjutnya. Valkyrie adalah yang terpilih dari yang terbaik. Alasan inilah yang membuat ujian Valkyrie diadakan. Namun ...."


Laki-laki itu menatap Yien serius. "Katakan padaku, Yien. Apa yang kau pikirkan jika di antara kandidat ada yang lebih dulu menunjukkan tanda kalau dia adalah Valkyrie selanjutnya?"

__ADS_1


"Eh? Tanda ... maksudmu tentang aura emas ini?"


"Benar." Garbera mengangguk. "Bukankah kau akan berpikir bahwa tak ada yang bisa menggantikan posisi Seraphine sebagai kandidat terkuat karena aura emasnya?"


"...." Tak bisa berkata-kata, Yien menunduk. Dalam hati, dia membenarkan ucapan Garbera. Apa mungkin sebenarnya karena ini Rain memilih Seraphine?


Yien mendongak. "Hei, aura emas ini ... siapa saja yang bisa melihat dan merasakannya?" tanyanya.


Garbera terkekeh. "Kenapa? Kau ingin melihatnya juga? Itu mustahil, Yien. Aura emas hanya bisa dilihat oleh dewa-dewi dan dirasakan oleh kami, para Kesatria Valkyrie. Mau seberapa keras latihanmu pun tetap tak bisa," jawabnya.


Yien membuang wajah. "Apa salahnya cuma bertanya? A-Aku hanya berpikir, apakah Rain bisa melihat aura emas ini sehingga memilih Seraphine sebagai kandidat?"


"Tidak mungkin, Yien. Saat aku bertemu Gemini, Rain tak terlihat mengetahui tentang aura emas Seraphine. Saat itu pun auranya belum terlihat jelas. Lagipula, informasi tentang aura emas selama ini hanya diketahui oleh dewa-dewi dan Kesatria Valkyrie--"


"Sekarang bertambah, Tuan Garbera. Aku dan Yien sudah mendengarnya dari mulut Anda, 'kan?"


Tap!


"An!" Yien buru-buru menghampiri An yang tiba-tiba datang itu. "Dari mana saja kau? Aku menunggumu, tapi tak juga terlihat batang hidungmu!"


An tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Yien. "Maafkan aku. Tadi Tuan Hades mengurungku untuk mengorek informasi, hehe," jawab gadis itu sambil mengerling pada Hades di sebelahnya.


Hades tak menggubris kelakuan aneh muridnya itu. Pandangannya tertuju pada Garbera yang berdiri menyandar di pohon.


"Berapa lama kita tak bertemu, Hades? Wajahmu masih saja sama dengan yang terakhir kulihat," sapa Garbera sambil menyeringai.


Hades menatap datar. "Sebaliknya, kau berubah, Libra. Wajahmu semakin menyebalkan."


"Aku membutuhkan informasi dari An. Tentang pertemuan kami, semua sudah selesai. Aku diberi tahu, Poseidon sudah mengambil kesimpulan kalau Valkyrie selanjutnya adalah Seraphine."


Yien terkejut. "Secepat itu? Apa karena aura emasnya, Dewa Hades?"


Hades melirik Yien, lalu menggeleng. "Bukan. Ada alasan lainnya selain aura emas. Aku tak bisa sembarangan membeberkan informasi, bahkan untukmu, Yien. Namun, hanya satu hal yang bisa aku katakan. Artemis mendapat ramalan tentang Valkyrie selanjutnya. Walau Seraphine menunjukkan tanda yang kuat, tapi sekarang belum terlihat jelas," jelas Dewa Kematian itu


"Kalau begitu, apa ujian tetap diadakan? Kalian kan sudah mengambil kesimpulan," timpal Garbera.


"Ares juga berkata seperti itu, Libra, tapi Zeus bersikeras untuk melanjutkan ujian Valkyrie. Ada mata-mata dari Bintang Hitam dalam daftar kandidatnya. Kami tetap mengadakan ujian Valkyrie, tapi dengan tujuan membereskan Bintang Hitam. Untuk itulah, Yien ...." Hades menatap mata Yien serius.


"Kami butuh bantuanmu."


--o0o--


Hari menjelang sore. Angin berembus, menerpa rambut kecokelatan seorang gadis yang sedang menari itu.


Entah sudah berapa lama Seraphine menari di taman bunga milik Dahlia. Gadis itu sedang mencari jawaban. Jawaban yang akan menjadi kunci menaklukkan rasa takutnya.


Beberapa meter darinya, Fu dan Dahlia menyaksikan tanpa bosan. Keduanya kompak melahap jamuan yang disediakan oleh pelayan Dahlia.


"Bagaimana menurutmu, Fu? Dapatkah Seraphine mengingat masa kecilnya?" tanya Dahlia tanpa mengalihkan pandangan dari Seraphine.


Fu menghela napas. "Aku tidak tahu. Menurut cerita Rain, Seraphine sudah memiliki rasa takut itu sejak dia terbangun di hutan tempatku dan Chia tertidur. Satu-satunya kunci adalah mengingat masa kecilnya. Karena itu, 'kan, kau menyuruhnya menari agar pikirannya rileks?"


"Benar. Aku sudah meneliti Seraphine. Ada memori yang tersegel di ingatannya. Setelah aku telusuri, aku mengambil kesimpulan kalau rasa takutnya disebabkan oleh masa kecilnya. Jika Seraphine bisa mengingatnya, maka semua akan mudah," sahut Dahlia.

__ADS_1


"Hah ... si Tuan Pedang malah memberinya waktu dua hari untuk menaklukkan rasa takutnya. Dahlia, apa kau yakin kalau kau sanggup menanganinya?"


Dahlia mengusap buku yang selalu dibawanya ke mana-mana itu. "Aku yakin, sangat yakin untuk gadis beraura emas sepertinya ...."


Fu menoleh ke arah gurunya itu. "Aku tak yakin dengan pikiranku ini, Dahlia. Aura emas Seraphine semakin hari semakin terasa, 'kan? Saat pertama bertemu dengannya, auranya masih sangat samar, tapi sekarang sudah begitu terasa."


Dahlia terdiam sejenak sebelum menjawab, "Dia sudah berkembang, Fu. Kau dan Chia, juga jiwa yang kau panggil 'Tuan Pedang' itu melatihnya dengan baik. Apalagi ada kejadian seperti kemarin."


Dahlia mengalihkan pandangannya pada Fu. "Kau juga berkata kalau kemarin gadis itu membunuh anggota Bintang Hitam, 'kan? Sepertinya dia melakukannya tanpa sadar. Tekad untuk berjuangnya itu yang membuatnya seperti itu. Tandanya ada di matanya yang berpendar emas," lanjutnya sambil menunjuk matanya sendiri.


"Jadi karena itu, ya? Tadi pagi saat dia meminta berguru padamu, aku melihat pendar emas itu lagi."


Dahlia tertawa. "Dia gadis yang menarik, bukan? Aku yakin, informasi tentang Seraphine pasti sudah sampai ke telinga dewa-dewi--"


Wuuush!


"AAAA!"


Mendadak, angin berembus kencang. Dahlia terpaku menatap pemandangan di taman bunganya. Fu bahkan langsung berlari ke sana sambil meneriakkan nama gadis yang menari tadi.


"Seraphine! Nona! Kau bisa mendengarku?!" seru Fu sambil mengeluarkan tongkatnya, berniat mengendalikan angin yang tiba-tiba menggila.


Namun, Dahlia lebih dulu menahan tangannya. Wanita itu mengecup sekilas bukunya, lantas angin pun dikendalikannya.


"Seraphine terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa kecilnya, Fu," kata Dahlia, "Kita harus mengeluarkannya dari dalam sana. Kalau tidak, aku sendiri pun tak bisa menjamin nyawanya."


"Kalau begitu ...." Tanpa basa-basi, Fu melambaikan tongkatnya, juga Dahlia yang mengacungkan bukunya ke arah Seraphine.


"Sekarang, Fu! Aku sudah membuka jalannya!"


Fu melesat menuju tempat Seraphine yang tergeletak lemah itu. "Nona, bertahanlah!"


"Ukh! Sakit! Sakit sekali!" Seraphine meremas kuat kepalanya dalam gendongan Fu.


"Sudah, Dahlia! Aku membawa Seraphine!"


Angin yang semula menggila pun berangsur tenang, menyisakan pemandangan taman bunga yang kini berantakan.


Dahlia segera ke tempat Fu membaringkan Seraphine, lalu menyentuh kepala gadis itu. Matanya seketika membelalak.


"Ada apa dengannya, Dahlia?!" Fu bertanya tak sabaran.


"Ini ...."


"Kenapa?! Cepat katakan! Lihat dia yang sudah kesakitan seperti ini!"


Dahlia mengembuskan napas. "Memorinya yang terkunci sudah terlepas, tapi sepertinya itu sangat membebani Seraphine. Maafkan aku, perhitunganku salah, Fu."


"... apa katamu?"


"Mulai sekarang, Seraphine akan merasa ketakutan setiap saat."


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2