
"Rain! Coba lihat ini! Wah, benda apa ini?" Seraphine berlari begitu melihat sebuah busur panah yang dipajang.
"Aduh, Sera! Pelan-pelan jalannya!" Rain menyusul.
Saat ini mereka berada di tempat penjualan senjata. Rain mengajaknya hanya untuk melihat-lihat. Sekalian memberitahukan pengetahuan senjata pada Seraphine.
"Mana? Coba aku lihat," kata Rain.
Seraphine menunjuk busur panah yang tadi dilihatnya. "Itu. Benda apa itu? Bagus sekali!"
Rain mengikuti arah tunjuk Seraphine. "Itu namanya busur panah, tempat diluncurkannya anak panah ke titik tertentu."
Rain mengambil salah satu anak panah. "Nah, ini yang namanya anak panah. Lihat, Sera. Ujungnya tajam, 'kan? Semakin tajam, maka semakin dalam luka yang diberikan."
Seraphine mengangguk-angguk. "Berbeda dengan pedang, ya? Pedang menggores dan menusuk, tapi panah menusuk saja. Benar, 'kan?"
Rain mengangguk. "Pemanah adalah penyerang jarak jauh. Ingat, jangan pernah meremehkan panah, Sera. Seorang pemanah profesional bahkan bisa menusuk jantung seseorang dalam sekejap," jelasnya.
"Wah, hebat sekali! Aku jadi ingin mempelajari panahan, Rain!" ungkap Seraphine semangat.
Rain menggeleng. "Tidak, Sera. Kuasai pedang dulu, barulah aku izinkan kau untuk mempelajari panah."
Seraphine mengembungkan pipinya. "Kalau begitu, biarkan aku membeli busur ini! Kau yang menyimpannya sampai aku menguasai pedang, Rain. Bagaimana?"
Rain bersedekap. "Kenapa tiba-tiba mau membeli busur panah?"
Seraphine menatap busur itu lekat. "Aku tidak tahu. Mungkin tampilannya yang indah? Rain, kurasa kayu busur ini bukan kayu biasa," ungkap gadis itu.
"Hohoho, Nona memiliki mata yang bagus." Si Penjual Senjata tiba-tiba menghampiri sambil mengelus-elus dagunya. "Saya baru mendapat busur itu hari ini dari sebuah penginapan. Benar, Nona. Kayu yang dimiliki busur ini adalah kayu mahoni, kayu kualitas terbaik!"
Rain tertegun mendengarnya. Mahoni? Kenapa itu mengingatkanku dengan busur panah Yien? Tapi tak mungkin dia menjual panahnya. Itu panah pemberian Yang Mulia Valkyrie sebelumnya!
Sedangkan Seraphine, mata gadis itu berbinar. "Rain! Izinkan aku membelinya! Kumohon ...."
Rain menghela napas. Apa dia izinkan saja?
Sementara itu, beberapa langkah dari keduanya, si Kembar Gemini memilih mengawasi sekitar. Perihal hilangnya Mil membuat mereka semakin waspada.
"Lihat mereka, Fu! Saat berbaikan, mereka sangat dekat! Huh, rasanya jadi percuma mengkhawatirkan kemungkinan ada rasa canggung di antara mereka," kata Chia tersenyum.
Fu mendengus. "Ya, ya. Mereka terlihat senang sampai lupa tujuan kita ke kota, Chia!" kesalnya sampai-sampai sedari tadi berdecak.
Chia tertawa sambil menyikut pinggang kembarannya. "Ayolah, Fu. Kita bersenang-senang dulu. Dari tadi kita keliling kota ini demi mencari Mil, tentu ini waktu yang tepat untuk beristirahat," ujarnya.
"Hah ... kalau Tuan Pedang itu ketemu, aku akan menyuruhnya untuk mengganti waktuku!" desis Fu.
Chia mengangguk. "Lakukan sesukamu kalau ini sudah berakhir, Fu. Fokus kita saat ini untuk Mil, jangan memikirkan yang lain dulu."
"Hei kalian," Rain memanggil, "Apa kami terlalu lama?"
Chia tertawa. "Tidak juga, Rain. Oh, kau mengizinkan Seraphine membeli busur itu?" Chia menunjuk dengan dagunya ke arah Seraphine yang saat ini sedang membayar.
__ADS_1
Rain mengangguk. "Kurasa tak masalah. Aku juga harus memastikan sesuatu pada busur itu. Mahoni adalah kayu langka dan busur itu terbuat dari kayu mahoni. Setahuku, hanya Yien yang memiliki busur seperti itu," jelas Rain.
Fu melirik. "Yien? Kenapa dia bisa memilikinya?"
"Yang Mulia Valkyrie sebelumnya yang memberikannya. Yah, kalian masih ingat, 'kan, keahlian Yien seperti apa?"
Si Kembar mengangguk, lalu Rain melanjutkan, "Yien berbakat di panahan sejak kecil. Aku jadi curiga kalau busur itu sebenarnya milik Yien. Entah apa yang terjadi sampai-sampai busurnya ada di tempat penjualan ini."
Fu manggut-manggut. "Tapi, kalaupun itu milik Yien, Seraphine-lah yang sekarang memilikinya."
"Huh, aku yang punya Drachma, jadi tak langsung itu juga milikku, Fu!"
"Maaf, kalian jadi lama menunggu!" Seraphine tiba-tiba datang sambil membawa busur itu. "Tadi Pak Penjualnya kesusahan mencari uang kembalian. Jadi butuh waktu," katanya.
Si Kembar mengangguk. "Kalau begitu, kita mulai lagi pencarian Tuan Pedang, Nona," cetus Fu sambil berbalik, diikuti Chia dan Rain.
"Baik!" Seraphine mengikuti.
Namun, begitu mereka tiga kali melangkah, sebuah suara spontan menghentikan mereka. Seraphine berbalik, mendapati seseorang yang memakai jubah bertudung.
"Gadis berambut cokelat, apa kau sedang mencari laki-laki berambut merah bernama Mil?" tanya orang itu.
Bukan hanya Seraphine yang terkejut. Fu bahkan sampai mengeluarkan tongkatnya.
"Hei ... kau bilang apa tadi?"
--o0o--
"Sampai kapan aku harus seperti ini, sialan?!" Mil meronta dari rantai yang mengikat tubuhnya pada sebatang pohon.
"Mana bisa aku tenang begini?! Hei, Varo, Vario, atau apalah, apa yang kau gunakan padaku sampai kekuatanku tak bisa keluar, hah?!"
Dahi Viro mengerut kesal. "Namaku Viro! Dan kau tak perlu tahu alasan kekuatanmu tersegel!"
"Ukh, Bintang Hitam sialan!" umpat Mil. Kali ini ia berhenti meronta dan lebih memilih menatap tajam Viro.
Viro tak menggubrisnya. Keadaan pun menjadi hening. Di sini hanya ada mereka berdua, sedangkan Haku dan anggota Bintang Hitam lainnya sudah beberapa menit lalu pergi entah ke mana.
Mil menatap Viro lekat. "Hei, sejak kapan kau terbebaskan dari alam kita?" tanyanya.
Viro mengangkat bahu. "Entahlah, aku sudah lupa. Sejak lama. Oh, kau satu-satunya yang bisa keluar dari sana selain aku. Bagaimana caranya? Setahuku kekuatanmu tak sekuat itu."
Mil membuang muka. "Tuanku yang menarikku."
"HAH?!"
"Diamlah! Sampai saat ini pun aku juga sulit percaya!"
Viro mengusap wajahnya kasar. "Tak mungkin. Selain kekuatan dari diri kita sendiri, tak mungkin ada seseorang yang bisa membebaskan kita, Mil. Itu yang dikatakan leluhur kita!"
Mil tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Laki-laki itu berpikir bahwa ucapan Viro benar. Alam para jiwa tak bisa dimasuki semudah membalik telapak tangan. Hal itu juga berlaku bagi jiwa yang ingin keluar.
__ADS_1
Leluhur para jiwa pernah berkata, "Jika ingin keluar, jadi kuatlah sampai kau berhasil membelah daun hanya dengan kedipanmu."
Sejak saat itu, baik Mil maupun jiwa lainnya berusaha menjadi kuat. Mereka tak perlu khawatir seberapa lama menghabiskan waktu hanya untuk berlatih. Para jiwa tak bisa menua, juga mati. Mereka bebas sebebas-bebasnya.
Namun, ada kalanya usaha yang dilakukan akan menjadi sia-sia. Hanya ada empat jiwa yang akan berhasil menembus dinding yang membatasi. Empat jiwa ini terpilih secara acak, juga waktunya tak diketahui.
Nantinya, begitu empat jiwa ini melewati pembatas, ia akan dianugerahkan satu elemen. Dari sekian banyak jiwa, baru Viro dan Mil yang kini menapaki dunia luar. Viro dengan apinya, Mil dengan anginnya.
Seperti perkataan Viro, tak ada yang bisa membuka pembatas itu, kecuali dengan kekuatan para jiwa. Karena itulah, Seraphine menjadi yang pertama yang berhasil membuka pembatas itu tanpa ia sadari.
"Hei, apa yang membuatmu tertarik pada gadis rambut cokelat itu?" Viro bertanya setelah sekian lama terdiam.
Mil mendongakkan kepalanya, menerawang. "Kekuatannya. Dia memiliki kekuatan yang sangat unik. Begitu lembut, begitu baik. Apalagi dalam beberapa saat saja, dia berhasil memadukan elemen angin dengan kekuatannya. Bukankah itu menarik?" ucapnya.
Viro mengangkat bahunya tak peduli. "Tetap saja, dia hanya seorang gadis. Masterku lebih hebat. Seluruh segel elemennya bahkan sudah terbuka," katanya sambil tersenyum sinis.
"Yang kudengar, Bintang Hitam sudah berdiri sejak lama dan tak pernah mengganti pemimpinnya. Apa itu benar?"
Viro mengangguk. "Itu benar. Master Haku adalah master kedua di Bintang Hitam."
"Pengalamannya lebih hebat, ya? Hm, Gadis Angin itu pasti akan kesusahan," gumam Mil sambil menatap tanah.
"Tuan Pedang lebih hebat katamu?! Heh, pengalamanku sejak masa sebelumnya lebih hebat tahu! Chia, si Tuan Pedang ini baru menetas!"
Entah kenapa, mendadak Mil memikirkan perkataan Fu. Saat itu, dirinya kesal mendengarnya tanpa memaknai kalimatnya.
"Apa kau sedang kesal? Tiba-tiba begini?"
Mil berdecih. "Tiap kali aku bertindak, kenapa kau selalu mencampuri urusanku? Dasar Vario!"
"Hei, namaku bukan Vario!"
"Viro!" Seorang laki-laki yang menyarungkan pedangnya di pinggang berlari mendekat. Dia adalah Ao.
Mil dan Viro menoleh. Viro bangkit dari duduknya, lalu bertanya, "Ada apa? Master akhirnya memberikan perintah?"
Ao mengangguk. "Master memerintah, 'Bawa si Jiwa Angin itu ke hadapanku. Tuannya sebentar lagi datang menjemput.' Master tak bisa kemari karena harus menyambut."
Viro mengangguk, sedangkan Mil kembali memberontak. "Hei! Kalian sentuh seujung kuku rambut tuanku, mati kalian!"
"Ah iya, satu lagi." Ao menyeringai menatap Mil, lalu mendekatinya. "Hei, master berpesan padaku. Kalau kau terus memberontak, ucapkan selamat tinggal pada gadis rambut cokelat itu."
"Kurang ajar!"
"Hehe, tuanmu sangat cantik! Aku ingin mengoleksi kepalanya jika dia sudah mati."
Rahang Mil mengeras. "Jangan berani-berani kau!"
"Uuuh, takut ...."
Mengepalkan tangannya kuat, Mil mengumpat dalam hati.
__ADS_1
*Ini buruk. Apa yang harus aku lakukan?!
**To be continue*** ...