
Suara api unggun menemani kelompok perjalanan Seraphine. Siapa lagi kalau bukan Rain, Mil, dan si Kembar Gemini? Mereka duduk melingkari api unggun setelah makan malam.
Daging bakar yang menjadi menu makan malam itu tersisa satu, itu bagian Seraphine. Sudah beberapa jam lamanya gadis itu menyendiri.
Mil menghela napas. Diliriknya Rain yang baru menghabiskan dagingnya. Wajahnya muram dan tatapan mata Sylph itu kosong.
"Hei, mau berapa lama kita menunggunya?" tanya Mil memecah keheningan.
Seperti dugaan, Rain tak menjawab. Sedangkan si Kembar Gemini kompak saling pandang. Tentu mereka tahu siapa yang dimaksud oleh Mil.
Chia mendongakkan kepalanya. "Malam semakin larut. Apa kita cari saja?" katanya.
Mil berdecih sebelum bangkit dari duduknya. "Biar aku saja. Tak baik untuk anak kecil seperti kalian mencarinya."
Ajaibnya, Fu yang biasanya kesal dikatakan anak kecil mengangguk. Ia mengerti dengan ucapan Mil. Si Kembar harus menjaga tempat singgah mereka, juga Rain yang sama sekali tak bicara sejak bertengkar dengan Seraphine.
Mil mengambil jubah barunya yang dibeli Rain siang tadi, lalu menyampirkannya di pundak. "Hei! Aku pergi dulu!"
Wuuush!
Mil menggunakan elemen angin untuk membuatnya cepat berlari.
--o0o--
"Namamu. Siapa namamu?"
Seraphine bertanya pada gadis itu. Dipikir-pikir, mereka belum saling kenal walau sedari tadi bercurhat.
Gadis itu tersenyum seraya mengulurkan tangannya. "Panggil saja aku Gain."
Seraphine menyambut ulurannya. "Aku Sera. Salam kenal, Gain!"
Gain mengangguk. "Nah, kalau begitu, aku balik dulu, ya. Temanku menungguku. Lihat!" Gain menunjuk seorang gadis yang terlihat menunggu seseorang. "Dia temanku."
Seraphine mengangguk. "Silakan. Aku juga harus kembali. Teman-temanku pasti mengkhawatirkan aku. Terima kasih untuk malam ini, Gain!" tukasnya melambaikan tangan.
Gain pun berlari menuju gadis yang menunggunya itu. Sedangkan Seraphine, gadis itu juga melangkahkan kakinya kembali ke tempat singgahnya.
"Huh, apa-apaan 'Gain' itu?" Gadis yang menunggu itu mengomel.
"Penyamaran. Tak mungkin, 'kan kalau aku berkata kalau namaku Yien? Bisa-bisa suasananya tak lagi sama nanti."
Ya. Gadis yang mendengar curhat Seraphine, menemaninya malam ini adalah Yien. Yien merasa bahwa ia tak perlu menyebutkan nama aslinya karena semua pasti tahu tentang identitasnya. Namun, Yien tak sadar kalau Seraphine adalah orang yang dipilih Rain.
Lalu, siapa gadis yang menunggu Gain alias Yien itu?
"Kau ini tiba-tiba menghilang! Aku panik tahu! Bagaimana kalau ada pertarungan? Busur barumu saja ada padaku. Huh!" sungut gadis itu. Dialah An.
Yien terkekeh. "Maaf, An. Aku hanya ingin mencari tempat yang tenang. Tak tahunya ternyata bertemu Sera," sesal Yien sambil menangkupkan tangannya.
__ADS_1
"Iya, iya, aku maafkan. Tadi aku juga mendengar curhatan kalian, aku minta maaf karena diam-diam menguping," sahut An seraya menyodorkan busur panah.
"Hehe, aku tahu itu kau, An. Oh, terima kasih sudah membelikan busur baru." Yien mengambil busur dari tangan An, lalu menyampirkannya di punggung bersama anak panah.
"Mungkin itu tak seberapa dibandingkan punyamu yang kau tukar, tapi setidaknya berguna. Apa itu sesuai dengan seleramu?" tanya An tersenyum.
Yien mengangguk senang. "Tak masalah. Model dan kayunya saja yang berbeda, tapi aku bisa menyesuaikannya."
Kemudian, keduanya berjalan meninggalkan padang rumput.
"Kita lanjutkan perjalanan? Apa kau sudah tidak apa-apa, Yien?"
"Iya, aku baik-baik saja. Berkat pertemuan dengan Sera tadi, aku menyadari satu hal. Bukan aku saja yang menderita di dunia ini. Buktinya situasi Sera lebih prihatin dari pada situasiku. Aku sudah mengerti kenapa Rain meninggalkanku," oceh Yien sambil memandang langit.
An mengangguk setuju. "Aku tak menyangka, gadis seperti Sera bisa mengalami masalah seperti itu. Aku sadar begitu melihatnya. Yien, apa kau juga lihat wajahnya?"
Yien tersenyum lebar. "Iya, tentu saja. Dari wajahnya, Sera terlihat polos. Aku yakin kalau dia tak tega melukai makhluk lain. Dan rautnya itu ... sangat lembut," ungkap Yien.
"Benar. Jika orang seperti Sera banyak di dunia ini, pasti kejahatan akan semakin berkurang."
Yien hanya mengangguk sambil terus melangkahkan kakinya. Kini mereka sampai di perbatasan Kota Bulan Sabit. Dari sinilah mereka akan melanjutkan perjalanan.
"An, aku sudah memutuskan," lirih Yien sambil menatap An.
"Memutuskan apa?"
An tersenyum mendengarnya. "Syukurlah kau sudah kembali, Yien!"
--o0o--
Sementara itu, di tempat singgah kelompok Seraphine ...
"Fu, mereka lama sekali. Aku khawatir jika terjadi apa-apa," bisik Chia. Gadis itu tak mau membangunkan Rain yang sudah tertidur.
"Tenanglah, Chia. Si Tuan Pedang itu lebih hebat dari kelihatannya. Seraphine juga sudah berkembang. Mungkin satu dua luka bisa dibuatnya," balas Fu berbisik.
Chia menghela napas. "Seraphine belum bisa mengatasi rasa takutnya, Fu. Selama pelatihanku, hanya tiga kali dia berhasil melihatku membunuh hewan tanpa menghindar," katanya.
"Yah, itu bukan hal baik. Kita berharap saja, semoga mereka tak menemui masalah. Mungkin Tuan Pedang itu lagi jalan-jalan. Soalnya pemandangan malam ini terlihat indah," ucap Fu menenangkan.
"Oh iya, dipikir-pikir, aku tak pernah mendengarmu memanggil nama Mil. Tuan Pedang, Tuan Pedang saja. Ada apa? Kau kan bukan orang yang seperti itu," tanya Chia menatap kembarannya lekat.
Fu gelagapan, lantas membuang wajah. "Sulit rasanya mengakuinya. Jujur, kemampuan berpedangnya lebih baik dariku. Itu membuatku ... tak mau kalah. Sampai aku berhasil melampauinya, akan kupanggil namanya," jelas Fu sambil mengepalkan tangannya erat.
"Menurutku, kalian sama-sama hebat, Fu. Aku tak bisa membandingkan satu sama lain."
"Eh?" Si Kembar refleks menoleh ke arah kiri. "Nona!"
Seraphine mengangguk malu. "Aku kembali. Maafkan aku yang sudah selama ini menyendiri."
__ADS_1
Chia langsung bangkit, lalu memeluk Seraphine. "Tak apa, kami mengerti," katanya.
Fu menepuk pundak Seraphine. "Selamat datang kembali, Nona. Kau begitu lama sampai aku lumutan begini," sindir Fu.
Seraphine tertawa pelan, lalu berkata, "Aku tadi bertemu seseorang. Namanya Gain, dia gadis yang baik. Kami saling bercerita. Tak kusangka kalau dia juga sedang dalam masalah. Aku diberi saran olehnya."
Si Kembar saling pandang. "Gadis lain? Apa dia penduduk kota?"
Seraphine menggeleng. "Dia seperti kita. Gain berpetualang bersama temannya. Mm, aku belum melihat berapa teman yang dibawanya, tapi sepertinya mereka hanya berdua," jawab gadis itu.
Si Kembar manggut-manggut.
"Oh iya, Rain ... mana?"
Chia menolehkan kepalanya pada Rain yang tidur. "Dia sudah tidur. Mau aku bangunkan?"
"Tidak perlu." Seraphine tersenyum. "Aku merasa bersalah padanya. Kini aku paham tentang alasannya memilihku ketimbang Nona Yien yang hebat. Aku ingin meminta maaf, tapi dia sudah tidur. Mungkin besok saja," katanya.
Chia mengangguk. "Syukurlah jika kau sudah mengerti, Nona. Jangan dipikirkan lagi. Lebih baik kau memakan jatah dagingmu. Mau aku hangatkan?"
Seraphine mengangguk, lalu duduk di dekat api unggun. Chia sigap menghangatkan daging jatah Seraphine, sedangkan Fu ikut duduk di sebelah gadis itu.
Tak menunggu lama, daging itu kembali hangat. Chia menyerahkannya pada Seraphine yang langsung melahapnya.
"Sepertinya kau sudah terbiasa memakan daging, Nona. Pertama kalinya saja kau makan sambil berkata maaf, entah pada siapa," sindir Fu mengejek.
"Huh! Aku meminta maaf pada sapinya! Dia sudah rela dimakan olehku," balas Seraphine.
Beberapa lama kemudian, Seraphine selesai dengan makan malamnya. Dia menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil meminum air.
"Fu? Chia? Anggota kita ada yang kurang, ya?" tanya Seraphine ragu.
Si Kembar ikut-ikutan menoleh ke sana-sini. "Kurang?"
"Di mana Mil? Aku tak melihatnya," ujar Seraphine.
Fu sontak berdiri. "Bu-Bukankah kau bersamanya, Nona? Dia yang tadi mencarimu sementara kami berjaga di sini," tanya Fu panik.
Chia ikutan panik. "Bagaimana ini? Nona, kau benar-benar tak bersama Mil?"
Seraphine mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. "Tidak. Aku kembali sendirian."
"... La-lalu, dia ke mana?"
"Entah?"
"...."
To be continue ...
__ADS_1