
Hal yang pertama Rain lihat begitu berhasil masuk ke memori Seraphine adalah kegelapan. Makhluk kecil bersayap itu terbang perlahan. Matanya tajam mengawasi sekitar dengan gelap tak berujung itu.
"Sera?" Rain mulai memanggil. "Sera, jika kau mendengarku, jawablah!"
"Hiks ... aku mau pulang ...."
DEG!
Rain membalikkan badan seraya menajamkan pendengaran. Bukankah itu suara Sera? Di mana dia? Kenapa dia menangis?
"Sera! Apa itu kau?!" Rain terbang mengikuti suara tangisan itu.
Sayangnya, sejauh apa pun Rain terbang mencari sahabatnya, Seraphine tetap tak ditemukan. Padahal suara tangisan itu semakin terdengar.
"Sera! Kumohon, jawab aku! Aku datang untuk menyelamatkanmu!" Rain kembali berteriak.
Drap! Drap! Drap!
Suara langkah kaki yang berlari tiba-tiba terdengar dari depan sana. Rain memasang kuda-kuda, waspada jika ada musuh di tempat ini.
"Siapa di sana?!" seru Rain.
"Hiks! Rain!"
"Se-Sera?!" Rain menganga begitu si Pemilik Langkah itu sampai di depannya. Tempat kosong yang gelap ini mendadak temaram karena lentera.
"Rain ... aku takut ...."
Rain refleks mundur. Seorang gadis kecil dengan suara Seraphine itu membuatnya terdiam. Siapa anak ini? Kenapa suara Sera ada padanya?
Gadis kecil itu berpenampilan berantakan. Tubuhnya lebam sana-sini. Bekas tamparan atau pukulan terlihat di wajahnya. Rambut cokelatnya terurai begitu saja. Yang paling menarik adalah ....
"Hiks ... jangan diam saja, Rain .... Cepat keluarkan aku dari sini ...," pinta gadis itu. Mata emasnya bersinar terang dalam tempat temaram ini.
Ya. Penampilan dan suaranya layaknya Seraphine walau dia masih seorang gadis kecil. Namun, matanya berwarna emas, bukan seperti mata Seraphine.
"Adik kecil, kau siapa?" tanya Rain lembut. Bagaimanapun juga, dia hanyalah gadis kecil. Rain akan memperlakukannya dengan baik.
"Kau ngomong apa, Rain?" Gadis kecil itu mengusap air matanya kasar. "Aku Seraphine! Apa kau melupakanku?"
Kali ini Rain benar-benar terdiam. Benarkah yang di depannya ini adalah Seraphine? Atau mungkin gadis kecil ini versi masa kecilnya Seraphine?
"Heh! Mau kabur sampai mana kau?!" Suara seorang wanita membuat keduanya terlonjak.
Rain memicingkan mata untuk melihat lebih jelas wanita itu. Berbeda dengan Rain, Seraphine kecil gemetar hebat di tempatnya.
"Wah, wah ... Seraphine, kau menemukan bantuan? Siapa dia, hm?" tanya wanita itu sambil menyeringai.
Rain mengerutkan dahi. "Hei, siapa dia? Kenapa kau ketakutan--"
"Ayo kita pergi dari sini!" Mendadak, Seraphine kecil membawa tubuh Rain menjauh dari wanita itu. Sesekali hampir terjatuh, tapi tak lama kemudian, mereka berhenti.
Rain mengedarkan pandangannya. Ini tempat baru. Berbeda dengan tempat kosong yang gelap dan temaram tadi, di tempat ini cahayanya melimpah.
"Ini ...."
Suara gemericik air sungai tertangkap pendengaran Rain. Seraphine kecil menurunkannya di tepi sungai.
"Sera? Bukankah ini ...."
Seraphine kecil mengangguk. "Aku menemukannya tadi, entah bagaimana. Tempat ini adalah hutan tempatku terbangun."
"Tapi, bagaimana bisa kita tiba-tiba berpindah ke sini?"
Seraphine kecil terisak. "Aku sudah mengingat semuanya, Rain. Tentang masa kecilku, tentang wanita kejam tadi yang adalah ibuku, tentang segala penyiksaan ibu karena katanya aku anak terkutuk ...."
Rain terkejut mendengarnya. "Benarkah? Tapi kenapa kau tetap di sini, Sera? Semuanya menunggumu kembali ...."
"Tidak bisa! Aku tak tahu alasannya. Sejak mengingat semuanya, aku langsung terjebak di tubuh anak kecil ini yang tak lain adalah tubuhku sendiri! Wanita itu terus mengejarku, mengira aku adalah Seraphine kecil, hiks ...." Seraphine kecil terduduk di tepi sungai, lantas memeluk lututnya sendiri.
"Dia ... dia mau menyiksaku sampai aku mati, tapi katanya aku sulit untuk mati karena memiliki mata emas ini," lanjutnya.
"Mata emas? Ah, apa mungkin warna mata aslimu adalah warna emas?"
Seraphine kecil mengangguk seraya membenamkan wajahnya di kedua lututnya. "Aku juga baru mengetahuinya, Rain, karena begitu terbangun di hutan ini, warna mataku bukanlah emas. Hanya satu, hanya satu yang tidak terlihat jelas di memoriku."
"Lalu, apakah itu?"
"Wanita bertopeng. Dialah yang membawaku ke hutan ini. Dia juga yang memberikanku pita merah dan gelang itu. Lalu ... dia juga yang menutupi warna mata asliku .... Rain, siapa dia? Apa tujuannya melakukan itu padaku?"
Rain benar-benar terdiam. Terjawab sudah pertanyaannya tentang pita dan gelang Seraphine, pun alasan Seraphine terbangun di hutan ini. Namun, siapa sebenarnya wanita bertopeng itu?
__ADS_1
"Hiks ... aku mau pulang ...."
Rain menghela napas pelan. "Sera, hanya ada satu cara untuk membawamu kembali. Berdamailah dengan ibumu. Ingat, tempat ini adalah memorimu. Itu artinya, wanita kejam itu tidak nyata di depanmu. Tanyakan alasannya, mengapa dia selama ini menyiksamu. Tanyakan tentang mata emasmu, juga tentang wanita bertopeng itu."
Seraphine kecil mengangkat wajahnya. "Bagaimana dengan luka-luka ini, Rain? Walau aku berdamai dengannya, rasa sakit ini nyata. Karena sakit inilah aku tak pernah berani melukai orang lain, bahkan hewan sekalipun," tanyanya pelan.
Rain tersenyum. "Kau sudah merasakan semuanya, 'kan? Dari luka kecil sampai luka besar."
Tubuh Seraphine kecil gemetar. "Memberikan luka tidak sama dengan membunuh, Rain. Aku bisa memberikan luka, tapi tak menjamin bila membunuh. Apa aku harus terbunuh juga?"
Rain menangkup pipi Seraphine kecil. "Sera, setiap tindakan pasti ada alasannya. Jangan pikirkan rasa sakit saat terluka atau terbunuh, tapi pikirkanlah tentang alasanmu melakukan itu. Selama itu membawa kebaikan, alam tak akan marah, tak ada yang akan menyalahkanmu. Apa kau mengerti, sahabatku?"
"Pikirkan tujuan ...."
"Nah, saatnya menemui ibumu. Lihat, dia mendekat ke sini."
"Dasar anak terkutuk! Mau kabur ke mana lagi, hah?!" Tinggal beberapa langkah, wanita itu sampai di tempat Seraphine kecil.
Rain memberi ruang pada mereka, terbang menjauh.
"Ibu ... maafkan aku. Mungkin ada alasannya aku terlahir dari rahim Ibu. Mungkin ada tujuannya aku terlahir dengan mata emas ini--"
"Bicara apa kau?!"
Wanita itu menampar pipi Seraphine kecil. Namun, berbeda dengan sebelumnya, tak ada isakan, tak ada rintihan, pun tak ada jeritan yang keluar dari mulut Seraphine kecil.
Bukan Rain saja yang terkejut, tapi juga wanita itu.
Seraphine?
"Ah ... rasanya berbeda dibanding sebelumnya. Jadi seperti ini rasanya jika aku menerima perlakuan Ibu dengan hati ringan."
"A-Apa-apaan?"
Seraphine kecil mengulas senyum, lantas memeluk sang ibu. "Jika aku berpikir jernih, aku bisa menarik kesimpulannya, Bu. Selama ini bukan aku saja yang tersiksa, tapi Ibu juga. Ibu yang menyiksaku, tapi Ibu yang merasa sakitnya juga, 'kan?"
"...."
"Aku selalu melihat tangan Ibu yang gemetar jika ingin menyiksaku. Di balik wajah marah Ibu itu, ada raut keterpaksaan di sana. Sebenarnya ... semua yang Ibu lakukan demi kebaikanku, 'kan? Ibu menyebutku anak terkutuk karena mata emas ini. Mungkin itu karena ibu tahu takdir yang akan kuemban di kemudian hari. Ibu ... aku benar, 'kan?"
GREP!
"Tidak apa-apa, Bu. Apa Ibu bisa menceritakan semuanya padaku? Tentang mata emasku, tentang takdir yang akan kubawa di pundakku. Tentang wanita bertopeng ...."
Wanita itu mengangguk. Masih sambil memeluk, dia mulai menceritakan semuanya.
--o0o--
"Hah ... hah .... Berapa lama lagi mereka di dalam?" Fu terengah-engah dengan kekuatannya yang masih mengalir.
Dahlia dan Mil juga semakin kesusahan. Sudah satu jam lamanya mereka menyalurkan energi pada Seraphine dan Rain. Chia sendiri sedang bersandar di salah satu pohon. Peluh membanjiri wajahnya.
"Sial, aku ... sepertinya aku tak kuat!" desis Fu, "Seraphine, Rain, cepatlah!"
Siiing!
Sinar putih yang menyelimuti kedua sahabat itu semakin terang. Bukan itu saja, angin kuat pun muncul di tengah-tengah mereka.
"Apa yang terjadi?!" Chia berdiri.
"Tidak tahu! Tiba-tiba seperti ini!" Fu berteriak. "Ukh ... kuat sekali angin ini!"
Fu terpental beberapa meter, begitu pun dengan Dahlia. Beruntungnya, tempat mereka saat ini adalah padang rumput yang luas.
"Hei, Tuan Pedang! Bagaimanapun caranya, tahan angin itu!"
"Aku tahu, Bocah!"
Wuuush!
Sinar yang semula putih kini mendadak emas. Angin pun semakin menguat.
"Sialan! Aku tak bisa ... lebih lama!" umpat Mil sambil mengeraskan rahangnya. Tangannya yang kebas melemas.
BUM!
Mil terpental begitu suara ledakan terdengar dari pusaran angin itu, mengenai pohon tempat Chia bersandar tadi.
"Ukh! Apa itu tadi?!"
"Mil, kau baik-baik saja?"
__ADS_1
DEG!
"Se-Se-Seraphine?!"
"Iya, ini aku. Hehe, aku kembali!"
Mil bengong menatap senyum lebar Seraphine. Tu-Tunggu dulu, kenapa Seraphine ada di belakangku?! Ja-Jadi yang kena pohon adalah Seraphine?!
"Mil, kau bisa berdiri? Berat rasanya menahanmu seperti ini. Sayapku bisa rusak nanti."
"Hm? Sayap?" Mil mendongakkan kepala. Matanya sontak melebar melihat sayap putih bersih itu di punggung Seraphine.
"SA-SA-SAYAP!"
Baik Mil, Dahlia, dan si Kembar menganga lebar. Mil sampai terduduk dengan pandangan kosong ke depan.
"Apa kau benar-benar Seraphine yang kukenal?" Dahlia yang pertama bersuara.
"Kak Dahlia!" Seraphine mengepakkan sayapnya menuju tempat Dahlia dan Fu. "Hehe, sekarang aku sudah tidak takut lagi! Semua sudah selesai!"
Fu yang di sebelahnya gemetar. "Ke-Kenapa Nona punya sayap?"
"Oh, ini?" Seraphine melirik ke arah sayapnya. "Ini bagian dari kekuatanku, Fu! Oh iya, maafkan aku yang sudah membuatmu khawatir. Rain sudah menceritakan semuanya."
Seraphine perlahan turun hingga menyentuh tanah. Semuanya masih terkejut melihat gadis itu. Bukan hanya sayap yang tiba-tiba muncul, warna mata Seraphine juga berubah.
Bukan berpendar emas, tapi benar-benar emas!
"Huh, kalian terlalu berlebihan melihatnya. Bukankah lebih baik menanyakan perasaan Sera setelah dia kembali?" Rain tiba-tiba bersuara.
Seraphine yang sayapnya sudah menghilang begitu dia menyentuh tanah terkekeh geli. "Tak apa, Rain. Aku saja terkejut begitu mendapatkan sayap ini, apalagi mereka."
Mil, Chia, Fu, dan Dahlia mulai merapat ke tempat dua sahabat itu.
Seraphine tersenyum. "Nah, siapa yang mau bertanya lebih dulu?"
"Bisa kau ceritakan semuanya?" Keempat orang itu bertanya serempak.
Seraphine tertawa kaku. "Kalau begitu, dengarkan baik-baik." Gadis itu pun mulai bercerita.
Seraphine menceritakan semuanya, mulai dari memori saat dia pertama kali melihat dirinya versi kecil hingga pertemuan dengan ibunya di hutan tempatnya terbangun.
"Ibu terpaksa menyiksaku agar aku mati. Jika aku mati, maka takdir sebagai pemilik mata emas tidak perlu kutanggung. Ah, mata asliku ternyata berwarna emas. Warnanya disamarkan oleh wanita bertopeng yang membawaku ke hutan tempatku terbangun."
"Lalu, takdir apa yang harus kau tanggung?"
Seraphine tersenyum. "Takdir sebagai Valkyrie!"
"... hah?"
"Iya. Kalian semua tahu, 'kan, tentang Valkyrie? Dari generasi ke generasi, semua Valkyrie memiliki mata emas. Ibuku mengatakan anak terkutuk hanya dari pendapatnya saja karena ibuku menganggap menjadi Valkyrie sangat berat."
"Kalau begitu, dari mana kau mendapat rasa takut untuk melukai itu?"
"Oh, itu ...." Seraphine memeluk dirinya sendiri. "Ibuku selalu menyiksaku. Aku yang sudah merasakan semua luka itu tak ingin kalau orang lain bernasib sama sepertiku. Eh, tapi tenang saja! Aku sudah baik-baik saja!"
"Kau tadi menyebut wanita bertopeng. Apa maksudnya, Nona? Siapa dia?"
"Sudah aku katakan, dialah yang membawaku ke hutan tempatku terbangun itu. Dia yang menyamarkan warna mata asliku. Dia juga yang menemukan jenis kekuatanku dengan memberi pita dan gelang ini." Seraphine menunjuk pita dan gelangnya.
"Sayangnya, aku tak tahu identitasnya yang sebenarnya. Ibuku juga tidak tahu karena waktu itu, wanita bertopeng yang menyelamatkanku saat ibu ingin menusukku," lirih Seraphine sambil menunduk.
Semua terdiam mendengarnya. Mungkin Seraphine merasa bahwa wanita bertopeng itu kenal dekat dengannya. Tak mungkin ada seseorang yang menyelamatkan orang lain tanpa alasan.
"Sera, kau lupa satu hal. Tak mau menceritakan tentang sayapmu?" Rain mengalihkan pembicaraan.
Seraphine kembali mengulas senyum. "Ibuku memberi tahu tentang kekuatan tersembunyiku. Aku bisa menggunakan sayap ini jika berhasil menguasai segel angin. Untung saja segel anginku sudah terbuka," ceritanya.
"Mil, Chia, Fu, kalian masih ingat dengan Tarian Jiwa? Ternyata saat menarikannya, tanpa sadar aku menggunakannya, tapi tak terlihat karena saat itu aku belum mengingat masa laluku. Namun, sekarang sudah berbeda. Semua kunci sudah dilepaskan, menyebabkan sayapku bisa terlihat jelas!"
Mata Seraphine berbinar. Dirinya sangat senang memiliki sayap karena dulu pernah bermimpi bisa terbang seperti Rain.
Semuanya tersenyum. Melihat Seraphine yang ceria seperti ini membuat mereka tenang. Raut kesakitannya sudah hilang. Bahkan sekarang Seraphine sudah menaklukkan rasa takutnya, ditambah dengan memiliki sayap baru.
Seraphine menatap Mil serius. "Mil, sesuai perkataanmu, aku sudah menaklukkan rasa takutku. Bisakah kau melatihku lebih keras mulai saat ini?"
"Hah ... seharusnya kau istirahat sebentar, Seraphine, tapi kalau itu maumu, baiklah." Mil menyeringai. "Siap untuk latihan baru, Seraphine?"
"Tentu! Aku tak sabar mencoba kekuatan baruku, Mil!"
To be continue ...
__ADS_1