
Tap! Tap! Tap!
Seraphine menatap lekat wanita tua yang berjalan di depannya. Di bahunya ada Rain dan di kanan kirinya ada si Kembar Gemini yang siap siaga dengan tongkat mereka.
Seraphine sendiri gemetar meletakkan tangannya di gagang pedang, bersiap jika ada kemungkinan terburuk.
"Tidak perlu mewaspadai kami, Nona Rambut Cokelat. Pemimpin kami hanya ingin berbincang dengan kelompokmu," kata wanita tua itu.
Seraphine tak habis pikir, bagaimana mungkin seorang wanita tua adalah salah satu anggota Bintang Hitam?
Lihat saja wanita tua ini. Jalannya membungkuk menggunakan tongkat sebagai tumpuannya. Tubuhnya juga terlihat gemetar layaknya fisik lemah nenek-nenek yang bepergian jauh.
"Hei, Nenek. Tadi kau bilang kalau teman kami ada pada kalian, 'kan?" tanya Fu dengan tatapan tajamnya.
Wanita tua itu terkekeh. "Tidak percaya dengan wanita tua ini, anak muda?"
Fu mendesis, "Jika kau bukan bagian Bintang Hitam, aku akan percaya, Nek."
"Sebaiknya Nenek persiapkan diri. Nenek sudah bersumpah akan bunuh diri jika Mil tak ada bersama kalian," timpal Chia.
Benar. Begitu wanita tua itu datang ke hadapan mereka, dia berkata akan memberitahukan tempat Mil jika mereka mau berbincang dengan pemimpinnya. Tentu saat itu keempatnya curiga. Namun, begitu wanita tua itu bersumpah untuk bunuh diri jika Mil tak ada, terpaksa mereka mengikuti langkahnya.
"Hei, Rain," bisik Seraphine sambil melirik Rain, "Ini benar tak masalah, 'kan? Nenek itu sampai bersumpah segala, aku tak tega melihatnya."
Rain berdecak pelan. "Bintang Hitam itu kelompok penjahat, Sera. Memang benar, jika dilihat dari tampilan, tak mungkin nenek itu adalah Bintang Hitam, tapi nyatanya tidak. Jangan ragu untuk menghunus pedangmu begitu hal buruk terjadi. Kau mengerti?"
Seraphine mengangguk ragu, lalu kembali menatap ke depan.
Terhitung sudah beberapa menit mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di perbatasan antara padang rumput dengan hutan. Ada beberapa orang bertudung yang tersebar di sekitar mereka.
Wanita tua itu berbalik, lalu berkata, "Pemimpin kami ada di dalam hutan ini. Berjalanlah 700 meter ke depan, maka kalian akan menemukan beliau."
Seraphine menelan ludah susah payah, memantapkan dirinya sekali lagi, lantas berjalan memasuki hutan. Gadis itu melewati wanita tua itu begitu saja.
Namun, begitu Chia dan Fu hendak melangkah, wanita tua itu menghadang mereka.
"Apa-apaan ini?!" Fu bertanya kesal.
Orang-orang bertudung mendadak merapat. "Ah, maafkan aku yang lupa mengatakannya. Hanya mereka berdua yang boleh masuk. Kalian anak kecil harus tetap di sini."
"Hah?! Itu tak kau sebutkan selama perjalanan tadi!" protes Chia, bersiap mengayunkan tongkat.
Orang-orang bertudung itu juga bersiap bertarung. Seraphine sontak kembali untuk menahan Chia. "Jangan lakukan, Chia! Tak apa, kami akan baik-baik saja!" bujuk Seraphine.
"Mereka Bintang Hitam, Nona!" bentak Chia, "Mereka tak bisa dipercaya! Pasti mereka akan menjebak kalian di dalam hutan!"
"Tapi, haruskah? Haruskah kita bertarung jika ada jalan yang lebih baik? Aku dan Rain hanya akan berbincang. Mungkin pemimpin mereka akan mengajukan syarat, tapi kupikir kami bisa memberikan syarat itu." Seraphine terus membujuk.
__ADS_1
"Nona." Fu mendekati Seraphine, menatapnya tajam. "Katakan pada kami. Apa pemimpin Bintang Hitam akan melepas begitu saja Tuan Pedang itu? Apa kau pikir syarat yang nanti diajukan adalah syarat yang mudah? Bagaimana jika dia mengincar kepalamu atau Rain?"
"Itu ...." Seraphine menunduk.
"Jangan naif! Tidak semua orang di dunia ini bisa mendapat kebaikan cuma-cumamu! Jika kau masih berpikiran lembek begini, suatu hari nanti, kebaikan yang kau berikan akan menyekik lehermu!"
"Fu! Jangan membentaknya!" Chia buru-buru menenangkan Fu.
"Jangan menahanku, Chia! Aku kesal dengan sifatnya yang satu itu!" Fu menepis tangan kembarannya.
"Hei! Kita sudah mengawasinya sejak lama. Kita tahu sifatnya seperti apa. Jadi ...."
Rain menghela napas menyaksikan pertengkaran di depannya. Tapi, apa yang dikatakan Fu juga benar. Setidaknya Sera tahu cara menempatkan kebaikannya. Di saat seperti ini, musuh pasti senang dengan perpecahan kelompok kami--
Sret!
Eh? Tidak! "Kalian berdua, menunduklah!" teriak Rain cepat.
Syuuut!
Sebuah anak panah berhasil diluncurkan. Rain berdecak kesal meninggalkan bahu Seraphine. Ia menatap tajam pada pemanah dari Bintang Hitam yang bersembunyi di atas pohon.
"Kurang ajar! Sera! Ada pemanah di atas pohon, sebaiknya kau--"
"Fu!"
Rain berbalik. Ia terkesiap. "Hah ... sekarang pertempuran benar-benar tak bisa dihindari."
"Bagaimana kabarmu, Kak?" Seorang laki-laki berpakaian dewa bertanya pada wanita yang duduk di depannya.
Wanita yang memakai gaun itu tersenyum. "Seperti biasa, Apollo. Sebenarnya apa yang terjadi sampai adik manisku ini berkunjung ke istanaku?" katanya. Dia adalah Artemis sang Dewi Bulan, saudari Apollo.
Apollo mengeluarkan gulungan perkamen dari jentikan jemarinya, lalu menerbangkannya ke hadapan Artemis. "Aku mendapat kabar dari Aphrodite. Dia melihat hal mencurigakan di wilayahmu, Kak," jelas dewa satu ini.
Artemis membuka gulungan perkamen itu. Dahinya langsung mengerut. "Bintang Hitam ada di Kota Bulan Sabit? Benarkah ini?"
"Aphrodite tak mungkin keliru, Kak. Kau tak mengetahui kabar ini?"
"Aku belum memantau kotanya. Menurut jadwal, seharusnya dua hari lagi aku akan ke sana," jawab Artemis sambil menerbangkan kembali perkamen itu.
Apollo menjentikkan jarinya dan perkamen itu menghilang. "Jadi, bagaimana kau akan mengurusnya? Zeus menitipkan pesan agar segera menindak Bintang Hitam. Kalau bisa sampai mengalahkan mereka," balas Apollo.
Artemis menghela napas. "Seandainya semudah itu melenyapkan mereka. Aku butuh waktu menyusun rencana. Lagipula ...." Artemis menerawang. "Di luar masih terang."
"Jangan terlalu lama, Kak. Pasti ada korban dari penduduk Kota Bulan Sabit. Kau harus mencegah jatuhnya korban lagi," peringat Apollo.
Artemis tak menjawab dan memilih meminta pelayannya untuk mulai membawakannya minuman.
__ADS_1
Dewi Bulan itu menatap lekat saudaranya. "Apollo, kau tahu keahlianku, 'kan?" tanyanya.
"Hm? Kenapa bertanya hal yang sudah jelas?"
Artemis mengetuk kepalanya pelan. "Aku dapat mimpi sebelum kau datang. Sebuah mimpi yang mengejutkan."
Apollo terkekeh. "Setelah sekian lama tak bermimpi, kali ini ramalan apa lagi yang kau lihat, Kak?"
Ya. Selain dapat mengendalikan cahaya bulan sesuka hatinya, Artemis memiliki kemampuan tak terkalahkan. Dia bisa mendapat ramalan dari mimpinya, seperti bencana besar, kejadian-kejadian hebat, dan lainnya.
Namun, mimpi itu tak selamanya datang, hanya beberapa kali dari ratusan tahun.
Artemis meneguk minumannya begitu pelayan datang sebelum berkata, "Valkyrie era kini akan berbeda dari yang lainnya. Aku tak tahu detailnya, tapi selain pedang, Valkyrie juga menggunakan tombak. Satu lagi ...."
"Satu lagi?"
Artemis terlihat menimbang-nimbang, apakah ia akan memberi tahu Apollo atau tidak.
"Katakan saja, Kak. Ini ramalanmu setelah sekian lama," kata Apollo.
"Aku sendiri tak yakin, Apollo. Mungkin aku akan berdiskusi dulu dengan Zeus, atau Athena. Mereka yang lebih paham tentang Valkyrie daripada kita," jelas Artemis sambil melemparkan pandangan minta maaf.
Apollo tertawa mendengarnya. "Tak masalah. Kalau begitu, aku akan mendengarnya begitu Kakak mendapat jawaban."
Anggukan diberikan Artemis. Kemudian, Apollo bangkit dari duduknya. "Urusanku sudah selesai. Aku pamit dulu, Kak. Jangan lupa tentang kabar Bintang Hitam itu," pamit Apollo.
Dewa Matahari itu membalikkan badannya, lalu melangkah keluar. Namun, baru beberapa langkah berjalan, Artemis menghentikannya.
"Ya? Apa ada yang Kakak butuhkan?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin memastikan sesuatu," kata Artemis, lalu menatap ragu, "Apollo, Valkyrie itu ... bisa terbang?"
"... Apa?"
"Apa Valkyrie bisa terbang? Atau menapaki angin?"
"Ha-Haha, mana mungkin, Kak!" tawa Apollo geli, "Memang sudah berapa kali Valkyrie berganti sampai kau lupa hal kecil itu?"
"Iya, 'kan? Tak bisa, 'kan?" Artemis ikut tertawa.
Apollo menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melambaikan tangan sekilas. "Kakak ada-ada saja. Jika sudah, aku pamit dulu. Sampai jumpa lagi, Kakakku."
Artemis membalas lambaian tangan Apollo sambil memandang kepergiannya.
BLAM!
Pintu ruang pertemuan itu tertutup. Artemis menepuk-nepuk pipinya pelan, kembali tertawa kaku.
__ADS_1
"Mana mungkin, 'kan, aku berkata kalau Valkyrie akan memiliki sayap?"
To be continue ...