The Valkyrie

The Valkyrie
SEGEL ELEMEN


__ADS_3

"Kesatria? Aku baru mendengarnya," kata Seraphine sambil menoleh pada Rain. "Apa aku melewatkan sesuatu?"


Rain tertawa pelan. "Tidak. Tentang kesatria, hal itu dirahasiakan. Hanya beberapa orang saja yang tahu tentang itu." Rain menjelaskan.


Fu angkat bicara. "Sebenarnya kami tak boleh menampakkan diri sebelum upacara penobatan bagi kandidat yang terpilih menjadi Valkyrie," jelasnya.


"Tapi karena Nona yang membangunkan kami, Nona sudah seperti majikan kami. Yah, sampai Yang Mulia Valkyrie era sekarang terpilih," lanjut Chia menambahkan.


Seraphine manggut-manggut. "Lalu, apa selain kalian ada kesatria yang sudah terbangun?" tanyanya.


Si Kembar Gemini saling pandang. "Kami tak yakin, mungkin ada dua yang lainnya. Libra dan Aquarius. Kami hanya bisa saling merasakan jika menggunakan kekuatan," jawab Chia.


Fu mengangguk. "Tapi selama ini, kami tak pernah merasakan kekuatan mereka berdua lagi."


"Tentang Libra, sepertinya aku tahu," timpal Rain yang sibuk mengunyah anggur dari persediaan makanan.


"Oh ya?"


"Iya." Rain memberikan buah pada ketiganya sebelum melanjutkan, "Katanya dia memiliki pengaruh di wilayah tertentu, bahkan memiliki pelayan, prajurit, dan kediaman yang cukup besar."


Mata Seraphine berbinar. "Wah! Di mana dia sekarang? Apa kita bisa menemuinya?" tanyanya antusias.


"Tidak."


"Eh?"


"Tidak boleh. Sepertinya Nona terlalu naif. Tak semudah itu bertemu dengan kesatria. Sudah kami katakan, kami para kesatria hanya menampakkan diri jika upacara penobatan sudah selesai," jawab Fu dengan nada dingin.


Raut kembarannya juga menggelap. "Apa yang membuat Nona ingin bertemu dengan yang lain? Kami punya aturan tersendiri untuk tidak berkumpul di satu tempat, kecuali Yang Mulia yang memerintahkan kami," ucap Chia, juga dengan nada dingin.


Perubahan raut si Kembar membuat Seraphine terkejut. Baru sebentar mereka bercanda tawa dan tersenyum, tapi dalam sekejap semua berubah.


Seraphine sontak menunduk. "Maafkan aku. Aku hanya ... antusias. Kalian sangat hebat. Aku sudah menyaksikan kekuatan kalian semalam, jadi ...."


Rain menepuk pundak sahabatnya. "Sera, aku mengerti. Kau ingin bertemu dengan yang lain untuk berguru pada mereka, 'kan? Tapi Sera, mereka juga memiliki privasi, jangan dipaksakan," hibur Rain.


"Iya, aku marah pada diriku, Rain. Aku sudah membuatmu kesusahan selama ini, bahkan sampai membiarkanmu berjuang sendiri sampai terluka. Aku ... lemah ...."


"Hah ...." Chia menghela napas, rautnya kembali seperti semula. "Kami tak bermaksud menyinggung. Dan kenapa tak katakan maksudmu untuk berguru tadi?"


Seraphine mendongak, memiringkan kepalanya. "Karena ... kalian tak bertanya?"


Fu mengusap wajahnya sambil tertawa. "Benar-benar ... Nona luar biasa. Nona, kami bisa saja menjadi gurumu, tapi kekuatan kami tak cocok dengan kekuatanmu," jelasnya.


Chia mengeluarkan tongkatnya yang semalam dipakai menyerang para serigala, lalu melambaikannya. Seketika angin lembut menerpa mereka.

__ADS_1


"Kekuatan kami berhubungan dengan angin, sedang kekuatan Nona hanya sebatas tarian dan nyanyian," tukas Chia sambil menatap Seraphine lekat. Ia melambaikan tongkatnya sekali lagi untuk menghentikan angin itu.


"Jadi mustahil, ya?" lirih Seraphine, "Apa di antara kalian ada yang memiliki kekuatan sepertiku?"


Giliran Fu yang mengeluarkan tongkatnya, membentuk angin menjadi sebuah pedang. "Tidak ada, tapi kami tak berkata mustahil untuk Nona berguru pada kami. Asalkan Sylph itu bersedia membuka segel angin padamu."


"Uhuk!" Tiba-tiba Rain terbatuk. "Tak boleh! Itu berbahaya! Membuka segel elemen sama saja bunuh diri bagi Sera!"


"Itu terserahmu, Sylph. Kami tahu itu berbahaya."


"Segel angin? Apa itu?" Seraphine bertanya.


Rain menepuk jidatnya pelan. "Lupakan, Sera. Kau cukup dengan dirimu yang sekarang," cegahnya.


Seraphine menggeleng tegas. "Tidak, Rain! Jika aku bisa menjadi lebih kuat, minimal dapat melindungimu, aku akan mengorbankan apa pun!"


Fu memasukkan tongkatnya seraya berkata, "Nah, Sylph, Nona sudah bertekad seperti itu, apa tak bisa kita beri kesempatan dulu?"


Rain terdiam. Ia juga melihat tekad kuat pada mata Seraphine ... tapi tidak bisa.


"Sera, setiap makhluk memiliki segel elemen pada tubuhnya. Hanya beberapa saja yang bisa membuka segel pada makhluk lain. Tapi, ada bayaran untuk membukanya. Aku tak bisa membahayakan nyawamu," jelas Rain.


"Katakan padaku bayarannya! Aku akan mengorbankan apa pun--"


Seraphine tersentak. Baru kali ini Rain berteriak sekeras itu padanya. "Rain?"


"Maaf ... aku tak bisa karena membukanya berarti memendekkan umurmu ...."


Hati Seraphine mencelos. Lihat, karena keinginannya menjadi kuat, Rain sampai menangis. Apa ia egois?


Seraphine mengepalkan tangannya kuat. Sedetik kemudian, ia membungkuk pada Rain. "Rain, izinkan aku menjadi kuat sampai bisa melindungi dirimu ... tidak, sampai bisa melindungi diriku sendiri. Aku mohon!"


Suasana mendadak hening. Rain terkejut luar biasa melihat Seraphine seperti itu. Bahkan si Kembar Gemini juga karena Seraphine yang mereka kenal adalah diri yang lembut.


Tersenyum, Rain mengusap air matanya. "Aku akan izinkan, tapi sebelum itu, siapkah kau mengambil nyawa makhluk lain? Dari sini, latihan dari Gemini pasti akan berat dan situasi seperti semalam akan terulang di kemudian hari. Apa kau siap?"


Tubuh Seraphine menegang. Kilas balik kejadian semalam masih menghantuinya, membuat tubuhnya gemetar.


Rain menggenggam tangan Seraphine. "Lihat, kau tak siap, Sera."


Seraphine tertegun, meremas tangannya kuat. Ia mendongak menatap mata Rain. "Aku tak siap, tapi aku akan mencobanya. Kau boleh menghentikanku kapanpun jika kau merasa aku dalam bahaya," ucapnya tegas.


Rain tersenyum. "Aku mengerti. Aku akan membuka segel elemen sore nanti. Dibutuhkan stamina dan kekuatan mental yang cukup, Sera. Aku menyarankan untukmu berlatih yang sudah aku ajarkan sendiri sampai siang. Mengerti?"


Seraphine tersenyum lebar. "Ya, aku mengerti, Rain!"

__ADS_1


"Nah, mulailah."


"Baik!"


Gadis itu bangkit, lalu berlari mencari tempat yang nyaman untuk latihannya.


Chia masih memandang punggung Seraphine. "Apa kau tak merasa terlalu posesif?" tanyanya.


"Tidak. Aku sudah mencurahkan segalanya untuk Sera, jadi aku memercayainya. Jika dia sudah menunjukkan tekadnya, aku tak bisa menahannya," jawab Rain lugas.


"Tapi, jika dia punya kekuatan, kenapa tak menggunakannya semalam?" Giliran Fu yang bertanya.


"Bisa saja dia gunakan, tapi tak bisa. Untuk menyerang musuh dengan nyanyiannya, dia harus menggunakan tenaganya. Semakin lama dia menyanyi dan menari, semakin cepat tenaganya terkuras. Itu tak bisa dikendalikan dengan mudah," jelas Rain.


"Wah, benar-benar mirip dengannya. Ingat Yien? Aku langsung terpikirkan Yien saat melihatnya," ujar Fu.


Rain tertawa. "Siapa yang tak ingat dengan saudari kandung Yang Mulia? Setelah dipikir-pikir, Sera memang terlihat sama dengannya."


Chia melirik Sera yang sedang menari di kejauhan. "Apa kau sudah memberitahu dia tentang Yien? Juga ... tentang sayap birumu?" bisiknya.


Wajah Rain terlihat sendu. "Aku tak memberitahunya. Yien adalah sahabatku, juga muridku seperti Sera. Aku bahkan sudah membuka dua segel elemen di tubuhnya. Tapi dia menghilang beberapa tahun lalu. Aku tak mungkin mengatakan kalau aku berkelana untuk mencari Yien," lirihnya.


"Tapi bisa saja Yien juga mencarimu. Beberapa kali aku mendengar rumor bahwa Yien terlihat di beberapa tempat dan menanyai keberadaanmu," tukas Fu.


"... Aku tahu itu. Tapi aku tak bisa bersamanya. Sera adalah yang kupilih."


"...."


Rain mengepakkan sayapnya ke depan wajah Fu dan Chia. "Jangan dipikirkan. Untuk pertanyaanmu satu lagi, aku tentu sudah memberitahu Sera semuanya, tapi reaksinya mengejutkan. Dia tak takut padaku, tak segan padaku, bahkan dia berkata kalau dia bersyukur bisa bertemu denganku," lanjut Rain sambil tertawa pelan.


Si Kembar Gemini tersenyum. Dalam pandangan mereka, persahabatan Rain dengan Seraphine terasa sangat indah.


"Fu! Chia!" Seraphine tiba-tiba berlari ke arah mereka.


"Ada apa?"


Seraphine dengan wajah bingungnya menunjuk tempatnya latihan tadi. "Ada yang mencari kalian. Kalian kenal?"


DEG!


"Ka-kau ...?!"


"Tak mungkin!"


To be continue ...

__ADS_1


__ADS_2